Mungkin persahabatan jauh di atas pertemanan. Namun, siapa sangka pertemanan bisa mempunyai banyak hal yang indah. Bahkan, hampir menandingi sebuah persahabatan.
Itulah yang dirasakan oleh Amanda. Mungkin juga oleh Haka, Oni, Bili, dan Arga. Sekalipun memang Arga menaruh rasa lebih dari sekadar teman ke Amanda. Akan tetapi, antara Arga dan Amanda tidak menampik adanya ikatan pertemanan yang tulus di antara mereka.
Meski tidak pernah sekali pun mereka menyebut tentang persahabatan, tetapi kebersamaan mereka sudah menunjukkan lebih dari sebuah persahabatan.
Rasa sayang, rasa nyaman, dan ingin saling melindungi terpancar di sela-sela hubungan kelima insan manusia itu. Masing-masing dari mereka mempunyai cara sendiri untuk menunjukan kalau mereka pantas disebut seorang teman.
Saat ini di tempat yang sejuk dan dingin. Kelima anak kampus itu memulai lagi masanya. Mencoba keakraban mereka lagi di satu moment ini.
Salah satu tempat wisata di dataran tinggi Bandung yang sangat terkenal di hal layak umum. Semua orang pasti tahu tempat ini. Nuansa serba putih bagai di dekat salju. Ada sebuah danau berwarna pekat menghiasi sisi tempat ini.
"Jadi ini yang namanya kawah putih Bandung ?" Oni berdecak kagum. Pandangannya mengitari hamparan putih di depannya.
"Please, deh, Oni." Lirik Amanda ke cowok di sebelahnya. Mengisyaratkan Oni untuk tidak bersikap norak seperti yang sudah-sudah.
"Gue juga belum pernah kesini, Bro. Tapi kan, enggak gitu juga kali ekspresinya," sewot Haka melihat Oni dengan tatapan melongo. Raut wajah yang tidak asing lagi baginya.
"Gue sih udah sama cewek gue." Bili membanggakan dirinya. Menaikan dagunya setinggi mungkin.
"Kalo elo, Ga ?" Amanda menoleh ke Arga di sebelah ujung.
"Gue juga belum. Baru kali ini," jawabnya datar.
"Kalo bukan karena lo, Mand. Kita nggak bakal bisa kesini," sambung Oni masih menatap danau yang mengeluarkan embusan dingin ke udara.
Bimo tersenyum geli. Benar kata Amanda kalau teman-temannya itu unik. Padahal tidak ada hal yang lucu, tetapi berada di antara mereka membuat Bimo sadar akan apa yang dirasakan kekasihnya selama ini.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Kelimanya mengambil banyak foto. Termasuk Arga yang mulai terhanyut dengan pertemanan mereka yang semakin dekat. Bahkan, sekarang Arga sudah bisa mengusir rasa canggung nya di dekat Amanda.
Amanda merajuk ke Bimo untuk menjadi photographer sementara. Di kesempatan ini kelima orang itu menampilkan wajah berbahagia di dalam foto. Banyak gaya konyol yang mereka tunjukan di kamera.
Setelah cukup lama mengambil banyak foto, Amanda melihat sebuah perahu di ujung kawah yang tertulis 'Disewakan'.
"Naik perahu di sana, yuk!" seru Amanda sambil menunjuk ke arah perahu. Praktis yang lainnya juga melihat ke arah pandang Amanda.
"Wah, boleh tuh. Seru kayaknya," kata Bili berkomentar.
"Nanti kalo perahunya tenggelam, gimana?" Oni sedikit ketakutan. Sehingga mengundang kekehan geli dari yang lainnya.
"Tenggelam ya, tinggal berenang-lah," celetuk Haka sambil berjalan menghampiri perahu yang dimaksud.
Semuanya mengikuti, termasuk Bimo yang tidak pernah melepas genggaman tangannya pada Amanda. Pemandangan yang tidak berhenti membuat perasaan Arga memburuk.
"Perahunya cuma bisa buat tiga orang. Empat orang sama bapaknya yang jalanin perahunya. Gimana?" tanya Haka pada yang lain. Sebelumnya dia sudah sempat bertanya-tanya pada pria baru baya yang menjaga sewa perahu tersebut.
