Teil 11 - Boneka Beruang (Teddybär)

3241 Words
Banyak manusia di muka bumi ini pernah mengalami rasa sakit di hatinya. Ada banyak cara yang membuat hati itu hancur. Salah satunya karena satu kata tak asing yang disebut : cinta. Bukan hanya para gadis yang sering merasa disakiti oleh cinta. Melainkan manusia bernama : laki-laki. Karena kedua jenis kelamin itu sama-sama memiliki satu hal yang sangat rapuh. Mudah dibuat bahagia, dan tidak sulit untuk dihancurkan. Yaitu perasaan. Seperti yang dirasakan oleh Arga saat ini. Sakit hatinya bukan hanya didasari oleh satu hal, tetapi beberapa hal. Yang pertama. Dirinya mencinta seorang wanita yang sudah mempunyai kekasih hati. Sehingga tipis sekali kemungkinan jika cowok itu bisa membuat perasaannya bahagia. Yang kedua. Mencintai seorang gadis yang sama sekali tidak tahu bahwa dirinya mencintainya. Membuat cowok itu tersiksa perasaannya karena menahan sebuah rasa yang terpendam. Yang ketiga. Gadis yang dicintainya adalah orang yang selalu ada di sekelilingnya dengan status sebuah pertemanan. Keadaan seperti itu membuat dirinya berada dalam posisi keserbasalahan. Satu sisi cowok itu ingin menjaga jalinan hangat itu tanpa mengungkapkan perasaannya. Dengan begitu raganya bisa selalu berdekatan dengannya. Dan di sisi lainnya benar-benar menyakitkan hari-harinya jika ia terus menatap mata yang bukan miliknya. Membuat perasaannya berantakan seperti suasana kota yang di bumi hanguskan oleh si jago merah. Dan satu hal lagi yang membuat alasan hatinya tersakiti lagi. Melihat dengan kedua matanya, bibir indah itu bertautan dengan seseorang yang tentunya sudah memilikinya. Sangat jelas dan hanya dirinya yang menjadi saksi hidup dalam malam itu. Kalau saja malam itu Arga tidak menuruti perintah Bili untuk kembali ke dalam rumah nyonya Bianca hanya sekadar mengucap pamit ke Amanda. Kalau saja Haka dan Oni tidak terlelap akibat keadaan perutnya yang sudah tidak memungkinkan, sehingga mengharuskan Arga lah yang mau tidak mau bertemu lagi dengan Amanda. Melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Dan kalau saja Arga terpikir untuk menggunakan ponselnya guna menghubungi Amanda dan berpamitan dengannya. Mungkin jika ke-kalau-an semua itu terlaksana. Cowok itu tidak akan berakhir seperti ini. Sejak Arga menuruni anak tangga rumah Amanda di Bandung. Pikiran dan perasaannya berada dalam kekalutan yang luar biasa. Jangan bertanya tentang hatinya seperti apa. Bisa jadi keadaan hatinya menyerupai seperti seseorang yang mendapat kabar kalau kekasihnya sengaja berselingkuh dengan orang lain. Tidak-tidak. Bahkan lebih. Karena rasa sakit Arga bertambah beberapa kian persen karena gadis itu sama sekali tidak tahu akan cintanya. Membuat Arga marah pada dirinya sendiri dan keadaan yang ia jalani sekarang. Matanya selalu menampilkan sebuah layar yang di dalamnya kejadian saat itu. Setiap kali Arga mengingat, kepalan tangannya semakin erat. Sampai jarinya menekan lagi dan lagi tombol di depannya guna menambah kecepatan di alat berlari seperti sekarang yang ada di bawah kakinya ini. Kakinya berlari di tredmill. Namun, pandangannya melayang jauh entah kemana. Sudah dua hari berturut-turut Arga menghabiskan malam di tempat pembentuk otot-otot ini. Biasanya rutinitasnya hanya seminggu sekali. Namun, karena ia tidak bisa menahan emosinya di kampus. Tepat hari setelah Amanda bertunangan. Arga memilih ruangan ini kala menjadi peredam emosinya. Dirinya bisa melampiaskan semua perasaannya yang berantakan ke setiap alat fitnes di sini. Arga tidak mau kalah bertarung dengan rasa sakit di hatinya. Ia adalah laki-laki. Dan dia harus bisa menang untuk tidak menjadi pribadi yang emosional. Lebih menyedihkannya lagi semua itu hanya karena cinta. Arga tidak mau itu. "Woi, Ga!! Kemane aje lo?! Dari kemaren kayaknya gue nggak ngeliat lo di kampus?" seru Bili menepuk pundak Arga dan ikut naik ke tredmill persis di samping Arga. Pasalnya ke esokan setelah malam itu Arga sempat pergi ke kampus. Seharian ia murung sampai ketiga teman lainnya mengoceh seperti biasanya dan membuat dirinya tiba-tiba menjadi emosi karena keberisikan yang Haka buat. Padahal sebelumnya seorang Arga tidak pernah seperti itu. Mau di depannya Haka bergulat dengan Oni pun ia tidak peduli. Ia hanya akan menonton saja. Dan akhirnya Arga memutuskan untuk menenangkan dirinya. Saat malam ia mengunjungi hotel yang di dalamnya terdapat tempat fitnes. "Dirumah," jawab Arga singkat. Mesin itu semakin cepat dan membuat kaki Arga juga harus mengikutinya. Bili mengangguk. Tredmill miliknya juga mulai menyala dengan kecepatan yang pelan. "Oiya, Ga." Kepalanya menoleh ke cowok dengan tanktop gym berwarna abu-abu. "Semenjak pulang dari Bandung, kok lo aneh gitu, ya," lanjut Bili tampak penasaran. Arga memutar matanya ke Bili. Jarinya menekan tombol layar kala memperlambat salah satu mesin fitness di hotel Bogor ini. "Lebih tepatnya saat lo keluar dari rumah Manda," kata Bili menegaskan. Deg Belum selesai lamunannya tadi. Kini Bili harus memutar hal yang sedang ia usahakan untuk pergi sejauh mungkin. Arga tidak bisa menahan ekspresinya. Ia tidak bisa menyembunyikan kalau dirinya tidak melihat apa-apa di dalam rumah itu. Cowok itu mematikan treadmill-nya. Beringsut pergi dari mesin itu dan menghampiri alat fitnes lainnya. Arga duduk di salah satu bench fitnes. Bili heran. Semakin banyak pertanyaan yang ia siapkan di dalam otaknya. Bili tidak ingin kehilangan Arga dari pandangannya. Cowok berkaos putih polos itu berlari kecil menghampiri Arga setelah mematikan mesin yang membuat orang-orang berlari di atasnya. "Tuh, bener kan nih ada apa-apa pasti. Respon lo bikin gue yakin begini." Bili menunjuk-nunjuk ke Arga. Arga tidak menggubris sama sekali temannya itu. Tangan kirinya tetap fokus naik turun mengangkat dumbbell. "Woi, Arga!!!" teriak Bili tepat di telinga Arga. Dengan cepat Arga menarik telinganya menjauh sebelum gendang di dalamnya benar-benar pecah. "Apaan sih?!" Hanya itu yang terlontar dari bibir Arga. "Daritadi gue nanya sama lo TAU." Kali ini Bili membuka mulutnya selebar mungkin demi memperjelas setiap katanya. Kedua bibirnya digerakan sedemikian rupa supaya Arga bersedia menjawab pertanyaannya tadi. "Gue enggak apa-apa." Arga meletakan dumbbell di bawah kakinya. "Halah, kaga percaya gue." Bili mengibaskan tangannya sekali ke arah wajah Arga dan menyunggingkan kesal bibirnya. "Yaudah kalo nggak percaya." Arga mengelap beberapa tetes keringat yang mengalir di dahi menggunakan handuk hitam yang terkalung di lehernya. "Kalo gitu biar gue tebak. Lo tinggal jawab iya atau engga!" Masih tidak puas dengan jawaban yang terlontar, Bili memilih cara lain untuk mengetahui apa yang membuat Arga berubah menjadi sangat dingin. Lebih dingin dari sebelumnya. Emosinya menjadi tidak stabil, mengingat Arga adalah satu-satu temannya yang pendiam. Bisa mengontrol kemarahannya sekalipun ia dalam kondisi yang paling buruk di hidupnya. Seperti saat waktu ada laki-laki yang hampir saja melecehkan adik kesayangannya. Saat itu tidak ada satupun memar di wajah laki-laki b******k itu. Hanya kesabarannya yang mengepung emosinya. "Lo ada masalah sama keluarga lo?" Arga tetap tidak menjawab. Bahunya terangkat mengambil dumbbell yang tadi ia letakan dekat kakinya. "Kayanya engga, deh. Perasaan, lo nggak pernah ada masalah sama keluarga lo." Bili menjawab pertanyaannya sendiri. "Masalah tugas kampus?" tanyanya lagi. Arga masih berkutat pada benda berat digenggamannya. "Ah, masa iya. Otak lo kan, lumayan." Bili menggelengkan kepalanya kuat. Merasa kalau tebakannya salah lagi. "Atau masalah cewek?" Kali ini Arga menoleh beberapa detik dan kembali memalingkan wajahnya. "Wah, bener nih kayanya masalah cewek." Cengiran kuda berhasil keluar dari raut wajah Bili. Telunjuknya di arahkan ke wajah Arga sambil dinaik turunkan. Pertanda kalau tebakannya kali ini membuahkan hasil. "Kenapa si, Ga? Cerita napa sama gue," pinta Bili yang sepertinya sudah hampir putus asa membujuk Arga bercerita masalahnya. "Jangan-jangan lo ditolak ya? Kalo lo nggak ditolak. Lo nggak bakalan galau begini." Masih saja sama. Tetap keadaan diam membisu yang Arga pilih. "Tapi masa iya ada cewek gila yang nolak lo? Perasaan muka lo lumayan ganteng. Ya, meskipun nggak lebih ganteng dari gue." Bili mempertanyakan lagi tebakannya. Dan diakhiri tawa percaya diri dari bibirnya. "Iya, gue ada masalah sama yang namanya perasaan. Tapi bukan karena ditolak juga." Pada akhirnya Arga memberikan jawaban lebih panjang dari sebelumnya. Ia kembali meletakan dumbbell setelah keringatnya kembali mengucur hingga ke lengannya yang sudah cukup berotot. "Siapa ceweknya?" Bukan merasa puas tapi malah menambah pertanyaan baru. Arga menatap Bili lekat-lekat. Apa ini sudah saatnya ia bercerita kesalah satu temannya akan perasaan menyiksa ini ? Kalau iya, apa tanggapan Bili nanti bahwa gadis yang dimaksud adalah Amanda? Dan bisakan Bili menyimpan rahasia hatinya ini? Kali ini benak Arga lah yang menyimpan sejuta pertanyaan kemungkinan untuk Bili. "Dia ada di dekat kita." Arga membuang muka ke sisi lainnya. Sesaat Bili mencerna kata-kata Arga barusan. "Di deket kita?" Pikirannya masih mencari kemana-mana tentang siapa yang Arga maksud. Bili tersentak. Ia menepuk jidatnya dengan kekuatan yang lumayan. "Astaga!! Jangan bilang kalo ...." Ia terkejut. Matanya membelalak. Bahkan, bibirnya tidak berani melanjutkan perkataannya lagi. Arga mengambil botol mineral yang sejak awal ia letakan di bawah kaki tempat duduknya. Menggegam botol itu dengan kedua tangannya. Badannya membungkuk seraya kedua sikunya bertumpu di kedua pahanya. "Ga, tolong bilang kalo perkiraan gue bukan orang yang lo maksud?!" Arga sedikit mendongakan wajahnya ke atas menatap Bili. "Cewek yang gue maksud sama persis kayak yang ada dipikiran lo saat ini." Arga kembali duduk tegak. Membuka tutup botol dan meneguk setengah air mineral yang masih penuh itu. Bili masih di posisinya tidak bergerak barang seinci-pun. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Memperhatikan Arga di sampingnya sampai ia meneguk salivannya sendiri. Bili tidak percaya. Namun, Arga adalah seorang cowok yang jarang sekali bercanda. Wajahnya saja datar. Bagaimana mau bercanda. "Lo serius, Ga?" Arga tidak menjawab. Ia hanya menoleh dan tersenyum kecil melihat ekspresi Bili yang menurutnya terlalu berlebihan. Tubuhnya bangkit sampai tangannya ditarik paksa oleh Bili untuk tetap berada pada posisi duduk sebelumnya. "Apaan si?" Arga malas bercerita lebih jauh lagi tentang masalah perasaannya saat ini. Namun, cowok itu tetap berada di posisi duduk, menuruti instruksi temannya. "Gue masih butuh penjelasan. Kok bisa? Lo nggak amnesia kan kalo baru kemaren si Manda tunangan sama Bimo?" "Nggak-lah. Sedetik pun gue nggak pernah lupa soal itu." Arga tegas dengan ucapannya. Menghentakan beberapa kata yang menurutnya perlu diperjelas. "Oke-oke. Terus sejak kapan lo ada rasa sama Manda?" Arga bangkit. Menatap Bili beberapa detik, lalu menjawab, "sejak pertama kali kita kenalan di taman kampus waktu itu." _____ Sama seperti Arga yang selalu terlintas di benak Amanda. Tentang kejadian malam itu. Amanda benar-benar merasa dirinya bodoh. Kenapa bisa dia ceroboh untuk tidak menutup pintu kamarnya di saat masih ada banyak orang setelah acara pertunangannya. Amanda lebih memilih salah satu keluarganya yang melihat adegan panas itu dibanding cowok yang sedang rajin-rajinnya mampir di hati Amanda. Amanda bingung harus bagaimana. Perasaannya ke Arga sudah menganggu ketenangan hidupnya terlalu jauh. Seharusnya ia bahagia sudah resmi bertunangan dengan Bimo. Namun, di satu sisi hatinya tidak pernah berhenti memanggil-manggil nama Arga. Gadis itu berjengit kaget saat kendaraan beroda empat membunyikan klakson. Amanda cepat-cepat minggir ke sisi jalan karena sadar telah menghalau jalanan beraspal di dalam kampusnya. Kalau saja tidak ada klakson mobil yang membuyarkan lamunannya, gadis itu sudah berpelukan dengan kijang berwarna biru tua tadi. Tangannya mengelus d**a merasa lega akan musibah yang baru saja ia hindari. Pikirannya saat ini benar-benar tidak karuan. Semua tentang Arga. "Manda!!" teriak Haka dari balik punggung Amanda. Cowok itu berlari kecil dan menyejajarkan posisinya di samping gadis berkaos ungu ketat. Amanda hanya tersenyum seadanya dan melanjutkan lagi langkah kaki yang tadi terhenti saat mendengar panggilan Haka. "Balik kapan lo dari Bandung?" "Tadi malem." "Gue pikir lo bakalan liburan dulu sama Bimo. Kayak orang abis merid gitu deh, langsung honeymoon," ujar Haka bernada meledek. Biasanya Amanda melayangkan tangannya di lengan Haka kala ia mendapat ejekan seperti itu. Namun, kali ini tidak. Gadis itu hanya menyunggingkan senyumnya malas. Haka merasa heran dengan Amanda yang menjadi pendiam seperti ini. Jauh dari seorang Amanda sebagaimana mestinya. Haka menoleh ke Amanda dan sengaja mengadah wajahnya di bawah dagu Amanda. "Kenapa si lo, Mand?" "Enggak apa-apa, kok." "PMS lagi?Ah, masa iya?" "Nggak, enggak apa-apa," ulang Amanda berupaya meyakinkan Haka dan dirinya sendiri. "Kalo ada problem bisa cerita kok sama gue. Gini-gini gue pendengar yang baik keleus." Cowok itu menepuk-nepuk dadanya bangga. "Gue lagi males cerita. Kapan-kapan aja, deh." Sebenarnya Haka ingin terus memaksa Amanda mengeluarkan gundah gulananya. Namun, apadaya langkah kaki mereka sudah menapak di area kantin. Ketiga teman mereka lainnya terlihat menyantap beberapa menu cemilan ringan di sana. "Lama banget lo," sambut Oni ke Haka. Alasan Haka bertemu dengan Amanda tadi itu karena penyakit pikunnya yang meninggalkan kunci motor masih menggantung di sana. Alhasil Haka harus balik ke parkiran guna memastikan motornya masih berada di tempat. "Yaelah, baru bentar. Udah kangen aja romannya lo ama gue." Haka mendengus geli. Ia berpindah posisi duduk di sebelah teman betawi nya. Amanda mengikuti Haka dan duduk di sampingnya. Berhadapan lagi ke Arga yang bersebelahan dengan Bili. Oni kembali membuka kulit kacang yang daritadi ia nikmati. Bili memainkan jari-jarinya di atas layar ponsel mahalnya. Haka menyeruput kopi hitam milik Oni. Amanda menatap Arga yang saat ini tidak menatapnya. Cowok itu sengaja untuk tidak membalas tatapan si gadis. Arga tahu apa yang sedang dilakukan Amanda dari ujung matanya. Namun, tetap ia tidak ingin memutar mata ke sana. Arga lebih memilih mendengarkan ocehan Oni tentang rumahnya yang dipenuhi dengan banyak tanaman hias. Amanda masih merasa tidak enak akan kejadian malam itu. Ia malu. Makanya ia memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Bandung, agar ia tidak harus pergi ke kampus dan bertemu orang yang menyaksikan adegan di kamarnya itu. Padahal ke esokan hari setelah malam itu, Bimo langsung terbang ke Kalimantan mengurusi pekerjaannya. Tidak ada alasan Amanda bisa berlibur seperti yang Haka pertanyakan tadi. "Oiya, besok malem gue sama cewek gue mau ke Pulau Seribu. Ikut nggak lo pada? Bayar sendiri tapi." Bili membuka suara setelah meletakan ponselnya di meja. "Wah, seru tuh. Boleh-boleh. Murah ini kan pulau seribu mah." Oni menyahuti penuh semangat. "Emangnya ada kapal malem-malem yang ke sana?" Kali ini Haka mengerutkan dahinya. Setau dia kapal yang melaju ke pulau yang dimaksud Bili biasanya berangkat pada Pagi hari. "Gue punya channel, dong. Gue sengaja berangkat malem biar lebih lama di sana. Keren juga kan pemandangan laut malem-malem," balas Bili mengangkat alisnya. "Ikut, deh gue juga. Udah lama juga nggak snorkling." Akhirnya Haka setuju. Meski diawal nadanya kurang bersemangat mengingat biaya liburan kali ini ditanggung sendiri. Bukannya tidak mampu, Haka terlahir dari keluarga yang lumayan. Karena gadisnya berada jauh dari Bogor membuat cowok itu harus rajin menabung demi menghampiri pacarnya di luar negeri saat liburan semester nanti. "Lo gimana, Mand?" tanya Bili memutar mata ke Amanda yang belum mendengar panggilannya. Bili tahu persis kemana arah mata Amanda melihat. Baru tadi malam telinganya masih sangat jelas akan semua cerita dari Arga. Termasuk kejadian malam di kamar Amanda. "Mand, ditanya tuh sama Bili." Haka menyenggol lengan Amanda menggunakan sikunya. Amanda tersentak. "Emangnya Manda bakal dibolehin sama Bimo nginep bareng kita?" Pertanyaan yang memang wajib dikeluarkan oleh Oni saat ini. "Iya juga, sih," pikir Bili. "Mau gue mau. Mau ikut maksudnya." Amanda sangat antusias setiap kali ia akan menghabiskan waktu bersama keempat temannya itu. Ditambah tempat tujuan kali ini menjadi tempat favorit Amanda sejak kecil. Laut. "Bener kata Oni, emang lo bakalan dibolehin sama Bimo?" ulang Haka cemas karena merasa gadis berstatus tunangan seperti Amanda mana mungkin diperbolehkan bermalam bersama laki-laki lain selain kekasihnya sendiri. "Udah gampang itu mah. Pokoknya gue ikut, ya." Ya. Amanda harus ikut. Ini kesempatannya lagi untuk bisa berdekatan dengan Arga. Sebisa mungkin ia akan mencecer Bimo nanti demi memberi izin untuknya. "Arga?" tanya Oni tentang persetujuan dari cowok berjaket kulit biru malam itu. "Arga mah nggak usah ditanya. Ngga bakalan mau paling dia." Bili mendengus bersamaan dengan kibasan tangannya ke arah wajahnya sendiri. Ia tahu betul tabiat sohibnya itu. Apalagi sepertinya Arga akan mulai menjauhi Amanda setelah hari pertunangannya. "Gue ikut." Jauh dari perkiraan Bili barusan. Dan jauh di lubuk hati Amanda, bibirnya tersenyum senang akan partisipasi Arga dalam acara besok malam. Kali ini Amanda benar-benar harus mendapat izin dari tunangannya. "Ya, ampun lima menit lagi gue janji sama dosen." Haka menepuk jidatnya dan langsung berlalu pergi dari duduknya. "Gue juga mau ke kamar mandi dulu, ah." Susul Oni setelah membayar jajanannya ke salah satu warung kecil di kantin. Bili mendelik. Kalau saja ia tidak tahu tentang perasaan yang dimiliki Arga. Ia memilih tetap pada posisinya di meja ini. Dan akhirnya Bili harus mengambil tindakan lain. Bili tahu, membiarkan Arga dan Amanda berdua adalah suatu kesalahan karena status baru Amanda. Namun, di satu sisi Bili ingin sekali-kali menyenangkan hati teman gym-nya ini. "Gue juga duluan, ya, Bro." Bili bangkit dan menepuk pundak Arga. "Eh, gue juga kalo gitu." Baru saja Arga menyampirkan ransel di bahunya, Bili sudah menghalaunya. "Lo di sini aja dulu temenin Manda. Gue mau ada perlu ngurus kepindahan cewek gue." Sepertinya habis ini Arga akan menghampiri Bili dan menonjok wajahnya dengan ototnya. Bili sudah berhasil membuat Arga menjadi kikuk di depan Amanda. Ia tidak tahu harus berbicara atau hanya diam di keadaan yang hanya berdua seperti ini. Amanda yang bawel pun sama kikuknya. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari rongga mulutnya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ia menggenggam erat ujung totebag-nya. Telapak tangannya sudah basah sejak Bili membalikan punggungnya menjauh. "Ga, syal lo masih di gue, ya." Pada akhirnya Amanda yang lebih dulu bersuara. Nadanya jelas sekali ragu-ragu. Seperti bukan hal itu yang ingin Amanda sampaikan. Ia hanya ingin memecah suasana tegang ini. "Iya, enggak apa-apa. Lo simpen aja." "Tentang malam itu ...." Amanda menunduk. Tidak berani menatap wajah manis di depannya. "Nggak usah dibahas, Mand. Gue enggak apa-apa kok, biasa aja. Wajar kali lo ciuman sama Bimo. Kan kalian udah tunangan." Sebisa mungkin Arga bersikap sewajarnya. Amanda menyeringai. Ia sendiri tidak tahu jelas kenapa harus merasa tidak enak dengan Arga. Menurutnya sudah jelas Arga memiliki kekasih. Dengan begitu, sudah dipastikan kalau tidak mungkin Arga memiliki rasa sama seperti yang ia rasakan kepada cowok itu. Arga mengambil sesuatu di dalam ranselnya. Meletakan benda berbulu itu di atas meja. Tepat di depan Amanda. Amanda tertegun mengerutkan dahinya. Menatap dalam-dalam boneka beruang kecil berwarna putih memakai dress ungu yang Arga keluarkan dari ranselnya. Hampir mirip dengan boneka yang waktu itu pernah ia usahakan dari dalam kaca. "Ini ...." Kalimatnya sengaja ia gantung karena memang Amanda sangat terkejut. "Ini hadiah tunangan dari gue." Amanda mengambil cepat boneka itu. Ia merasa gembira memandang beruang kecil di tengah-tengah apitan telapak tangannya. Amanda merasa gemas dengan boneka itu. Amanda merasa beruang ini seperti duplikat dirinya sendiri. "Lo suka?" Amanda mengangguk cepat. Bibirnya melengkung terlalu lebar ke atas. Cowok di depannya mau tidak mau juga ikut tersenyum semringah melihat senyum indah itu "Makasih ya, Ga. Gue suka banget sama bonekanya." "Iya, sama-sama. Anggap aja ini sebagai ganti boneka di mall waktu itu. Kayaknya emang susah ngambil boneka di sana." Keputusannya sudah bulat. Arga tetap pada tujuan awal untuk selalu menjadi teman terbaik Amanda. Meski kadang pendiriannya berubah-ubah setiap kali hatinya teremas kala melihat Amanda bersama laki-laki lain. Sakit hati itu bisa hilang dalam sekejap saat mata Arga berhasil menatap senyum indah milik Amanda. Amanda masih berkutat di boneka beruangnya. Ia menciumi seluruh bulu-bulu ungu itu. Mengelus-ngelusnya dan menggoyang-goyangkan badan beruang kecil ke kiri ke kanan. Arga tidak mengedipkan matanya sedetikpun demi pemandangan menyenangkan di hadapannya. Sampai tiba-tiba Amanda tersadar sedang diperhatikan oleh Arga. Sekarang keduanya saling menatap satu sama lain. Keempat mata hitam itu beradu siapa paling lama yang bertahan untuk tidak berkedip. Seolah-olah kedua hati mereka ingin saling bertemu, tetapi terperangkap oleh jeruji besi yang sangat besar. Kedua hati itu tidak bisa bertemu saat keinginan yang sangat menggebu-gebu. Arga tersentak. Ia menjadi sedikit salah tingkah. "Gue duluan, ya. Bentar lagi ada kelas." Cowok itu beringsut pergi setelah senyuman manis yang ia keluarkan untuk berpamitan ke Amanda. Gadis itu hanya mengangguk. Menjatuhkan kepalanya di atas meja beralas boneka beruang yang masih dipegangnya setelah punggung Arga yang semakin Menjauh dari penglihatannya. Amanda merasa berbunga-bunga. Seperti halnya abege yang sedang kasmaran berhari-hari. Jantungnya hampir saja keluar dari tempatnya kalau saja Arga tidak cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Sensasi perasaannya jauh berbeda dari yang pernah ia rasakan bersama Bimo dahulu. "Rasanya gue nggak bisa jauh dari Arga." Batinnya juga ikut tersenyum. Fortsetzung folgt
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD