Teil 8 - Janji yang Indah (schönes Versprechen)

3398 Words
Perkembangan jaman sudah semakin modern. Hal itu membuat kepadatan penduduk terjadi bukan hanya di kota besar seperti Jakarta. Melainkan bisa di mana saja termasuk Kota kembang Bandung yang kini sudah berubah nyaris sempurna. Ornamen-ornamen sinar lampu yang menghiasi setiap sisi jalan di pusat kota ini, menjadikan keadaan kota terang benderang. Karena hari ini adalah malam minggu, malamnya para penduduk Kota Bandung yang notabenenya banyak berkeliaran di luar rumah sebab tanggal merah di ke esokan harinya. Termasuk para pemuda dari kota Bogor itu yang ikut menyaksikan gemerlap malam kota Bandung. Mustahil bagi keempat laki-laki itu berada di suasana hening. Sangat tidak mungkin rasanya. Dan di sinilah mereka berada. Di salah satu Kafe di sekitar jl. Braga, Bandung. Untungnya banyak pengunjung di tempat ini sehingga tidak menjadikan mereka sebagai tontonan karena saking ributnya. Masing-masing orang di sana hanya sibuk di mejanya sendiri. Ada sepasang kekasih, keluarga kecil, para sahabat, dan beberapa kerumunan seperti keempat makhluk terkece dari Kampus Kebangsaan yang memilih meja paling pojok seperti biasa. "Jadi lo ninggalin cewek yang namanya Alexa itu di hotel?" tanya Haka masih tidak percaya dengan cerita Bili sebelumnya. Meneguk minuman sodanya sampai habis tak tersisa setetes pun. Bili  mengangguk  geli  sambil  menyomot  beberapa potong friench  fries  dan  sekaligus  dimasukan  ke dalam  mulutnya. "Lagian tuh, cewek berani banget ngajakin gue begituan," lanjutnya Bili bercerita. "Kenapa nggak lo ambil aja tuh kesempatan," timpal Haka lagi di sisa-sisa tawanya. Sebelum Bili menyahuti, dengan cepat Oni menoyor sisi kepala Haka. Hal yang mudah dilakukan oleh cowok berdagu sangat lancip itu karena duduk di samping Haka. "Pe-a lo! Emangnya lo mau nyerahin keperjakaan lo sama cewek yang nggak jelas begitu!" sewot Oni. "Betul tuh kata Oni. Jangan mentang-mentang gue playboy, gue jadi gampangan gitu. Sebandel-bandelnya gue sama cewek, nggak pernah tuh gue ngelakuin beginian." Bili menyahuti. Kedua jari antara telunjuk dan jari tengahnya berdekatan dan ditekuk-tekuknya beberapa kali. Sebagai tanda akan sesuatu hal yang dimaksud Bili. "Salut, deh, gue sama lo, Bro," kagum Oni yang tidak menyangka akan Bili bisa mempertahankan kehormatannya sebagai laki-laki. Walaupun sudah tidak terhitung banyaknya perempuan yang ia gombali lalu dikencani. Ketiganya seperti biasa tingkahnya. Hanya Arga yang mengunci bibirnya rapat-rapat. Cowok itu hanya menyimak kawan-kawannya dan senyum sesekali kalau ada hal yang menurutnya lucu. "Lo diem aja sih, Ga ? Nggak asik nih," tanya Haka memutar matanya ke Arga duduk di paling pojok. Bersebelahan dengan Bili. "Ah, Arga mah emang gitu orangnya. Udah mau ikut sama kita aja termasuk keajaiban banget rasanya." Bili menyerobot dengan cepat menjawab pertanyaan Haka yang bukan untuknya. "Arga ini lebih suka berjam-jam di tempat gim daripada jalan-jalan begini," lanjut Bili. Sang empunya hanya membalas dengan wajah datarnya. Menyeruput kapucino miliknya. "Gue mah, tau Arga begitu orangnya. Kalem. Tapi dingin udah kayak dimasukin ke kulkas. Saking dinginnya bikin gue jadi kegerahan mulu." Haka mencemooh. Dibalas tawa dengan Bili dan Oni. Termasuk Arga sendiri yang menyunggingkan senyumnya sedetik. "Lo lagi ada masalah, Ga? Kok, mukanya sepet gitu." Kali ini Oni yang bertanya dengan nada serius. "Iya, Ga. Kenapa sih lo ? Ditekuk aja tuh muka gantengnya." Haka ikut penasaran. Bagaimana Arga bisa menjawab kalau pertanyaan salah satu temannya pasti dijawab terlebih dahulu oleh temannya yang lain. Akhirnya Arga lebih memilih tetap diam sampai suasana kembali memecah yang diakibatkan oleh satu-satunya gadis di antara mereka baru tiba. "Hai, kalian!" Dengan wajahnya yang paling ceria Amanda datang ke meja teman-temannya itu. Langsung disambut senyuman dari setiap bibir cowok-cowok di situ termasuk Arga. "Ceilah, yang besok mau tunangan. Seneng bener kayaknya," ledek Haka. "Iya, dong." Amanda bahagia. Ya, harus. Sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan sedalam-dalamnya rasa sakit di hatinya karena seseorang yang juga ada bersamanya saat ini. "Mau pesen apa, Mand?" tanya Bili mengambil buku menu. "Nggak usah, deh. Gue lagi nggak pengen makan," tolak  Amanda  dengan  nada  tidak  bersemangat. "Gue mau nyicip ini aja." Gadis  itu menarik milkshake milik Oni, lalu duduk di sebelah Bili. Berhadapan lagi dengan Arga. "Kalian berangkat jam berapa dari Bogor tadi?" tanya Amanda mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Jam limaan kalo nggak salah," sahut Oni seadanya. Amanda mengangguk paham. Seperti biasa mereka melanjutkan kegiatannya dengan mengeluarkan berbagai macam candaan yang seru. Lebih sering Amanda yang menjadi tumbal mereka untuk jadi bahan cemoohan. Setelah kedatangan Amanda di Kafe, mereka tidak mengambil banyak waktu di sana. Mereka lebih memilih menyusuri jalananan kota Bandung. Menikmati semilir angin malam yang berembus. Kelimanya memutuskan untuk bersinggah di alun-alun kota kembang itu. Mereka, termasuk Amanda yang sudah lama tidak berkunjung ke tempat kelahirannya ini merasa takjub atas perubahan kota Bandung sekarang. Sangat indah. Begitu fantastis. Tidak kalah dari kawasan umum di luar negeri sana. Ya, walaupun mereka sendiri belum pernah keluar negeri. Tapi kalau dibandingkan dari acara-acara TV ,majalah, atau internet yang menampilkan suasana luar negeri. Bandung sangat cocok untuk menjadi Kota yang sangat diperhitungkan keindahannya. Lima anak kampus itu memilih untuk mengistirahatkan kembali tubuhnya di hamparan luas warna hijau yang tidak pernah luput dari pandangan mereka. Rasanya nyaman dan menenangkan hati. Ditambah ada bangunan masjid di belakang mereka. Membuat mereka tidak ingin pergi dari kota ini. Haka, Oni, Bili, Arga, dan Amanda duduk tanpa beralaskan apapun. Di tempat yang sangat ramai ini menyisakan sepetak tempat cukup untuk mereka. "Duh, rasanya gue milih tidur di sini ketimbang di hotel." Haka bersuara. Kali ini nadanya lembut karena saking kagumnya dengan kota ini. Ia berbaring tanpa permisi di atas kedua paha Amanda. "Lo aja, ya. Gue mah engga mau kedinginan di sini." Oni menimpali. Ketiganya tertawa kecil. Arga yang melihat posisi Haka seperti itu merasa tidak nyaman. Ia berulang kali melirik ke arah Haka dengan tajam. Ternyata, diam-diam Haka juga sadar jika sikapnya ini memancing kegelisahan Arga dari gerak-geriknya. Haka tampak senang dengan kejahilannya ini. Juga semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan Arga. "Kalian, gue mau tanya. Sebenarnya kalian nyaman enggak sama pertemanan kita sekarang ini?" Amanda membuka suara. Yang lainnya memperhatikan serius. "Gue sih, nyaman banget. Hampir setiap hari kebutuhan pangan gue terpenuhi sama Manda," jawab Haka tanpa dosa. Yang langsung disambut dengan cubitan dari Amanda ke hidungnya. "Gue serius, ih." Gadis itu mendesis. "Sama gue juga. Apalagi gue sering nyontek tugas sama Manda. Ya, kan, Mand?" Oni samanya. "Oni, please deh. Bisa enggak sih, elo jangan selalu ikutan Haka. Gue tau elo lebih baik dari Haka." Amanda berdecak sebal. Keempat cowok itu terkikik geli. Termasuk Arga yang tersenyum berkat ekspresi bahagia Amanda saat ini. Ia bahkan melupakan rasa sakit hatinya mengingat pertunangan Amanda yang hanya tinggal beberapa jam lagi. Haka bangkit dan duduk bersila. "Oke, sekarang gue serius nih, ya. Kalian dengerin baik-baik." Keempat yang lainnya memperhatikan Haka secara seksama. "Gue nyaman banget temenan sama kalian. Bahkan, di luar kalian, gue enggak pernah nemuin tempat senyaman ini. Tapi ...." Haka melihat ke arah Arga, lalu bergantian ke Amanda. "Gue enggak mau kalau sampai pertemanan kita ini hancur karena sebuah hubungan yang enggak seharusnya ada." "Maksud lo apa sih, Hak? Ngomong langsung intinya. Enggak usah pake istilah-istilah. Bingung gue, etdah," sela Oni menggaruk kepalanya. "Mungkin maksud Haka, di antara kita jangan ada yang cinlok. Gitu bukan, sih?" Bili mengeluarkan pendapat. "Cilok?" Oni polos, tetapi tidak ada yang menghiraukannya. Karena kini Amanda dan Arga terlihat tegang. Sebut saja mereka berdua adalah orang yang dimaksud Haka, meskipun mereka yakin jika Haka tidak akan tahu apa yang keduanya rasakan. "Bener banget kata Bili. Jangan sampai di antara kita ada istilah begitu. Setuju kan, sama gue?" lanjut Haka. "Lagian mau cinlok sama siapa juga sih, Hak? Manda aja punya tunangan. Enggak mungkin kan, Arga sama Oni yang cinlok," celetuk Bili praktis membuat gelak tawa yang lain. Sedangkan Amanda hanya meringis kecil. Sama halnya dengan Arga. "Ya, gue wanti-wanti aja, sih. Mau Manda udah tunangan atau merid nanti, perasaann mana ada yang tau, kan?" Haka berbicara di akhiri pandangan ke Arga. "Tau si Haka. Ada-ada aja. Yaudah intinya kita harus terus kayak gini, ya. Sampai nanti. Sampai masing-masing dari kita nikah dan punya anak. Deal?" Amanda menjulurkan tangannya ke tengah sambil mengadah. Keempat cowok itu memandangi telapak tangan Amanda yang menggantung di udara beberapa detik. Kemudian Haka yang pertama menggenggam kelingking Amanda dengan telapak tangannya. Disambung Bili menggenggam jari manis Amanda. Lalu Oni bagian menggenggam jari tengah Amanda. Arga masih memperhatikan, belum mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya. "Ga, kok malah diem? Elo enggak mau gabung?" tanya Bili. Lantas Arga meletakan telapak tangannya di atas telapak tangan Amanda. Menggengam erat seluruh bagian yang tersisa milik gadis itu. "Deal," sebut Arga tersenyum ke arah Amanda. Kelimanya tertawa senang. Tiba-tiba Oni tersentak dan bangkit dari kenyamanannya. "Ada apaan sih?" Amanda kaget. Bagaimana tidak kalau Oni dengan cepat bangun dari rebahannya. "Bro, anterin gue kesana, yuk. Fotoin gue! Kapan lagi gue bisa ke sini," seru Oni berbicara ke Haka sambil menunjuk arah masjid di belakangnya. "Ah, males gue. Lagi pe-we banget ini." Benar-benar lesu jawaban yang keluar dari mulut Haka. Matanya terpejam masih menikmati udara segar di malam hari. "Udah, ayok, ah!" Oni memaksa dan akhirnya ia harus menarik sekuat mungkin tangan Haka yang cukup besar itu. Badan terbesar di antara ketiga teman lainnya. Mau tidak mau Haka mengikuti saja langkah Oni. Meski sumpah demi apapun cowok bermata sedikit sipit itu tidak rela meninggalkan posisinya tadi. Ketiga lainnya mengernyit. Tersenyum geli dengan tingkah noraknya Oni yang tidak habis-habis. Apalagi Amanda yang paling tidak tahan menyembunyikan gelak tawanya. Membuat cowok di sampingnya bahagia akan senyum indah itu. Ponsel  Bili  bergetar. Pasti  dari  pacarnya  yang  bernama  Deby  itu. Meski  Bili  seorang  playboy, ia  mempunyai  kesetiaan  dengan  gadis  itu. Sudah  hampir  tujuh  tahun  hubungannya  bersama  dengan  Deby. Bili terbangun dari posisi tidurnya bersamaan dengan tangannya yang merogoh ponsel di saku nya. Ia menggeser tombol hijau dan menaruh ponsel di telinganya. Bili mengisyaratkan ke Amanda dan Arga kalau dirinya harus menerima panggilan dari kekasihnya itu. Maka dari itu, Bili pun beringsut pergi dari posisinya. Menjauh dari kerumunan di sana supaya terdengar jelas suara gadisnya di seberang. Lagi. Berkali-kali kesempatan antara Amanda dan Arga bisa berdua. Keheningan menyambut di antara mereka. Padahal mereka berada di suasana yang hingar bingar. "Ga?" "Ya." "Gimana masalah lo sama cewek lo itu?" Nada suaranya sedikit ragu. Namun, Amanda mencobanya demi memecahkan keheningan yang terjadi. "Nggak usah ngomongin masalah itu, ya," pinta Arga lembut tanpa emosi sedikitpun. Amanda terdiam dan malah jadi salah tingkah. Menyesali pertanyaan yang harusnya tidak ia keluarkan. "Iya, deh. Sorry, ya. Gue jadi ikut campur deh, urusan elo," kata Amanda dengan hati-hati. Pandangan Amanda berpindah mengadah ke langit gelap berbintang. Saat itu juga Amanda berusaha semaksimal mungkin untuk mengatur napasnya agar terdengar normal. Dari beberapa menit yang lalu gadis itu mendapat posisi tepat di samping Arga. Hanya dua langkah kaki saja yang menjadi jarak mereka. Deg Degupan itu berasal dari cowok di samping Amanda. Sama seperti Amanda yang kini tengah dirasakan Arga. Cowok itu mencoba bersikap sewajarnya tanpa membuat Amanda curiga sedikitpun akan perasaannya. "Sebagai  temen  gue  care  sama  lo, Ga. Sama  halnya  gue  ke  Haka, Oni, atau  Bili," lanjut  gadis  itu. Menegaskan  ucapannya  kembali  agar  si  cowok  tidak  berpikir  yang  macam-macam  tentangnya. "Iya, makasih, ya, Mand, karena udah mau peduli sama gue." Arga datar. Ada sedikit nada yang lesu di dalam kalimat itu. Sesungguhnya Arga berharap Amanda menganggapnya lebih dari sekadar teman. "Biar enggak  bete, gimana  kita  wefie  aja?" girang  Amanda  menoleh  ke wajah  Arga. Ia segera menyiapkan ponsel dan membuka kameranya. "Boleh," kata Arga. Mungkin dengan cara ini kedua orang yang sebenarnya saling menyukai bisa menghilangkan kecanggungan mereka. Cekrak  cekrek  Beberapa kali Amanda mengambil fotonya bersama Arga di sampingnya. Mereka sendiri tidak sadar bahwa kedua bahunya sudah menempel. Tercium aroma tubuh satu sama lain yang berusaha mereka sembunyikan akan kenyamanan dalam hati masing-masing. Amanda merasa cukup puas dengan beberapa foto yang diambilnya. Ia mengecek kembali ke galeri foto di ponselnya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyum berbinar. Baru kali ini ia mempunyai kesempatan berfoto bersama Arga, hanya berdua. "Mand?" "Iya," jawab Amanda sekenanya. Tatapannya masih asik di layar ponselnya. Menggeser ke kiri dan ke kanan berulang kali. "Gue boleh nanya sesuatu?" tanya Arga menatap wajah Amanda yang tidak sedang membalas tatapannya. "Boleh." Matanya tetap tidak berpindah dari layar ponselnya. "Semenjak pacaran sama Bimo, lo pernah jatuh cinta sama cowok lain nggak ?" Amanda tersentak. Tanpa sadar ponselnya tergelincir dari genggamannya. Gadis itu membelalak. Menatap lekat-lekat cowok yang ada di sampingnya. Begitupun Arga. Tidak menyangka akan respon Amanda yang sebegini terkejutnya karena pertanyaannya barusan. Beberapa detik keduanya saling menatap. "Mand?" Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda kala memanggil Amanda yang berubah jadi patung. "Eh, i-ya." Amanda gugup. Sangat gugup. Amanda meneguk banyak sekali salivanya saat ini. Bagaimana bisa Arga menanyakan sesuatu yang sama persis dengan apa yang terjadi dengannya sekarang? "Kalo lo nggak bisa jawab yaudah enggak apa-apa. Gue nggak maksa lo untuk jawab, kok." Arga tersenyum. "Ga, apa mungkin lo nanya kayak gini gara-gara cewek lo itu, ya? Apa cewek lo itu suka sama cowok lain selain lo, Ga ?" Amanda berbalik tanya. Kali ini nadanya terdengar salah tingkah. Amanda mencoba memutar balikan pertanyaan ke Arga. Mungkin saja itu yang sebenarnya terjadi kan? Arga menatap Amanda dengan lekat. Cowok itu bahkan tidak mendelikan matanya. Ingin sekali rasanya Arga mengatakan jika pertanyaannya tadi adalah sebuah harapan yang mungkin saja terjadi pada Amanda. Menyukai laki-laki selain tunangannya sekarang. Sebut saja Arga sudah gila dan berharap jika Amanda juga menyukainya. "Kalo gue boleh tau juga, siapa sih pacar lo itu? Terus dia orangnya kayak gimana? Cerita dong sama gue?" cerocos Amanda. Nadanya merajuk dan sedikit manja. Membuat Arga tidak bisa menahan senyum simpulnya. "Dia cantik, pinter, bawel, manja," jawab Arga tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Amanda. Pipinya  yang tirus itu merona. Hampir  menyerupai  wanita  yang memakai  blush  on. "Nyaris sempurna, ya, cewek lo itu." Amanda lemas. Kalau tadi ia bersemangat saat bertanya, kini bahunya melorot saat jawaban itu sudah ia dengar. "Iya, dia nyaris sempurna." Arga menatap Amanda sangat dalam. Membuat dadanya yang baru saja nyeri berubah menjadi berbunga-bunga. "Namanya siapa?" tanya Amanda sedikit ragu. Karena belum tentu ia siap jika Arga benar-benar menyebut nama pacarnya. "Manda!" teriak Haka memanggil dari kejauhan. Amanda dan Arga terkejut. Sampai kapan manusia satu itu tidak mengganggu selagi mereka sedang berdua seperti ini. Dari kejauhan Haka melambaikan tangan ke Amanda. Mengintruksikan supaya Amanda mendatangi Haka dan Oni yang berada cukup jauh dari posisi gadis itu. "Bentar ya, Ga." Amanda bangkit dan meninggalkan cowok itu sendiri. Sementara Arga mengangguk dan tersenyum melihat punggung Amanda yang menjauh darinya. Entah kenapa ia jadi merasa geli dengan dirinya sendiri yang aneh seperti ini. Bili tidak sengaja memergoki senyum Arga yang terlalu mengembang ketika melihat ke arah Amanda. Bili sedikit heran, tetapi mencoba menampik kecurigaannya yang rasanya mustahil terjadi. _____ Keesokan paginya keempat cowok dari Bogor itu sudah merencanakan kegiatan lainnya demi mengeksplor lebih jauh kota Bandung. Tentunya mereka tidak akan menyia-nyiakan berada di kota yang menakjubkan ini. Kali ini mereka akan ke tempat yang lebih tinggi dari pusat kota.Tempat yang sejuk dan dingin. Sebenarnya Haka sudah melarang keras Amanda untuk ikut dengan mereka. Dengan alasan gadis itu harus mempersiapkan diri di acara pertunangannya nanti malam. Namun, gadis seperti Amanda sudah jelas tetap bersikeras pergi ke tempat tujuan teman-temannya yang lain. "Hai!" girang Amanda yang baru sampai di tempat janjian bersama keempat temannya. Wajahnya berseri. Senyumnya merekah-rekah. Keempat cowok itu menanggapi Amanda dengan wajah seadanya. Mereka berjejet di depan kap mobil. Kalau diliat-liat seperti cowok-cowok yang sedang pemotretan untuk kover majalah. Ada yang lebih mencolok pandangan dibanding kegirangan nya Amanda. Mereka sedikit tertegun meski beberapa detik, kemudian kembali bersikap biasa saja. Bimo. Baru saja menutup pintu mobil dan melangkah menghampiri Amanda yang hanya berjarak beberapa langkah darinya. "Sorry, ya, gue nggak bilang-bilang kalo Bimo ikut." Amanda menurunkan alisnya. Merasa bersalah atas tindakannya. "Ya, gapapa kali, Mand. Malah biar tambah seru kalo banyak orang. Ya, nggak, On?" sahut Haka dan menepuk pundak Oni di sebelahnya. Oni yang tidak suka dengan panggilan dari Haka menepis telapak tangan itu dari pundaknya. "Bim, kenalin ini Bili. Yang ini Arga. Dan kalo dua orang ini kamu pasti masih inget kan." Amanda memperkenalkan cowok-cowok yang ada di hadapannya secara bergantian. Bimo pun dengan ramah menjabat tangan kedua cowok yang baru saja ditemuinya. Karena selama ini hanya cerita mereka saja yang sering didengar dari kekasihnya. Arga sedikit merasakan kecanggungan saat berjabat tangan dengan Bimo. Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan ekspresi itu. "Sorry, ya, Bro. Seharusnya Manda nggak ikut kita, tapi dianya ngeyel gitu dari semalem," ujar Haka menunjuk ke arah Amanda dengan dagunya. "Iya, enggak apa-apa, kok. Susah emang kalo kemauannya udah muncul, harus diturutin." Bimo merangkul mesra kekasihnya itu. Sudah dipastikan ada rasa miris dalam hati cowok ber-syal hitam samping Bili. Ketiga cowok itu tertawa kecil. Mereka sudah tahu persis tabiatnya seorang Amanda seperti apa. Meski begitu mereka tetap setia menjadi teman dekat Amanda selama ini. "Oh, iya, saya juga mau terimakasih karena selama ini kalian udah mau jadi temen yang seru buat Manda. Hampir setiap hari Manda cerita tentang tingkah konyol kalian yang bikin Manda terus seneng." Gadis yang dibicarakan merona. Menyenggol pelan perut Bimo karena masih merangkulnya sejak tadi. "Wah, Mand. Cerita apaan lo ke Bimo. Bikin reputasi gue jelek aja," canda Haka. Diikuti tawa semuanya. "Santai aja, Bro. Manda seru kok, anaknya," sambung Bili mengangkat alisnya. Setelah  obrolan  singkat  itu  mereka bergegas  memasuki  mobil  terios  putih  milik  Bili. Dan  tentunya  Amanda  tidak  bersama  mereka. _____ Di perjalanan. "Kamu nggak bisa banget ketinggalan mereka sih, sayang?" Bimo membuka suara saat mobilnya sudah mulai meninggalkan kawasan kota. Mobilnya berada tepat di belakang mobil Bili. "Nggak kok biasa aja," jawab Amanda. "Ah, masa sih. Kok, kemanapun mereka pergi kamu selalu ngikutin?" ledek Bimo sesekali menoleh sesaat ke Amanda di kursi penumpang. "Aku cuma nyaman aja kalo di deket mereka. Mereka udah aku anggap kaya kakakku sendiri." "Emang aku nggak dianggap kaya gitu?" tuntut Bimo. "Kamu kan beda lagi, Bimo sayang. Kamu itu pacar aku. Malah sebentar lagi jadi tunangan." Amanda menempelkan kepalanya di pundak Bimo. Merajuk dan manja. Ciri khas seorang Amanda Bella. Bimo mengelus lembut pucuk rambut Amanda yang tergerai rapi. Karena terhalang dengan sabuk pengaman di pinggangnya, Amanda kembali duduk seperti semula. "Mereka berempat itu udah pada punya pacar?" tanya Bimo penasaran. "Bili udah punya Deby. Terus Haka ldr sama pacarnya yang kuliah di Korea. Dan baru-baru ini Arga juga cerita dia lagi berantem sama pacarnya. Tapi Oni jomblo deh, kayaknya. Atau dia belum kasih tau siapa pacarnya sekarang," jelas Amanda mendetail. "Kamu udah ketemu sama pacar-pacar mereka?" "Belum. Baru dikasih tau fotonya. Tapi aku belum liat pacar Arga yang mana." Amanda berpikir sesaat. "Kamu kenapa sih, kok nanya soal pacar-pacar mereka?" "Ya ... aku mau meyakinkan lagi aja kalau enggak ada di antara mereka yang menaruh rasa sama kamu." Bimo mengelus lembut rambut belakang Amanda. "Astaga, Bim. Harus berapa kali aku bilang ke kamu soal ini. Kamu enggak usah khawatir ada sesuatu di antara aku dan salah satu dari mereka. Itu enggak akan terjadi," ujar Amanda berusaha meyakinkan. "Enggak menutup kemungkinan salah satu dari mereka suka sama kamu, sayang. Kamu cantik, smart, lucu, dan baik. Buat aku kamu ciptaan Tuhan yang terlalu indah. Jadi rasanya mustahil ada laki-laki yang menolak semua pesona kamu itu." "Mereka emang cowok yang pasti suka sama cewek cantik. But, not for me. Kamu yakin deh, sama ucapan ku ini. Okey?" Bimo menepikan mobilnya dan berhenti sebentar. Ia melepas sabuk pengamannya dan memajukan tubuhnya untuk memeluk Amanda. "Aku cuma takut kehilangan kamu, sayang. Aku enggak akan pernah bisa berbuat apa-apa kalau suatu saat kamu jatuh hati dengan orang lain. Aku enggak bisa paksa kamu untuk tetap di hidup aku," kata Bimo masih memeluk Amanda erat. Mata Amanda berkaca-kaca. Beberapa saat ia melepas pelukannya pada Bimo. Menangkap wajah pria itu dengan kedua tangannya. "Dengerin aku. Hal yang kamu takutin enggak akan terjadi, Bim. Aku udah punya kamu. Enggak ada orang lain yang berhak milikin hati aku kecuali kamu." Bimo memeluk lagi gadisnya. Berulang kali menciumi tengkuk Amanda dengan lembut. "Thank you so much, My love," ucap Bimo. Amanda semakin takut dengan perasaannya yang terbagi dua dan tidak ingin berubah ini. Seiringan dengan itu rasa bersalahnya juga semakin besar. Ia merasa jahat pada Bimo. Namun, cintanya untuk Bimo bukanlah sandiwara. Amanda juga sangat mencintai Bimo. Amanda sepenuhnya yakin bahwa Bimo akan menjadi suami yang baik untuknya. Kemudian Amanda melepas pelukannya pada Bimo. Gadis itu menatapi wajah Bimo dan membelai pipi prianya dengan lembut. Amanda memajukan wajahnya mendekat. Ia memejamkan matanya sambil mengecup lembut bibir Bimo yang sedikit tebal. "I will always for you, my king," sebutnya, lalu kembali melanjutkan apa yang ia mulai. Untung saja jalanan terbilang sepi sehingga kecil kemungkinan ada orang yang akan melihat adegan mesra mereka ini. Fortsetzung folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD