Haka Faisal Ahmad. Jins biru muda. Kaos kuning bergambar ilustrasi sepatu kets. Kaos itu dibungkus dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru tua dengan keenam kancing yang terbuka. Dihiasi oleh alas kaki berupa sneakers hitam bertali.
Saroni Benyamin. Jins hitam. T-shirt lengan sepertiga sampai siku berwarna abu-abu polos. Sepatu kets abu-abu. Jam tangan model rantai. Jangan lupa jika cowok ini suka sekali memasukan baju ke dalam celananya. Supaya rapi katanya dan bisa menarik perhatian para gadis. Padahal?
Bili Ramadhan. Jeans biru dongker. Kemeja berbahan jeans dengan kancing yang terpaut rapih. Jam tangan sporty hitam. Sneakers biru tua.
Amanda Bella. Jins ketat biru tua. Kaos ungu muda polos berlengan panjang namun sedikit ketat. Terdapat kalung emas putih dengan liontin huruf A yang melingkar di lehernya. Jam tangan guess ungu bermodel simple. Ditambah wedges ungu dengan ketebalan tiga sentimeter mengingat tubuh Amanda yang cukup tinggi itu dan tidak memerlukan lebih banyak sentimeter lagi untuk mengangkat kakinya agar tidak terlalu terlihat kecil di antara ketiga cowok yang mempunyai tinggi proposional itu.
Keempat makhluk tuhan itu menjadi pusat perhatian sejak mereka menginjak lantai mall di salah satu kota Bogor itu. Meski di hari biasa ini tidak begitu banyak pengunjung di sana, akan tetapi setiap mata yang berpapasan dengan mereka selalu menoleh walaupun hanya sekilas. Beberapa ada para gadis yang notabenenya juga anak kampus seperti mereka, yang lebih banyak melirik ke arah Bili. Hanya beberapa yang terarah ke Haka, dan lebih sedikit ke Oni. Termasuk si gadis satu-satunya di antara mereka. Amanda. Laki-laki mana yang tidak menoleh terhadapnya. Sekali pun pria yang berumur empat puluh tahun ke atas.
Hal itu juga didapati Amanda di area kampusnya. Makanya, Amanda lebih memilih berteman dengan Haka dan Oni yang sudah jelas tidak ada maksud tertentu dengannya. Karena kebanyakan cowok-cowok kampus yang bertegur sapa dengannya sudah tersirat jelas apa tujuan mereka sebenarnya.
Dan kenapa Amanda tidak memiliki teman dekat perempuan ? Karena Amanda selalu mendapat tatapan sinis dari para mahasiswi di kampus. Alasannya pun sampai saat ini Amanda tidak tahu dan tidak pernah ingin tahu. Hanya Jean dan Risa kedua orang yang pernah sesekali melakukan percakapan dengan Amanda. Itu pun hanya membahas tugas-tugas kampus.
Namun, kini daftar pertemanan gadis yang lebih suka rambut tergerai ini akan bertambah dua orang. Bili dan Arga. Meski Arga masih jarang terlihat, tetapi Bili dan Arga ini seperti halnya Oni dan Haka yang seperti sandal jepit kalau kemana-mana selalu berdua.
Hati Amanda begitu riang ketika tubuhnya sudah berada di dalam toko buku yang cukup besar di mall ini. Sejujurnya meski Amanda berpenampilan modis, ia lebih bahagia berada di dalam toko buku berjam-jam ketimbang di salon. Tapi walaupun begitu Amanda tidak munafik untuk melakukan perawatan dirinya setiap sebulan sekali.
Matanya tertuju di deretan novel-novel remaja di bagian sisi kanan toko buku. Langkah kakinya berlari kecil ke sana. Wajahnya benar-benar semringah. Secara bersamaan tangannya mengambil dua novel sekaligus. Mulutnya komat-kamit lantas membaca sinopsis yang ada di belakang novel.
Sedangkan ketiga cowok itu berpencar setelah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Amanda yang begitu bersemangat bertemu tumpukan buku itu.
"Manda liat buku seneng banget. Udah kayak abis menang undian mobil mewah aje. Heran gue," kata Oni berkomentar.
"Sama. Gue juga heran. Gue sih, eneg banget liat tumpukan buku segitu banyaknya. Oke-lah kalo buku bergambar," celetuk Haka ikutan.
"Beda dong selera elo berdua sama Amanda yang udan jelas levelnya tinggi begitu," cemooh Bili sambil melangkah ke pojok toko melihat sekumpulan boneka beruang. Oni ke bagian belakang toko untuk mengembangkan dirinya dalam dunia pertanaman. Sementara Haka sudah cengar-cengir membaca komik yang kebetulan tidak terbungkus plastik sehingga bisa dibaca olehnya.
Setelah kurang lebih satu jam, mereka berempat keluar dari toko buku.
"Weedddeehh, si Bili beli boneka tuh," seru Oni melihat Bili menenteng kantong plastik putih dengan logo toko buku yang tadi mereka kunjungi.
Dari ukuran boneka beruang berwarna merah mudah yang cukup besar itu, membuat Oni jelas dengan penglihatannya. Belum lagi kepala boneka yang terpunjul ke atas. Amanda dan Haka menoleh ke arah tangan Bili yang membawa kantong plastik itu.
"Buat siapa tuh?" tanya Haka kepo tingkat maksimal.
"Ah, kepo lo," balas Bili sengit. Dengan spontan menarik tentengannya ke sisi lain agar ketiga temannya itu tidak terus memperhatikan barang yang baru saja ia beli.
"Mau makan di mana nih?" Amanda membuka suara sambil memasukkan plastik putih berisi dua novel dan satu buku yang ia cari sebelumnya di perpustakaan. Buku mengenai jurusan kuliahnya.
"Kerak telor!" sahut Oni polos.
Haka menoyor pelan kepala sohibnya itu. Tangan Oni mengelus-elus sisi kepala yang dihempas kecil oleh Haka. Meringis kesakitan, padahal Haka tidak memakai kekuatan sedikitpun untuk melakukan tindakan kejahatannya barusan.
"Lo pikir ini di Monas. Ini di mall, Bro. Bener-bener lo, ya." Haka sewot mendapati Oni yang benar-benar keliatan norak.
Apalagi tadi di toko buku, Haka sempat malu karena Oni datang ke kasir untuk meminjam buku tentang bertani. Oni menganggap kalau di toko buku ini sama seperti perpustakaan yang bisa meminjam buku seenaknya. Maklumlah dari kecil Oni memang tidak pernah pergi ke toko buku. Ini baru pertama kalinya. Masuk mall saja bisa dihitung pakai jari. Cowok berambut sedikit bergelombang ini lebih sering ke Taman wisata yang murah meriah.
"Ya kan kali ada gitu, Bro," ucap Oni melas.
"Udah-udah. Kita makan pizza aja ya," ujar Amanda di sisa-sisa tawa gelinya.
"Okeh," jawab Haka dan Oni serempak. Sementara Bili hanya berkutat ke layar ponselnya sejak beberapa detik yang lalu saat ada getaran yang terasa di saku celananya.
______
Tidak sampai dua puluh menit pesanan yang disebutkan Amanda sudah tersaji di meja besar hadapannya. Ketiga cowok itu menyerahkan sepenuhnya pesanan mereka ke orang yang men-traktir. Dua pizza berukuran sedang bernama meat lover dan tuna melt. Ada beberapa makanan pembuka juga seperti bread n cheese, mayo beef bruschetta, dan empat minuman segar untung masing-masing.
Haka dan Oni tipikal cowok yang porsi makannya besar. Bahkan mereka menomor satukan makanan ketimbang pedekate sama gadis-gadis cantik di manapun.
Ponsel Bili bergetar. Ketiga orang lainnya mulai sibuk dengan hidangan yang wanginya sudah menusuk hidung itu.
"Arga udah diparkiran katanya, nih," lapor Bili masih menggenggam ponselnya.
"Oh, yaudah, langsung suruh kesini aja," sahut Amanda setelah menyeruput choco jelly miliknya. Bili memencet-mencet layarnya memberitahu Arga untuk segera ke tempat pizza di mana mereka berada.
"Mba!" Tangan Amanda terangkat. Memanggil salah satu pelayan di dekat sana. Amanda meminta satu minuman tambahan dan satu piring lagi lengkap dengan garpu juga pisau makan untuk Arga nanti.
Sejujurnya sedaritadi Amanda sangat mengharapkan kehadiran Arga di tengah-tengah mereka. Seketika hatinya meloncat-loncat saat Bili memberi laporan kepadanya beberapa detik yang lalu. Haka dan Oni masih saja serius dengan beberapa potongan pizza di piring mereka.
Tidak lama kemudian datanglah Arga. Tangan Bili melambai untuk memberitahu posisi di mana mereka bersinggah.
Arga memilih duduk di samping Bili dan berhadapan lagi dengan Amanda. Bersamaan dengan itu, sang pelayan wanita datang memberi pesanan Amanda tadi. Seperti halnya seorang istri yang menyiapkan sarapan pagi ke suaminya, Amanda mengambilkan beberapa potong pizza ke piring Arga.
"Thanks ya, Mand," ucapnya sambil tersenyum.
Dag-dig-dug jantung Amanda. Yang bisa ia lakukan hanya meneguk salivanya. Tidak ada yang memperhatikan adegan yang dilakukan Amanda barusan.
"Bonekanya buat siapa tadi, Bil?" Kali ini Amanda yang tiba-tiba kepo. Demi menghilangkan rasa canggungnya ke Arga.
"Buat cewek gue, Mand."
"Si Deby itu?" tanya Amanda mendetail.
"Bukan. Gebetan gue." Dengan penuh percaya dirinya Bili menjawab.
"Emang pacar sama gebetan apa bedanya?" tanya Amanda polos. Menusuk potongan pizza kecil dari garpunya.
"Duh, Manda bener-bener, ya. Gue kira lo pinter dalam segala hal. Ternyata," celetuk Haka di ujung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata gadis yang nyaris sempurna seperti Amanda tidak sepenuhnya tahu segala hal.
Arga senyam-senyum. Meski tidak langsung menatap Amanda, tetapi jelas senyuman geli itu tertuju ke mana.
"Nanti deh, ya, kapan-kapan gue jelasin." Bili mengerutkan dahinya. Polosnya lagi Amanda mengangguk dan memasukan potongan pizza tadi ke mulutnya.
"Nih, ya, Mand. Gue jelasin. Kalo pacaran itu kan, ada ikatan. Nah, sedangkan gebetan itu enggak perlu pake ikatan. Jadi elo bebas kalo mau punya 10 gebetan juga," jelas Haka. Praktis membuat Amanda manggut-manggut dengan wajah polos.
"Emang boleh punya pacar sekaligus gebetan begitu?"
Pertanyaan Amanda itu memancing Arga untuk terkekeh geli secara samar. Ia bahkan harus meneguk minuman di depannya agar potongan pizza di mulutnya di muncrat ke mana-mana.
"Harusnya sih, enggak boleh, Mand. Tapi ...." Haka belum selesai dengan ucapannya, tetapi Bili sudah menyerobotnya begitu saja.
"Kecuali gue, Mand. Gue doang yang boleh punya pacar sekaligus gebetan. Elo mau daftar juga jadi gebetan gue, hah?"
Amanda hanya menyeringai kecil. Lagi-lagi membuat Arga tersenyum simpul, entah kenapa merasa gemas dengan ekspresi Amanda.
_____
Sekeluarnya mereka dari restoran siap saji, Amanda mengajak keempat cowok itu berpijak ke lantai berikutnya untuk menikmati keseruan di arena game. Sudah cukup lama ia tidak bermain-main di mall setelah sebulan yang lalu ia lakukan dengan Bimo kekasihnya. Semenjak itu Bimo terlalu sibuk di kantor.
Termasuk dirinya yang juga sudah mulai kuliah. Tapi sekarang Amanda mempunyai waktu bersenang-senang bersama teman-temannya. Entah pantas atau tidak Amanda menyebut Arga sebagai teman. Sementara hatinya tak pernah karuan saat melihat cowok yang mempunyai hidung seperti prosotan TK itu.
Haka dan Oni berlonjak-lonjak di arena dance. Gerakannya bertolak belakang dengan perintah yang ada di layar. Awalnya sih sesuai, tetapi karena otak mereka yang kegeser jadinya mereka lebih memilih gerakan semaunya. Bili ke sisi yang lain. Mengerahkan tenaganya memukul para tikus yang keluar dari lubang dengan palu besar. Arga serius menembak ke layar di depannya. Dan Amanda kekesalan sendiri karena tak kunjung berhasil mencapit boneka beruang kecil berwana ungu di dekat pintu masuk arena. Sudah lebih dari sepuluh koin yang ia gunakan.
Arga selesai. Mencapai poin yang lumayan. Matanya tertuju ke Amanda yang sedang memukul-mukul kaca kotak boneka itu. Bibirnya tersenyum simpul. Kakinya bergerak menghampiri.
"Bonekanya enggak akan keluar kalo elo mukul kacanya kaya begitu. Yang ada pecah, terus lo kena omel sama yang punya."
Amanda menghentikan aktivitasnya. Wajahnya mengernyit malu.
"Eh, Arga," sebut Amanda.
"Coba sini mana koinnya? Masih ada nggak?" Tangannya Arga mengadah ke depan Amanda.
"Udah nggak ada." Amanda menggelengkan kepalanya.
"Yaudah, sebentar gue beli dulu, ya. Lo tunggu disini." Arga berlari kecil ke arah kasir untuk membeli beberapa koin di sana.
Lagi. Jantung Amanda harus terengah-engah seperti sedang lari memutari lapangan yang besar. Ia bahkan harus memegangi dadanya terus karena debarannya begitu kuat.
"Ada apa sih, sama gue? Kayaknya gue perlu ke dokter jantung, deh."
Arga yang sudah kembali ke tempat di mana Amanda berdiri memasukan dua koin ke tempat yang sudah di sediakan. Tangan kanannya memegang kemudi kecil di depan kaca itu. Dan tangan yang kiri menekan tombol guna mengarahkan pencapit di dalam kaca kala mengambil ancang-ancang untuk menjemput boneka beruang ungu.
Tubuh Amanda bergerak tepat di samping Arga. Ia kagum dengan keseriusan Arga dalam berusaha mengambil boneka yang diinginkannya. Amanda terus menatapi wajah Arga dari samping
"Gue juga gagal, Mand. Kayaknya bonekanya enggak jodoh sama kita deh, Mand," ucap Arga mencari wajah Amanda.
"Mand?" panggil Arga yang mendapati wajah bengong Amanda ke arahnya. Cowok itu malah tersenyum geli.
"Eh, iya-iya." Amanda terkesiap.
"Gue enggak bisa dapetin boneknya, Mand. Maaf, ya."
"Iya, enggak apa-apa. Cuma boneka kok, bukan hati gue." Sebenarnya Amanda sendiri tidak sadar dengan kalimat yang diucapkannya ini.
"Hah?" Arga sedikit terkejut. Namun, malah merasa semakin gemas dengan gadis di depannya ini.
Untungnya Haka segera menghampiri dan mengajak keluar dari arena bermain. Amanda bisa bernapas lega karena berhasil keluar dari suasana mendebarkan itu.
Sebelum mereka keluar gedung. Amanda menarik Haka dan Oni ke salah satu stand photobooth berwarna kuning itu. Diikuti Arga dan Bili.
Cekrak cekrek cekrak cekrek
Jadilah beberapa foto keempat kaum Adam dan satu kaum Hawa di dalamnya. Semua lembaran itu hanya disimpan oleh Amanda seorang. Sebab tidak ada satu pun dari cowok-cowok itu yang mau menaruh foto konyol mereka di dompet masing-masing atau tempat lainnya. Amanda hanya mendengus sebal.
"Thanks, ya, udah nganterin gue," ujar Amanda dengan girang setelah berada di depan lobby mall bersama yang lainnya.
"Iya sama-sama, Mand," sahut Bili. Yang lain hanya tersenyum.
"Eh, tapi gue nggak bisa nganterin balik ke kampus ya. Gue ada perlu nih." Bili mengerutkan dahinya.
"Yah, yah, gimana sih, Bil. Terus kita gimana dong?" seru Haka tak terima. Oni mengangguk-angguk.
"Sorry banget ya,Mand. Penting banget nih soalnya. Menyangkut hidup dan mati gue." Bili begitu serius dengan ucapannya.
"Lebay amat lo," celetuk Haka merasa sebal.
"Udah gapapa kok, Bil. Lo balik duluan aja, gih." Amanda membuka suara.
"Yaudah, gue duluan, ya, Bro." Bili pamit menatap Haka, Oni, Arga secara bergantian. "Duluan ya, Mand." Pergilah Bili meninggalkan keempat lainnya.
"Ga?" Ada maksud tersirat dari panggilan Haka ke Arga.
Arga hanya bergumam pelan. Sepertinya ia mengerti maksud tujuan Haka memanggilnya dengan penuh arti.
"Motor gue nggak muat kali berempat," tolak Arga mentah-mentah sebelum Haka mengutarakan maksudnya.
"Yailah, iya juga sih tapi," kata Haka menggerutu.
"Udah, sih, kita naik taksi aja," kata Amanda.
"Sayang banget Mand, naik taksi kalo cuma jarak deket gini. Lagian, daritadi kan lo udah banyak traktir kita. Masa lo harus ngeluarin biaya taksi juga, sih." Oni yang akhirnya mengeluarkan kalimat bijaksananya.
"Gapapa kok, yuk," ajak Amanda sekali lagi.
Arga bingung apa yang harus ia lakukan. Sebagai cowok gentle, tentunya Arga tidak akan membiarkan seorang gadis pulang sendiri ketika langit sudah mulai gelap seperti ini. Namun, mentalnya belum kuat kalau Haka dan Oni mengejeknya saat mulutnya terbuka mengajak Amanda menunggang di motornya.
"Atau gini aja, deh. Gue sama Oni biar naik angkot ke kampus ngambil motor. Nah lo, Ga. Anterin Manda ke kosan-nya." Akhirnya sampai juga Haka berpikir seperti itu.
"Eh, enggak usah." Secepat mungkin Amanda menolak sesuatu yang bisa membahayakan jantungnya seperti tadi.
Dengan spontan respon Arga menarik tangan Amanda menuju parkir. Karena ide Haka sesuai dengan pikirannya. Bahkan, tidak ada cela sedikitpun untuk Amanda bisa menolak ajakan tersebut.
Sementara Haka dan Oni saling menatap. Sedikit bingung apa yang barusan mereka lihat.
______
Arga mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang kosan Amanda. Gadis itu juga langsung turun dari ninja hitam ini dengan hati-hati, mengingat ini pertama kalinya ia menumpangi di motor besar begini.
"Makasih ya, Ga. Jadi ngerepotin elo, deh."
"Enggak, kok. Santai aja kali. Ini kosan elo?"
Amanda hanya mengangguk.
"Yaudah, gue balik ya."
"Iya. Hati-hati."
Arga mulai menyalakan mesin motornya. Namun, saat ia menoleh lagi ke Amanda, tiba-tiba cowok itu turun dari motornya begitu saja dan berjalan ke Amanda. Semakin dekat sampai Amanda bingung dan lagi-lagi jantungnya harus berdebar hebat.
Terlebih tangan Arga terjulur mengarah ke atas kepala Amanda. Pergerakan yang seketika membuat bulu kuduk Amanda berdiri perlahan.
Ternyata ...
"Ada daun di rambut elo," kata Arga sambil mengambil sehelai daun di atas rambut Amanda.
Sang empunya membelalak sempurna sekaligus mengembuskan napas lega. Ternyata hanya daun.
Namun, akibat jarak keduanya yang masih begitu dekat, kini giliran Arga yang tanpa sadar memandangi wajah Amanda dengan intens.
"Kenapa, Ga? Ada daun lagi di muka gue?"
Pertanyaan itu tidak terdengar sama sekali di telinga Arga. Cowok itu sibuk memperhatikan setiap garis wajah gadis di depannya ini. Kedua mata yang runcing tetapi sipit. Hidung mancung dan indah. Bahkan, tangan Arga hendak terjulur ke arah bibir Amanda. Hampir menyentuhnya, cowok itu baru tersadar dan segera menarik tangannya menjauh.
"Gue balik." Cepat-cepat Arga kembali menaiki motornya dan melajukan sekencang mungkin, demi membuyarkan lamunannya yang tidak seharusnya pada Amanda.
Sedangkan Amanda masih di posisinya dengan tubuh yang bergeming dan hanya mendelikan matanya dua kali.
"Gue enggak bisa begini terus. Bisa bahaya. Gue udah punya Bimo."
_____
Terjalin hubungan pertemanan yang semakin dekat antara Amanda, Haka, Oni, Bili, dan Arga. Semenjak kunjungan mereka ke mall beberapa hari yang lalu membuat keakraban mereka saling meningkat.
Sebuah ruangan berukuran sedang itu sudah tak bernyala lampu karena jam di dinding menunjukan pukul sembilan. Cowok ber-singlet putih itu membanting tubuhnya di atas kasur beralas sprei bendera Jerman. Matanya ke arah langit-langit di kamarnya. Pikirannya menerawang entah kemana. Beberapa detik wajah datar itu menampilkan senyum manis di bibirnya. Membayangkan sesosok gadis yang akhir-akhir ini lebih sering muncul di benaknya.
"Anak mamah yang ganteng lagi mikirin apa, sih ? Sampe nggak denger mamah ngetuk pintu daritadi." Suara lembut seorang wanita yang sudah berada di sampingnya.
Cowok itu bangkit dari kenyamanannya. Sedikit tersentak kaget.
"Eh, Mah. Maaf, Arga nggak denger tadi." Tangannya menggaruk belakang lehernya yang sedikit gatal.
"Kamu lagi melamun, ya? Apa sih yang kamu lamunin?" tanya Anisa. Wanita berumur empat puluh lima tahun tapi masih seperti wanita berumur tiga puluh tahun.
"Enggak, Ma. Arga nggak ngelamun, cuma ...," jawab Arga tersendat. Tidak mendapatkan kata untuk melanjutkan alasannya.
"Hayo, cuma apa? Kamu lagi jatuh cinta, ya?"
Tingkah Arga semakin menjadi. Salah tingkah di depan ibundanya sendiri.
"Bener, kan, kamu lagi jatuh cinta ? Sama siapa, sih?" Beginilah naluri seorang ibu. Hanya melihat gerak-gerik anaknya saja sudah tau pasti apa yang sedang terjadi. Anisa tersenyum geli melihat tangan putranya yang bergerak kesana-kemari.
"Kaya apa sih, gadis itu?Mama penasaran. Sejak kepergian Sania 2 tahun lalu, mama belum pernah lagi melihat kamu seperti ini." Belum ada satu pun pertanyaan yang dijawab Arga. Sang mama terus mengeluarkan keingintahuannya secara beruntun.
Arga adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak perempuannya sudah menikah dua tahun lalu dan tinggal bersama suaminya di Surabaya. Sedangkan adik perempuannya bersekolah di Singapura bersama Dwi-ayahnya. Kepulangannya hanya beberapa bulan sekali. Membuat Arga menjadi anak laki-laki satunya yang sangat dicintai Sang Mama.
Tidak ada satu cerita yang terlewatkan dari anak abege-nya yang semakin menjadi dewasa. Bukan berarti Arga anak mama, tingkahnya akan mencerminkan seperti anak manja. Justru sebaliknya, Arga menjadi pelindung bagi mamanya. Kemana pun mamanya pergi selalu ia temani. Baginya, wanita yang melahirkannya itu adalah wanita yang menjadi panutan jika ia mencari pendamping hidupnya kelak.
"Secepatnya pasti Arga akan ceritain ke mama, siapa dia."
Anisa tersenyum simpul sambil berkata, "mama tunggu, ya."
_____
Lampu-lampu gemerlap mengililigi setiap sudut tempat terbuka di sini. Jauh dari kebisingan membuat suasana semakin intim. Pahatan dari kayu jati membuat sepasang kursi meja di beberapa sudut terlihat kokoh. Ditambah alunan musik klasik yang membuat keadaan menjadi romantis bagi pasangan yang mendatangi salah satu restauran di kota Bogor ini. Tempat favorit Bimo jika mengunjungi kekasihnya, Amanda.
Sudah beberapa menit ini Amanda tidak pernah berhenti tersenyum menatap layar ponselnya.
Line GrupChat : sekumpulan orang terkece dilangit dan bumi.
Haka : woi!
Oni : apaan sih lo berisik.
Haka : ada yang mau ngasih gue tumpangan buat tidur malam ini nggak?
Oni : ENGGAK!
Bili : ENGGAK!
Arga : gue juga enggak.
Amanda : apalagi gue nggak mungkin banget. Kenapa sih emangnya?
Oni : diusir dari rumah lo yak?
Haka : iyaaaaakk :(
Oni : wkwkwkwkwk.
Bili : hhahahah sukurin lo!
Amanda : lho kenapa emang, Ka?
Haka : gue minjem talenan emak gue buat natakin laptop.
Oni : sial lo. Jelas nyokap lo ngamuk.
Bili : parah emang lo, Haka. Nggak sekalian aja tuh laptop lo masukin dalem kulkas biar nggak kepanasan.
Oni : wah, kalo gitu mah tambah parah yang ada, Bro. Bisa digetok pake ulekan nanti. Atau malah dipecat jadi anak.
Bili : bahahaha sial lo, Ni. Bikin telor puyuh gue muncrat aja.
Oni : emang lo lagi ngapain, Bil?
Bili : dinner lah.
Haka : dinner makannya pake telor puyuh. Nggak sekalian aja telor kuda lo makan.
Bili : sue lo, Bro. Mana nih si Arga sama Manda nggak ada suaranya lagi ?
Amanda : nyimak kok
Arga : nyimak juga.
Tawanya semakin cekikikan kala Amanda membaca percakapan antara Haka, Oni, dan Bili.
"Kamu kenapa sih, Sayang ? Girang banget kayaknya?" tanya Bimo yang sedaritadi memperhatikan kekasihnya itu.
Amanda belum menjawab. Tawanya semakin geli meskipun tidak terlalu keras yang bisa mengakibatkan para pengunjung di sana menoleh. Tawanya masih terbilang wajar.
"Sayang?" ulang Bimo.
"Eh iya, Bim. Kenapa?" Akhirnya Amanda menoleh meskipun masih sesekali melihat ke layar ponsel.
"Kamu kenapa daritadi ketawa sendiri begitu ? Makanan kamu juga belum disentuh sama sekali, tuh." Bimo menunjuk menggunakan dagunya ke hidangan steak complete di depan Amanda.
"Iya, nanti aku makan. Ini, Bim. si Haka Oni sama Bili mulai lagi di grup Line. Masa Haka diusir sama emaknya gara-gara make talenan buat natakin laptopnya. Ada-ada aja tuh anak." Amanda kembali menceritakan begitu heboh apa yang membuatnya tak berhenti tertawa.
Bimo menanggapinya hanya tersenyum simpul. Lalu pria itu menarik kursinya mendekat ke Amanda.
"Kamu seneng, ya, temenan sama mereka?" tanya Bimo sambil menyelipkan beberapa helai rambut Amanda ke belakang telinga.
Amanda meletakan ponselnya di samping piring sajiannya. Tangannya terangkat meraih garpu dan menusuk kentang. Dimasukkan kentang itu ke genangan saus sambal di wadah kecil dalam piring. Amanda melahapnya.
"Iya, aku seneng punya temen-temen kaya mereka. Mereka itu lucu. Selalu bikin aku ketawa."
"Tapi kamu nggak akan jatuh cinta ke salah satu temen-temen kamu itu kan?" Akhirnya Bimo mengeluarkan sikap pencemburunya.
"Enggak lah, Bim. Aku kan, udah sering bilang ke kamu kalo mereka bukan tipe aku. Lagian mereka itu nggak cocok banget kalo disandingin sama aku." Amanda tertawa. Mengingat kelakuan para cowok itu yang jauh sekali dibilang normal.
Kecuali yang namanya Arga. Sebisa mungkin Amanda menyembunyikan raut wajahnya yang memerah dikala ia mengingat wajah cowok itu.
"Bagi aku, pertemanan kita nggak akan ada ujungnya. Beda sama orang yang pacaran. Lebih banyak kemungkinan untuk berpisah. Atau saling membenci." Tiba-tiba Amanda serius dengan ucapannya. Wajah gelinya berubah seketika. Karena Amanda sudah merasakan kenyamanan berada di antara ke empat cowok itu.
"Tapi itu nggak berlaku untuk kita, lho. Minggu depan kita kan tunangan. Dan setelah kamu lulus kuliah kita akan melangsungkan pernikahan," ujar Bimo sambil mengambil salah satu telapak tangan gadisnya.
Entah kenapa hati Amanda melemas mendengar kalimat tentang pernikahan. Ini sangat aneh. Sebab sejak awal Amanda bertekad untuk cepat-cepat lulus kuliah demi bersanding dengan Bimo. Namun, keinginan itu kini berubah. Rasanya Amanda ingin lebih lama berada di dunia perkuliahan seperti ini. Kalau bisa lebih dari empat tahun ia bisa menjalani hari-hari seperti ini bersama empat sekawan itu.
Bimo mengecup punggung tangan Amanda dengan lembut dan lama. Bahkan, mata pria itu terpejam seperti sedang menikmati aroma wangi kulit Amanda yang memabukan.
"Aku udah enggak sabar untuk memiliki kamu seutuhnya," lanjut Bimo yang kemudian menggenggam tangan Amanda.
Ponsel Amanda bergetar lagi berkali-kali. Pasti kicauan di grup sekumpulan orang terkece selangit dan bumi mulai bergemuruh lagi.
Dengan menggunakan tangan satunya, Amanda membuka ponselnya lagi.
Arga : dingin.
Bili : emang lagi dimana lo bro?
Arga : di Puncak.
Bili : wah, nggak ngajak-ngajak lo. Tau gitu tadi gue ikut.
Haka : bisa bahaya kalo Arga sama Bili berduaan di puncak.
Oni : emangnya lo, Haka. Mereka mah normal. Bili jelas punya cewek. Arga banyak yang ngantri. Lah lo?
Haka : ngaca juga dong lo Oni !! Gue mah sebenernya punya pacar keles. Tapi dia lagi jauh nan disana.
Oni : oiya gue lupa si Aisyah itu ya yang merantau ke Korea. Aisyah telah pergi.......
Haka : sial lo. Bikin gue kangen aja.
Amanda : so sweet banget, Haka. Nggak nyangka.
Haka : belum tidur lo, Mand? Udah malem nih. Cewek-cewek juga.
Amanda : belum. Lagi diluar.
Arga : dimana? Sama siapa?
Haka : kamu dimana ... Dengan siapa ... Sekarang berbuat apa ...
Amanda : kepo, deh.
Haka : Mand, Arga lagi kedinginan tuh tadi.
Amanda : lah terus gue harus apa?
Arga : peluk dong.
Anehnya, dua kata singkat itu membuat jantung Amanda berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan, bulu kuduknya yang selalu merinding setiap kali Bimo bersikap romantis seperti sekarang ini, telah kalah dengan dua kata singkat dari Arga yang baru saja ia baca di layar ponselnya.
Fortsetzung Folgt