Teil 7 - Menjelang Hari Pertunangan (der Tag des Eingriffs)

3594 Words
Langit yang semulanya benderang kini berubah menjadi gulita. Namun, kebisingan sepanjang jalan beraspal selalu terniang di telinga gadis yang tidak begitu merona menjelang hari peresmian hubungannya bersama sang kekasih. Sejak kejadian mengejutkan beberapa waktu yang lalu bersama Arga. Tidak sedikit pun kotak memori Amanda melupakan hari itu. Bahkan, sekadar mengingat kembali saja membuat jantungnya berdetak cepat dan mendebarkan. Apalagi sikap cowok yang telah melakukan hal itu tidak menampilkan raut serba salah ataupun kecanggungan sedikit pun. Tingkah laku Arga malah membuat Amanda semakin bingung. Arga berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Sehari setelah moment itu. Arga lebih sering tersenyum. Bahkan tertawa lepas. Dan yang membuat Amanda sulit percaya ketika Arga mulai bertingkah sama seperti Haka. Berani menjahili Amanda. Pikirannya tidak pernah berhenti bertanya tentang Arga. Gadis itu ingin sekali berbicara empat mata dengan si tersangka. Akan tetapi Amanda tidak pernah mempunyai kesempatan berbicara dengan Arga. Hanya berdua. Entah Arga sengaja menghindarinya atau memang Amanda sendiri yang tidak pintar mengatur waktu untuk itu. Entahlah. Yang jelas sampai detik ini Amanda masih dalam kebingungan tingkat tinggi. Benaknya sama sekali tidak terhubung ke acara lusa yang sudah di depan mata. Moment yang menjadi awal masa depan untuknya. Jiwa, hati , dan otaknya hanya tertuju pada Arga. Gadis itu tidak menyadari akan bahaya jika ia terus melakukan ini. Sebab itu bisa berdampak dahsyat bagi kehidupannya. Amanda membaringkan tubuhnya tak bersemangat. Wajahnya mengadah ke plafon kamarnya. Tangannya melempar ponsel ke udara dan menangkapnya. Kegiatan yang bisa saja mencelakai wajahnya berlangsung sejak lima menit yang lalu. Setelah Bimo meneleponnya untuk memberitahukan kalau besok Amanda harus merapikan diri dan akan menjemputnya jam enam pagi. Karena hari Sabtu sudah dipastikan hampir semua jalan utama akan mengalami kepadatan. Ponsel Amanda bergetar tepat saat tangan kecil itu menangkapnya. Amanda menggeser layar kunci, dan melihat nama Arga yang mengiriminya pesan Line. Amanda tersentak bangkit dari posisi tidurnya. Arga Dwi Putra : bisa nggak besok gue minta waktu lo sebentar sebelum lo berangkat ke Bandung. Satu jam aja. Matanya membelalak tak percaya. Meski hati kecil Amanda memang menunggu hal ini terjadi. Mungkin segala kebingungannya beberapa hari ini akan terjawab. Jari-jari Amanda lansung mendarat dan menekan-nekan tombol di layar ponselnya. Amanda mengiyakan pesan Arga. Ia tidak memikirkan kembali dampaknya. Kalau Amanda harus mencari alasan yang tepat untuk izin hal ini ke Bimo. Arga Dwi Putra : besok di Taman komplek deket kosan lo jam sepuluh. Amanda berbinar. Tidak sabar untuk besok. Namun, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Amanda kembali mencari ikon panggilan di layar utama ponselnya. Meletakan benda persegi itu ke telinganya. "Halo, Bim?" "Iya, sayang. Barusan udah telpon, sekarang kamu nelpon lagi. Udah kangen, ya?" Amanda terkekeh kecil. Bukan itu yang sebenarnya ingin ia sampaikan. "Gini, Bim. Aku ...." Amanda ragu mengutarakan keinginannya. Ia masih harus mencari-cari alasan agar tidak ada sedikitpun celah untuk Bimo mencurigainya. "Kenapa, sayang?" "Besok kamu bisa nggak jemput akunya siangan aja. Sekitar jam dua belasan gitu." Nada suaranya bergetar. Sekarang Amanda benar-benar takut. "Lho, siang banget. Kenapa emangnya, sih ? Kalo nanti kita kena macet gimana?" Amanda bergumam. Masih memikirkan alasan selanjutnya demi membuat Bimo mengiyakan permintaannya. Beberapa detik tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Bimo masih menunggu kelanjutan ucapan Amanda. "Gini, lho, Bim. Aku lupa kalo aku udah ada janji sama Risa buat nganterin dia ke toko buku." Akhirnya ada juga alasan yang timbul di benak Amanda. "Emang Risa nya ngga bisa minta anterin yang lain. Kita kan mau tunangan, sayang. Kalo enggak cepat-cepat sampai nanti mamah kamu ngomel-ngomel ke aku." Ada sedikit nada bicara yang ragu dari tanggapan Bimo. "Aku nggak enak, sayang. Aku udah lama janji. Risa itu kan, tau kalo aku suka banget sama Novel dan dia juga tau kalo aku bisa bedain mana Novel yang bagus dan mana yang enggak. Jadi dia mau minta referensi dari aku gitu katanya." Alasan lain lagi yang menimpali ide konyol Amanda. Bagaimana mungkin Amanda lebih mementingkan menemani Risa ke toko buku ketimbang acara penting untuk masa depannya. "Kan bisa kamu Kasih tau judulnya aja via telpon. Atau Risa bisa kirim foto ke kamu, novel yang dia akan beli." "Duh ... Mana bisa kayak gitu, Bim. Aku juga kan nggak tau mana novel yang bagus atau enggak kalo aku belum liat secara langsung. Banyak yang jadi penilaiannya kan," papar Amanda terlalu bersikeras demi memaksakan pertemuannya dengan Arga. "Oke-oke kalo gitu. Aku nggak pernah menang kalo kamu udah merajuk begini. Tapi jam dua belas tepat, ya, kamu harus udah di kosan." Akhirnya dalam batin Amanda. Kemudian Bimo menutup panggilan setelah Amanda memberikan kecupan sayang yang paling manja untuknya. Selalu dan pasti. Amanda merajuk jika keinginan egoisnya muncul. Gadis itu menggenggam ponsel di dekat dadanya. Wajahnya berbinar. Membayangkan sesuatu yang belum ada wujudnya. Padahal ia sudah melakukan kebohongan ke calon tunangannya yang kemungkinan besar akan menjadi calon suaminya kelak. Kelegaannya hanya berhenti sampai di situ saja. Tiba-tiba Amanda teringat kembali tentang resiko lain yang bisa saja terjadi. Matanya mengerjap. Dahinya mengerut. Gadis itu kembali membuka layar kunci di ponselnya. Sent to Arga : Jangan di taman komplek ya, Ga. Di Kafe donat depan kampus aja. Suasananya lebih adem kayanya. Amanda berpikir kalau ia bertemu Arga di Taman komplek yang notabenenya menjadi satu-satunya jalan melewati kosnya. Bisa saja Bimo melihat pemandangan yang akan membuat bencana di hidupnya. Akhirnya Amanda mengambil antisipasi yang besar. Amanda bergegas mengambil posisi tidur untuk bisa cepat menemui cuaca pagi. Ia ingin kegundahan hatinya hilang karena sudah mulai lelah bertanya tanpa ada jawabannya. _____ Masih ada waktu setengah jam lagi dari waktu kesepakatan antara Arga dan Amanda hari ini. Akan tetapi gadis itu tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk cepat-cepat bertemu laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya lagi. Sampai gadis itu bertanya pada hatinya sendiri. Seberapa besar hati yang ia miliki dalam raganya sampai bisa-bisanya ia menyukai dua orang laki-laki dalam satu waktu. Mungkin Tuhan punya rencana indah dalam hal ini. Semoga, pikirnya Amanda. Amanda terus melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dari sepuluh menit yang lalu ia sudah duduk di depan teras kosnya. Amanda jadi kelimpungan sendiri. Padahal tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk melakukan suatu hal yang berbahaya sehingga membuat raut wajahnya dipenuhi dengan kepanikan. Alhasil gadis itu bangkit dari duduknya dan berlari menuju tempat yang sudah menjadi tujuannya sejak tadi malam. Meskipun masih sekitar dua puluh menit lagi waktu janjiannya dengan Arga. Dan hanya butuh waktu lima menit untuk Amanda sampai ke Kafe yang terletak tepat di depan seberang gerbang utama kampus. Akhirnya Amanda bergegas menuju tempat janjiannya dengan Arga. Es kopi dan dua donat berlapis coklat yang akhirnya menemani kesendirian Amanda di sudut paling pojok dekat kaca transparan sehingga bisa melihat kendaraan yang berlalu-lalang di sana. Lima menit lagi waktu yang tersisa dan Arga belum juga datang. Separuh pikirannya tertuju ke Bimo yang akan menjemputnya sekitar dua jam lagi. Walaupun masih cukup lama, tetapi Amanda tidak tahu kalau Arga sendiri akan tiba di hadapannya jam berapa. Akhirnya Amanda bisa mengembuskan napasnya lega. Matanya yang sedaritadi mencari kesana-kemari akhirnya lurus ke satu Arah. Cowok charming-nya sudah datang. Bisa dibilang ini pertama kalinya Amanda dan Arga janji temu hanya berdua. Biasanya selalu berlima dengan Haka, Oni, dan Bili. Jadi wajar jika rasanya sekarang Amanda sedang gelisah hati. "Udah lama nunggu?" sapa Arga datar menyunggingkan senyum ketika sudah berada di hadapan Amanda, dan segera menarik kursi yang berseberangan dengan Gadis ber-dress panjang model kodok itu. Amanda menggelengkan kepalanya cepat. "Belum, kok. Baru aja sampe." Wajahnya berseri. "Langsung aja, ya, Mand. Gue tau sebentar lagi pasti lo akan segera berangkat ke Bandung," ucap Arga cepat dengan ekspresi datar. Amanda sedikit bingung. Pasalnya wajah Arga ini juga sedikit dingin sehingga membuat suasana jadi kurang nyaman. "Gue mau ngomongin kejadian beberapa hari yang lalu." Tepat sekali perkiraan Amanda kalau inilah yang akan disampaikan Arga. Amanda membisu. Belum ada satu pun kata yang ingin ia keluarkan untuk membalas pernyataan Arga. "Sebelumnya ... gue minta maaf karena udah ngelakuin hal yang seharusnya enggak gue lakuin." Arga menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. Arga mulai mengambil ancang-ancang guna melanjutkan penjelasannya lagi. "Gue akuin gue salah." Kali ini Amanda yang mencoba mengatur napasnya agar terlihat normal. Kalau saja Arga bisa mendengarnya, d**a Amanda begitu berdebar. Jauh di dasar hatinya, Amanda berharap jika Arga memiliki rasa yang sama dengannya. Itu mungkinkan? Namun, Arga malah mengatakan ini. "Sebenernya ... gue nggak sengaja ngelakuin itu. Gue ... gue cuma lagi frustrasi karena lagi ada masalah sama cewek gue." Jleb Ibarat berada di tumpukan salju tiba-tiba terguyur air mendidih. Sama seperti yang dirasakan Amanda saat ini. Semua spekulasi dan harapannya buyar begitu saja diterbangkan angin hingga tak tersisa. Mungkin ini hukuman untuk Amanda yang sudah berani membagi cintanya. Seketika Amanda lemas. Bahunya melorot dan wajahnya menekuk. Ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya menjadi biasa saja. "Oh, gitu," sahut Amanda, pelan. Sangat pelan nyaris tidak bisa didengar oleh Arga. "Gue mau elo enggak mikirin kejadian kemaren, ya. Anggap aja kalau itu kecupan sebagai teman," lanjut Arga mengembuskan napasnya cepat. "I-ya," jawab Amanda seadanya. Terdengar gugup dan tidak yakin kalau ia bisa membuang begitu saja ingatan itu. "Yaudah, Mand. Gue balik duluan, ya. Elo enggak perlu gue anter kan?" Hati Amanda seperti teremas berkali-kali. Kenapa harus kalimat seperti itu yang keluar dari sesorang Arga. Bagi Amanda, itu adalah kalimat terdingin yang pernah ia dengar dari Arga. "I-ya enggak usah." Amanda mengeluarkan sedikit senyum di sudut bibirnya. Setelah mengucapkan pamit , Arga meninggalkannya. Tanpa ada niat sedikitpun mengantarnya kembali ke kosan. Hanya kalimat menyakitkan yang keluar dari mulutnya. "Gue pantas dapat ini. Enggak seharusnya gue mengharapkan sesuatu yang terlarang kayak gini," ucap batin Amanda. Apa hanya Bimo yang benar-benar tulus menyayanginya? Seharusnya dari Awal Amanda tidak boleh berharap terlalu banyak dengan Arga. Amanda harus sadar dengan perasaannya yang salah ini. Entah kenapa harus ada sebulir bening yang menetes ke pipinya. Amanda sakit hati atas rasa sakit yang ia buat sendiri. Padahal Arga sendiri tidak tahu perasaannya seperti apa. Tangannya langsung menyibak beberapa tetes airmata yang akan jatuh dari pelupuk matanya. Dan membersihkan sisa-sisa airmata di pipinya. Ia tidak mau orang-orang di Kafe melihat pemandangan sendu di wajahnya. Amanda memutuskan untuk segera kembali ke kosannya. Ternyata di sana sudah ada Bimo. Pria itu berdiri di depan pintu kosannya. Amanda berlari menghampiri Bimo, memeluknya. Tentu saja hal itu membuat Bimo heran. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu kok, jalan kaki? Emang toko bukunya ada di dekat sini?" tanya Bimo bertubi-tubi. Bimo hendak melepas pelukan gadisnya. Namun, Amanda justru semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di pinggul Bimo. "Makasih ya, Bim," sebut Amanda dengan suara serak. Sekuat apapun ia tidak bisa menahan tangisnya. "Hei-hei, kamu kenapa, cinta?" Pria itu menangkap wajah Amanda yang penuh dengan air mata. Amanda menggeleng. "Aku cuma mau bilang makasih karena kamu udah ada untuk aku," ucapnya. Tangan Bimo senantiasa menghapus bekas air mata di pipi Amanda. "Always. Tanpa kamu minta, aku akan selalu ada untuk kamu. Kapanpun itu. Bahkan, kalau kamu mau aku bisa berhenti dari kantor untuk menemani kamu setiap saat." Amanda memeluk lagi tubuh tegap prianya. Ia mulai sadar kalau perasaannya ke Arga bisa jadi hanyalah ujian untuk hubungannya dengan Bimo. Karena pria di depannya inilah yang memang akan menjadi masa depannya. _____ Suara pantulan bola karet berwarna jingga disuatu ruangan itu terdengar jelas. Beradu dengan decitan sepatu yang bergerak lincah. Sebuah tempat di area kampus yang sering ramai dengan sorakan-sorakan dari tribune. Karena hari ini hari Sabtu, tidak begitu banyak mahasiswa yang berada di kampus.Termasuk aula olahraga yang hanya didatangi oleh satu orang. Cowok yang baru saja berhasil membohongi seorang gadis dan perasaannya sendiri itu, kini tengah melampiaskan emosinya pada basket. Arga memang tidak terlalu sering menggerakan tubuhnya di arena basket. Ia vakum sejak lulus SMA. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Arga adalah mantan bintang basket di sekolahnya dahulu. Tentunya membuat cowok berwajah manis ini masih mengingat betul tata cara permainan yang mengundang basah di sekujur tubuhnya. Meski terbilang kurus, tubuh Arga tetap terlihat atletis. Ia tidak pernah meninggalkan rutinitas mingguannya untuk berkunjung ke salah satu tempat melatih otot-ototnya. Ketika Arga sedang mendapati masalah. Sebagai laki-laki ia tidak mau mengambil langkah yang salah demi melampiaskan emosinya. Maka dari itu, ia lebih memilih menuangkannya dalam bentuk kegiatan olahraga. Bola di tangan cowok itu bergulir memasuki ring dengan mulus. Sudah hampir dua jam Arga berlari kesana-kemari di lapangan yang cukup besar ini. Keringatnya membasahi kemeja kasual abu-abu yang melekat di badannya. Ingatannya kembali memutar. Kejadian beberapa jam lalu, saat dirinya berada di satu kesempatan untuk bisa mengungkapkan isi hatinya. Bisa memeluk gadis yang dicintainya. Dan pastinya bisa melegakan hatinya yang menyimpan sebuah perasaan begitu dalam. Namun, sayangnya kesempatan itu sirna. Bibirnya sama sekali tidak bisa menggerakan ketiga suka kata itu. Aku cinta kamu. Bahkan, matanya tidak bisa menatap lebih lama seorang Amanda. Padahal hampir setiap hari mereka saling temu pandang. Anehnya beberapa saat yang lalu Arga tidak berdaya melihat wajah cantik itu. Tubuhnya lemas. Lututnya terjatuh ke lantai yang bukan keramik itu. Arga mencoba bangkit kembali dengan sisa-sisa tenaganya. Namun, tubuhnya tidak bisa menuruti keinginannya untuk terus men-dribble bola basket di hadapannya. Salah satu kakinya menekuk. Punggungnya bersandar di tiang ring basket. Karena kesal tidak bisa berdiri lagi, Arga melempar cukup jauh bola basket yang ada di dekat kakinya. Bola itu bergulir hampir keluar dari ruangan olahraga. Untung saja ada kaki yang menahan benda bulat itu. "Kenapa lo?" Bili melempar kembali bola yang ia ambil dari bawah kakinya. Bola itu terbang melewati Arga. Bili menghampiri Arga dan berdiri di depan cowok itu. Lalu Arga mengadah ke wajah Bili. Dan pandangannya berakhir ke arah bangku penonton. "Enggak apa-apa," jawabnya singkat. "Walaupun gue orang yang enggak peka. Tapi buat yang satu ini gue tau betul kalo elo lagi ada masalah." Jarang-jarang seorang Bili bisa mempunyai tatapan yang serius seperti ini. Arga membisu. Raganya ada di ruang olahraga, tetapi jiwa dan pikirannya selalu tertuju ke satu gadis itu. "Pasti lo lagi ada masalah, kan? Dari SMA lo enggak berubah. Dari cara main basket lo yang kayak gini udah ketauan banget," dikte Bili. Beberapa menit tadi ia sudah tengah memperhatikan Arga dari kejauhan. Ia tahu betul kalau permainan Arga barusan menunjukan sohibnya itu sedang bermasalah akan sesuatu. Permainan yang kasar. Tidak berhenti berlari sedikit pun. Hanya sesekali meneguk air mineral yang terpampang di pinggir lapangan. Belum lagi Arga melempar bola dengan penuh emosi. Hal itu terpancar jelas dari ekspresinya ketika melempar. "Gue enggak apa-apa," tegas cowok itu. Bili hanya membuang napasnya kesal. Ia tidak pernah berhasil mengetahui apa yang tengah terjadi kalau dirinya yang bertanya terlebih dahulu. Arga lebih suka menceritakan masalahnya tanpa disuruh. Hanya kalau dirinya siap dan mau berbicara langsung. "Terakhir elo galau begini sejak kepergiannya Sania. Apa sekarang elo juga abis ditinggal cewek?" tebak Bili yang hanya mendapatkan tatapan tajam dari si empunya. "Yaudahlah, terserah lo aja. Bodo amat gue mah!" Bili sewot. Beberapa saat setelahnya. "Lo bisa dateng ke pertunangannya Manda, nggak? Sore ini gue, Haka, sama Oni mau berangkat. Kita mau jalan-jalan dulu terus nginep di Hotel. Kalo berangkatnya besok takut enggak keburu," ujar Bili. Mendengar hal itu malah membuat napas Arga semakin memburu. Ia sudah tau betul kalau Amanda akan segera bertunangan dengan kekasihnya. Namun, saat Bili yang menegaskan kalimat itu, membuat hatinya kembali berteriak. Arga masih mengunci mulutnya. Bili mendengkus karena menunggu jawaban Arga yang seharusnya bisa dengan mudah ia utarakan. "Ga, Ga, udah kayak ngomong sama ring basket aja kalo begini caranya," kesal Bili sambil memutar matanya sebal. Bili menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menyerah. "Kalo lo mau ngikut, kita tunggu di kampus jam lima." Kali ini Arga menoleh lurus ke wajah Bili. "Yaudah, gue balik dulu," pamit Bili dan melenggang pergi dari hadapan Arga. Arga bingung. Apa yang harus dia lakukan. Apa dia sanggup melihat Amanda secara langsung ketika mendapatkan cincin pertunangan dari pria lain. Kepalanya mengadah ke ring basket di atasnya. Salah satu tangannya menjambak rambut belakangnya. Rasanya ia ingin berteriak dan membiarkan suaranya menggema ke seisi ruangan olahraga ini. Namun, tiba-tiba Arga tersentak ketika benaknya tengah memutar kembali raut wajah Amanda yang tersenyum. Secepat kilat pikirannya berubah. Ia memantapkan hati. Arga membulatkan tekat. Bahwa dirinya harus bersikap seperti sedia kala di depan Amanda. Tetap menjadi teman baik Amanda setelah moment pertunangan yang kemungkinan besar akan membuat hatinya remuk dan tak kembali utuh. Toh, Amanda belum mengetahui perasaan Arga sebenarnya. Jadi Amanda akan bersikap seperti biasa kepada Arga. Begitupun sebaliknya. Arga juga harus bisa bersikap seperti halnya seorang teman ke Amanda. Dengan begitu hubungan mereka akan terus baik-baik saja. Arga masih bisa melihat senyum indah milik Amanda. Ia berjanji akan selalu ada untuk Amanda. _____ Sekitar hampir empat jam kendaraan beroda empat tipe fortuner milik Bimo berada dalam perjalanan menuju kota kembang Bandung. Tempat di mana kelahiran gadis berusia delapan belas tahun itu yang sebentar lagi akan resmi menjadi tunangannya. Setelah melepas rindu dengan kedua orang tuanya termasuk kakaknya dan bercengkrama beberapa saat, gadis itu beringsut pergi ke lantai dua di rumahnya yang cukup besar, tetapi bernuansa simpel. Amanda menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang sudah ditinggalkannya hampir lima tahun setelah kelulusannya dari sekolah menengah pertama. Sejak itu Amanda tinggal bersama Aninda di daerah Jakarta Barat. Amanda tidak lelah selama perjalanan dari Bogor ke Bandung. Ia terus tertidur selama beberapa jam itu. Ia merasa rindu dengan suasana warna ungu di kamar pribadinya ini yang tidak berbeda jauh dari kamar kosnya. Amanda memejamkan matanya sesaat kala menghirup aroma lavender dari hembusan kesejukan pendingin ruangan kamarnya. Lagi-lagi gadis itu masih menampilkan sosok laki-laki selain kekasihnya. Dirinya tidak bisa membohongi perasaannya. Sekeras apapun usahanya melupakan satu nama di relung hatinya, semakin jelas terniang nama itu di seluruh pikirannya. Amanda juga tidak pernah berhenti merasa bersalah dengan Bimo dengan perasaan yang ia miliki ini. Sudah jelas kalau ini menyakiti Bimo. Laki-laki yang bisa sabar menjadi kekasihnya selama ini. Hanya Bimo yang menjadikan Amanda seperti halnya putri raja. Ternyata berbagai ucapan dan sikap manis dari Bimo tetap tidak bisa mengalahkan perasaannya untuk Arga. Amanda salah sangka jika mengira perasaannya ke Arga, hanyalah sekilas. Hatinya bagai teriris dengan pisau tertajam di dunia ini. Selain baru pertama kalinya pacaran dan langsung tunangan. Dirinya baru pertama kali juga mendapati cinta yang tidak terbalaskan seperti ini. Rasanya sakit. Mempunyai cinta bertepuk sebelah tangan. Amanda kalut. Hatinya tak pernah berhenti berdesir sejak pertemuannya dengan Arga dan begitu cepat benih cinta tumbuh di hatinya. Ia tidak tahu harus mengambil langkah seperti apa ? Ia bukan gadis yang mengerti dengan situasi seperti ini. Di tengah-tengah pikirannya yang masih terus dilema itu. Ponselnya bergetar halus. Amanda merogoh tas di sampingnya tanpa menoleh. Pandangannya masih tertutup karena matanya yang terpejam. Ia mengangkat ponselnya di atas wajahnya yang mulai menatap layar terang di sana. Line grupchat Haka : Mand, lo udah sampe Bandung ? Oni : iya nih, Mand. Lo udah sampe belon ? Kita udah nih. Amanda yang membuka chat di grup orang-orang konyol itu melihat ke arah jam bulat yang tertempel di dinding sebelah kirinya. Jam menunjukan pukul delapan tepat. Amanda : iya, gue udah sampe dari jam limaan tadi kalo nggak salah. Kalian nginep di mana ? Nggak di rumah gue aja ? Ada banyak kamar, kok. Bili : nggak usah, Mand. Kita di hotel aja. Kebetulan gue dapet voucher menginap nih. Sayang juga kalo nggak dipake. Amanda : oh, yaudah kalo gitu. Haka : lo sibuk nggak ? Amanda : nggak sih biasa aja. Kan udah pada ada yang ngurusin buat acara besok. Bili : yaudah sini gabung. Amanda : emang kalian dimana ? Bili : sugarush. Amanda : gue tau tempatnya. Yaudah gue ontheway ya. Bili : sip. Amanda memasukan kembali ponsel ke dalam tasnya. Ia bergegas keluar dari kamarnya. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya sebelum menuruni anak tangga pertama paling atas. Perasaannya sedikit takut jika harus bertemu Arga setelah kejadian di Kafe tadi siang. Namun, Amanda berusaha untuk yakin pada dirinya sendiri jika ia bisa bersikap seperti biasa. Toh, Arganya pun sama. Gadis itu kembali menuruni anak tangga. "Mau kemana kamu, sayang ?" Bimo sudah menyambut calon tunangannya yang baru saja berada di anak tangga terakhir. "Temen-temen aku udah sampe Bandung. Aku mau ketemu mereka sebentar. Nggak jauh kok dari alun-alun," paparnya. Bimo berdehem pelan. Belum menyahuti Amanda. "Boleh, kan?" Amanda mendelik manja. "Kalo aku larang pun kamu akan terus ngerengek ke aku. Yaudah boleh. Tapi aku ikut, ya" Sebenarnya tidak masalah kalau Amanda mengajak Bimo untuk bergabung bersama keempat teman laki-lakinya. Justru itu hal yang bagus supaya Bimo bisa percaya seratus persen dengan dirinya kalau memang selama ini tidak pernah ada kejadian yang selalu dikhawatirkan Bimo. Yaitu menaruh hati kesalah satu teman-temannya. Setidaknya itu yang dilihat Bimo. Namun, Amanda jadi gugup dengan permintaan Bimo. Amanda tidak tahu persis apa alasannya ia menjadi kikuk seperti sekarang ini. "Bim, anterin kakak ke Butik, yuk. Mau ngambil baju pesenan mamah sama papah buat besok," ujar Aninda, kakaknya Amanda. Tentu saja kalimat tersebut menjadi penolong untuk Amanda yang sedang setengah mati bingung tadi. "Kamu juga ikut ya, Mand," lanjut Aninda. "Enggak bisa, Kak. Kakak sama Bimo aja. Manda ada janji sama temen-temen Manda di Kafe deket alun-alun." Bimo terlihat bingung harus memilih ke tujuan yang mana. Sejak awal Bimo tidak pernah menolak apapun permintaan dari keluarga Amanda. Hal terkecil maupun terbesar. Termasuk meminta untuk selalu bersikap tenang dalam menghadapi kemanjaan gadis bungsu di sampingnya. "Yaudah, Bim. Kamu anterin Kak Ninda aja, ya. Aku bisa sendiri, kok. Nanti aku minta anterin Mang Didi aja." Seperti terbebas dari himpitan batu besar. Entah Amanda merasa lega, dan menganggap Aninda-kakanya sebagai penyelamat. "Tapi kamu hati-hati, ya. Inget besok kita mau tunangan. Kalo ada apa-apa langsung hubungin aku." Untuk kesejuta kalinya Bimo mewanti-wanti Amanda. Gadis itu mengangguk dengan wajah semringah. Kemudian Bimo menyusul Aninda yang sudah beringsut pergi beberapa detik yang lalu. "Maafin aku untuk ke sekian kalinya ya, Bim. Tapi aku enggak bisa menyembunyikan rasa senang aku saat mau bertemu cowok lain." Fortsetzung folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD