"Bahkan setelah hujan badai sekalipun, akan selalu ada pelangi yang indah dari Langit"
Pagi itu, langit tampak begitu cerah dan udara juga terasa segar. Matahari perlahan mulai meninggi. Sosok mata tajam dari seorang lelaki muda sedang asyik memandang awan-awan disekitaran langit dari balik kaca jendela mobilnya.
"Saya antar ke rumah dulu yah pak ?" ucap Darsono, seorang supir pribadi kepada atasannya. "tolong antar saya ke alamat ini, saya ingin menemui seseorang" jawab atasannya dengan menyodorkan secabik kertas dan masih asyik memandang Langit yang begitu cerah sambil tersenyum, dengan tangan yang terlipat di dadanya. "Baik Pak Bhumi" jawab Darsono dengan sigap.
Yaa, dia adalah Bhumi Satria Adiguna. Bhumi yang selama ini sangat merindukan Langid, yang sekarang tumbuh menjadi pria tampan dengan rambut yang tertata rapi, dan bertubuh atletis dengan balutan jas hitam. Yang mampu membuat setiap wanita terpesona dengan wajah dan penampilannya.
Setelah 15 tahun meninggalkan Indonesia, dan melanjutkan kehidupan di Jerman bersama kedua orangtuanya, Bhumi memutuskan kembali ke Indonesia untuk mengurus Perusahaannya yang telah ia kelola sejak dua tahun terakhir namun karena ia masih harus menyelesaikan pendidikannya, maka perusahaan yang ia bangun di Indonesia untuk sementara di pegang oleh Abraham, sahabat Ayahnya yang juga memiliki saham pada Perusahaannya. Dan kali ini Bhumi akan sepenuhnya menangani Perusahaan tersebut.
Setibanya di Bandara, Bhumi telah di jemput oleh Pak Darsono, seorang supir pribadi yang di rekomendasikan dari Arga, sahabatnya semasa kuliah di Jerman, namun lebih dulu ke Indonesia untuk melanjutkan bisnis ayahnya, Abraham yang juga sahabat dari ayah Bhumi.
Kepulangan Bhumi bukan semata-mata karena ingin mengurus perusahaannya namun karena kerinduannya kepada Langid, sahabat masa kecilnya yang tak mampu ia bendung lagi. Ia merasa sangat bersalah atas kepergiannya yang tanpa memberitahukan Langid.
"Langid, Mas Bhumi rindu" batinnya sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Ia tiba-tiba mengingat kembali masa kecilnya ketika asyik bermain dengan tingkah aneh Langid yang selalu menghela nafas panjang sambil meniup-niup poninya. Serta pelukan dari Lintang yang akrab ia sapa dengan panggilan. Bunda, yang selalu menghangatkannya.
"Pak Bhumi, kita sudah sampai" ucap Darsono yang tiba-tiba membuyarkan Bhumi dari lamunannya. "tunggu saya di mobil" jawab Bhumi, datar. Bhumi kemudian melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan membuka kacamata yang sejak tadi ia gunakan. Tampak sebuah rumah sederhana di hadapannya. Dengan tersenyum, ia melangkahkan kakinya dengan pelan hingga tiba di depan teras rumah tersebut dan membayangkan betapa seringnya ia menghabiskan waktu bermain bersama Langid di teras itu. Bhumi kemudian menghela nafas dan tersenyum sembari melangkah menuju pintu rumah itu. Namun belum sampai mengetuk pintu rumah, seorang wanita paruh baya tiba-tiba keluar dari balik pintu. Sontak Bhumi terkejut karena yang membukanya bukan Lintang ataupun Langid. "Maaf, anda siapa yah ?" tanya wanita itu kepada Bhumi. Bhumi yang masih terkejut dengan mata membelalak kemudian menunduk memberi salam kepada wanita paruh baya itu.
"Maaf Bu, Langid... ehh.. emm.. Bunda Lintang... emm.." jawab Bhumi dengan nada terbata-bata sambil menunjuk ke dalam rumah tersebut
"Oh.. Mas ini cari ibu Lintang dan Langid ya ?" tanya wanita paruh bawa tersebut kembali dan Bhumi mengangguk dengan cepat.
"Mas nggak tau yah, rumah ini kan udah di jual sama ibu Lintang.. udah Lama Mas.. mereka udah pindah.. katanya sih masih tetep di Jakarta, tapi nggak tau tuh mas sekarang tinggalnya dimana"
Sontak jawaban tersebut membuat Bhumi semakin terkejut. Ia menarik nafas dan menelan ludahnya, membuat jakunnya terlihat naik turun. Seketika Bhumi memejamkan mata sembari memijit pangkal hidungnya. Membuat wanita paruh baya di hadapannya merasa heran terhadapnya. Namun Bhumi kembali menatapnya sambil tersenyum. "Baik bu, terimakasih untuk informasinya. Saya pergi dulu" ucap Bhumi sambil menunduk seraya memberi salam dan menunjukkan kesopanannya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengangguk.
Bhumi pun membalikkan badannya melangkah ke arah mobilnya sambil menatap sekeliling rumah tersebut, tempat dimana dulu ia menghabiskan waktu untuk bermain. Ia menaiki mobilnya rasa sedih dan khawatir dalam hatinya tidak dapat bertemu lagi dengan Langid. Namun mengingat kembali ucapan wanita paruh baya tadi yang mengatakan kalau Lintang dan Langid masih di Jakarta, Bhumi seketika tersenyum.
"Tolong antar saya ke rumah, saya ingin istirahat" ucap Bhumi kepada Pak Darsono.
"Baik Pak" jawab Pak Darsono dengan sigap.
***
Cahaya Matahari pagi perlahan mulai menampakkan diri, menjadi lebih spesial dengan munculnya pelangi yang khas dengan warna-warna indahnya setelah hujan lebat yang mengguyur ibu kota di malam hari.
"Pagi sahabatku" sapa Embun yang masih p di bawah selimut dengan suara serak dan dengan mata sentengah terbuka, melihat Langid yang telah rapi.
Langid hanya menengok ke arah Embun lalu melanjukan make up nya dengan tipis dan sangat natural.
"Udah.. ayo bangun" sahut Langid
"Bentar lagi, enak banget tidur gue gara-gara hujan derasnya awet bener semaleman.. mana suara gunturnya gede lagi.. gue kan takut.. nggak kayak lo, giliran ada hujan aja semakin deras, lo semakin bahagia" Protes Embun dengan bibir mengerucut.
Langid hanya tersenyum kemudian menoleh ke arah Embun.
"Bahkan setelah hujan badai sekalipun, akan selalu ada Pelangi yang indah dari Langit"
Embun hanya terduduk dengan mata yang masih tertutup "iya.. iya.."
"udah ah.. mandi sana" ucap Langid sembari melemparkan sebuah boneka ke arah Embun.
"iya Bawel" timpal Embun sambil berjalan menuju kamar mandi.
***
Langid yang tengah menyiapkan sarapan dan bekalnya untuk ke kantor telah siap dengan setelan kemeja berwarna coklat dan rok span berwarna putih tulang, dan dengan rambut yang terurai. Sedangkan Embun yang masih di kamar, dengan cepat bersiap-siap menggunakan kemeja berwarna merah marun dengan celana kain berwarna hitam lalu segera mengambil tasnya dan keluar dari kamar.
"Duh.. lo cantik banget sih.. gemess tau" sahut Embun sambil menyenggol bahu Langid.
"Apaan sih.. udah sarapan dulu" timpah Langid sambil mengeluarkan kursi dari balik meja makan. Embun hanya tersenyum seraya mengeluarkan kursi di samping Langid.
"Hari ini gue harus cepet datang ke kantor soalnya ada CEO baru di kantor gue" ucap Embun sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Oh yaa ? emm.. cakep nggak ?" bisik Langid.
"yaa mana gue tau.. gue aja belum liat" gerutu Embun dengan ketus, lalu kembali mengomel "Ngapain juga lo nanya CEO gue cakep apa nggak ? Di kantor lo aja banyak yg mau, lo tolak semua, trus alasan lo cuma buat nungguin Pangeran tampan lo yang sok misterius itu ? Keburu tua, baru nyesel lo"
Belum sempat Langid membalas omelan Embun, tiba-tiba Lintang terlihat dari arah pintu dapur.
"wah.. wah.. rame amat.. udah pada cantik lagi" ucap Lintang sembari mengeluarkan kursi dari balik meja makan tepat di depan Langid dan Embun.
"Bunda udah mau ke restoran ?" tanya Langid dengan mengernyitkan dahinya.
"Ia sayang.. hari ini Bunda mau nyiapin nasi kotak buat di bawa ke Panti Jompo, udah lama Bunda nggak kesana" ujar Lintang.
"Tante Lintang emang hebat. The best" sahut Embun sambil menaikkan kedua jempolnya. Membuat Lintang tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan Embun.
"Ya udah deh, yuk berangkat.. nanti kamu telat lagi" ujar Langid seraya bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah Lintang lalu mencium punggung tangan Bundanya tersebut. Embun mengangguk dan mengikuti Langid dari belakang.
"Kita pergi ya Bunda" ucap Langid tersenyum dan kemudian menyodorkan sebuah bekal untuk Embun.
"Nih bekal lo"
"Thanks yah sahabat aku yang cantik" bisik Embun ke telinga Langid. Langid hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas santai.
Embun masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikan mobilnya sedangkan Langid menunggu tepat di halaman rumah yang nampak begitu luas dengan berbagai macam bunga di sekelilingnya. Embun memang sejak dulu sudah bercita-cita ingin membeli mobil. Dan pada saat ia menerima gaji pertamanya, dengan cepat ia mengambil kredit mobil.
Bekerja di BSA Group memang sebuah keberuntungan untuk Embun karena gajinya yang sangat di atas rara-rata.
"Bentar, lo jemput gue jam 5 yah" ucap Langid sambil memasang sabuk pengamannya.
"Lo pikir gue supir lo apa ?" gerutu Embun dengan bibir mengkerucut.
"Emang.." timpal Langid terkekeh
"ihh.. sialan lo" protes Embun dengan mata mendelik tajam, membuat Langid tergelak mendapat reaksi menggemaskan dari sahabatnya itu.
Setelah 15 menit kemudian, mereka tiba di Bimantara Corp, Perusahaan tempat Langid bekerja.
"Oke, silahkan turun dan selamat bekerja Nona Langid" ucap Embun dengan wajah sumringah.
"ARUNA.. nama gue di kantor itu A-Ru-Na" protes Langid sambil membuka sabuk pengaman.
"iya.. iya.. gitu aja protes" gerutu Embun
"Ngomong-ngomong, jangan lupa sampein salam gue sama CEO baru lo yah" ucap Langid dengan nada berbisik.
"ih.. dasar" sahut Embun melirik Langid.
***
Bhumi yang baru saja turun dari dalam sebuah mobil sport berwarna hitam, seketika menjadi pusat perhatian saat ia berjalan masuk melewati pintu lobby gedung perkantoran tersebut.
Berpuluh-puluh pasang mata kini menatap kagum padanya namun Bhumi terlihat cuek dan terus berjalan menuju sebuah lift.
Embun yang sejak tadi mengobrol dengan Ines, teman satu divisinya itu tiba-tiba berlari ke Lobby dan berdiri sejajar dengan karyawan lain yang sedang menyambut kedatangan Bhumi sebagai CEO baru di perusahaan mereka.
"Oh My God, ini sih gantengnya kebangetan" Batin Embun dengan mata membulat sempurna memandang Bhumi yang sedang berjalan di ikuti Bimo, managernya dan beberapa kepala divisi perusahaan yang berjalan tepat di belakang Bhumi.
"Bimo, dimana ruangan saya ?" ucap Bhumi yang melihat Bimo dari pantulan bayangan pada pintu lift dengan nada datar.
"Lantai tiga pak" jawab Bimo membungkukkan badan kemudian memencet tombol 3 pada lift tersebut.
"Hari ini saya akan menempati ruangan itu, tapi saya minta, besok kamu pindahkan ruangan saya ke lantai paling atas di Perusahaan ini" ucap Bhumi dengan nada penuh penekanan.
Bimo sontak menelan ludahnya karena terkejut mendengar ucapan Bhumi. Pasalnya, Perusahaan milik Bhumi mencapai 15 tingkat dengan tiap divisi per tingkatannya. Namun Bimo tidak punya hak untuk memberi saran kepada atasannya tersebut.
"Baik Pak" jawab Bimo menunduk.
Sementara di lain tempat, Langid yang sedang berjalan menuju lift di perusahaannya dengan penuh senyum di bibirnya, membuat beberapa karyawan pria terpesona dengan wajah dan penampilannya, juga sikapnya yang anggun. Terlebih Andre, playboy kantor yang sejak pertama kali melihat Langid, sangat terpaku akan kecantikannya.
"Aruna.." teriak Andre dari lobby memanggil Langid yang hendak melangkah ke dalam lift. Langid hanya melambaikan tangan sambil tersenyum sebelum pintu lift tertutup. Sementara itu Arga, Direktur utama di Bimantara Group yang sedari tadi berjalan di belakang Andre di temani Bayu asisten pribadinya tiba-tiba mengerutkan dahinya dengan kedua tangannya di saku celana. Andre yang tidak menyadari hal itu tiba-tiba terkejut saat mendengar deheman dari Arga.
"Ehm" ucap Arga seraya melangkah ke samping Andre.
"Ba.. bapak" sahut Andre terkejut dengan mata membelalak.
"Ma.. maaf pak.. saya nggak liat bapak tadi" timpalnya dengan membungkukkan badan.
"Kamu manggil siapa tadi ?" tanya Arga, dingin.
"A.. Aruna pak.. Staf baru dari divisi Personalia" jawab Andre menunduk
"Bayu, tolong kamu pindahkan Aruna menjadi sekretaris saya mulai hari ini. Saya tidak mau ada mangsa baru di kantor ini" Ucap Arga sambil menatap wajah Andre dengan tajam lalu kembali melangkahkan kakinya menuju lift.
Arga selama ini mengetahui kelakuai Andre yang sering mempermainkan wanita yang tidak lain adalah staf di kantornya. Oleh karena itu, ia tidak ingin lagi ada stafnya yang terkena jebakan oleh Andre.
"Sial.. untung aja Lo Bos disini" gerutu Andre dalam hati.
***