"Yaudah, lanjut. Gue, Haka, sama Oni, ya. Arga sama Amanda dan Bimo. Gimana?" Bili yang membuka ide ini.
Sontak membuat Amanda dan Arga menjadi gelagapan walaupun tidak begitu kentara. Mereka hanya saling membagi pandang dengan kening mengerut.
"Gue enggak usah, deh. Biar Manda sama Bimo aja," ucap Arga merasa tidak enak. Karena bagaimana mungkin dia berada di antara pasangan kekasih itu?
"Enggak, apa-apa. Kita bertiga aja." Bimo membuka suara.
Haka menepuk tangannya sekali sebagai tanda kesiapan. "Okelah. Mari kita cus!"
Mereka menyewa dua perahu dengan posisi tiga orang per perahu. Beserta satu orang yang menjalani perahunya, duduk di ujung. Mau tidak mau tiga orang dalam perahu itu sesuai yang ditentukan Bili tadi. Meskipun dalam hatinya berat, Arga berusaha untuk bersikap biasa saja.
Akhirnya mereka mulai menaiki perahu. Kalau di tempat Haka, Oni, dan Bili tampak seru serta heboh. Berbeda di perahu yang dinaiki Amanda, Bimo, dan Arga. Keadaan terasa sunyi dan sepi. Apalagi sekarang posisi perahu mereka hampir berada di ujung. Jauh dari dataran yang terdapat banyak pengunjung mulai berdatangan.
Amanda duduk di tengah. Diapit oleh kedua kaum Adam itu.
"Makin ke sini makin dingin, ya." Amanda membuka suara.
Arga menyentuh syal hitam yang melingkar di lehernya. Ia berniat memberikan benda itu ke Amanda. Namun, sayang pergerakan itu berhenti ketika Bimo membuka mantel abu-abunya dan langsung dipasangkan di punggung Amanda.
"Kamu ambil jurusan apa, Ga?" tanya Bimo pada Arga.
"Arga ambil komunikasi, Bim," jawab Amanda. Bimo hanya manggut-manggut.
Lima detik suasana kembali sunyi.
"Ngomong-ngomong makasih ya, karena selalu menemani Amanda di kampus. Saya sering dengar cerita tentang kalian. Katanya Amanda ini selalu merepotkan kalian." Bimo membuka obrolan lagi.
"Enggak, kok. Kita sama sekali enggak pernah ngerasa direpotin sama Amanda. Justru sebaliknya. Amanda yang selalu diresein sama kita," jawab Arga terlihat mulus. Setidaknya ia berusaha.
Bimo tersenyum simpul sambil memandangi tunangannya. "Amanda ini paling bikin gemas kalo lagi ngambek." Pria itu mengelus lembut pipi Amanda dengan sisi ibu jarinya.
"Iya." Arga juga menatap ke arah Amanda dari samping. Cowok itu tersenyum samar. Sayangnya Arga tidak bisa melihat jelas wajah Amanda karena gadis itu tengah saling pandang dengan prianya.
Amanda mendesis. "Kalian apaan sih. Persis kayak ibu-ibu yang lagi ngomongin tumbuh kembang balitanya deh."
Bimo terkekeh geli seraya menarik tubuh Amanda tenggelam di dadanya.
Arga cowok itu diam-diam mengepalkan salah satu tangannya dengan mata yang memerah. Sebisa mungkin ia menyembunyikannya, tetap saja mustahil. Lalu ia membuang pandangannya dari kemesraan dua orang di depannya itu.
"Bim, jangan banyak gerak, deh. Perahunya nanti tenggelam gimana?" Amanda masih berada di pelukannya Bimo.
"Enggak apa-apa. Nanti aku selamatin kamu, kalo kita jatuh ke air."
"Jangan dong. Kan, dingin."
"Aku hangatin nanti kalo udah di rumah."
Amanda menjauh dari pelukan Bimo. "Bim, malu ih, ada Arga." Lalu gadis itu menoleh ke Arga.
"Lho, emangnya kenapa? Arganya juga ngertiin kok. Ya, kan, Ga?"
Yang disebut namanya hanya mengangguk samar dengan senyum paksa yang tidak begitu kentara.
Setelah kurang lebih selama 30 menit. Perahu sampai di tepi daratan. Mereka selesai menikmati hawa dingin yang panjang di bagian ujung kawah.
"Kesana yuk, Bro!" seru Oni. Mendorong punggung Haka meninggalkan posisinya saat ini. Haka pun mengikutinya karena ia sendiri juga harus menelusuri tempat indah ini.
"Gue ikut!" seru Bili menghampiri Haka dan Oni.
Arga masih berdiam di kakinya. Ia berada di antara Amanda dan Bimo sampai Bili memanggilnya untuk bergabung. Entah sengaja atau tidak, mereka ingin membiarkan sepasang kekasih itu hanya berdua.
Lantas Arga? Tentu saja hati cowok itu sedang teremas ketika melihat kemesraan Amanda bersama Bimo.
Amanda merasa gusar ketika dirinya ditinggal oleh keempat temannya. Wajahnya cemberut menatap cowok-cowok itu berada di sisi yang berbeda dari tempat wisata ini. Melihat bibir Amanda yang maju seperti biasanya, membuat Bimo merasa gemas.
Pria yang memiliki jabatan sebagai CEO itu tidak ingin membuang kesempatan untuk mendekap gadis di hadapannya ke dalam tubuhnya yang tinggi dan berisi.
Amanda memalingkan tubuhnya ke arah danau luas di belakangnya, sampai kekasihnya menabrak punggungnnya dan melingkarkan tangan besar itu di pinggul Amanda. Aroma anggur dari rambut Amanda yang lurus nan hitam terhirup ke hidung Bimo.
Amanda tersenyum mendapat perlakuan romantis seperti itu. Bibirnya yang terangkat tadi melengkung lebar keatas. Dan semakin erat dekapan Bimo menenggelamkan punggung Amanda di dadanya.
Dan dari kejauhan Arga melihat pemandangan yang membuat hati kecilnya berteriak frustrasi. Hatinya teremas berkali-kali. Rasanya ia ingin sekali melompat ke danau yang ada di hadapannya dan membiarkan tubuhnya tenggelam di sana.
"Bete, ya, ditinggal sama mereka?" ledek Bimo sambil menggoyang-goyangkan tubuh langsing Amanda yang masih ada di dekapannya.
"Tadinya iya. Tapi karena kamu udah meluk aku kaya gini, nggak jadi deh bete-nya." Amanda merajuk.
"Kalo kamu mau gabung sama mereka nyusul aja. Aku biar tunggu di sini." Tangan Bimo semakin mempererat pelukannya ke Amanda.
Tidak sedikit pun rasa sayang dan cinta di hati Amanda berkurang untuk Bimo. Namun, ia tetap menyisakan persaan cintanya untuk cowok yang saat ini tidak pernah mengerjapkan mata melihat ke arahnya.
"Enggak usah, Bim. Aku mau di sini aja sama kamu," balas Amanda setelah sempat berpikir sesaat.
Ponsel Bimo bergetar. Ia merogoh ke saku celana bahannya dan melonggarkan pelukannya ke Amanda.
Amanda mengernyit. Seolah bertanya siapa orang yang telah berani mengganggu posisi nyamannya saat ini.
"Iya gue lagi di sini nih ... Kenapa? ... Oh yaudah nanti gue kabarin lagi, ya ... Tapi sorry nih gue nggak janji juga," cakap Bimo ke seseorang yang ada di balik ponselnya. Lalu ia memutus panggilannya.
"Siapa, Bim?" tanya Amanda setelah Bimo memasukan kembali ponsel di saku celananya. Gadis itu berbalik menghadap lurus ke arah Bimo.
"Itu, temen lama aku yang tinggal di Bandung. Dia ngajakin ketemuan."
"Kapan?"
"Sekarang. Tapi aku kan lagi nemenin kamu. Jadi kayaknya aku batalin aja, deh." Pria itu mengerutkan alis yang tidak begitu tebal, tetapi berbentuk rapi.
"Lho, kok dibatalin? Kasian kan, temen kamu itu. Pasti udah lama nggak ketemu kan?"
"Udah hampir delapan tahun kayaknya kita enggak ketemu."
"Yaudah tunggu apalagi, Sayang. Temuin aja temen kamu itu." Amanda mengangkat alisnya. Raut ekspresinya tulus menyuruh kekasihnya bertemu dengan teman lamanya itu. Amanda tidak mau menjadi penghalang Bimo dalam urusan pribadinya.
"Enggak sayang. Aku nemenin kamu di sini aja," ucap Bimo tersenyum mengusap sekali pucuk rambut Amanda.
"Bimo, kamu enggak pernah melarang aku untuk temenan sama siapa saja. Jadi sekarang giliran aku yang ngasih kamu waktu sama temen-temen kamu." Amanda meraih kedua tangan Bimo. Digenggamnya keempat jari itu. "Lagian kan ada mereka." Dagunya menunjuk ke arah cowok-cowok yang entah sedang apa mereka.
Bimo terdiam. Dirinya masih bingung di posisinya. Satu sisi ia ingin sekali bertemu teman lamanya itu, tetapi di sisi lain ia tidak mau Amanda mengira kalau dirinya lebih mementingkan teman dibandingkan calon tunangannya. Meski sudah jelas Amanda mengizinkan, tetapi hati pria dengan potongan rambut yang sangat rapi itu mempunyai perasaan tidak enak ke Amanda.
"Kecuali kalau temen kamu itu cewek," tambah Amanda. Nada suaranya tidak terdengar marah. Hanya sedikit mendikte kekasihnya.
"Nggak kok, sayang. Temen aku itu cowok." Bimo mencubit pelan dagu Amanda. "Tapi kamu bener nih gapapa aku tinggal?" ulang Bimo hendak meyakinkan lagi izin dari Amanda.
Amanda mengangguk penuh keyakinan. Bimo mengangkat tangan Amanda dan mengecupnya beberapa detik.
"Yaudah aku pergi, ya. Kamu hati-hati. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku." Seperti biasa kalimat yang Bimo ucapkan ke gadisnya. Sebelum ia beranjak pergi, bibirnya mendarat di kening Amanda sebagai tanda perpisahan. Gadis itu memejamkan matanya sesaat.
Kemudian Amanda melangkah menyusuli keempat teman cowoknya di sisi lain yang tidak begitu jauh dari posisinya.
"Bimo mau kemana, Mand?" tanya Bili yang masih beberapa langkah lagi untuk bisa sampai ke dekat Amanda.
"Mau ada janji sama temennya," jawab Amanda sambil mengusap kedua tengkuknya. Menandakan kalau dirinya semakin kedinginan. Padahal mantel Bimo masih ia gunakan.
"Dingin, Mand?" Bili mendekatkan tubuhnya dengan Amanda. Tangannya bergerak terulur lantas meraih telapak tangan Amanda dan dimasukan ke sela-sela jari miliknya.
Amanda tidak heran sama sekali dengan perilaku Bili yang manis seperti ini. Gadis itu juga yakin kalau Bili hanya peduli dengannya. Tidak lebih dari itu. Toh, Amanda juga biasa saja menanggapi jari-jemari nya yang menyatu dengan milik Bili. Berbeda kalau yang melakukan ini Arga.
"Kalo Bimo liat ini bisa dihempas ke dalam danau lo, Bil," celetuk Haka.
"Nggak takut gue sama, Bimo." Bili menyombongkan dirinya dengan nada bercanda. Genggamannya semakin dieratkan.
"Wah, bener-bener lo yak," pekik Haka.
"Bim, kok balik lagi?" Oni melihat ke balik punggung Bili. Seolah-olah ada Bimo yang memang kembali lagi. Namun, itu hanyalah akal-akalan cowok betawi ini.
Bili menoleh ke belakang dengan cepat seraya melepas genggaman tangannya pada Amanda. Wajahnya benar-benar panik kalau ucapan Haka tadi benar-benar terjadi padanya.
Sementara Amanda, Arga, dan Haka mengumpat senyum karena tahu maksud Oni.
"Sial lo, On! Gue kira beneran ada Bimo." Kaki Bili menendang Oni dan tidak berhasil karena dengan sigap Oni menghindar cepat dari tendangan yang tidak begitu serius itu.
Kelimanya tertawa renyah. Amanda masih terlihat menggigil. Arga yang memperhatikan pergerakan itu lalu menghampiri Amanda. Tanpa mempedulikan tanggapan teman-temannya nanti, ia melepas syal yang terlilit di lehernya untuk dipindahkan ke leher jenjang milik Amanda.
"Duh, Arga so sweet banget," celetuk Oni.
"Kalo yang ini mah, bisa ditendang sampe langit sama Bimo." Haka ikut-ikutan. Dua makhluk itu tertawa terbahak-bahak. Hanya Bili yang tertawa sewajarnya.
Wajah Amanda memerah. Warna pucat sebelumnya berubah menjadi merah muda. Matanya bisa melihat jelas setiap bagian wajah cowok yang ada di depannya.
Arga merapikan kembali syal-nya yang sudah melilit di tengkuk gadis yang tingginya setara dengan hidungnya.
"Kita kesana yuk!!" seru Oni menunjuk sisi lain dari tempat mereka berpijak saat ini. Ada beberapa pepohonan yang tidak rindang tapi terlihat artistik. Hanya Haka dan Bili yang mengikuti Oni ke sana.
Sementara Arga dan Amanda masih di posisi yang sama. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Keduanya sama-sama saling memandangi.
"Selamat atas pertunangan elo ya, Mand," ucap Arga terdengar ... lirih. Amanda menyadarinya dan membuat perasaanya malah menjadi menduga-duga hal yang tidak pasti.
"Makasih ya, Ga."
Entah kenapa mata Amanda mulai berkaca-kaca. Namun, pandangannya tetap sama. Tidak berpindah sama sekali dari cowok di depannya ini.
"Gue harap elo bahagia sama Bimo. Dan ...."
Amanda mengernyit ketika Arga menghentikan ucapannya. "Dan apa, Ga?"
"Bimo beruntung dapetin cewek kayak elo."
Amanda meneguk salivanya. Tiba-tiba saja ia ingin berada di dalam pelukan Arga. Aneh dan lancang.
"Gue yang beruntung dapetin Bimo. Dia adalah pria yang selalu menjadikan gue seorang ratu dalam hidupnya. Kapanpun itu, dia selalu ada untuk gue. Sedikitpun Bimo enggak pernah bikin gue nangis," ucap Amanda panjang lebar.
Tangan Arga terkepal kuat. Telinganya panas mendengar semua yang dilakukan Bimo ke Amanda. Jujur saja kalau Arga iri hati pada pria itu. Ingin sekali Arga berada di posisi Bimo. Karena ia yakin bahwa, ia pu juga bisa membahagiakan Amanda.
"Gue juga bisa." Arga keceplosan.
"Hah? Bisa apa, Ga?" Tentu saja Amanda bingung.
"Bisa jadiin elo seorang ratu. Bahkan, lebih dari itu."
Amanda membelalak. Jantungnya berdetak amat cepat sampai rasanya ingin meledak. Namun, belum sempat ia bertanya dengan maksud ucapan Arga, cowok itu malah berbalik meniggalkannya, menyusul ke posisi tiga temannya yang lain.
Amanda termenung seorang diri sambil memandangi punggung Arga yang menjauh. Tanpa sadar sebulir bening jatuh cepat dari sudut matanya. Amanda sendiri tidak tahu mengapa ia seperti ini. Perasaannya sekarang tidak karuan.
"Enggak mungkin kan, kalau Arga ...."
Akhirnya Amanda berjalan menghampiri posisi empat teman lainnya. Tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun, Amanda tidak fokus jika di depannya ada sebuah pijakan tangga menurun. Akibatnya ia terjatuh. Kakinya tergelincir dan membuat Amanda tersungkur di tanah putih itu.
Amanda berteriak. Beberapa orang di sana sempat menoleh dan hendak menolongnya. Namun, ternyata empat teman Amanda sudah berlari menghampirinya.
"Ya, ampun, Manda. Apaan sih, yang elo pikirin sampe jatoh begini?" tanya Bili cemas. Ia berjongkok menyamai posisi dengan Amanda. Termasuk Haka. Sedangkan Oni dan Arga berdiri di sebelah dua cowok itu. Memperhatikan Amanda yang memerih kesakitan.
Amanda menangis dan terus mengaduh. Ada sedikit goresan luka di lututnya. Tumitnya juga seperti mati rasa dan sulit digerakan.
Keempat cowok itu terlihat cemas. Ditambah sebulir bening yang berasal dari mata Amanda terus berderaian. Arga yang melihat itu merasa jika hatinya seperti diremas kuat-kuat. Baru pertama kalinya cowok itu melihat Amanda sesenggukan seperti ini.
"Kaki gue sakit. Kayaknya terkilir deh," lirih Amanda.
"Iya-iya, tau. Udah ah, jangan nangis mulu," kata Haka sambil menghapus bekas air mata Amanda di pipinya.
"Tapi beneran sakit, Hak. Terus ini juga kayaknya gue enggak bisa berdiri." Amanda merengek.
"Ululu cup cup." Bili berlagak memeluk Amanda seperti sedang menengkan anak kecil yang habis jatuh dari sepeda.
Lalu Arga berjongkok di sebelah Amanda. Cowok itu merapikan sedikit rambut Amanda yang menghalangi wajahya.
"Lo bisa tahan nggak?" Oni mengambil ancang-ancang memegangi bagian tumit dan jari-jari kaki Amanda untuk melakukan aksinya demi berupaya membuat rasa sakit di kaki Amanda berkurang.
"Lo mau ngapain emangnya?" Amanda masih sesenggukan. Bahkan, ia tidak peduli dengan wajahnya yang berantakan saat ini.
"Tahan sebentar, ya. Nanti nggak sakit lagi kok." Langsung saja Oni memutar-mutar telapak kaki kiri Amanda dan menariknya dengan kuat.
Aarrrrrrrggggghhhh
Kali ini rasanya benar-benar sakit melebihi saat Amanda baru tergelincir tadi. Gadis itu menggenggam erat tangan cowok yang ada di sampingnya, Arga.
"Udah enakan?" tanya Oni memastikan kalau mantra-nya manjur.
Amanda merasa-rasakan kakinya yang baru saja dipelintir oleh Oni. Lalu ia mengangguk dan coba bangkit dari duduk dengan kaki terjulur lurus.
Amanda mendesah pelan. Masih ada sisa-sisa urat kakinya yang nyeri. Tubuhnya kembali berpijak di tanah.
"Harus digendong ini mah," ujar Bili.
Baru saja Arga ingin mengambil sikap. Namun, Haka yang masih berjongkok di depan Amanda mengubah posisi membelakangi gadis itu, sebagai isyarat kalau Haka yang akan menggendong Amanda.
"Mau ngapain?" Amanda menautkan alisnya.
"Mau gendong lo lah," jawab Haka.
"Nggak usah, deh. Gue bisa kok," kata Amanda merasa tidak enak. Selain ayahnya yang menggendongnya ketika ia masih kecil, dan Bimo beberapa kali melakukan itu. Haka adalah cowok baru yang akan melakukan hal termanis bagi Amanda.
"Udah cepet!" sergah Haka.
Ketiga cowok lainnya hanya terdiam datar. Seakan-akan seperti sedang menonton drama korea. Berbeda dengan Arga yang sedang berada dalam penyesalan. Cowok itu merutuki dirinya sendiri. Kalau saja dia bergerak lebih cepat.
"Tapi ...." Amanda masih ragu.
Haka memutar tubuhnya menghadap Amanda. Matanya menyipit.
"Lo tega kalo yang ngegendong lo Oni? Badannya kecil gitu. Arga juga sama. Nah Bili ...." Kalimatnya masih menggantung. Tidak tahu harus menambahkan kalimat yang tepat untuk melanjutkan ucapannya. "Ah, udah deh cepetan sini naik," seru Haka lalu badannya memutar lagi seperti sebelumnya. Membelakangi Amanda.
Oni dan Bili membantu Amanda lantas sampai di punggung Haka. Sedangkan Arga menjauhkan dirinya. Berjalan mendahului yang lain untuk sampai di parkiran mobil. Amanda memperhatikan ekspresi Arga yang aneh.
Kemudian mereka sudah berada di dalam perjalanan mobil Bili.
"Sakit banget ya, Mand?" tanya Oni menyipitkan matanya melihat Amanda yang terus meringis kesakitan.
Amanda mengangguk manja. Begitu natural wajah manjanya saat ini. Dia duduk di pinggir bangku tengah dengan menjulurkan kakinya. Sedangkan Haka dan Oni di bangku paling belakang. Lalu Bili menyetir bersama Arga di sebelahnya.
"Duuh, kacian anet ci emen aku." Haka menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya sengaja dimajukan semaju-majunya. Ekspresi ter-lebay yang pernah ditunjukkan oleh Haka sejak ia terlahir ke muka bumi ini.
Oni menoyor kepala Haka sampai terpentok ke kaca mobil. Bili yang sedang mengemudi tersenyum geli melihat dari kaca di atasnya. Sementara Arga hanya berkutat ke jalanan yang menampilkan pepohonan rindang.
"Pas sampe rumah, lo langsung panggil tukang urut aja, ya, Mand. Sekalian diurut seluruh badan. Nanti enakan deh," ujar Oni memajukan badannya. Hanya kepalanya yang terlihat pasti. Kedua tangannya menyanggah di atas jok mobil bagian tengah.
"Iya, nanti gue panggil tukang urut," ulang Amanda mengingatkan dirinya sendiri.
"Dan satu lagi," celetuk Haka.
"Apaan?" sahut Amanda sewot.
"Jangan ngadu macem-macem ke Bimo. Lo harus bilang kalo lo jatoh dari batu atas kecerobohan lo sendiri," tegas Haka. Nada bicaranya seraya dengan sebuah ancaman.
"Iya, iya," balasnya sengit. Memalingkan wajahnya. Dan tidak sengaja berakhir di pundak milik cowok yang duduk di bangku sebelah kemudi.
Oni membuang senyum. Tubuhnya kembali bersandar di jok paling belakang. Haka juga melakukan hal yang sama. Matanya mulai terpejam.
Keheningan mulai terasa sedikit demi sedikit. Hanya Bili dan Arga yang matanya masih terbuka lebar. Sementara Amanda berada di awang-awang. Hampir tidak sadar sepenuhnya sampai beberapa detik kemudian matanya ikut terpejam dan terlelap.
Arga menoleh ke belakang. Sedikit merasa heran atas kesunyian yang tidak biasanya. Matanya memutar ke arah Amanda. Sampai beberapa menit ia memperhatikan wajah Amanda lekat-lekat.
"Biasanya aja kali liatinnya. Awas aja sampe jatuh cinta sama orang yang udah tunangan," ancam Bili bercanda.
Arga tersentak dan kembali ke posisi duduknya semula. Ia membisu.
"Jujur ya, Ga. Awal-awal gue ketemu Manda, gue sempet ada rasa suka sama dia, gitu."
Arga langsung menoleh ke Bili.
"Lagian mana ada sih, cowok yang enggak bakal suka sama cewek cantik kayak Manda. Elo juga pasti enggak akan bisa nolak pesonanya dia, kan?"
Arga terdiam. Lalu menjawab, "enggak, biasa aja." Sambil mengalihkan pandangan kembali ke kaca di sebelahnya.
"Kok, aneh rasanya," cetus Bili mengernyit.
"Aneh kenapa?"
"Saat elo bilang enggak, kedengerannya malah ada yang aneh. Bikin gue curiga aja." Bili memicingkan mata.
"Enggak usah mikir yang aneh-aneh," elak Arga berusaha tenang. Jangan sampai sikapnya salah tingkat, sehingga membuat Bili semakin menyudutkannya.
"Terus kalo ditanya soal Manda, jawaban elo apa?"
Sesaat Arga diam. Ia tengah menimang-nimang jawaban yang tepat.
"Susah banget jawabnya, Ga."
"Bagi gue ... Manda ... cuma sekedar teman. Enggak lebih. Dan gue juga enggak pernah suka atau semacamnya ke dia," jawab Arga pada akhirnya.
Ternyata, gadis yang dibicarakan ini tengah mendengar percakapan dua cowok di depannya. Amanda memang memejamkan matanya. Namun, ia belum terlelap. Kedua telinganya masih terbuka sangat lebar.
Perasaannya bercampur aduk. Lega, sedih, sakit, dan bingung.
"Emang harusnya begitu. Arga enggak boleh suka sama gue. Dan mulai sekarang gue harus buang jauh-jauh pikiran yang menganggap kalau Arga punya rasa lebih dari sekedar teman ke gue. Semua itu cuma halusinasi gue."
Fortsetzung folgt