Teil 6 - Sakit dan Hujan (Kranke und regen)

4705 Words
Sebuah kalimat yang tidak asing untuk setiap telinga di muka bumi. Beberapa suku kata yang singkat dan mudah dimengerti. Namun, selalu saja terulang tentang keterlambatan untuk mengartikan kalimat itu. Hampir setiap orang mendapati bagiannya untuk ini. Kalimat itu adalah : penyesalan selalu datang belakangan. Mustahil jika penyesalan terjadi di awal. Ketidakmungkinan itu seperti halnya manusia yang mati hidup kembali. Sekarang giliran Arga yang terbuai bersama tiga suku kata itu. Berada dalam sebuah penyesalan yang mungkin tidak bisa ia sembuhkan. Kalau saja dari awal dia memberanikan diri untuk menyatakan cintanya. Mungkin saat ini dirinya tidak akan terperosot bersama rasa sesalnya itu. Sejak kepulangannya dari Taman bermain dua hari yang lalu, Arga menjadi lebih pendiam dari biasanya. Dia selalu menarik dirinya kala keempat temannya berkumpul seperti biasa. Cowok dengan mata berukuran sedang itu belum mampu menatap Amanda lagi. Hatinya masih belum pulih menyaksikan senyum cantik di wajah gadis yang telah mengobrak-abrikan mentalnya. Arga tidak tahu harus marah dengan dirinya sendiri atau ke gadis itu. Pastinya ia akan menjadi egois jika menaruh rasa kecewa ke Amanda yang nyatanya gadis itu sama sekali tidak mengetahui perasaannya. Dua hari berturut-turut Arga melakukan hal yang sama di dalam kamarnya. Duduk di lantai samping tempat tidurnya. Salah satu lututnya tertekuk. Kepalanya menduduk dan berubah mengadah ke langit-langit kamarnya. Beberapa menit pemandangan itu berlangsung. Anisa selaku Mamanya merasa iba dengan putra kesayangannya. Ia tengah memperhatikan tingkah Arga beberapa menit yang lalu melalui celah pintu yang sebelumnya ia buka perlahan. Wanita berkuncir satu rapi itu memasuki kamar Arga lebih dalam. Sebenarnya sejak kemarin Anisa ingin memberanikan diri bertanya kepada Arga. Namun, ia lebih memilih membiarkan sesaat anaknya seperti itu. "Sayang," panggil Anisa mengelus lembut rambut Arga. Wanita tua itu duduk di tepi ranjang. Sang pemilik kamar menoleh lalu berakhir menatap lemari pakaian di depannya. "Mau cerita?" Arga menghela napasnya. Sudah pasti ia akan menceritakan segala masalahnya ke wanita berjasa di sampingnya. "Arga terlambat, Mah." Seperti halnya seorang anak indigo yang mengetahui kejadian masa depan. Anisa juga mempunyai naluri keibuan yang kuat. Ia sudah bisa menebak tentang apa yang tengah terjadi kepada anaknya itu. Anisa mengira Arga bermasalah dengan makhluk yang namanya perempuan. Anisa menggeser bokongnya lebih dekat dengan kepala Arga. "Mama tau perasaan kamu, Sayang." Masih membelai lembut rambut putranya. Arga mengadahkan kepalanya melihat ke arah mamanya. Seolah ia bertanya apa yang mamanya ketahui tentang masalahnya ini. "Mama cuma menebak. Kalo kamu sedang bermasalah dengan seorang gadis." Tangan yang tidak muda lagi itu menggenggam lima jari milik Arga. "Apa itu Amanda?" Arga tidak menjawab, ia hanya sedikit terkejut dengan tebakan mamanya yang tidak pernah meleset. Anisa tersenyum. Membuat seisi ruangan berasa hangat. Meneduhkan hati gundah yang sedang Arga rasakan. "Sejak kamu membawa Amanda ke sini, sejak itu juga mama tau bahwa dia adalah gadis yang berhasil membuat anak mama bisa tersenyum amat bahagia," papar Anisa dengan tenang. Arga menatap datar wajah mamanya. Seandainya banyak para gadis yang menyaksikan moment ini, pasti mereka saling berebut demi memeluk Arga yang tengah bersedih seperti ini. Ekspresinya membuat jutaan gadis rela mengantri untuk menjadi obat bagi hatinya. Hanya dengan mamanya, Arga bisa mengeluarkan segala bentuk emosinya. Senang, marah, sedih. Raut wajah yang tidak pernah bisa disaksikan oleh gadis-gadis di luar sana selain Anisa seorang. "Kalau dari kalimat kamu barusan. Sepertinya kamu keduluan, ya, sama laki-laki lain yang berhasil merebut hati Amanda lebih dulu?" tebak Anisa yang terkesan seperti sebuah pertanyaan. Alisnya terangkat meminta kepastian Arga. Arga mengembuskan napasnya pelan. Ingin memulai kisah panjangnya. Sang Mama pun siap sedia membuka lebar-lebar telinganya. "Sejak pertama kali Arga ketemu sama dia. Arga udah tertarik. Arga berusaha bersikap biasa di depan dia. Tapi Arga bingung harus gimana. Kadang Arga sendiri sadar kalo Arga suka bersikap aneh di depan dia." Sepenggalan cerita yang dipaparkan oleh cowok tinggi itu. Di sini terlihat jelas sisi seorang Arga yang berbeda. Yang tidak pernah diketahui orang lain. "Sampai hari minggu kemarin Arga berniat nyatain perasaan Arga. Dan saat itulah dia bilang kalo dia akan segera tunangan sama pacarnya," lanjut Arga mengalihkan pandangan dari mamanya ke arah meja belajar di belakang mamanya. Anisa menghela napas setelah daritadi mencoba menahannya demi memperhatikan anaknya bercerita dengan serius. "Terus sekarang apa yang mau kamu lakuin?" Tangannya mengusap lembut kepala Arga. "Kamu teman dekat juga kan, sama Amanda di kampus? Apa kamu akan menghindar dari dia?" "Arga enggak tau, Ma. Arga bingung. Biasanya hampir setiap hari Arga selalu ada di deket Amanda. Tapi beberapa hari ini Arga menjauh dari temen-temen termasuk Amanda." Cowok itu berpindah duduk di tepi ranjang. Di sebelah mamanya. Lantas Anisa mengambil tangan Arga untuk ia genggam. "Menurut mama kamu harus bersikap seperti biasanya. Kamu harus belajar mengikhlaskan apa yang tidak menjadi milik kamu." Anisa memberi saran. Mengucapkannya melalui kelembutannya. Arga tidak menyahuti. Melainkan mencermati baik-baik apa yang dikatakan Sang Mama. "Awalnya sulit. Tapi mama yakin kamu bisa, Sayang." Semakin kuat genggaman Anisa ke tangan Arga. "Sekarang mama mau tanya." Tubuh wanita yang mungil itu lebih menjurus lurus ke wajah Arga. "Apa yang kamu sukai Amanda?" Arga berpikir sesaat. Alisnya mengkerut. "Arga enggak tau. Yang pasti hati Arga bahagia ngeliat dia tersenyum." Pandangannya menatap sesuatu yang tidak ada di sekitar kamarnya. Imajinasinya berada jauh dari raga-nya saat ini. Membayangkan sesuatu dengan wajah berbinar. Padahal kalau Arga teringat kembali mengenai pertunangan Amanda, seketika ia akan tenggelam di dasar laut yang paling dalam. Sudah pasti Anisa tersenyum menanggapi anaknya yang mulai berseri. "Kalau kamu tetap menjauhi Amanda, kamu nggak akan pernah bisa liat senyum itu lagi. Memangnya kamu mau? Kamu siap untuk meninggalkan senyum indah itu?" Alis hitam itu terangkat seakan-akan ibu tiga anak ini mempertanyakan keyakinan anaknya untuk mengambil suatu keputusan. Arga masih terdiam. Baru setelahnya ia mengatakan ini, "makasih, Mah. Sekarang Arga tau apa yang harus Arga lakuin." _____ Huuuaaacchhiiimmmm ... Seperti mitos yang kadang dibicarakan di hal layak umum. Kalau ada bersin yang tiba-tiba muncul, kemungkinan ada orang entah di mana yang menyebut nama yang sedang bersin ini. Namun, mitos hanyalah sebuah mitos. Kenyataan sebenarnya saat ini gadis yang wajahnya mulai memucat sedang dilanda flu. Beberapa hari ini cuaca cepat berubah. Pagi cerah, sore menjelang malam hujan. Atau sebaliknya. Serupa dengan yang dialami Amanda. Kadang wajahnya ceria, tetapi cepat berganti hati menjadi sendu. Suhu tubuhnya mendadak lebih hangat dari biasanya. Akan tetapi Amanda merasa tubuhnya mengigil seperti sedang berada di dalam tumpukan es batu. Waktu Amanda tinggal bersama Aninda- kakaknya, ia selalu berteriak memanggil-manggil kakaknya itu untuk memeluknya. Maklum Amanda anak paling manja di keluarganya. Meski ia sulit mengakui di depan teman-temannya terutama Haka yang tidak akan berhenti membully-nya jika tahu kenyataan tersebut. Amanda merengek tatkala ia merasakan tidak enak badan. Terlebih saat ia masih kecil bersama orangtuanya. Tidak lebih dari satu menit mamanya meninggalkannya di tempat tidur. Apalah daya sekarang Amanda harus berjuang sendiri. Seiringnya waktu mentalnya semakin kuat karena kedewasaannya mulai bertambah. Bagaimanapun Amanda harus bisa mengurus dirinya sendiri. Ia tidak mau terus menerus bergantung dengan orang lain. Sent to Jean : Jean, besok ijinin gue, ya, sama dosen. Gue lagi nggak enak badan nih. Amanda meletakan ponsel di samping bantalnya. Tidak lama ponsel itu bergetar. Amanda mengabaikannya. Dirinya yakin kalau itu balasan dari Jean yang isinya mengiyakan tentang pesannya tadi. Rasanya ia sudah tidak kuat menatap layar terang yang membuatnya semakin pusing tujuh keliling. Seharusnya Amanda memberitahu kondisi ini ke Bimo, kekasihnya. Karena Bimo tidak pernah bosan untuk menceramahi Amanda jikalau suatu saat ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, maka Amanda harus cepat-cepat melaporkan ke Bimo. Dan Amanda memilih untuk tidak melakukan itu. Toh, ini cuma flu biasa. Ia tidak mau Bimo jadi kalang kabut kalau tau gadisnya sedang dilanda sakit seperti ini. Tubuhnya diselimuti kain tebal beberapa lapis. Untung saja Aninda memberikannya banyak selimut ganti saat pindahan waktu itu. Tok tok tok. "Ya, ampun. Siapa sih, malem-malem gini," gumam Amanda yang rasanya malas sekali menghampiri pintu di depan sana. Namun, suara ketukan pintu itu terus saja terdengar. Mau tidak mau dengan tubuh yang lemas, Amanda keluar kamar dan menghampiri pintu. "Iya, sebentar!" Amanda sudah sampai depan pintu, lalu membukanya. "Hay, baby," sapa Bimo dengan senyum merekah sambil membawa sebuah kantung cokelat di tangannya. Amanda terkejut bukan main. Ia mencari jam dinding di belakangnya. Jarum jam tertuju di angka 10 tepat. "Bimo? Kamu malem-malem ngapain ke sini?" Pria itu tidak menjawab. Ia menatap Amanda dengan heran. Wajah gadisnya tampak pucat. Lantas tangannya terjulur menggapai kening Amanda. Meletakan punggung tangannya yang besar di sana. "Kamu sakit?" Amanda mengangguk lemas. "Tapi udah mendingan, kok. Udah minum obat penurun panas tadi." "Apanya yang enggak apa-apa?" Tanpa disuruh, Bimo langsung menggendong tubuh Amanda menuju kamar. "Kenapa kamu enggak kasih kabar ke aku soal ini. Kamu sakit, sayang. Kita harus ke dokter." Lalu meletakan tubuh langsing itu di atas ranjangnya. Dari situ, Bimo menaruh kantung cokelat yang ia bawa di atas meja nakas. "Enggak usah, Bim. Aku udah enggak apa-apa. Paling besok juga udah sembuh, kok." Dari nada bicaranya, Amanda tidak senyaring biasanya. "Tapi suhu badan kamu panas gini, Amanda. Kalo kamu kenapa-kenapa gimana?" Bimo teramat cemas. Dia duduk di samping Amanda persis. Demi menghilangkan kekhawatiran prianya itu, Amanda mengambil salah satu tangan Bimo dan digenggamnya. "Aku serius, Bim. Aku beneran enggak apa-apa. Kamu jangan terlalu khawatir, ya. Apalagi sekarang kamu ada di sini. Di samping aku. Jadi rasanya aku semakin lebih baik," ujar Amanda. Bimo tidak membalas ucapan gadisnya lagi. Ia mengecup kening Amanada, beberapa detik. Pria itu juga mengambil posisi tidur di sebelah Amanda dengan menjulurkan lengannya untuk menjadi bantal kepala Amanda. Bimo memeluk Amanda. "Jangan dekat-dekat. Nanti kalo kamu ketularan gimana?" "Aku enggak peduli. Aku lebih suka begini. Ada di deket kamu, bikin aku lebih bahagia," balas pria itu semakin mendekap Amanda. Beberapa saat setelahnya Bimo beralih posisi dengan menyandarkan kepalanya di penyanggah ranjang. Tangannya mengelus pipi Amanda dengan lembut. "Kamu kenapa bisa sakit, sih? Jangan-jangan ini karena kamu kecapean habis jalan sama teman-teman kamu." "Aku enggak tau, Bim. Bisa jadi. Tapi kan, emang dari kemarin cuacanya juga lagi enggak bagus. Bagus dong, kalo aku sakit. Berarti tandanya aku masih jadi manusia." Bimo sedikit terkekeh. "No. Bagi aku kamu bidadari." Ia mengecup lagi kening Amanda. Setelahnya mengusap bibir Amanda perlahan sambil memandangi benda merah mudah itu. Padahal sang empunya sedang setengah sadar karena matanya sudah mengantuk berat dan hendak terpejam. "Kamu ada apa ke sini malem-malem? Kenapa enggak ngabarin dulu? Terus itu tadi kamu bawa ap ---" Amanda belum selesai dengan ucapannya, tetapi Bimo langsung menerobos masuk ke bibir Amanda dengan lidahnya. Untuk mempermudah pergerakannya, pria itu sedikit turun menyamakan posisinya setara dengan Amanda. Kini wajah Bimo tepat berada di atas wajah Amanda. Baru sebentar, Amanda mendorong pelan d**a Bimo. "Bim, aku lagi sakit. Nanti sakitnya transfer ke kamu beneran gimana?" "I don't care." Bimo melanjutkan lagi pergerakannya. Ia melahap habis kedua bibir mungil Amanda dengan caranya yang selalu sama. Yang berhasil membuat Amanda dimabuk kepayang sehingga tidak mampu menolak sentuhan s*****l nan menggetarkan ini. Hawa panas di kerongkongan Amanda sampai ke liang mulutnya justru membuat sensasi baru bagi Bimo. Semakin membuat hawa napsunya bergejolak semakin besar. Pria itu tidak berhenti sedetikpun melumat seluruh bagian bibir Amanda. Tangannya juga tidak diam karena mengusap sisi tengkuk Amanda. Bimo perlu mengambil napas. Kepalanya jatuh di sisi bahu Amanda. Ia terengah. "I love you so much, darling. I won't be able to live without you," ucap Bimo pelan, tetapi cukup membuat bulu kuduk Amanda berdiri. Gadis itu memeluk prianya. "Aku juga, Bim." "Maafin aku, Bim. Aku cinta sama kamu. Tapi aku enggak benar-benar bisa menghapus sebuah rasa lain untuk seseorang yang terus hadir di pikiran aku." _____ Pagi datang terasa sangat cepat bagi Amanda. Sebelum kedatangan Bimo tadi malam, ia sulit tertidur. Namun, saat pria itu menemani di sisinya hingga pagi, Amanda benar-benar terlelap. Ya, meskipun tubuhnya masih agak lemas lantaran flu masih setia menempel di hidungnya. Sebelum waktu subuh tadi, Bimo sudah meninggalkan kosan Amanda. Dengan tubuh yang lemah Amanda berusaha sampai ke dapur untuk mengambil sarapan. Perutnya perlu diisi sebelum ia menyantap obat pereda flu. Di konter dapur ada kantung cokelat yang semalam di bawa Bimo. Ternyata isinya adalah beberapa jenis cokelat. Amanda tersenyum melihat sajian itu. "Bimo emang selalu tau apa yang bikin gue senang," gumamnya semringah. Roti berisi coklat dan s**u uht mengisi perut Amanda, seperti biasa. Lalu kakinya bergerak kembali ke tempat tidur. Membuka beberapa obat antibiotik yang berantakan di nakas. Amanda merebahkan tubuhnya lagi. Ia masih tidak kuat duduk terlalu lama. Jam di dinding bergulir cepat. Jarum pendek di angkat satu dan panjang di angka duabelas. Amanda masih tidak bangkit dari tempat tidur. Badannya merasa lebih baik walaupun hidungnya masih tersendat dan suaranya berdengung. Line GrupChat : Haka : Manda kemana yak ? Kok dari pagi nggak kedengeran ocehannya ? Oni : sama gue juga nggak liat. Haka : daritadi kan lo emang sama gue, oon !! Oni : sial lo. Nama gue Oni bukan oon !! Haka : lagi lu ngeselin banget jadi manusia. Bili : gue juga nggak liat. Biasanya kan sama lo berdua. Emang sekarang lo lagi pada dimana? Oni : gue masih di kantin ngisi perut. Haka : gue juga. Bili : berarti lo lagi sampingan, b**o!! Ngelus d**a mulu gue temenan sama lo berdua. Haka : wkwkwkwkwk. Arga : gue juga nggak liat Manda. Haka : kemana aja lo Arga ? Semenjak dari Sentul lo juga aneh. Nggak pernah ikut nimbrung ke kumpulan orang kece kaya kita lagi. Arga : gapapa lagi ada urusan aja. Bili : yang jadi topik pembicaraan kemana nih? Biasanya selalu muncul. Kok, nggak ada sama sekali. Haka : Mandaaaaa, i miss you. Oni : ketauan Bimo di pletak lo, Bro. Ponsel Amanda terus bergetar tak berhenti. Sehabis minum obat siang ini Amanda merasa mulai mengantuk. Mau tidak mau ia harus mengecek isi ponselnya. Amanda sudah tahu pasti kalau teman-temannya itu yang meramaikan GrupChat. Muncul seulas senyuman di wajah Amanda yang kusam karena tidak mandi sejak kemarin sore. Hanya menyempatkan membersihkan giginya yang putih bersih itu. Amanda tidak pernah kuat menahan geli dengan celetukan cowok-cowok itu. Tangannya yang masih sedikit gemetar mengetik beberapa kata guna memberikan jawaban ke Haka yang menanyai dirinya. Amanda : gue sakit. Arga : SAKIT APA ? Haka : capslock lo jebol apa, Ga ? Biasa aja kali. Kuatir banget kayanya. Amanda tersenyum lebih berseri dari sebelumnya. Merasa berbunga-bunga dengan Arga yang paling pertama memberi tanggapan. Bili : sakit apa, Mand ? Amanda : flu biasa aja kok. Bentar lagi juga sembuh. Oni : mau tunangan kok malah sakit ? Kasian nanti si Bimo. Haka : perlu gue jenguk nggak ? Lo dikosan kan? Amanda : perlu banget. Tapi jangan pake tangan kosong kesininya. Harus bawa tentengan. Haka : dasar anak manja. Yaudah abis dari kampus gue sama Oni kesitu. Mau dibawain apaan? Amanda : nah gitu dong kali-kali gue yang ditraktir. Haka : kali ini aja, ya. Mau apaan ? Amanda : donat di depan kampus enak juga kayanya. Coklat semua ya. Haka : sip. Bili : gue nyusul. Bentar lagi gue sampe. Tungguin gue di gerbang, Bro. Gue nggak tau kosan Manda. Haka : oke. Arga ngikut nggak ? Arga : ikut. Gue langsung ke kosannya Manda. Rasa kantuk yang menggema di mata Amanda seketika hilang. Tiba-tiba ia gelagapan ketika Arga hendak mendatangi tempat kosnya. Kakinya melesat ke kamar mandi. Baru sampai di depan pintu saja rasanya tubuh Amanda gemetar. Meski keadaannya sudah membaik, rasanya Amanda masih belum bisa menyentuh air terlalu lama. Bisa-bisa bersinnya semakin menjadi. Mau tidak mau Amanda harus tetap membersihkan dirinya lantaran tidak ingin mendapat tindakan bullying dari keempat temannya. Terutama Haka, siapa lagi. Tok tok tok Amanda membelalak seorang diri. Matanya hampir copot mendengar suara ketukan pintu. Belum ada tiga menit para cowok-cowok itu sudah di sini. Tepat di depan kosnya. Lantas Amanda berjalan cepat menghampiri pintu dan membukanya. "Arga," sebut Amanda. Rencananya untuk merapikan dirinya yang terlihat berantakan itu gagal. "Mana yang lainnya?" Matanya mencari ke sekeliling Arga. Gadis itu tidak menemukan ketiga teman lainnya, kecuali cowok yang ada di hadapannya sekarang. "Mereka dari kampus kayaknya. Kebetulan gue lagi di sekitar sini tadi." Setelah mendapat wejangan dari sang mama, akhirnya Arga mengambil jalan ini. Di mana dia akan berusaha bersikap seperti sebelumnya. Menjadi teman baik untuk Amanda. Hanya sekadar teman, tidak lebih. Bagi Arga, bisa melihat sosok Amanda setiap hari saja sudah lebih dari cukup. Cowok yang terkadang menghabiskan waktunya di lapangan basket itu memutuskan mencintai dalam diam. Gadis di depannya tidak perlu tahu akan perasaannya. "Oh, gitu." Amanda mengangguk paham. "Yaudah, yuk, masuk." Gadis itu menggiring Arga melangkah lebih dalam ke ruang tamu. Karena tempat ini tidak begitu besar. Amanda tidak memiliki sofa yang bisa diduduki. Hanya ada karpet bulu berwarna ungu muda yang melapisi penuh lantai ruang tamu. Dengan dikelilingi bupet panjang yang di atasnya ada beberapa boneka koleksi Amanda dan bingkai-bingkai yang di dalamnya terdapat lembaran foto Amanda bersama keluarganya, termasuk Bimo. "Ini ungu semua?" Arga takjub. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang yang hampir sama besar dengan kamar tidur Amanda. Pandangannya juga berhenti di salah satu bingkai foto Amanda bersama seorang pria. Bimo sedang mengecup kening Amanda. "Itu Bimo, calon tunangan lo?" tanya Arga serius. Amanda mengangguk kikuk. Sementara Arga sedang bertarung dengan hatinya agar bisa bersikap sewajarnya sebagai seorang teman di depan gadis yang dicintainya itu. "Mau minum apa, Ga ?" "Nggak usah repot-repot, Mand. Lo kan lagi sakit juga. Gue udah minum kok tadi di jalan." Arga sedikit salah tingkah dan segera membenahi sikapnya itu. Amanda mengembuskan napasnya lega. Ia berhasil mengalihkan pandangan Arga yang terus melihat ke arah fotonya bersama Bimo. "Udah ke rumah sakit?" "Nggak perlu, deh, kayaknya. Kebetulan gue punya persediaan obat. Lagian sekarang juga udah baikan, kok," balasnya dengan nada semringah. Arga menatap datar wajah Amanda yang masih ada sisa-sisa kepucatan di antara mata dan bibirnya. Tangannya bergerak tanpa disuruh. Menyampirkan beberapa helai rambut ke belakang telinga yang menghalangi pipi Amanda. Sekarang wajah Amanda terlihat jelas di bola mata milik Arga. Sehingga menyimpulkan senyum di bibir cowok itu. Amanda melongo meneguk salivannya. Sudah kesekian kalinya Arga membuat seluruh organya mengejang seperti ini. Padahal Amanda sering mendapati sikap romantis dari Bimo. Namun, ini berbeda. Amanda sendiri belum tahu pasti apa yang membuat sikap Arga dan Bimo begitu berbeda sensasinya. "Gue jelek banget, ya, lagi sakit begini?" Alisnya mengerut. Pipinya sedikit memerah. Nada bicaranya juga terdengar malu-malu. "Nggak, kok. Bagaimanapun dan seperti apapun kondisi lo, lo tetep sama," jawab Arga terlalu cepat. "Sama jelek maksudnya?" "Sama cantiknya." Beberapa detik keduanya saling menatap. Memasuki bola mata lawan bicaranya lebih dalam. Kalau saja ada alat pendengar detak jantung disatukan dengan alat pengeras suara, pastinya akan terdengar gemuruh jantung Amanda dan Arga yang sedang berpacu saat ini. "Lo tetep cantik kok, Mand." Munculah ketiga cowok lainnya. Lagi-lagi selalu mengganggu. Arga dan Amanda tersentak bersamaan lalu menoleh ke sumber suara yang mereka sendiri sudah tahu pasti siapa makhluk itu. "Tapi diliat dari ujung Monas," lanjut Haka yang diikuti gelak tawa Oni dan Bili di sampingnya. Cowok gila mana yang tidak menganggap Amanda memiliki rupa yang cantik. Namun, entah kenapa cowok bongsor ini tidak pernah mengakui kenyataan itu. Sudah pasti ada yang tidak beres dengan otaknya. Amanda menerbangkan bantal kecil persegi berwarna ungu yang ada di bawahnya, tepat ke wajah Haka. Mukanya cemberut. Bibirnya seperti kartun donald duck. Bersamaan dengan cibiran Haka, mereka duduk di karpet berbulu yang tampak bersih dan nyaman itu. "Untung kita cepet dateng. Kalo enggak pasti ada suatu hal terjadi yang diinginkan, nih," celetuk Haka, lagi. Gelak tawa ketiga cowok yang baru datang itu semakin membuncah. Membuat Amanda semakin jengkel. Sedangkan Arga tetap teguh dengan wajah tenangnya. "Pe-a lo, Bro." Oni menyahuti sambil mendorong bahu Haka, pelan. "Tetep cantik kok, Mand. Ya ... meskipun agak sedikit beler." Bili membuka suara. Tidak lebih baik dari ucapan Haka di awal. Salah satu matanya menyipit. Berusaha mengucapkan kata terakhir dengan hati-hati. Namun, tetap saja itu menyakitkan. Amanda semakin memajukan bibirnya kesal. "Rese, ih. Bikin gue tambah sakit aja." Wajah gadis satu-satunya di ruangan ini melengos. "Nih, biar sembuh sakitnya." Haka memberikan bingkisan berupa kotak persegi berukuran sedang. Dengan cepat Amanda meraih bingkisan itu. Amanda membukanya, dan wajahnya yang jengkel berubah menjadi berbinar melihat selusin donat dengan toping coklat di setiap adonan bulat itu. "Makasih, ya, Haka. Gini dong kali-kali gue yang ditraktir." Jarinya mencapit salah satu donat berlapis coklat seutuhnya. "Tapi kok nggak ada tampang sakit-sakitnya sih lo, Mand," selidik Haka menyipitkan matanya. Gadis itu mendesis. "Kan, tadi gue juga udah bilang kalo gue udah baikan." Amanda meletakan kotak berisi sebelas donat di atas karpet. Mengisyaratkan ke teman-temannya untuk menikmati cemilan di dalamnya. Mulutnya masih mengunyah potongan donat yang ia gigit. "Eh, gue numpang ke kamar mandi, dong. Kebelet nih," ucap Haka sudah berdiri dan menyelonong masuk sebelum Amanda mengatakan apapun. "Dasar, beser," cibir Bili. "Elo sakit dari kapan, Mand? Udah ke dokter?" tanya Oni terlihat cemas. "Kemarin siang. Gue udah minum obat yang ada, kok," jawab Amanda. Lalu Bili menjulurkan tangannya ke kening Amanda. Mengecek suhu tubuh gadis itu. "Tapi udah enggak demam, kok." "Iya. Udah turun panasnya dari pagi tadi." Arga yang melihat pergerakan Bili, diam-diam mengepalkan tangannya. Ada sedikit cemburu di hatinya. Seolah ia berkata jika harusnya dia yang melakukan hal itu. Bukan orang lain. Namun, Arga kembali berpikir. Amanda bukanlah miliknya. Sudah ada pria beruntung yang berhasil memenangkan hatinya terlebih dahulu. Tidak lama kemudian Haka kembali dari arah dalam sambil menenteng sebuah kantung cokelat. "Di dapur gue nemu ini. Manda diem-diem aja kalo punya cemilam enak," ujar Haka kembali bergabung dengan yang lain. "Parah lo, Hak! Main geratak aja di tempat orang. Penjarain aja orang begini, Mand," kata Bili menghakimi. "Udah biasa, Bil. Enggak apa-apa, kok." "Oh, jadi mereka berdua ini emang sering main ke kosan elo?" tanya Bili penasaran. Amanda mengangguk. "Yah, telat dong gue sama Arga gabung ke geng kalian bertiga. Pasti seru ya, kalo kita berlima udah kenal lama." "Yoi. Kita bertiga kan, orang terkece sekampus. Jadi seru kalo gabung sama kita. Ya, enggak, On?" Haka meminta pendapat ke Oni yang tengah sibuk mengaduk bermacam cokelat di dalam bungkusan milik Amanda. "Iya, dong." "Seru apanya. Gue yang selalu dijadiin tumbal mulu sama dua alien ini," gerutu Amanda sambil menunjuk ke arah Haka dan Oni dengan ujung dagunya. Bili dan Haka tergelak. Berbeda dengan Arga yang sejak tadi terus memandang ke wajah Amanda tanpa ada yang tahu. Cowok itu duduk terhalang Oni di depannya. "Eh, ini cokelat apaan, dah? Baru liat gue," tanya Oni sambil menyodorkan sebongkah cokelat dengan tulisan aneh. Semuanya menatap ke cokelat. "Cokelat ya cokelat, On," kata Haka. "Dari luar negeri kayaknya. Bimo kan, emang suka perjalanan bisnis gitu," jawab Amanda. Arga mengambil cokelat di tangan Oni sambil berkata, "ini cokelat dari Jerman." "Oh, ini cokelat dari Bimo. Parah lo, Hak. Cokelat dari tunangan Manda masih elo embat aja." Bili menoyor sisi kepala Haka yang malah senyam-senyum tidak jelas. "Iya, semalam Bimo dari sini. Udah enggak apa-apa kalian makan aja cokelatnya. Gue juga mana abis cokelat sebanyak itu." "Noh, yang punya aja dengan senang hati memberikan semua cokelat ini ke kita," kata Oni memeluk bungkusan berisi cokelat itu. "Jadi semalam Bimo ke sini? Ngapain aja tuh?" tanya Haka bernada jahil. Dia juga sambil melirik ke Arga yang hanya diam. "Ya, mampir aja. Emang mau ngapain lagi? Enggak usah macem-macem deh, nanyanya." Amanda sedikit salah tingkah. Sedangkan Arga, wajahnya menegang saat tahu jika Bimo mengunjungi Amanda tadi malam. Pikirannya memperkirakan banyak hal tentang apa saja yang bisa seorang pria lakukan ketika hanya berdua dengan seorang gadis cantik seperti Amanda. "Yakin kalian enggak ngapa-ngapain?" Pertanyaan Bili semakin mendetail dan terdengar nakal. "Bili apa sih, ih." Wajah Amanda memerah. "Bener kan, ada yang enggak beres? Elo nya malu-malu gitu, tuh." Bili semakin mendesak Amanda. "Ih, enggak tau, ah!" Amanda berusaha menghindar. Ia memasuki kamarnya. _____ Siang yang mulai menggelap terasa tak berarti di saat hati Amanda terasa riang gembira. Benar kata orang kalau obat utama menyembuhkan sakit bukan berupa kapsul atau kaplet yang hanya diminum melalui mulut. Melainkan obat dari orang-orang terkasih yang bisa menyembuhkan fisik dan mental secara cepat. Rasanya Amanda sudah sehat wal'afiat setelah dikelilingi candaan-candaan dari kekawanannya ini. Bibirnya tidak bisa berhenti tertawa. Begitupun Arga yang tidak pernah berhenti berpaling dari wajah ceria milik Amanda. "Yaudah, kita pamit ya, Mand. Udah mau ujan juga, nih," ucap Oni yang sudah ada di depan pintu kos Amanda. Termasuk Arga, Bili, dan Haka. "Thanks, ya. Gue beneran udah sembuh nih gara-gara manusia goa kaya kalian," balas Amanda meledek. "Yey, dasar lo cewek manja," cibir Haka meraup wajah Amanda dengan kelima jarinya. Hal itu biasa dilakukan oleh Haka semata-mata untuk menjahili Amanda yang semakin lucu kalau bibirnya maju akibat jengkel. Yang lainnya tersenyum meledek ke Amanda. Gadis itu pasrah saja karena dirinya tidak pernah menang melawan keisengan mereka. Amanda melambaikan tangannya kepada empat perjaka yang siap meninggalkan tempat kosnya. Tiba-tiba petir menyambar. Langit semakin menghitam. Amanda segera menutup pintu dan kembali kedalam. "Hape siapa nih?" Amanda menghentikan langkahnya ketika ia menuju kamar tidur dan melihat ponsel yang bermerk sama dengannya. Hanya beda tipe saja. Amanda tidak pernah memperhatikan ponsel apa yang dipakai oleh teman-temannya. Alhasil sekarang ia bingung milik siapa ponselnya yang sekarang sudah ada di genggaman nya. "Manda!" seru seseorang di balik pintu. Akhirnya di antara keempat cowok tadi ada yang kembali mencari ponselnya. Amanda berbalik lagi membuka pintu. Itu Arga. Benaknya berpikir. Kenapa akhir-akhir ini ia lebih banyak mendapat kesempatan berdua dengan Arga. Meski akhirnya diganggu oleh ketiga cowok lainnya. Seperti adegan kali ini yang membuat keduanya saling bertemu lagi. Dan kemungkinan besar tidak akan ada gangguan seperti yang sudah-sudah. Aneh rasanya kalau Haka, Bili, dan Oni juga akan kembali ke kosan Amanda. "Hape gue ketinggalan di sini nggak? Kok nggak ada ya di saku gue?" Amanda menaruh ponsel di tangannya melayang di udara. Menggoyang-goyangkan benda persegi itu. Dan memberikannya ke Arga. "Makasih, ya." Hanya itu yang Arga ucapkan. Keduanya saling menatap beberapa detik. Arga tersentak dan cepat-cepat pamit tatkala akan ada pergerakan di luar rencananya lagi. Entah jodoh atau bukan. Hujan turun begitu deras di detik itu juga. Sebelum Arga menunggangi motor ninjanya. Arga segera berlari kembali ke depan pintu kos Amanda. "Nggak bawa jas hujan lagi," gumam Arga nyaris menyerupai bisikan. Namun, tetap didengar oleh Amanda yang masih berdiri di samping pintu. "Masuk aja dulu yuk, Ga. Tunggu sampe hujannya reda. Masa mau basah-basahan." Akhirnya Arga terpaksa mengikuti perintah perempuan yang disukainya itu. Kembali ke posisi beberapa jam yang lalu. Hanya berdua di dalam kos Amanda. Ditambah hujan semakin lebat dan sedikit peluang Arga untuk bisa mengendarai motor di tengah-tengah derasnya air dari langit itu. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Arga ataupun Amanda. Keduanya sama-sama bingung apa yang harus dilakukan di ruangan ini. "Ga ... gue ... bikinin teh hangat, ya." Suara Amanda sedikit gemetar. Amanda bangkit dari duduknya. Namun, dicegat oleh tangan Arga yang menahannya. Amanda kembali terduduk. Cowok itu beringsut semakin mendekati Amanda. "Gue belum mandi tau. Nanti lo kebauan lagi deket-deket gue." Amanda meringis dengan kikuk. "Enggak apa-apa. Disini aja, ya. Hujannya semakin lebat. Petirnya juga," ucapnya lembut. Memohon sesuatu yang sebenarnya juga diinginkan oleh Amanda. Suara di langit semakin menggelegar. Bunyinya pun muncul tiba-tiba. Membuat Amanda tidak bisa menutupi rasa takutnya. Sekuat tenaga Amanda menahan diri untuk tidak berakhir di dekapan Arga. Namun, apalah daya. Arga begitu jelas melihat rasa takut itu. Tangannya bergerak terulur ke punggung Amanda. Menarik lembut kepala gadis itu ke dekapannya. Menempel di d**a Arga. Amanda meneguk salivanya. Napasnya benar-benar berhenti. "Sorry, ya, Mand. Gue nggak ada maksud apa-apa, kok. Gue cuma nggak tega liat lo ketakutan." Kali ini nada suara Arga lebih lembut dari sebelumnya. Amanda hanya mengangguk. Membiarkan kenyamanan ini menyelimuti tubuhnya. Ia sadar apa yang dilakukannya ini akan berdampak semakin buruk ke hatinya. Semakin sulit pula Amanda menghilangkan rasanya ke Arga. Yang ia takuti hanyalah perasaan Bimo kalau calon tunangannya tau tentang ini. "Mand," panggil Arga, pelan. Amanda menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah Arga yang memanggilnya. Mereka saling menatap. Jantung keduanya sama-sama berdegup kencang. Mengalahi suara petir di luar sana. Amanda mengigit bibir bawahnya kala menahan napasnya yang kalau dikeluarkan akan terengah-engah. Percuma sejak awal Arga menahan dirinya. Cowok itu tak kuasa lagi memajukan wajahnya lebih mendekati gadis didepannya. Amanda membiarkan apa yang akan dilakukan Arga. Bahkan ia lupa kalau Bimo masih ada di dalam hidupnya, dan akan segera bersanding dengannya. Sama halnya dengan Arga yang sama sekali tidak peduli terhadap kenyataan jika Amanda sudah memiliki orang lain. Arga membiarkan dirinya sendiri untuk egois. Mata Amanda terpejam saat bibir Arga telah mendarat di kening Amanda. Fortsetzung folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD