Teil 2 - Kantin (Kantine)

3555 Words
Amanda menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur beralas sprei ungu polkadot. Memang gadis ini suka sekali dengan pernak pernik bernuansa ungu. Secara keseluruhan seisi kosnya dipenuhi nuansa ungu. Dari yang paling cerah sampai yang paling gelap sekalipun. Lemari pakaian dua pintu berwarna ungu muda, meja kecil di samping tempat tidur bercorak ungu bergaris, gorden pembatas antara kamar dan ruang tamu pun bergambar bunga-bunga lavender. Rug bulu ungu. Meski kosnya tidak begitu besar, tempat ini sangat nyaman untuk ditinggali anak manja seperti Amanda. Orang tuanya harus mengeluarkan kocek yang lumayan demi mendapatkan tempat kos berukuran sedang tetapi terasa mewah bagi Amanda. Ada petakan untuk kitchen set bernuansa ungu dekat toilet kecil yang di dalamnya hanya ada shower, closet, dan ember kecil berwarna ungu pastinya. Tangan langsing Amanda bergerak kesana kemari kala menari di atas keyboard laptop berwarna ungu pekat di hadapannya. Menyiapkan bahan presentasinya besok. Sejauh ini Amanda tidak pernah kesulitan sedikitpun dalam masalah tugas-tugas dari dosennya. Amanda sudah terlahir dengan otak yang cerdas. Ditambah selama tujuh belas tahun ia hanya fokus dengan segala macam pelajaran di sekolah. Tidak ada gangguan yang bernama 'cowok' yang bisa membuat hatinya terbagi dua antara ilmu dan cinta monyet. Ditemani oleh lagu-lagu westlife kesukannya sejak Amanda duduk di sekolah dasar. Dari album pertama sampai yang terbaru Amanda hafal akan setiap lirik di lagu-lagu itu. Favoritnya tidak berubah sampai saat ini. Meski jaman semakin modern, anak bontot dari pasangan Bayu Hamsari dan Bianca Bella ini tidak pernah berpaling ke jenis lagu lainnya. Tangan kanannya melepas kacamata anti radiasi dari pelipisnya. Men-shutdown laptopnya setelah telunjuknya terhentak di tombol enter yang artinya telah selesai pekerjaan Amanda. Ditutupnya layar laptop berukuran sedang pelan-pelan. Tiba-tiba berbunyi separuh lirik lagu westlife yang berjudul uptown girl dari ponsel keluaran terbaru dari brand Samsung. Tubuhnya segera bangkit dari posisi telungkupnya lantas mengambil ponsel di meja. Meletakkan benda persegi panjang itu di telinga kanannya. "Halo, Sayang." "Iya, Bim." "Gimana kuliahnya hari ini?" "Kayak biasanya aja. Eh, tapi Bim. Hari ini aku sempet bete sama Haka dan Oni." Amanda merengek sebal. Menyilakan kedua kakinya di atas kasur. "Apa lagi sih, yang mereka lakuin ke kamu?" tanya Bimo tergelak sedikit tawa di seberang sana. Seringkali Bimo mendapat curhatan yang hampir sama dari kekasihnya itu. Tanggapannya hanya tertawa kecil membuat ke-bete-an gadisnya semakin menjadi. "Aku kan lagi makan siang di kantin. Tiba-tiba mereka lari ke arah aku. Aku kan panik liat mereka kayak gitu. Aku tanya mereka nggak jawab-jawab. Pas si Haka ngebuka mulut akhirnya dia bilang kalo dia cuma laper. Rese banget kan," celoteh Amanda seperti biasanya. Sesekali mendengkus kembali geram mengingat kejadian di kampus tadi. Tawa Bimo yang lembut terdengar cukup nyaring di telinga Amanda. Membuat bibir Amanda sedikit lebih maju beberapa senti dari biasanya. "Yaudahlah sayang, lupain aja. Mereka kan emang biasa kaya gitu. Mereka seneng kali ngeliat ambekan kamu yang ngegemesin itu." Bimo berusaha menghibur Amanda dengan kalimatnya. Amanda tidak membalas lagi ucapan Bimo. Bibirnya semakin maju. Kalau Bimo ada di hadapannya mungkin langsung disosor olehnya. Menurut Bimo saat ambekan seorang Amanda mulai muncul, semakin rona kecantikan yang terpancar di wajah imut itu. "Mereka udah rese sama aku ke ...." Amanda menggerakan lima jarinya kala menghitung sudah berapa kali ia mendapat kejahilan Haka dan Oni. Bibirnya komat-kamit seraya mengucapkan urutan angka. "Pertama kali aku kenal mereka si Haka ngumpetin tas aku. Oni juga berkali-kali ngagetin aku dari belakang. Hari kedua mereka kompakan narik aku ke belakang kampus bilang kalo ada dosen yang nyariin aku, tapi taunya mereka ngeliatin aku pemandangan orang pacaran. Pake cium-ciuman segala lagi. Dihari berikutnya ...," cerocos Amanda dengan gaya mendramatisir. "Iya-iya, aku tahu kok. Mereka cuma mau bercanda aja sama kamu." Amanda masih menampilkan mimik muka yang sama seperti beberapa detik sebelumnya. "Menurut aku itu cara mereka berteman sama kamu. Buktinya sekarang kamu jadi deket sama mereka kan? Kamu juga sering bilang kalau mereka itu baik banget sama kamu. Selalu nolongin kamu hal sekecil apapun di kampus. Aku percaya kok sama mereka. Tapi awas aja kalo salah satu dari mereka ada yang berusaha ngedeketin kamu dengan maksud tertentu." Terdengar nada bijaksana sebagai ciri khas Bimo. Meski di akhir kalimat ada ancaman secuil di nada kata-kata itu. Untungnya Bimo tidak begitu serius dengan lontarannya. "Iyasih." "Tapi sekarang kamu udah baik lagi kan sama mereka?" "Udah, kok. Aku juga nggak bisa ngambek lama-lama kalo sama mereka. Apalagi tadi itu sih Haka ...." Raut wajahnya sudah mulai membaik. Namun, tiba-tiba pembicaraan itu berhenti sejenak. Mana mungkin Amanda menceritakan tentang Haka yang mengenalkan dirinya dengan cowok tampan bernama Arga dan Bili demi mendapat maaf darinya. Belum lagi jantung Amanda yang berdegup cepat ketika menatap wajah cowok bernama Arga. "Haka kenapa?" tanya Bimo hendak klarifikasi. "Haka ngenalin aku sama dua temennya gitu. Namanya Arga dan Bili," jawab Amanda terkekeh pelan. "Oya? Nambah dong temen kamu. Gimana cowok yang namanya Arga dan Bili itu?" Pertanyaan yang akhirnya ditakuti oleh Amanda. Sebenarnya Amanda bisa biasa saja menanggapi pertanyaan itu. Namun, entah mengapa hatinya gelagapan. Takut salah-salah menjawab dan membuat kecurigaan di benak Bimo. Kalau dirinya mempunyai rasa aneh ke cowok yang bernama Arga. Amanda menggigit bibir bawahnya. Masih mencari-cari jawaban yang sekiranya tepat dan masuk akal. "Mereka biasa aja sama kayak Haka dan Oni. Paling tingkahnya juga nggak beda jauh dari dua makhluk alien itu." Dan akhirnya kalimat itulah yang keluar dari rongga mulut Amanda. Napasnya sedikit lega walaupun ia harus menghelanya perlahan agar tak terdengar oleh Bimo kalau dirinya sempat panik tadi. "Bagus deh, kalo gitu. Jadi kamu bisa dijagain sama mereka. Asal kamu nggak menaruh hati aja diantara ke empat cowok itu." Jleb Akhirnya Bimo mengucapkan kalimat yang semakin membuat Amanda salah tingkah di posisi duduk silanya. "Ya, enggak bakalan lah, Bim. Mereka semua bukan tipe aku sama sekali. Pokoknya cuma kamu, deh. Nggak ada yang lain." Amanda sangat yakin dengan ucapannya. Tubuhnya bergerak ke kiri ke kanan menandakan adanya kepanikan di sana. "Iya, yaudah. Kamu baik-baik ya, di kampus. Weekend aku jemput. Kita kencan." "Mau ke mana?" "Ke manapun yang kamu mau. Oke?" "Oke, deh." "I love you, my girl." "I love you too my future husband." Jantungnya mulai berdetak normal saat Bimo menutup panggilannya. Amanda masih bergeming di posisinya. Hatinya menjadi tidak karuan. Mulai ada rasa yang sangat aneh dan semakin aneh kala ia mengingat wajah Arga. Amanda menggelengkan kepalanya dengan cepat guna membuyarkan bayangan seorang laki-laki selain Bimo. Ia bergegas cepat. Melempar ponsel ke mejanya-menaruh laptop di kolong tempat tidurnya yang sedaritadi menjadi saksi bisu kepanikannya. Ditarik selimut tebalnya seraya tubuhnya yang ia baringkan di atas bantal. Amanda berusaha menutup matanya dalam-dalam agar cepat masuk ke dunia mimpi. Mencoba mengalihkan pikirannya dari cowok yang mulai berani mengetuk pintu di hatinya. ______ Meski matahari pagi masih terasa sejuk di kulit, suasana di tempat yang paling sering dikunjungi setiap penghuni kampus sudah cukup ramai. Pasti banyak di kawasan kampus terdapat puluhan tempat kos yang disewa para remaja dari berbagai pelosok demi menimba ilmu di Universitas Kebangsaan ini. Sehingga manusia-manusia itu lebih memilih menikmati menu sarapan di kantin kampus dengan tarif yang sesuai kantong masing-masing. Termasuk Haka dan Oni. Meskipun mereka bukan anak kos, kedua orang itu lebih suka mengisi perut dengan nasi uduk Mbok Iyem dengan porsi sedang dikeliling semur tahu, tempe goreng, bihun goreng, dan sambal kacang yang sangat khas juga lezat sampai mengalahkan makanan restaurant mahal sekalipun. Mereka hanya perlu membayar tujuh ribu rupiah untuk itu. "Haka, Oni, gue cariin daritadi kemana, sih? Gue teleponin enggak bisa-bisa?" geram Amanda yang baru datang menghampiri meja persegi panjang berposisi paling pojok seperti biasa. Kalau Amanda tidak bisa menghubungi kedua teman laki-lakinya itu, kantin adalah tempat pertama yang ia kunjungi. Dan benar adanya Amanda langsung menemukan para tersangka itu. "Pagi-pagi udah marah-marah aja sih, Mand." Ada suara baru tapi tak asing yang baru-baru ini sering bergabung dengan ketiga orang itu. Bili. Tentunya bersama Arga di sampingnya. Amanda menoleh ke Bili, menyeringai kecil lalu berpindah ke Arga yang sedang sibuk dengan layar ponselnya. Cowok yang ternyata mampir di mimpi Amanda tadi malam. Beberapa detik pandangannya tersadar dengan urusannya dengan Haka dan Oni yang masih berkutat ke nasi uduk masing-masing. "Haka gue ngomong sama lo juga, ih." Amanda mendesis. Haka mengambil ponsel di saku celana jins-nya. Mendapati layar yang hitam tak bersinar ketika berkali-kali ditekan dua tombol on/off dan tombol utama di sana. "Hape gue mati nih, Mand. Sorry ya." Dengan tenang Haka memasukan kembali ponselnya. Oni juga mengecek ponselnya yang ia letakan di samping piring berisi nasi uduk yang sebentar lagi ludes. "Di gue nggak ada panggilan dari lo," lapor Oni setelah mengecek isi ponselnya. "Gue emang nggak nelpon lo. Gue cuma nelpon Haka," ucap Amanda sambil berjalan beberapa langkah dan duduk di samping Haka. Berhadapan dengan Arga. "Lo udah sarapan belom, Mand?" tanya Haka menoleh ke arah kananya. "Udah tadi pake roti tawar." "Gaya amat udah kaya orang bule," celetuk Oni. "Setara-lah, bro, sama mukanya yang imut-imut," sahut Bili yang notabenenya memang gaya dia seperti cowok playboy. Haka menyendok segumpal nasi uduk di piringnya dan disodorkan ke Amanda. "Nih, makan nasi uduk biar ketawan cintanya sama Indonesia." Amanda melihat baik-baik apa benar nasi uduk yang ada di sendok itu. Mengingat kejahilan Haka yang bisa saja menyuapinya dengan pasir di depan gedung kampus untuk perenovasian tahunan. Lantas Amanda membuka mulutnya karena sudah memastikan bahwa itu benar-benar nasi. Sesekali Arga melirik ke arah Amanda tanpa diketahui oleh sang empunya. Oni meneguk teh hangatnya setelah suapan terakhir nasi uduknya. Sementara Bili bersenandung dengan earphone di telinganya. "Alhamdulillah ya Allah, kenyang juga nih perut. Kalo begini tenang deh, dengerin ceramah para dosen itu," ucap Oni menepuk-nepuk pelan perutnya yang sedikit membuncit akibat nasi uduk Mbok Iyem. Haka masih harus menghabisi beberapa suap lagi. Lagi-lagi rasa aneh itu muncul di hati Amanda. Detak jantungnya semakin lama meningkat lebih kencang. Rasanya nyaris serupa saat pertama kali ia bertemu Bimo. Pikirannya berusaha mengalihkan pandangannya untuk beredar ke sekeliling kantin. Namun, kedua matanya bersi keras untuk memutar ke seseorang yang ada di hadapannya. Akhirnya pikiran Amanda menyerah. Mengalah dengan matanya yang ingin sekali melihat cowok charming di depannya. Bukannya merasa tenang karena hasratnya sudah terpenuhi. Justru jantung Amanda terus memompa lebih cepat dan semakin cepat. Haka melirik ke Amanda. Seakan debaran itu terdengar oleh cowok berambut lebat itu. Bibirnya terangkat sedikit merasa geli dengan curi-curi pandang yang dilakukan Amanda. "Oiya, Mand. Di kosan lo masih ada yang kosong nggak?" Bili membuka suara seraya membuka earphone di telinga kirinya. Amanda masih terpaku ke cowok berkaos hitam polos ketat itu, sehingga sesuatu di baliknya terpampang nyata dan jelas, gerakan maju mundur d**a yang bidang meski berat badan yang tidak lebih dari tujuh puluh kilo itu. "Woy, Manda!" kejut Oni menggebrak meja di depan Amanda. Jelas Amanda tersentak kaget. Membuat Haka terkekeh geli karena hanya dia yang tau apa yang sedang Amanda lakukan. Matanya Arga juga ikut memutar mencari penyebab gebrakan meja itu. "Apa? Kenapa?" tanya Amanda cepat. "Ditanya tuh sama Bili. Katanya di kosan lo masih ada yang kosong nggak?" ulang Oni yang menghentakan setiap katanya. "Gue kurang tau. Nanti deh, gue tanya-tanyain, ya. Buat siapa emangnya?" Akhirnya Amanda sudah mulai normal. "Buat cewek gue." "Cewek lo yang mana?" tanya Haka setelah meneguk teh hangatnya. "Si Deby lah. Emang yang mana lagi," jawab Bili. "Lah, bukannya dia ngampus di Jakarta? Ngapain nge-kosnya di Bogor?" tanya Haka masih penasaran. Seketika alis tebalnya saling berpautan. "Dia rela pindah kampus demi deket sama gue katanya," jawab Bili dengan bangga. "Widddiiih ... romantis amat cewek lo," celetuk Oni. Haka tersenyum geli. Amanda ikutan senyum. Dan Arga masih saja ngutak-ngatik layar ponselnya. "Bukannya romantis, Bro. Malah bencana buat Bili. Nggak bisa tebar pesona kesana kemari lagi, deh," ledek Haka yang dibalas dengan lemparan kulit kacang dari Bili. Haka, Oni, Amanda serempak tertawa. Dan Amanda melirik ke posisi Arga, lagi. Amanda benar-benar heran dengan cowok yang ada di depannya ini. Obrolan se-seru ini kok masih tidak menoleh juga. Namun, hal itu tidak berlaku untuk ketiga cowok lainnya yang sudah paham tabiatnya si Arga seperti apa. Pendiam. Kadang dingin. Suka tidak jelas apa mood-nya. Misterius juga. "Kalo lo, udah punya cowok belom, Mand?" Setelah mendapat tawa cemooh dari ketiga orang itu. Bili mengganti topik pembicaraan dengan menanyakan sesuatu pribadi ke Amanda. Di nadanya ada sedikit kejahilan yang tersirat. Sebelum Amanda membuka mulutnya lebih jauh, Haka menyerobot begitu saja. "Nih gue cowoknya Manda," kata Haka sambil menepuk-nepuk dadanya dengan sangat percaya diri. Dan itulah cara yang sangat berhasil membuat Arga menoleh lekat-lekat ke Haka. Bergantian ke Amanda. Amanda menanggapi jawaban Haka hanya berdecak sebal sambil mengadukan sikunya ke lengan Haka. "Mana mau Manda sama lo. Mending Manda jadi perawan tua kalo pacaran sama lo. Ya nggak, Mand?" Begitu lantang hinaan yang diucapkan Oni. Menaikan sisi bibirnya guna mencibir Haka. Lagi-lagi gelakan tawa yang ribut di meja ini. Arga mulai memasukan ponsel ke saku celananya. Mencoba menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. "Elo punya pacar, Mand?" tanya Arga serius. Sontak membuat yang lainnya bungkam dan menatap ke Arga. Harusnya Amanda tinggal menjawab saja jika ia sudah memiliki Bimo, tetapi lidahnya terasa kelu. "Weh, si Arga. Kayaknya kalo Manda belom punya pacar mau daftar nih," celetuk Bili yang sama sekali tidak digubris si empunya. "Gue ...." Amanda jadi salah tingkah. Ditambah tatapan Arga ke Amanda ini benar-benar lekat. "Halah, kepo banget lo, Ga. Kan, udah gue bilang kalo gue ini pacarnya Amanda," sela Haka yang rasanya bisa menebak apa yang ada di benak Amanda. Arga berdiri dengan wajah kesal. Ia melenggang pergi begitu saja. "Woi, Ga! Mau ke mana lo! Tungguin!" teriak Bili menyusuli Arga. Oni yang tidak peka hanya memasang wajah biasa saja. Berbeda dengan Amanda yang merasa aneh dengan sikap Arga. Termasuk Haka. _____ Sebuah ruangan lainnya yang juga banyak dihuni para mahasiswa di kampus selain kantin. Ada bermacam-macam jenis buku di sana. Sebagian tertata rapih, tetapi ada juga yang masih tidak enak dipandang mata di bagian belakang ruangan ini. Kebanyak buku-buku di sana sudah lebih dari lima tahun tidak disentuh. Sepasang langkah kaki bergerak perlahan kala mencari buku yang diinginkannya. Kedua tangannya saling bekerja sama menggeser kemudian mengambil salah satu buku di deretan sana. Beberapa detik Amanda membaca judul itu. Ia meletakkan kembali buku dengan cover berwarna putih di tangannya. Wajahnya memandang lurus ke depan. Terdiam sesaat. Amanda mengambil ponsel dari dalam totebag-nya, menggeser layar kunci dan langsung menekan ikon w******p. Amanda Bella : sayang lagi apa ? Udah makan siang belum ? Sent to Bimo Aji Permana Digenggamnya ponsel itu setelah Amanda menekan tombol on/off. Kakinya bergerak menuju meja di bagian tengah Perpustakaan. Ia menarik salah satu kursi di antara deretan beberapa kursi. Amanda mencoba mengecek kembali ponselnya. Masih tidak ada balasan dari Bimo. Padahal biasanya tidak lebih dari dua menit Bimo membalas segala macam pesan dari Amanda. Ia membanting pelan ponsel dengan case ungu itu. Mungkin karena masih dalam kondisi PMS, mood-nya Amanda sedang berada tingkat yang cukup sensitif. Bergetar ponsel itu. Dengan cepat Amanda mengambil kembali ponsel yang baru saja diletakkannya. Wajahnya sudah kembali semringah. Dan berubah lagi seketika. Melorotkan bahunya karena si pengirim pesan bukan orang yang ditunggu. Haka Faisal Ahmad : dimana lo ? Amanda Bella : Perpus Amanda masih menggenggam ponselnya. Tubuhnya lemas. Mungkin karena rasa sakit di perutnya yang masih nyeri karena baru beberapa hari ia PMS. Dijatuhkan kepalanya di meja dan dimiringkan dengan lengan kanannya sebagai bantal. Sementara tangan kirinya memegangi bagian perutnya setelah meletakan ponsel tepat di ujung dagunya. Mata Amanda meringis dan terpejam. Menikmati dahsyatnya sesuatu yang bergejolak di antara pinggang dan perutnya. "Ngapain lo di perpus?" Haka sudah berada di sebelah Amanda. "Pertanyaan lo pinter banget sih, Ka." Suara Amanda terdengar lesu. "Ya, habis yang seharusnya di perpus baca buku, lo malah tidur begitu," sewot Haka melihat matanya Amanda masih terpejam samar-samar. Kepala Amanda bangkit. Karena masih ada raut ke-bete-an di sana, jadi ia memilih mengangkat kedua tangannya untuk menopang dagu lancipnya. Bibirnya terangkat. "Gue bete." "Kenapa?" "Bimo belum bales WA gue." "Sibuk kali." "Sesibuk apapun, biasanya Bimo enggak akan ngebiarin gue nunggu balesan dia lebih dari lima menit." "Nah lho. Jangan-jangan ...." Kepalanya memutar. Telunjuknya mengacung di udara. "Jangan-jangan apa?" Amanda juga ikut memutar kepalanya mencari wajah Haka. Mengklarifikasi apa yang akan Haka ucapkan lebih lanjut. Tangannya yang bertopang tadi perlahan ditaruh di meja. "Bimo lagi sama cewek laen." "Haka!" Intonasi suaranya naik beberapa oktaf. Ssssstttttttt Serempak beberapa orang di dekat sana menempelkan telunjuk di depan bibir mereka masing-masing. Menginterupsikan kalau ini di Perpustakaan, tidak boleh berisik. Amanda mengangguk paham. Matanya menyipit pertanda ia memohon maaf kepada mereka yang di sana. Tubuhnya tertarik ke atas untuk bangkit dari kursinya. Memasukkan ponsel ke dalam tas-nya. Menarik sekuat mungkin lengan Haka supaya mengikutinya ke luar Perpustakaan. "Haka, bisa nggak, sih, lo nggak ngomong sembarangan gitu," geram Amanda. "Ya maap, Mand. Kan kali aja gitu," sesal Haka menundukan kepalanya. Kedua tangannya saling berpautan. Menggantung di depan perutnya. "Bimo tuh nggak mungkin kayak gitu." Nada suaranya mulai menurun perlahan. "Baru aja kemaren lo bikin gue bete. Sekarang mulai lagi deh penyakitnya." Lalu menyilakan kedua tangannya di atas perut. Wajahnya berpaling dari Haka menghadap sisi lainnya. "Iya-iya, maaf. Ngomong-ngomong tadi di kantin elo kenapa enggak jawab pertanyaannya Arga?" Amanda bisu. Sikap salah tingkahnya jelas sekali terlihat. "Hayo, kenapa? Elo enggak mau Arga tau kalo elo udah punya pacar?" Jantung Amanda berdetak cepat. "Ih, Haka apaan sih. Enggak usah ngomong ngaco, deh." "Lah, terus apa apa alasannya elo enggak jawab pertanyaan Arga tadi?" "Gue ... gue cuma ...." "Cuma apa?" Dari nadanya, jelas sekali Haka sedang meledek Amanda yang sepertinya tertangkap basah. "Eh, anterin gue ke toko buku, yuk. Nanti gue traktir," ujar Amanda. Sepertinya hanya untuk mengalihkan pembahasan sebelumnya. Haka terkikik geli. Merasa puas jika ia berhasil mengerjai Amanda. Namun, ia memilih untuk tidak melanjutkannya. "Cari buku di mana?" Amanda mendesis. "Di toko buku lah Haka. Masa di toko daging." "Iya maksud gue di toko buku mana, Mandaaaaa?" "Di mall deket-deket sini aja." "Siap, Nyonya." Haka meletakan tangan kanannya di pelipisnya seperti anak sekolah yang sedang hormat ke bendera merah putih di kegiatan upacara. Amanda mulai tersenyum melihat tingkah Haka yang tidak ada matinya. Kakinya melangkah mendahului Haka yang masih berada di tempat. "Gue ajak Oni juga, ya! Kasian tuh anak kalo ditinggal nanti nyariin," teriak Haka. "Iya!" teriak Amanda menyahuti Haka. Gadis itu merasa lega lantaran berhasil keluar dari pertanyaan mematikan Haka. ______ Baru beberapa menit yang lalu Haka mengirim pesan ke Oni, laki-laki yang posturnya tidak lebih tinggi dari Haka itu sudah terpampang di atas motor tiger-nya di deretan motor-motor lainnya. "Tuh liat, Mand! Baru beberapa detik perasaan gue nge-chat dia, udah nongol aja." Dagunya menunjuk ke arah Oni yang melambaikan tangan tanpa dosa ke arahnya, dan Amanda yang hanya beberapa langkah lagi untuk mencapai area parkir. Amanda hanya tersenyum geli. "Mau kemana kita?" tanya Oni sambil menggoyang-goyang kakinya di atas jok motor. "Mau ke toko buku," sahut Amanda. "Siap!" ucap Oni lantas memutar tubuhnya mengambil posisi berkendara. Memakai pengaman kepala yang tergantung di lengannya. Begitupun Haka yang juga menghampiri motor matic hitamnya. Haka memakai helm miliknya bersamaan dengan naiknya Amanda menunggangi motor yang masih terlihat baru itu. "Ett, mau kemana ini rame-rame?" Datanglah Bili yang baru datang ke area parkir. "Mau nganterin Manda cari buku," jawab Haka samar karena suaranya terpendam di dalam benda bulat itu. "Pake mobil gue aja yuk, Mand," tawar Bili. "Eh, nggak usah, Bil. Nanti ngerepotin lagi," jawab Amanda. "Nggak kok, nggak ngerepotin." Bili tersenyum. "Iya, Mand naik mobil Bili aja, deh. Nanti lo kepanasan. Kalo kulit lo jadi gosong gimana?" celetuk Oni yang masih berada di tempat memperhatikan percakapan di sampingnya. Amanda belum menjawab, ia masih tampak berpikir. "Udah, yuk," ajak Bili lantas menarik tangan Amanda perlahan. Dan Amanda mengikutinya. Haka dan Oni melepas pengaman kepala itu. Men-standarkan motornya kembali ke tempat semula. Mengikuti langkah kaki Amanda menuju mobil Bili yang tidak begitu jauh dari posisi mereka. "Eh, lo berdua mau ngapain?" tanya Bili sedikit sewot melihat Haka dan Oni mengintili-nya bersama Amanda. "Lah, kita kan ajudannya Manda. Jadi kemana pun Manda pergi, ya, harus ada kita lah. Ya ngga, Mand?" kata Haka yang diamini oleh Oni. Bili menoleh ke Amanda meminta klarifikasi. "Iya, Bil. Biarin aja, ya, mereka ikut. Awalnya juga gue minta anterin sama Haka, kok." Amanda membela kedua cowok yang akhirnya menampilkan cengiran kuda di bibir mereka. Akhirnya mereka berempat memasuki mobil berwarna putih itu. Bili mulai menyalakan mesin mobil dan mengeluarkan benda beroda empat itu dari area parkir. Kemudian sebuah ninja hitam melintas dekat mobil. "Woi, Arga! Mau kemana lo?" teriak Haka duduk di bagian tengah. Membuka kacanya karena melihat Arga melintas pelan. "Mau pulanglah. Udah nggak ada kelas gue," jawabnya. "Yailah, Bro. Udah kayak anak mami aja abis kuliah langsung pulang. Mending kita go out aja dulu," ajak Haka. Bili menepuk jidatnya karena merasa sebentar lagi Haka akan mengajak satu kampus hanya untuk menemani Amanda mencari buku. Sementara sang empunya memenuhi wajahnya penuh harapan akan kesediaan Arga ikut bersama mereka. "Kayaknya nggak, deh. Gue mau ada urusan dulu," tolak Arga yang dari awal memang tidak begitu tertarik dengan ajakan Haka. Sementara Oni sibuk memainkan game di smartphone-nya. "Ikut aja, yuk, Ga. Gue traktir, deh." Akhirnya Amanda harus ikut turun tangan membujuk cowok berjaket kulit coklat tua dengan kaos hitam polos di dalamnya. Arga bergumam. Memikirkan kembali jawabannya untuk Amanda. "Yaudah, nanti kalo mau gue nyusul aja, ya." "Oh, oke, deh." Amanda sedikit lesu. Melaju-lah kendaraan beroda dua itu. Lagi-lagi jantung Amanda harus dibuat gemetar dengan pemandangan Arga mengendarai motor ninja seperti itu. Membuat matanya tidak lepas sedetikpun sampai Arga berbelok ke luar gerbang kampus. Fortsetzung Folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD