Teil 5 - Taman Bermain (Spielplatz)

2746 Words
Minggu pagi yang cerah membuat rencana beberapa hari yang lalu terasa sempurna. Rasanya matahari sangat pengertian di hari ini. Panasnya tidak begitu terik, tetapi tetap menghangatkan. Dan kehangatannya tidak membuat sekujur tubuh menjadi berkeringat. Suasana yang sudah cukup ramai di salah satu Taman bermain di daerah Sentul-Bogor ini, membuat kelima anak kampus itu menjadi semakin bersemangat. Secara bersamaan Haka dan oni mengangakat kedua tangannya lantas menghirup kesegaran aroma pepohonan yang mengelilingi kawasan wisata itu. Bili masih berkutat ke ponselnya sejak turun dari mobil karena harus memberikan banyak laporan ke pacarnya yang protektif. Wajah Amanda semringah sejak kakinya menginjak pintu utama. Sementara Arga berbinar. Karena hari ini ia akan membebaskan perasaan yang akhir-akhir ini mengganggunya. Cowok itu sudah teramat yakin. Untuk memulai hari menyenangkan ini, mereka lebih memilih wahana yang terlihat tenang. Kelimanya mulai mengantri ke kincir angin besar yang berputar santai. Haka dan Oni sudah menaiki pintu pertama dengan cepat saking antusiasnya. Amanda yang ingin mengikuti mereka tertahan oleh tangan Arga. Membiarkan Bili yang masuk ke sana. Arga memberanikan diri untuk mengajak Amanda menunggu pintu berikutnya. Akhirnya Amanda bersama Arga naik ke pintu kincir angin berikutnya. Hanya berdua. "Wah, indah banget, ya, pemandangannya," kagum Amanda mengedarkan pandangan ke hamparan hijau hijau di depannya. Gadis itu berusaha memecah keheningan sekaligus suasana canggung beberapa saat tadi. "Emang di Bandung enggak ada tempat kayak gini?" tanya Arga yang tersenyum melihat Amanda membelalak. Amanda menggeleng. "Gue kan tinggal di kotanya. Jarang banget buat naik ke dataran tingginya." Suaranya pelan. Wajahnya cemberut karena tidak pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya. Arga tersenyum simpul. Merasa gemas dengan ekspresi Amanda di hadapannya. Matanya Amanda memutar menoleh Arga. Ia tak sadar kalau di atas sini dirinya hanya berdua dengan Arga. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya tertahan seketika saat melihat senyum Arga yang menenangkan. Sekali pun jika tiba-tiba mesin berhenti, dan membuat mereka terus berada di atas. Rasanya Amanda lebih senang jika itu terjadi. Ia yakin tidak akan ada ketakutan saat hal itu tiba-tiba menjadi nyata. "Ga," panggil Amanda, pelan. "Ya." Sebenarnya Amanda ingin menanyakan tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika cowok itu mengajak ke rumahnya. Alasan Arga yang sebenarnya membawa Amanda bertemu mamanya. Karena pada dasarnya Amanda ini adalah gadis yang peka dan mudah untuk menilai suasana. Namun, keyakinan itu sendiri harus dipastikan lebih dulu ke orangnya langsung. Sayangnya, Amanda mengurungkan niatnya karena rasanya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri jawaban yang diberikan Arga nantinya. "Kenapa, Mand?" ulang Arga menaikan alisnya. Mereka duduk bersebrangan. "Eh, nggak jadi. Enggak apa-apa, kok. Bukan hal penting juga." Amanda tersenyum canggung. Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Amanda mengusap sikunya tanda ia mulai kedinginan ketika berada di puncak kincir angin. Terasa embusan udara yang begitu sejuk. Kedua tangannya mengepal saling bertautan dan diletakan di tengah lutut tanpa sehelai benang pun. Karena hari ini Amanda sengaja memakai baju kodok dengan kaos polos ungu untuk dalamannya. Memudahkan Amanda leluasa bergerak kesana-kemari mengingat dirinya akan menjelajah ke setiap sudut di arena bermain ini. Dengan pikiran yang maju mundur. Akhirnya Arga menguatkan keinginannya untuk melakukan apa yang sudah ada di pikirannya. Tangannya mendarat ke tautan tangan Amanda. Menindihnya agar tangan putih bersih itu terasa hangat. Amanda tersentak. Dengan spontan ia menatap ke arah tangannya yang sudah dibungkus oleh tangan Arga. Dadanya semakin naik turun karena pasokan udaranya mulai habis. Matanya mendelik ke arah Arga. Cowok itu tersenyum. "Biar nggak kedinginan," kata Arga sambil tersenyum. Sedangkan Amanda hanya menyeringai kecil. Sejujurnya Amanda merasa nyaman dengan pergerakan dari cowok ini, tetapi apakah boleh ia seperti ini? Amanda berkutat dengan pikirannya. Ia membiarkan kenyamanan di tangannya. Meski ia sadar kalau hal ini bisa membuatnya semakin sulit keluar dari kisah yang tidak pernah ia duga sebelumnya. "Ga? Kalo boleh tau, elo udah punya cewek belum?" Arga belum menjawab. Ia malah menatap lekat-lekat ke Amanda. Otomatis membuat Amanda jadi salah tingkah sendiri. "Eh, maksud gue nanya ini bukan apa-apa, kok. Gue cuma mau tau aja. Kalo Bili kan, katanya udah ada Deby. Terus si Haka juga ada ceweknya yang kuliah di Korea. Dan ...." "Belum. Gue belum punya pacar," jawab Arga menyela ucapan Amanda yang belum selesai. Amanda manggut-manggut. "Pernah sekali gue pacaran sama satu cewek. Dia yang suka sama gue duluan. Kita pacaran. Semakin lama gue dan dia saling terikat dan berjanji untuk sama-sama sampai kuliah, terus menikah. Tapi dia pergi," papar Arga tanpa memanglingkan pandangannya sama sekali. Selalu terarah ke gadis di depannya. "Pergi ke mana?" tanya Amanda dengan hati-hati. Arga diam. Pandangannya beralih ke tangannya yang masih setia mendekap jemari Amanda. "Enggak usah dibahas lagi, ya. Itu cuma masa lalu yang udah selesai," balas Arga kemudian kembali mencari wajah Amanda. "Eh, iya. Maaf, ya. Kepo gue udah terlalu akut. Maaf kalau bikin elo jadi enggak nyaman." "Iya. Enggak apa-apa. Dan ... elo sendiri gimana?" Bagi Amanda, pertanyaan ini adalah yang tersulit dari sekian ujian essay yang selama ini ia hadapi dalam masa pendidikannya. Perasaan Amanda tidak karuan ketika beberapa kali di hadapkan pertanyaan begini. Seharusnya mudah saja, tetapi kenapa rasanya lidah Amanda selalu saja kelu untuk menjawabnya. Padahal Bimo adalah pria yang patut dibanggakan kepada semua orang. Amanda gadis paling beruntung yang bisa menjadi kekasih seorang pria nyaris sempurna seperti Bimo. Lantas, kenapa Amanda sulit mengungkapkan jika ia sudah memiliki Bimo sebagai pacarnya? Kincir angin itu berhenti. Dengan cepat Amanda turun dari sana. Tentu saja untuk menghindari pertanyaan Arga barusan. _____ Setelah turun dari kincir angin mereka berlari ke wahana yang lebih seru. Roller coaster. Lagi-lagi Arga sengaja meminta Amanda duduk bersamanya. Haka dengan Bili. Dan Oni bersanding dengan pengunjung lainnya. Mulailah sabuk pengaman besi turun dari palangnya. Bergerak deretan kereta terbuka itu. Melaju pelan dan semakin cepat melaju. Haka, Oni, dan Bili berteriak keseruan. Amanda tidak berteriak. Tapi matanya tidak mampu terbuka melihat yang ada di depannya. Tangan kanannya menutup mata hitam itu rapat-rapat tanpa cela sedikit pun. Dan tangan lainnya berusaha mencari benda kuat yang bisa digenggam. Arga yang juga sedang berusaha tidak ketakutan itu melirik ke arah Amanda. Entah kenapa Arga jadi berubah biasa saja meskipun roller coaster sudah mulai turun dengan kecepatan tinggi. Tangannya menarik kepala Amanda sehingga tenggelam di dadanya. "Enggak usah takut. Ada gue di sini!" teriak Arga semakin mendekap Amanda dengan erat. Jantung Amanda berdetak cepat. Bukan karena dipeluk Arga, melainkan karena arena roller coaster ini yang membuatnya ketakutan setengah mati. Pertama kalinya Amanda menaiki wahana menyeramkan begini. Ia bahkan bersumpah tidak akan pernah mau naik permainan ini lagi, meskipun dibayar berapapun. Akhirnya wahana itu berhenti. Seluruh tubuh Amanda terasa lemas. Pelipis dan telapak tangannya juga berkeringat. Wajah Amanda juga pucat. "Elo enggak apa-apa Mand?" tanya Bili cemas. "Keringet dingin lo, ya? " Haka menempelkan tangannya di leher Amanda kala mengecek suhu tubuh Amanda yang terasa dingin seperti es. "Sini, sini, duduk." Oni menggiring Amanda duduk di bangku panjang dekat pintu masuk wahana. Di sebelahnya ada Haka dan Bili. "Gue enggak apa-apa, kok. Kalian lanjutin aja mainnya. Gue duduk di sini dulu." Amanda sudah bisa mengontrol dirinya. Meski suaranya masih bergetar dan tubuhnya tak tersisa tenaga. Arga hanya bisa memandangi Amanda. Sikapnya mudah berubah kalau di depan ketiga teman jahilnya ini. Padahal sebelumnya ia peduli dengan Amanda. Namun, di saat di mana Amanda benar-benar membutuhkan perhatian, Arga malah berdiam diri. Walapun sebenarnya ia juga khawatir. Arga hanya tidak ingin ketiga temannya mengejeknya habis-habisan kalau tahu dia mempunyai perasaan lebih dari sekadar teman ke Amanda. Arga belum siap menerima bulan-bulanan mereka yang tidak pernah absen menjahili orang. "Yaudah, kita udahan aja kalo gitu." Oni mengerutkan dahinya. Mengambil langkah yang paling bijaksana. "Ih, kalian lebay banget, sih. Gue enggak apa-apa. Sebentar lagi juga baikan, kok. Gue cuma butuh beberapa menit aja buat nenangin diri. Abis ini gue juga masih mau naik yang lain." Sekuat tenaga Amanda menyembunyikan rasa takutnya itu. Ia sangat terharu dengan kepedulian teman-temannya. Membuat Amanda semakin nyaman berada di dekat mereka. Namun, Ia juga tidak mau menjadi penghalang bagi teman-temannya untuk bersenang-senang. "Sebentar gue beli minum dulu," kata Bili langsung berlari ke sebuah toko kecil yang terletak di seberang sana. Tidak lama ia kembali lalu menyodorkan ke Amanda air mineral yang tutupnya sudah dibuka sebelumnya. "Thanks, Bil." Amanda meneguk air mineral itu sampai tersisa setengah. Keempat cowok itu terdiam masih menatap Amanda. Dari wajah mereka, jelas sekali jika empat cowok itu cemas pada Amanda. Apalagi Arga. "Udah sana, ih, kalian." Terpaksa Amanda harus mendorong Haka dan Oni untuk pergi dari hadapannya dan melanjutkan aktivitas mereka. "Kita pulang aja, gimana?" tanya Haka pada yang lain. "Jangan! Gue malah marah kalo kalian sampe pulang karena gue. Ini masih siang. Ayolah, guys. Kalian main yang lain dulu, ya. Bener deh, gue enggak apa-apa." Amanda kukuh. "Kalian lanjut main aja dulu. Biar gue nemenin Manda di sini." Arga membuka suara. Sontak ketiga cowok itu melihat ke arah Arga. Cukup tidak menyangka jika seorang Arga yang terlihat cuek, malah mencetuskan kalimat seperti itu. Haka, Oni, dan Bili masih terlihat berpikir. "Tuh, kan. Udah ada Arga yang nemenin gue. Sekarang kalian main lagi, ya." Amanda mendorong lagi punggung belakang Haka dan Oni. Juga Bili. "Tapi bener, ya? Elo enggak apa-apa kita tinggal?" tanya Haka hendak memastikan. Amanda mengangguk yakin dengan wajah tersenyum. Berusaha menghilangkan kecemasan dari teman-temannya. Akhirnya Haka, Oni, dan Bili melenggang pergi meski masih terlihat ragu. Namun, sayang juga kalau baru dua wahana yang mereka kunjungi. Kemudian Arga duduk di dekat Amanda. "Gimana keadaan elo sekarang? Yang elo rasain apa? Pusing atau?" Amanda tersenyum. "Gue udah enggak apa-apa. Makasih, ya." Tanpa mengucapkan apapun, Arga melakukan hal spontan yang di luar pikirannya. Tangannya mendarat ke kening Amanda yang mengeluarkan sebulir keringat. Ditekannya perlahan guna menghapus rintikan air yang mengotori kening Amanda. Gadis itu mematung. Napasnya benar-benar berhenti. Sampai akhirnya ia membuang embusan napas itu perlahan. "Ga?" "Ya?" Arga masih sibuk mengelap-elap keringat di sekitar kening Amanda. "Elo enggak perlu ngelakuin hal ini." Barulah Arga menghentikan pergerakannya. Tangannya berpindah perlahan, lalu menatap wajah Amanda yang ternyata sudah berada sangat dekat di depan wajahnya. "Gue cuma enggak suka liat elo ketakutan kayak tadi," kata Arga pelan. Kemudia Arga duduk lebih dekat ke Amanda. Lengannya menempel dengan lengan gadis itu. Lalu ia menepuk-nepukan bahunya sambil berkata, "tidur sebentar di sini. nanti jadi enakan, deh." Amanda mendongak ke Arga untuk beberapa saat. Baru setelahnya ia memiringkan kepalanya dan bersadar di bahu tegap cowok itu. Tubuh Amanda lemas, jadi tidak ada waktunya lagi untuk ia menolak tawaran menggiurkan ini. "Ya, Tuhan. Maaf atas keserakahanku untuk jatuh cinta lagi pada laki-laki selain calon tunanganku." _____ Terakhir wahana yang mereka kunjungi secara serempak adalah rumah hantu. Di mana Amanda tidak ada berhentinya untuk berteriak. Lagi dan lagi. Sampai Haka yang duduk di sampingnya selalu menutup telinga. Kalau saja tadi Arga tidak keduluan Haka, mungkin dirinya yang akan mendekap Amanda demi menghilangkan rasa takut di gadis itu. Bahkan, Haka terpaksa membekap mulut Amanda karena terus berteriak nyaring. Tentu saja Amanda tidak tinggal diam diperlakukan seperti itu. Ia memukul paha Haka yang besar untuk membalasnya. "Ampun deh, Mand! Ini cuma boongan kali. Lagian sok berani sih, lo! Pake ngajak ke rumah hantu segala!" Haka berdecak sebal. "Walaupun bohongan tetep aja serem, Haka!" Amanda berteriak lagi setelahnya. Haka menutup kedua kupingnya sambil menunduk. Sedangkan Arga dan Bili yang duduk di belakang mereka hanya terkekeh geli melihat penderitaan Haka. "Harusnya tadi elo duduk sama gue, Mand! Kalo sama gue, elo bakalan gue peluk. Bukannya disia-siain kayak Haka begitu," celetuk Bili dengan lantang. "Diem aja lo, playboy cap lele!" cibir Haka sambil menjulurkan tangannya ke belakang hendak menarik rambut Bili, tetapi sayangnya tidak berhasil. "Awas, Mand! Di belakang lo ada tante kunti!" teriak Haka sambil menunjuk ke belakang Amanda. Berniat menjahili gadis itu. Tentu saja itu berhasil karena Amanda berteriak sangat kencang melebihi yang tadi. Ia bahkan spontan memeluk Haka dengan sangat erat. "Ye, dasar alibi! Lebih-lebih dari gue, lo, Hak!" celetuk Bili menoyor sedikit sisi kepala Haka. Sementara Haka malah cengengesan sambil tidak sengaja melirik ke arah Arga yang wajahnya memberengut. Seperti tidak terima dengan pemandangan di depannya ini. Saat Amanda memeluk Haka. "Cup, cup, cup. Tenang ada abang di sini, Neng," kata Haka mendramatisir ucapannya sambil menepuk lembut punggung belakang Amanda. "Udah ilang belum itu tadi yang elo sebut?" "Belum. Sekarang malahan tante kuntinya lagi meluk gue." Sontak Amanda melepas pelukannya pada Haka. Beralih melototi cowok itu dan menampar sedikit lengannya karena merasa sebal. Yang justru menjadi bahan tertawaan Bili dan Haka. Berbeda dengan Arga yang hanya menampilkan wajah datar sejak tadi. Ada yang tahu kabar Oni? Cowok itu duduk sendirian di bangku ketiga dengan kedua kaki yang naik ke bangku. Kepalanya ditenggelamkan di antara lipatan tangannya di atas kedua lutut yang tertekuk. "Kayak Oni, dong. Takut tapi enggak berisik. Cukup mengheningkan cipta aja sendirian," kata Haka yang otomatis memancing semuanya melihat ke belakang. Mereka tertawa terbahak melihat tingkah Oni yang diam seperti patung sambil merenungi nasib. _____ Sebelum mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing. Kelimanya setuju dengan Kafe yang akan menjadi tumbal untuk mengisi perut mereka yang sangat kosong. Membutuhkan banyak asupan karena tenaga yang sudah terkuras habis. "Ada yang mau gue omongin." Akhirnya Arga akan memutuskan untuk mengutarakan hatinya di depan teman-temannya. Padahal sebelumnya ia menghindari ini terjadi. Namun, kini ia berubah pikiran. Arga ingin semua orang tau tentang apa yang ada di hatinya. Perasaan yang tidak pernah bisa membuatnya tenang kalau masih terus mengumpat. "Gue juga ada yang mau diomongin mumpung semuanya ada di sini." Kali ini Amanda yang bersuara. Berbeda dengan nada bicara Arga yang bersemangat. Suara Amanda sayu seperti raut wajahnya. Haka dan Oni pastinya sibuk dengan berbagai makanan di depannya. Namun, tetap telinganya mendengar dengan seksama. Hanya Bili yang serius menatap Amanda dan Arga. Bili menyeruput minuman kaleng bersoda. "Lo duluan aja, Mand," suruh Arga. "Lo aja, Ga. Kan, tadi lo duluan yang mau ngomong," elak Amanda. "Ladies first." "Oke, kalo gitu." Amanda mulai mengambil ancang-ancang menyampaikan sesuatu. "Gue ...." Amanda menatap satu-satu temannya beberapa detik. Terakhir pandangannya jatuh ke Arga. Sangat dalam dan cukup lama melihat setiap garis wajah cowok itu. Perasaannya tiba-tiba saja jadi memburuk dan ingin mengurungkan niat melanjutkan ucapannya ini. "Gue apa? Bikin penasaran aja kayak mau umumin pemenang undian," celetuk Oni di sela-sela aktivitas makannya yang lahap. Amanda meneguk salivanya terlebih dahulu. "Gue ... gue mau undang kalian ke acara pertunangan gue sama Bimo minggu depan." Deg Tentunya degupan itu untuk Arga. Kali ini jantungnya yang berhenti seketika. Bahunya melorot meski tidak begitu nampak. Tangannya mengepal. Entah merasa sedih, marah, atau kecewa. Sebagai laki-laki Arga lebih mudah meyembunyikan perasaan seperti itu. Apalagi di situasi yang sangat tidak memungkinkan ini. Haka, Oni, dan Bili bersorak serempak. Berbahagia atas hari indah temannya yang segera terlaksana. Secara bergantian mereka memberi selamat dari tempat duduknya masing-masing. Mendapat respon seperti itu, Amanda tidak bisa tidak mengeluarkan senyumnya sebagai ucapan terimakasih. "Yah, Manda. Baru aja mau gue jadiin gebetan. Eh, ternyata malah udah punya tunangan. Terlambat dong, gue," celetuk Bili yang sontak mengundang Arga melihat ke arahnya. Seolah ucapan Bili ini memang sesuai dengan apa yang dirasakan Arga. "Acaranya di Bandung. Di rumah orang tua gue. Alamatnya nyusul, ya," lanjutnya. "Harus datenglah kita nanti. Banyak makanan juga pasti di sana," girang Haka. Diiyakan oleh Oni. Arga masih terdiam kaku tanpa sepatah katapun. Sesekali Amanda melirik Arga yang duduk di sebelahnya Tatapannya dingin. Lurus ke depan. "Elo kok, enggak kasih selamat ke Manda sih, Ga?" Pertanyaan itu datang dari Haka. Dia yang paling tahu saat wajah Arga berubah bertepatan dengan pengumuman Amanda yang dikeluarkan. Arga menoleh ke Amanda. Menatap gadis itu beberapa detik dengan mata yang mulai memerah, tetapi tetap bisa disembunyikan. "Selamat ya, Mand." Suaranya bergetar. Untung saja tidak ada yang sadar dengan itu. Kecuali, Haka? "Iya. Makasih ya, Ga." Perasaan Amanda semakin memburuk berkali lipat melihat tatapan Arga yang dingin ini. "Oiya, tadi lo mau ngomong apa, Bro?" tanya Bili mengingat Arga juga ingin mengutarakan sesuatu. "Oh, itu gue ...." Keempatnya bingung dengan kalimat menggantungnya Arga. "Nggak, nggak jadi. Nggak terlalu penting juga, kok." Arga bersuara dengan gugup. Bili mengangkat satu alisnya. Amanda mengernyit bingung. Oni sudah jelas tidak begitu menghiraukan karena lebih memilih melambaikan tangannya memanggil kembali pelayan untuk memesan makanan lainnya. Hari ini Bili yang mentraktir mereka makan siang. Berbeda dengan Haka yang dengan kecuekannya justru paling tahu apa yang mungkin tengah dirasakan Arga. Dari samping, diam-diam Arga masih sesekali melirik Amanda yang sedang fokus menyantap makanan. Sama seperti yang lainnya. Hatinya perih. Harapannya untuk bersama gadis itu, hancur. Bahkan, sebelum memulainya sama sekali. "Ternyata sejauh apapun gue kejar, sampai kapanpun gue enggak akan bisa menggapai elo, Mand. Mustahilnya lagi elo berhenti berlari untuk gue. Karena arah lo aja udah beda. Arah berlari lo itu ke orang lain. Bukan ke gue sama sekali." Fortsetzung folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD