Teil 4 - Berlari (Lauf)

3429 Words
Sebuah rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Membuat hati yang tak pernah berhenti menari. Menjadikan jantung yang tak bisa diam ditempatnya. Dan tak bisa menahan mulut ini untuk mengucapkan keempat suku kata itu. Aku juga mencintai kamu. Hari sunyi ku berubah menjadi sebuah keramaian disetiap detiknya. Penantian ku selama ini berujung kebahagiaan. Seperti love bird yang Setia pada pasangannya. Ketika satu hati sudah menemukan pilihan yang tepat. Tapi kini semua hentakan itu terasa lagi. Ada rasa yang lebih aneh kembali bergejolak disetiap inci organ tubuh ini. Aku tidak mengenalnya meskipun aku pernah jatuh cinta sebelumnya. Rasa ini begitu kuat dan semakin kuat. Aku tak berdaya untuk mengartikan rasa aneh ini. Bagaimana mungkin mencintai untuk ke dua kalinya ? Bagaimana bisa hati ini mendua ? Aku tak mau terperangkap dalam tragedi ini. Aku hanya wanita biasa yang ingin mencintai dan dicintai oleh satu orang laki-laki sepanjang hidupku. Amanda bella. _____ Amanda mencari gelas berisi es jeruk di meja, lalu meneguknya. Pena ungu yang dicapit dengan kelima jarinya diletakan di tengah-tengah tumpukan lembaran itu. Seiringan dengan kata hati yang dituangkan ke dalam kata per kata, jantungnya berdegup tidak normal. Gadis ini mulai takut akan rasa aneh yang dimilikinya. Begitu sesak rasanya. Mungkin jika gadis ini berteriak di pinggir jurang, akan sedikit berkurang bebannya. Namun, tetap saja ia tidak bisa membendung rasa ini terlalu lama. Kenyamanan di dalam pertemanan ini membuat si gadis terhanyut. Ia yakin bahwa sebentar lagi dirinya akan tenggelam dalam kisah ini. Kisah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hatinya sudah membuat suatu keputusan. Pikirannya selalu tertuju ke laki-laki berbeda, selain calon tunangannya. "Hai, Mand. Lagi ngapain? Apaan nih?" sapa cowok yang persis sekarang ada di benak Amanda. Kalau kata pepatah, pucuk di cinta ulam pun tiba. "Eh, Ga. Ini gue lagi ...." Belum sempat Amanda menjawab pertanyaan yang diajukan, tangan Arga meraih sebuah buku berukuran sedang bersampul ungu. Sebelum membukanya, Amanda sudah sigap untuk menarik kembali buku itu. "Ih, jangan. Ini privasi." Amanda tersenyum kikuk. Memasukan buku itu ke dalam tasnya. Bisa bencana di hidupnya kalau Arga sampai tahu bahwa puisi yang barusan ia buat adalah perasaan ia saat ini. "Buku diary?" tanya Arga dengan alis terangkat. Amanda menggeleng. "Bukan. Cuma kumpulan puisi." "Lo suka nulis?" "Sedikit." "Kenapa nggak diketik di laptop aja? Emangnya nggak cape kalo tulis tangan gitu?" Amanda menggelengkan kepalanya. "Enggak, kok. Justru sebuah tulisan akan terlihat lebih indah jika di dalam kertas ada coretan-coretan dari tinta. Dan lebih terasa nyata juga buat si pembacanya," lanjutnya. Tangan kiri Arga mengadah sisi kepalanya dan dimiringkan kepala itu menatap Amanda penuh kebinaran di matanya. Entah kenapa hari ini Arga berbeda dari sebelumnya. Bahkan sangat-sangat berbeda dan jauh dari kata cool sebagai sebutan orang-orang yang ada di sekitarnya. Saat ini Arga lebih terkesan mirip Bili yang suka tebar pesona ke para gadis. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Arga menatap Amanda lekat-lekat sampai yang ditatap menjadi salah tingkah. "Kenapa sih, Ga? Kok ngeliatin gue-nya begitu banget ? Ada yang salah, ya, sama gue? Atau ada daun lagi di rambut gue?" Amanda meraba atas kepalanya, takut kalau-kalau kejadian malam itu terulang lagi. "Wunderschönen," bisik Arga. Namun, sayangnya Amanda mendengar kata yang aneh itu. (Cantik) "Hah?" tanya Amanda heran dan tidak mengerti arti kata yang disebutkan Arga. "Elo ngomong apa, sih, Ga?" Cowok itu menggeleng, lalu mengubah posisi duduknya menjadi tegak karena ketiga peganggu datang bergabung. "Lagi ngomong apaan sih? Serius bener?" tanya Haka penasaran dan duduk di samping Arga. Oni dan Bili duduk di depan ketiga orang itu. "Nggak ngomong apa-apa kok, cuma biasa aja," sahut Amanda yang nada suaranya malah menjadi terkesan salah tingkah. "Eh, minggu ini kita ke sentul, yuk," seru Haka. Tidak menghiraukan lagi percakapan sebelumnya. "Ngapain?" tanya Amanda polos. "Oiya, gue lupa. Lo kan bukan orang sini, yak." Haka menepuk jidatnya. "Itu lho, Mand. Ada taman bermain besar di sana. Seru, deh, pokoknya," jelas Bili. "Boleh-boleh tuh." Amanda bersemangat. Di detik berikutnya bahunya melorot. "Tapi bukan gue lagi kan yang jadi donaturnya?" Cewek itu hendak memastikan hal yang sudah sering terjadi selama ini. Lebih tepatnya sejak ia mengenal dua makhluk yang hobinya memalak. Biasanya anak kos lebih sering dikenal remaja yang super irit. Namun, itu tidak berlaku untuk Amanda. Karena dirinya anak bungsu dari dua bersaudara, jadi segala kebutuhannya selalu terpenuhi. Dan Amanda ini tidak sepenuhnya menjadi cewek manja yang selalu di elu-elukan oleh keempat temannya itu. Sebab Amanda bisa bertahan hidup jauh dari kedua orang tuanya. Dia juga loyal dan boros kalau masalah uang. Belum lagi Bimo yang rutin mengirim nominal yang lumayan ke rekening Amanda di setiap bulannya. Bukannya Amanda matrealistis, tetapi Bimo sendiri yang memaksakan itu dengan alasan kalau ia tidak mau calon istrinya kekurangan apapun. Jadilah Amanda sebagai tumbal Haka dan Oni setiap harinya. "Kali ini lo tenang aja, Mand. Gue dapet tiket promo, nih. Jadi kita cuma bayar setengahnya aja. Dan kebetulan gue baru dapet jatah bulanan dari bokap," papar Haka menjelaskan. "Okelah, kalo gitu kita bersenang-senang," girang Oni mengepal tangannya dan diacungkan ke udara. Seperti orang yang akan beradu panco. Keputusan telah dibuat. Meski tidak semua orang yang langsung mengiyakan, tetapi perjalan ini pasti akan diikuti oleh kelimanya. _____ "Baiklah kalau begitu saya tunggu tugas kalian berbentuk power point lusa depan," seru laki-laki tua berumur lima puluh tahun itu. Sebagian rambutnya sudah memutih dan kaca matanya mengendur di batang hidungnya. Ketika salah satu dosen yang terkenal pikunnya itu keluar ruangan. Para mahasiswa di dalam kelas juga berhamburan melewati pintu secara bergantian. Haka dan Oni mengernyit. Saling berpandangan menyaksikan Amanda lari terburu-buru meninggalkan kelas tanpa berucap sepatah katapun ke mereka. Hal yang tidak biasa Amanda lakukan. Kakinya yang panjang tidak menjadi jaminan Amanda untuk cepat sampai ke toilet karena memang jarak kelasnya tadi cukup jauh dari ruangan yang sering menjadi tempat lalu-lalang para penghuni kampus. Amanda mempercepat larinya karena keinginan "itu" sudah tertahan sampai di ujung. Brrrruuuuukkk Ada sesuatu di depannya yang menghantam tubuhnya. Amanda tidak terjatuh. Namun, beberapa buku yang dibawanya lolos dari tangannya. "Sorry-sorry, gue buru-buru," kata Amanda sambil merapikan kembali buku-bukunya. "Iya, enggak apa-apa, kok," balas orang yang ditabrak Amanda. Ia juga membantu Amanda mengambil buku di lantai, lalu diberikan ke Amanda. Amanda hendak kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda, tetapi cowok itu menahan lengannya. "Gue boleh tau nama elo, enggak?" "Heh?" Amanda bingung. Ia masih terus sambil menghimpit selangkangannya demi menyumbat sesuatu yang akan keluar sebentar lagi jika ia tidak cepat berlari ke toilet. "Nama lo? Gue boleh tau, kan?" Sayangnya cowok ini tidak peka dengan pelipis Amanda yang sudah berkeringat. "Gue Amanda. Panggil aja Manda. Udah ya, gue duluan. Dah." Amanda berlari secepat yang ia bisa. Sementara cowok yang menabrak Amanda masih diam di tempat sambil memandangi punggung Amanda. Ia tersenyum simpul. Sebut saja cowok ini mulai terpesona dengan wajah dewi milik Amanda. ______ Di sisi lain sudut kampus. Tepatnya di depan salah satu koridor yang terdapat taman kecil berbentuk persegi. Arga duduk ditumpukan semen yang mengeras itu. Ia termenung seorang diri. Memikirkan berbagai hal, atau lebih tepatnya memikirkan seseorang. "Woi, Ga!" kaget Bili dari belakang melompati taman kecil itu. Bokongnya terhentak di samping Arga. "Kenapa ngelamun? Mikirin tugas? Nggak, deh, kayanya. Atau mikirin cewek? Bisa jadi, sih. Tapi kayaknya sekarang lo lagi nggak deket sama cewek manapun," cerocos Bili mengeluarkan pertanyaan beruntun dan dijawabnya sendiri. Menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Gue mau nanya." Arga membuka suara, dengan serius tanpa menoleh ke Bili. "Apaan?" Bili menautkan alisnya. Menatap lekat-lekat sohibnya sejak SMA itu. "Kalo elo suka sama cewek ...." Kalimatnya menggantung kala diserobot oleh Bili. "Wah, bener nih masalah cewek. Ternyata temen gue ini udah bisa jatuh cinta lagi setelah sekian lama. Siapa-siapa orangnya? Anak kampus ini juga?" "Dengerin dulu," balas Arga sengit. "Iye-iye." "Kalo elo suka sama cewek, elo langsung  nyatain  apa  cari  tau  dulu itu  cewek  juga  suka  nggak  sama  lo?" tanya  Arga  meski  nadanya  masih  ragu  untuk  meminta  pendapat  kepada  Bili  yang  notabenenya  kalau  cowok playboy itu tidak terlalu  memikirkan hal seperti  ini. "Nyatain langsung," jawab Bili lantang. "Alasannya? "Karena gue nggak mau cewek yang gue suka itu diambil cowok lain. Gue nggak mau buang-buang waktu, jadi gue langsung temuin tuh, cewek dan bilang kalo gue suka sama dia." "Misalkan ternyata cewek itu nggak suka sama lo?" Arga mengerutkan dahinya. Menaruh kedua tangannya yang terkait di bawah dagunya. "Itu urusannya udah beda. Kalo tuh cewek nggak suka yaudah nggak masalah. Yang  penting kan gue udah nyatain perasaan gue. Nyeseknya tuh disini, Bro." Bili mengepalkan tangannya dan ditempelkan tepat di dadanya.  Mendramatisir nada bicaranya. Kalau masalah cewek memang sepertinya Bili sudah lebih banyak pemahaman ketimbang cowok di sebelahnya yang jarang-jarang jatuh cinta. "Maksud lo?" tanya Arga lagi yang masih tidak mengerti maksud Bili. "Gimana nggak nyesek kalo mendem perasaan ke orang yang lo suka? Pasti nyesek lah." Akhirnya Arga mengangguk paham. Mencermati kalimat Bili di dalam pikirannya. Sesungguhnya banyak kebenaran yang Bili ucapkan barusan. "Mending lo ungkapin, deh, kalo emang lo lagi suka sama cewek. Daripada nanti ujungnya lo nyesel. Tau rasa, deh lo," cibir Bili. Arga masih terus terdiam. Sepertinya dia akan melakukan hal yang serupa dengan pemikiran Bili. "Kalo di pikir-pikir waktu elo sama Sania, dia duluan ya, yang nyatain perasaannya ke elo. Jadi gini nih, elo enggak tau gimana caranya nembak cewek duluan." Bili menggelengkan kepalanya. "Enggak usah omongin masa lalu," kata Arga, ketus. Sesaat membuat Bili bungkam setelah terkekeh diam-diam. "Tapi siapa, sih, cewek yang lo maksud?" Bili berbisik di wajah Arga. Alisnya terangkat. Dan Arga menarik wajahnya menghindari Bili dan juga pertanyaan darinya. Ransel berbahan jins itu disampirkan di bahu tegap milik Arga. Tanpa menjawab pertanyaan dari Bili, Arga beringsut pergi. Cowok yang memiliki bulu mata lentik itu mendesis. Merengut karena tidak mendapat satu pun jawaban. _____ Karena sore ini Haka harus bersih-bersih rumah sebagai hukuman dari emaknya perihal kemarin dan Oni juga harus mengantar babe-nya ke suatu tempat, maka Amanda harus mandiri untuk sampai ke kosnya. Biasanya salah satu dari ajudannya itu yang akan mengantarnya sampai depan pintu kos. Amanda menunggu ojek yang biasanya banyak melintas di depan kampus. Kadang ada juga yang mangkal. Sebenarnya banyak ojek-ojek online. Namun, dengan jaraknya yang cukup dekat antara kos dan kampus, Amanda lebih memilih jasa ojek yang kebanyakan dikendarai oleh bapak-bapak tua, sehingga membuat Amanda iba dan ingin memakai jasa para orang tua itu. Sambil menunggu di sisi gerbang. Amanda merogoh ponsel di tas-nya. Men-slide sekali-menggeser ke atas ke bawah-dan menekan kontak seseorang. Lantas meletakkan benda persegi itu di telinga kanannya. "Halo, sayang ada apa?" "Aku mau ijin hari Minggu besok temen-temen aku ngajak ke taman bermain di daerah Sentul," ujar Amanda sesekali melirik pandangan di depannya kala mencari jika ada ojek yang biasanya menawarinya lebih dulu. "Sama keempat cowok itu?" "Iya, siapa lagi. Boleh, kan?" "Berarti weekend besok kita enggak bisa ketemu dong?Kalo aku udah enggak tahan kangennya, gimana?" "Astaga, Bim. Kamu apaan sih? Kan, masih bisa hari minggunya kita ketemu. Gimana?" "Iya-Iya, deh. Hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam. Atau perlu aku jemput aja nanti, gimana?" "Enggak usah. Kejauhan kamu dari Jakarta jemput aku di Bogor. Kan, biasanya aku juga dianter Haka dan Oni. Kamu enggak usah khawatir ya, sayang." "Oke. I love you so much my future wife." "I love you too." Bimo selalu merasa bahagia mendengar kegirangan gadis yang dicintainya. Bimo sendiri tidak ingin merantai segala hal yang dilakukan Amanda selagi itu positif. Namun, sejujurnya Bimo selalu khawatir jika Amanda akan berpaling hati. Ketakutan yang tidak bisa ia pungkiri. Arga yang keluar dari dalam gedung dengan motornya, berhenti di sebelah Amanda. "Kok, pulang sendiri? Biasanya elo sama Haka atau Oni?" tanya cowok yang wajahnya sedang berseri itu. Tidak seperti biasanya. "Mereka lagi ada urusan. Lagian gue bukan anak kecil kali, yang tiap saat harus dianterin pulang." Arga terkekeh geli. "Iya-iya. Kalo gitu gue anter pulang aja, gimana?" "Enggak usah, deh. Gue ngerepotin mulu dari kemaren." "Enggak, kok." Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Cowok itu menarik tangan Amanda ke belakang untuk segera naik ke motornya. Tidak lupa cowok itu menyerahkan jaket kulitnya ke Amanda lantaran gadis itu yang sedang memakai dress selutut. Meski sedikit kikuk, Amanda akhirnya menerima tawaran Arga. Di perjalanan. "Elo kalo makan malem biasanya jam berapa?" tanya Arga setengah berteriak lantaran bising jalanan yang lebih mendominasi. "Enggak nentu sih. Kenapa emangnya?" "Mau gue ajak ke suatu tempat, enggak? Makananya enak banget. Restoran bintang lima aja kalah." Dari cara bicaranya, jelas jika Arga sedang merasa senang. "Eh?" Amanda bingung setengah mati. Tidak mungkinkan jika secara tidak langsung Arga mengajaknya ... kencan? "Gimana? Mau enggak? Kalo enggak mau, gue enggak maksa kok." Amanda bergumam sebentar. "Yaudah, deh." "Kok, terpaksa gitu?" "Enggak. Gue mau, kok. Bener, deh." Kalau ini malah terkesan Amanda terlalu bersemangat. Serba salah memang. Arga tersenyum. Cukup lebar. Untungnya Amanda tidak melihat hal yang langka ini. _____ Arga memarkirkan motornya di depan sebuah rumah berlantai dua yang tidak begitu luas halamannya, tetapi terdapat garasi yang bisa muat dua mobil berukuran sedang. Jelas saja Amanda bingung karena Arga mengajaknya makan di suatu tempat. Kalau Amanda menebak, ini rumahnya Arga. Namun, untuk apa cowok itu membawanya ke sini? Apa perlu Arga ganti pakaian dulu sebelum membawanya ke tempat makan yang dimaksud cowok itu? "Ga? Ini elo ngajak gue ke mana? Katanya mau makan?" tanya Amanda. Cowok itu malah menyimpulkan senyum seraya membuka helm-nya. Tanpa bersuara, Arga menghampiri gerbang dan membukanya. Amanda mengikuti saja langkah kaki cowok itu. Sampai di depan pintu, Arga membuka begitu saja pintu yang tidak terkunci itu. "Assalamualaikum, Mah! Arga pulang!" seru Arga yang seketika membuat Amanda seperti disengat listrik tegangan tinggi. Demi apa Arga benar-benar membawa Amanda ke rumahnya? Mana tidak ada pemberitahuaan dulu sebelumnya. Ditambah penampilan Amanda yang menurut gadis itu sudah tidak karuan karena habis pulang kuliah. Amanda jadi gelagapan sendiri. "Ga? Elo yang bener aja. Kenapa enggak ngasih tau, gue dulu sih, kalo mau ke rumah lo," desis Amanda mengecilkan suaranya. "Udah, tenang aja. Rumah gue aman, kok." Anisa, mamanya Arga keluar dari arah dalam. Arga mengajak Amanda masuk ke ruang tamu menghampiri Anisa. Cowok itu menyalimi mamanya, termasuk Amanda yang juga melakukan hal itu. Praktis membuat Anisa mengernyit sambil menatap Arga penuh tanya. "Tumben kamu bawa teman perempuan?" tanya Anisa spontan. "Kenalin, Mah. Ini Amanda, teman satu kampus Arga." Yang disebut namanya tersenyum canggung. Detak jantungnya tidak kalah hebat saat Amanda menatapi wajah Arga di arena bermain kala itu. "Cantik sekali teman kamu ini. Kebetulan makan malam udah siap. Jadi sekalian kita makan bareng ya. Amanda mau, kan?" Anisa terlihat senang dengan kehadiran Amanda. "I-iya, tante," jawabnya kikuk. "Santai aja, ya. Jangan canggung. Di rumah ini cuma ada saya dan Arga aja, kok. Ada bibik juga tapi enggak menginap," jelas Anisa sambil menggiring Amanda menuju ruang makan. Sedangkan Arga mengikuti di belakang dengan wajah semringahnya. "Sedangkan suaminya tante di luar negeri sama adiknya Arga yang sekolah di sana. Dan anak tertua tante, kakaknya Arga sudah menikah. Dia ikut suaminya di Surabaya," lanjut Anisa dengan antusias menceritakan anggota keluarganya. "Iya, tante." Mereka sudah sampai di ruang makan. Amanda duduk di sebelah Anisa. "Arga mandi sebentar ya, Ma," ujar cowok itu. "Jangan lama-lama. Nanti Amandanya keburu lapar." Anisa mewanti-wanti. Cowok itu beringsut pergi ke arah lantai dua. Menyisakan Amanda berdua dengan Anisa. Wanita yang melahirkan sosok laki-laki yang berhasil menerobos masuk ke hatinya begitu saja. "Amanda satu jurusan dengan Arga?" "Enggak, Tante. Manda ambil jurusan manajemen bisnis. Arga kan, komunikasi ya?" "Iya, benar. Kalau tante boleh tau, kalian sudah lama kenal di kampus? Atau teman SMA juga seperti Arga dan Bili?" "Kita baru kenal di kampus kok, Tante. Tapi kita udah lumayan dekat. Bareng Bili dan dua teman lainnya juga." Anisa manggut-manggut. Wajahnya tidak kalah semringah dari putranya. Kemudian wanita paru baya datang dari arah dapur sambil membawa panci sedang yang di atasnya mengepulkan asap panas. Sebut saja itu Bik Siti. Sebuah mangkuk kosong diiisikan sup oleh Bik Siti dari panci yang dibawanya. "Permisi ya, Neng," kata Bik Siti sambil menuangkan sup ke wadah kaca berwarna putih. "Manda udah punya pacar?" Pertanyaan itu membuat Amanda terbatuk. Kebetulannya lagi Bik Siti ini sedikit latah. Jadilah panci yang sedang dipegang Bik Siti goyang dan membuat sup panas itu tumpah ke meja, lalu mengalir ke arah Amanda. Tidak terlalu banyak, tetapi cukup membuat pakaian Amanda bagian d**a sampai perut itu basah. "Ya, ampun, Bibik! Hati-hati dong." Anisa panik. Termasuk Amanda yang kepanasan akibat kuah sup yang mengenai sedikit kulit d**a dan perutnya. "Maaf, Neng, maaf. Bibik enggak sengaja.Sumpah, deh, suer. Bibik beneran minta maaf." Bik Siti terlihat merasa bersalah dan ketakutan. "Yaudah, enggak apa-apa, Bik," kata Amanda sambil meniup-niup bajunya. "Bibik tolong bersihin aja ya, tumpahannya," ujar Anisa. "Iya, Nyah." "Amanda enggak apa-apa, kan? Yuk, ke kamar tante di atas. Coba tante liat dulu kulit kamu kena panas apa enggak." Amanda belum menjawab, tetapi Anisa sudah menarik tangannya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Sampai di kamar Anisa, wanita itu langsung menutup pintunya. "Coba kamu buka baju ya, kita lihat ada luka panasnya apa enggak." Anisa terlihat cemas. "Enggak usah, Tante. Manda enggak apa-apa, kok." Sayangnya wajah gadis itu tidak berkata demikian. "Amanda, tante khawatir kalau sampai kulit kamu terluka. Ini tanggungjawab tante karena kejadian ini ada di rumah tante. Kamu buka sebentar ya, bajunya." Amanda berpikir keras. Saat ini ia sedang menggunakan dress ungu selutut berlengan panjang dengan bahan rajut. Jadi kalah dibuka, otomatis hanya menyisakan celana mini jauh di atas pahanya, serta bra sporty tanpa tali. Demi apapun, Amanda malu walaupun Anisa juga perempuan. "Tapi, tante ...." Wajah Anisa yang memelas membuat Amanda tidak enak hati. Mau tidak mau ia melepas dress-nya secara perlahan. "Tuh, benar kan? Perut kamu ada luka panasnya." Anisa menyentuh perlahan kulit perut Amanda. Gadis itu meringis merasa perih. Padahal tadi tidak berasa apapun. Namun, setelah disentuh seperti ini malah jadi sedikit sakit. "Sebentar ya, tante ambilkan air es dulu sama salep lukanya." "Enggak usah, Tante." Anisa berlalu pergi keluar kamar. Menyisakan Amanda seorang diri di sebuah kamar berukuran besar. Lengkap dengan berbagai furniture penunjang lainnya. Dari konsep kamarnya, Amanda bisa menebak jika Anisa adalah wanita yang sederhana, tetapi elegan. Pandangannya beredar ke setiap sudut kamar ini. Ada banyak foto yang tertata rapi di meja panjang depan ranjang. Tidak begitu jelas, tetapi Amanda bisa tahu jika anak laki-laki di foto itu adalah Arga. Posisi Amanda saat ini tidak jauh dari pintu, di dekat lemari pakaian berbahan kaca depannya. Ceklek. Amanda menoleh ke pintu. Akhirnya wanita yang sudah cemas padanya sejak tadi kembali juga. Namun, ternyata bukan Anisa yang membuka pintu, tetapi Arga. Keduanya membelalak sempurna. Amanda diam mematung dengan wajah terkejut bukan main, sedangkan Arga tidak kalah seperti habis disulap menjadi batu dengan kedua mata menjelajah setiap bagian tubuh milik Amanda. "Arga! Elo liat apa, ih!" Amanda menutupi tubuhnya dengan kedua telapak tangan. Setidaknya ia berusaha. Segera Arga menutup pintu itu. "Sorry, Mand! Gue enggak liat apa-apa, kok!" teriak Arga di balik pintu. "Serius, ih, Ga!" Amanda malu setengah mati. "Lagian elo kenapa enggak pake baju gitu?" "Baju gue basah, Arga. Tadi bibik numpahin kuah sup. Terus sekarang nyokap elo lagi ke bawah ambil air es buat kompres perut gue," jelas Amanda juga berteriak. Pintu itu terbuka lagi. "Perut elo kenapa?" tanya Arga yang hanya menatap ke arah wajah Amanda. Cowok itu tampak cemas. Dengan sigap Amanda menutupi tubuhnya lagi dengan kedua tangan. "Arga!" Cowok itu menutup matanya dengan satu telapak tangan. Lalu berjalan ke dalam kamar menuju kamar mandi. Sekeluarnya dia dari sana, Arga membawa handuk baju dan diberikan ke Amanda. "Pake ini dulu." Cepat-cepat Amanda memakai handuk baju itu. Akhirnya ia bisa bernapas lega. "Gue tanya, perut elo kenapa?" "Ada luka panasnya. Cuma sedikit, kok." "Coba sini gue liat." Mungkin saking cemasnya, Arga lupa dengan ucapannya yang bisa membuat Amanda berteriak lagi. "Ga, elo bercanda?" "Gue serius. Elo cukup buka bagian lukanya aja. Dan gue juga bakalan fokus ke lukanya, bukan ke yang lain," ujar Arga dengan amat serius. Membuat Amanda yakin dan perlahan membuka handuknya di bagian perut saja. Entah sadar atau tidak, tangan Arga terjulur menyentuh luka panas di perut Amanda. Cowok itu mengusap-usap lembut dengan telunjuknya. Amanda, gadis itu hanya bergeming sambil menikmati euforia aneh dari sentuhan Arga yang menurutnya asing tetapi mampu menggetarkan seluruh organ tubuhnya. Bahkan, Amanda menerima begitu saja pergerakan ini. Namun, detik berikutnya, Amanda menangkap pergelangan tangan Arga. Menggenggam erat kulit atletis itu sambil menatap wajah sang empunya yang sekarang juga tengah menatap lekat ke arahnya. Pelan-pelan, Arga juga melangkah mendekat ke Amanda. Wajahnya dengan gadis itu hanya berjarak sejengkal. Mereka bisa saling mendengar embusan napas satu sama lain. Amanda sudah memejamkan matanya saat Arga semakin memajukan wajahnya. Namun, sontak saja Amanda terkesiap lalu berlari keluar kamar dan turun ke lantai satu. Sedangkan Arga masih di posisinya sambil mengembuskan napas dan tersenyum miring. "Semakin elo lari, semakin kuat gue buat kejar elo. Sejauh apapun itu." Fortsetzung folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD