Akhirnya malam yang dinantikan tiba. Rumah berukuran luas dengan tema simpel dan nuansa warna coklat yang melekat di setiap dinding kediaman orang tua Amanda, menjadi tempat pilihan untuk mengadakan acara pesta pertunangan Amanda Bella dan Bimo Aji Permana.
Mulanya sebagai laki-laki mapan yang ingin memberikan pesta termegah di hari bahagianya ini, Bimo menginginkan hotel bintang lima atau gedung mewah yang menjadi tempat acara itu diselenggarakan. Namun, kedua orang tua Amanda lebih memilih rumah tinggal mereka sendiri yang menjadi saksi biksu untuk acara spesial malam ini.
Segala bentuk dekorasi yang gemerlap sudah terhias dari gerbang utama, halaman rumah, sampai ke seisi lantai satu rumah ini. Bersyukur karena rumah ini memiliki garasi yang sangat luas sehingga bisa menampung sekitar dua ratus sampai tiga ratus orang setidaknya. Malam ini hanya para keluarga besar dan kerabat dekat yang menghadiri pesta. Tidak lebih dari seratus limapuluh orang.
Ada pintu besar yang menghubungkan langsung antara garasi dan ruang tamu utama. Pintu itu dibuka lebar sehingga memudahkan tamu yang datang bisa leluasa bergeriliya ke ruangan satu dan ruangan lainnya.
Ada meja prasmanan yang panjang. Menyiapkan berbagai menu elit di atasnya. Di bagian garasi tepatnya di bagian pojok, ada meja khusus minuman dengan segala macam jenis kecuali alkohol. Karena di acara anggun ini tidak akan membiarkan para tamu menjadi buyar akan pengaruh cairan kuning itu. Di tengah meja itu terdapat ukiran bongkahan es batu besar berbentuk huruf A dan B. Sebagai inisial sang empunya.
Setiap lantai yang dipijaki oleh para tamu ditaburi kelopak Mawar merah dan putih. Sehingga mengaromai ruangan ini. Panggung berukuran sedang terpampang di bagian garasi lainnya. Alunan musik klasik yang menenangkan pikiran setiap jiwa yang mendengarnya.
Beberapa meja bundar berukuran sedang didampingi empat kursi tertata rapih di beberapa petak garasi ini. Sedangkan di ruang tamu utama terdapat makanan penutup yang langsung dipesan dari luar negeri.
Satu hal lagi yang pasti. Semua ini berwarna ungu. Meski bangunan bernuansa coklat. Akan tetapi perpaduan warna itu terasa sempurna dengan adanya warna merah mudah yang sedikit mencuat di antara kedua warna itu.
Acara pertunangan ini sudah seperti acara pernikahan. Bisa dipastikan pesta pernikahan Amanda nanti akan berkali-kali lipat megahnya dibanding malam ini. Itu pun kalau Amanda bersanding dengan Bimo. Kalau tidak ? Siapa yang tahu pestanya nanti seperti apa.
Akhirnya acara dimulai. Pembawa acara wanita itu membeberkan susunan acara simpel malam ini.
Tentunya acara utama lah yang menjadi pembuka nuansa yang romantis ini. Wanita pembawa acara yang mengenakan dress ungu muda itu memandu pria di depannya untuk memasangkan cincin emas putih ke jari manis gadis di sampingnya. Begitupun sebaliknya, yang juga dilakukan gadis ke pria di sampingnya.
Secara bersamaan para tamu bertepuk tangan. Banyak senyum yang dilemparkan untuk pasangan di depan panggung yang sangat serasi. Keduanya sama-sama memakai pakaian berwarna ungu. Tentunya ini semua permintaan dari Amanda.
Setelah Bimo mengecup kening Amanda, acara tukar cincin itu selesai. Wanita di atas panggung itu mempersilakan para tamu lantas menikmati hidangan yang tersaji di dua ruangan ini.
"Akhirnyaaaa!" Terdengar seruan bersemangat dari gerombolan tamu. Tepatnya di bagian tengah garasi ini.
Amanda meminta ijin ke pria yang sudah resmi menjadi tunangannya untuk menghampiri keempat cowok yang saat ini memakai kemeja rapi. Tidak seperti biasanya. Baru pertama kali ini Amanda melihat kawan-kawannya itu berpenampilan seperti ini. Seperti laki-laki sesungguhnya. Apalagi cowok dengan kemeja hitam polos itu. Makhluk yang paling seksi di antara banyaknya laki-laki di sini termasuk tunangannya sendiri.
"Wah, wah, wah, akhirnya tunangan juga nih temen gue yang manja. Tinggal merried aja dah bentar lagi." Oni menyambut Amanda saat sudah di depan mereka.
Amanda tersenyum. Dari ujung matanya ia melihat Arga yang begitu mempesona dengan bahan warna hitam di tubuhnya.
"Selamat ya, Mand," ucap Bili berbinar. Ikut serta dalam kebahagiaan yang dirasakan Amanda.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa mesti ungu lagi sih, Mand. Emangnya lo enggak takut?" selidik Haka. Wajahnya begitu serius.
Amanda mengerutkan dahinya. Masih belum paham maksud jalan pikirannya Haka yang menggunakan kemeja warna coklat. Hampir menyatu dengan warna kulitnya.
"Apaan sih maksud lo, Hak?" tanya Bili menyenggol bahu Haka dengan sikunya. Cowok itu juga tidak mengerti dengan teman di sampingnya.
"Elo semua tau kan arti dari warna ungu itu apa?" Haka menatap satu per satu temannya.
Bili berpikir. Oni yang sudah mulai mengerti memutar kepalanya menoleh ke Haka.
"Jan-da?" Oni polos.
Langsung saja Amanda menampar lengan Haka sekencang-kencangnya.
Bili dan Oni mengulum senyum. Cengiran kuda muncul di wajah Haka. Sementara Arga hanya ikut menonton dengan ekspresi datarnya. Ia masih terus memperhatikan Amanda sejak awal acara dimulai.
Pikirannya kemana-mana. Cowok itu tidak bisa fokus. Satu sisi ia sangat terpana dengan kecantikan Amanda memakai gaun panjang berwarna ungu muda yang serasi dengan kulit putihnya. Ditambah gaya rambut menggumpal jadi satu dan di letakan ke bagian sisi atas kepala gadis itu. Membuat seluruh bagian leher sampai bahu Amanda terpampang sebuah kemulusan yang alami.
Dan di satu sisi hatinya benar-benar hancur menjadi beberapa bagian. Sesakit ini kah melihat gadis yang disukainya telah bertunangan dengan pria lain?
Kalau saja Arga tidak ingat bahwa dirinya laki-laki. Mungkin dia akan segera meninggalkan acara ini dan menangis sejadinya di tempat yang tidak ada satu orang pun di dalamnya.
"Elo nyumpahin gue?" pekik Amanda ke Haka. Matanya melotot meski tidak mengubah rona kecantikannya.
"Sorry-sorry. Nggak maksud nyumpahin, Mand." Haka mengusap-usap lengannya yang sedikit perih akibat tangan mulus Amanda. Ia tidak menyangka tamparan gadis manja di depannya mampu menyamai tegangan listrik beberapa volt.
"Tapi lo cantik kok, Mand." Bili berusaha membuat mata hitam Amanda tidak keluar dari tempatnya.
Benar saja Amanda langsung tersenyum menatap Bili seraya dengan ucapan terimakasih dari bibirnya.
"Ya, kan, Ga?" Bili meminta pendapat Arga. Cowok itu hanya mengangguk samar dengan satu kata 'iya' yang nyaris tidak terdengar.
Amanda dan Arga saling menatap begitu dalam. Haka dan Bili melihat itu. Kalau Haka sudah memiliki dugannya sendiri. Berbeda dengan Bili yang baru menaruh rasa curiga dengan tatapan kedua temannya itu. Tatapan yang teramat tidak biasa.
"Udah belom nih ngobrolnya?" sela Oni.
Tidak ada jawaban dari pertanyaan itu. "Kalo udah, gue mau beraksi," lanjut cowok berdarah betawi tulen itu.
Yang lain sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Oni. Hanya Haka yang menanggapi dengan senyuman licik. Seperti ada sesuatu yang sudah mereka rencanakan sejak tadi.
"Ayo, Bro!!" Oni menepuk bahu Haka dan berlalu.
Ketiga orang lainnya terus memantau dua cowok itu. Dan mereka berhenti di meja prasmanan.
Makanan. Tentunya itu yang sudah jadi incaran mereka.
Amanda mendengkus geli. Bili menepuk jidatnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kedua sohibnya itu. Sekalian saja mereka menikahi makanan yang ada di sini supaya bisa dibawa pulang.
Sementara Arga berlalu pergi ke bagian halaman tanpa berpamitan dengan Bili maupun Amanda. Ponselnya bergetar. Sepeti ada hal yang penting yang membuat cowok itu harus cepat-cepat mengangkat panggilan di ponselnya. Kini menyisakan Amanda dan Bili hanya berdua.
"Enggak heran Bimo keliatan tergila-gila banget sama elo, Mand," kata Bili sambil memperhatikan Amanda secara keseluruhan.
"Apasih, Bil. Gombalan elo enggak akan pernah berlaku untuk gue, ya."
"Gombalan apa sih, Mand. Serius deh, gue. Malam ini elo cantik banget. Asli. Kalo elo belum punya Bimo, gue rela putusin Deby demi jadi cowok elo."
Amanda mendesis. Ternyata betul dengan gosip yang tersebar kalau gadis manapun pasti akan luluh setelah mendengar berbagai kalimat manis dari Bili. Tidak seperti kebanyakan cowok tukang PHP, entah kenapa Bili ini seperti memiliki karisma yang berbeda. Amanda saja nyaris tertipu.
"Yaudah, kita pacaran aja, gimana?" Amanda membuat Bili membelalak.
Lalu di detik berikutnya, gadis itu kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi boong." Mereka terkikik geli.
"Yaudah, gue nyusul dua orang itu dulu, ya." Bili pamit pergi setelah Amanda mengangguk. Kemudian Amanda melihat ke arah perginya Arga menuju dalam rumah. Lebih tepatnya ke halaman belakang rumah Amanda.
_____
"Iya, Ma. Arga masih ada di acaranya Manda. Paling besok pagi Arga baru berangkat dari sini ke Bogor ... Iya, Ma ... Mama jangan tidur malam-malam, ya. Enggak bagus untuk kesehatan ... Iya, Ma ... Gute Nacht."
Arga memasukan ponsel ke saku celana bahannya. Lalu ia berbalik dan menemukan Amanda yang sudah berdiri di sana.
"Sejak kapan elo di sini?" tanya cowok itu.
"Baru, kok. Tapi kayaknya gue enggak sengaja dengar semua ucapan elo ke nyokap. Maaf, ya." Amanda meringis kecil.
"Iya. Enggak apa-apa."
Amanda berjalan lebih dekat ke Arga. "Elo dekat banget ya, Ga, sama tante Anisa."
"Iya. Dia kan, nyokap gue."
Amanda terkekeh kecil. "Bukan itu maksud gue. Biasanya kan, anak cowok yang udah beranjak dewasa kayak elo ini paling enggak suka kalo urusan pribadinya diganggu sama orang tua. Apalagi nyokap. Rawan banget elo dibilang anak mami sama orang lain."
"Gue enggak peduli sama omongan orang lain. Gue senang dengan kedekatan gue sama nyokap gue sendiri. Beliau yang udah melahirkan gue. Jadi gue mau memperlakukan dia seperti seorang ratu. Apapun itu gue akan kasih ke nyokap. Termasuk calon istri gue nanti, harus sayang dan selalu menghormati nyokap gue. Itu yang utama," paparnya mendetail.
Amanda mengaga merasa takjub. "Gue salut, Ga. Nyokap elo beruntung punya anak kayak elo. Pasti nanti elo juga bakalan menghargai calon istri elo sama kayak halnya elo ke tante Anisa, ya."
Arga mengangguk yakin. Tatapannya ke Amanda datar dan begitu lekat. "Siapapun dia, gue akan bikin dia bahagia tanpa pernah meneteskan air mata setitik pun. Karena kalau gue menyakiti cewek yang gue sayang. Itu sama aja gue menghancurkan perasaan nyokap. Gue selalu meyakini hal tersebut dalam hidup gue."
Perasaan Amanda berdesir halus. Dalam benaknya terbayang kebahagiaan sebesar apa yang akan Arga berikan untuk gadis pendampingnya kelak.
"Ga, gue boleh nanya, enggak?"
"Nanya apa?"
"Kalimat terakhir elo ke tante Anisa tadi, itu bahasa ...." Amanda baru akan menebak, tetapi Arga lebih dulu menjawabnya.
"Jerman."
Amanda berpikir sesaat. "Sebelum ini kayaknya gue juga pernah denger elo ucapin bahasa itu. Sesuka itu ya, elo pakai bahasa yang rumit kayak begitu?"
"Rumit tapi indah."
Amanda meneguk salivanya. Tubuhnya seolah bergetar dengan setiap kata yang Arga lontarkan. Pasalnya nada bicara itu terdengar seksi dan tidak pernah berhenti membuatnya terpesona.
Malam semakin larut. Acara terakhir telah diumumkan oleh sang pembawa acara. Acara dansa. Suara gemersik microphone membuat Amanda menoleh ke belakang sana. Pasti Bimo dan yang lain akan mencari keberadaannya. Sedangkan Arga, cowok itu tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Amanda. Sorot matanya tampak sedih, tetapi berusaha untuk bertahan sekuat tenaga.
"Ga, gue ke sana dulu, ya."
Amanda hendak berbalik pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Arga. Otomatis kedua jemari berbeda warna kulit itu saling bertautan. Amanda memperhatikan tangannya, lalu beralih mencari wajah Arga.
"Kenapa, Ga?"
Arga bisu. Entah disadari atau tidak oleh Amanda, matanya sudah berkaca-kaca. Dari sana tersirat seolah Arga tidak ingin Amanda pergi dan meninggalkannya.
"Ga?"
Arga tersentak melepas jemari Amanda seraya membuang pandangannya ke arah lain. Air matanya menetes sekali dan secepat kilat ia hapus dengan jari-jarinya.
"Arga?"
Amanda bukan gadis bodoh yang tidak peka dengan keadaan. Dalam hatinya sudah ada berbagai prasangka atas sikap Arga yang selama ini selalu mengganggu pikirannya. Namun, tetap Amanda tidak akan yakin sepenuhnya jika kenyataan yang sebenarnya belum benar-benar terungkap.
"Arga nangis? Tapi kenapa?" tanya Amanda dalam hatinya.
Alunan musik paling romantis dibunyikan. Bukan hanya sekadar kaset ataupun sekeping benda bulat yang dimasukan ke mesin penyetel musik, tetapi sebuah alunan musik alami yang langsung dimainkan oleh beberapa orang di panggung.
"Gue permisi dulu, Mand." Arga bergegas pergi. Dia berjalan cepat ke arah garasi menuju gerbang luar.
Amanda masih diam di posisinya. Dugaanny semakin kuat, tetapi di satu sisinya yang lain memaksa untuk berkata jika prasangkanya tidaklah berarti apapun.
"Sayang," panggil Bimo menghampiri Amanda. "Daritadi aku cariin, taunya kamu di sini. Ayo kita ke depan. Yang lain udah menunggu kita untuk berdansa."
Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Amanda dengan telapak tangan mengarah ke langit.
"Sayang?"
Amanda terkesiap. Ia masih terlena dengan momen bersama Arga beberapa waktu lalu. Lantas Amanda meletakan telapak tangannya di atas milik Bimo. Mereka melangkah kembali pada kerumunan tamu di belakang sana.
Dua biola yang dimainkan oleh dua orang berbeda itu masih dimainkan dengan anggun dan indah. Cicitannya membuat telinga para tamu di sana tidak ingin menyianyiakan malam ini untuk tidak menggenggam pasangannya dan melangkah ke sana ke mari seraya berdansa di ruang garasi itu.
Termasuk Amanda dan Bimo. Di antara semua pasangan yang ada, tentunya mereka lah yang menjadi sorotan. Perpaduan antara kecantikan dan ketampanan membuat pasangan lainnya iri hati.
Di sisi lainnya Haka dan Oni bertingkah konyol. Mereka sangat tidak pantas berada di nuansa romantis seperti saat ini. Alhasil mereka malah saling menautkan tangannya untuk ikut berdansa seperti pasangan lainnya.
Sudah jelas Bili merasa geli. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Untung saja Amanda tidak melihat ini. Kalau iya, Amanda akan tertawa guling-guling di acara pertunangannya sendiri.
Berbeda dengan Arga. Ia mematung. Bukan karena ia terpesona dengan pasangan romantis di sana. Seperti yang dianggap para tamu yang hadir. Arga tidak tahu lagi seperti apa sekarang bentuk hatinya yang sebelumnya sudah hancur dan harus melihat pemandangan seperti ini.
Seketika napasnya tersendat. Tidak ada pergerakan apapun dari tubuhnya. Ia seperti mayat hidup. Matanya saja tidak berkedip. Ia benar-benar akan menangis sebentar lagi. Arga berdiri seorang diri di belakang para tamu yang tengah menyaksikan romantisme Amanda dan Bimo.
Tanpa sadar dan ada yang tahu, sebulir bening itu kembali keluar dengan cepat dari sudut mata Arga. Ini benar-benar menyakitkan baginya. Bahkan, kepergian Sania, mantan pertamanya dahulu, tidak menyisakan luka seperih ini.
Amanda yang terus tersenyum tidak sengaja melihat Arga di kejauhan sana. Tidak begitu jelas lantaran suasana gelap di tempat Arga membuat Amanda sulit melihat wajah cowok itu secara sempurna. Namun, Amanda yakin jika Arga sedang tidak baik-baik saja.
_____
Akhirnya acara selesai. Amanda menghempaskan tubuhnya yang masih menggunakan gaun ke tempat tidur. Rasanya ia ingin berhibernasi karena beberapa jam ini dia selalu berdiri tegap dan melempar senyum ke setiap tamu yang ada.
Matanya terpejam. Hampir saja ia terlelap, Bimo mengetuk pintu kamar yang masih terbuka sejak tadi. Amanda bangkit dari posisinya. Sedikit lesu, tetapi tetap menyambut hangat tunangannya itu.
"Kamu udah mau tidur, Sayang?"
"Belum. Mau ganti baju males banget rasanya."
"Mau aku gantiin?" tanya Bimo bernada meledek. Mereka berhadapan.
Amanda mendesis. "Bimo nakal, ya." Dan tersenyum geli. Begitupun Bimo.
Kemudian pria itu maju selangkah mendekat ke Amanda. Sekarang antara kedua kaki mereka hanya sejengkal tangan. Bimo menjulutkan tangannya ke arah wajah Amanda. Ia mengusap lembut sisi kening Amanda. Dari sana jemarinya turun hingga ke pipi gadis itu. Usapan s*****l yang berhasil menggetarkan perasaannya Amanda tidak hanya berhenti di situ saja.
Jemari besar Bimo berpindah menuruni leher Amanda. Ditambah pria itu terus mengelus lembut area sensitif dari kebanyakan gadis, termasuk Amanda. Terpejam, yang saat ini dilakukan Amanda.
Bimo memajukan wajahnya ke milik Amanda. Lebih tepatnya ke bibir yang sedang dilapisi lipstik merah muda itu. Dengan amat lembut, Bimo menempelkan bibirnya ke milik Amanda. Hanya sebentar, karena setelahnya pria itu mulai bersikap agresif.
Tangannya berpindah ke belakang tengkuk Amanda untuk semakin menariknya sehingga tidak ada lagi jarak sedikitpun antara kedua wajah yang kini tengah b******u mesra itu.
Bukan hanya Bimo, tetapi Amanda juga bertindak agresif. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Bimo demi memberikan posisi yang nyaman. Gadis itu bahkan tidak berhenti menggerakan lidahnya menjelajah setiap bagian rongga mulut Bimo.
Amanda terpejam. Seluruh bagian tubuhnya mengejang akan sentuhan s*****l seperti ini. Bimo sangat pandai membuatnya bagaikan terbang melayang ke udara.
Keduanya saling memejamkan mata. Saling menikmati ciuman yang setiap detiknya meningkat semakin panas. Lalu Amanda sedikit membuka matanya, sampai tiba-tiba Amanda tersentak hebat.
Gadis itu menarik bibirnya sekaligus menjauh dari Bimo. Matanya melotot kaget akan sesuatu yang ia lihat di depan pintu. Seseorang yang ia lihat dari ujung matanya saat kepalanya dalam posisi menyamping tadi.
Bimo menoleh ke arah yang dimaksud Amanda.
"Sorry- Sorry, gue enggak tau kalau ...." Arga menjadi kalang kabut bukan main melihat adegan di depannya. Cowok itu ingin mengetuk pintu kamar Amanda yang terbuka, tetapi malah menyaksikan secara langsung pasangan kekasih itu b******u mesra.
Hatinya benar-benar menjerit. Kalimatnya sengaja menggantung karena memang ia sendiri tidak tahu apa kelanjutan dari kata-katanya. Demi apapun Arga skak mat detik ini juga.
Fortsetzung folgt