"Pak Darsono, tolong antar saya ke Bimantara Group. Saya ingin berkunjung ke perusahaan Arga, sahabat saya" Ucap Bhumi
"Baik pak" jawab Darsono sambil merentangkan satu tangannya seraya mempersilahkan Bhumi untuk masuk ke dalam mobil.
Sedangkan di tempat lain, Embun yang semalam menginap di apartemen Ines teman kantornya untuk membuat laporan, membuat Langid dengan terpaksa harus naik Bus ke kantor walaupun hujan pagi itu masih belum reda dan rintik-rintik air masih terus berjatuhan.
Setelah tiba di halte, Langid mengeluarkan payung dari tasnya kemudian turun dari bus dan berlari dengan cepat ke arah kanan bahu jalan menggunakan payung. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti melihat seorang wanita tua yang kesulitan untuk menyeberang jalan di sebuah zebra cross yang warnanya telah memudar pada salah satu lengan perempatan jalan di bawah traffic light. Langid kemudian menghela nafas lalu mendekati wanita tua itu. "Mau nyeberang nek ?" tanya Langid, sementara wanita tua tersebut hanya mengangguk tersenyum. Akhirnya Langid dengan hati-hati memandunya untuk menyeberang jalan yang masih sangat licin, dan dengan sangat pelan mengingat sang nenek juga tidak terlalu lancar dalam berjalan karena masih menggunakan alat bantu.
Sementara dari dalam mobil yang terhenti di bawah traffic light berwarna merah, Bhumi tersenyum memperhatikan langkah seorang gadis cantik dari kejauhan, yang tidak lain adalah Langid yang sedang memapah wanita tua dengan sangat hati-hati, kemudian setelah selesai membantu sang nenek, Langid kembali menyeberangi perempatan jalan tersebut dengan berlari. Sosok mata Bhumi pun tidak luput dari pandangannya menatap gadis itu dari kejauhan. Sayangnya, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa gadis cantik yang baru ia perhatikan adalah Langid. Sampai tiba saatnya traffic light berganti ke warna hijau dan mobilnya pun kembali melaju.
Bhumi yang telah sampai di Bimantara Group Perusahaan milik Arga sahabatnya, kini melangkah menuju lift sembari menekan tombol 3 pada pojok pintu lift tersebut. Lalu setelah menunggu beberapa detik, Bhumi kemudian berjalan menuju Ruang Direktur yang tidak lain adalah ruangan Arga.
"Selamat pagi Pak Direktur tampan" ucap Bhumi sumringah, sambil menduduki sebuah sofa di ruangan Arga, lalu menyandarkan tubuhnya.
Arga yang sedang duduk di kursi kebesarannya hanya tersenyum melihat tingkah Bhumi.
"Pagi amat lo kesini Bro" ucap Arga.
"Gue kangen sama lo" jawab Bhumi, datar sembari menutup matanya dan tetap menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kangen sama gue apa kangen Langid kecil Lo itu ?" Ledek Arga, membuat Bhumi hanya tersenyum dengan mata tertutup.
"Gue denger-denger, katanya ruangan lo di lantai paling atas yah di perusahaan lo ? dihh.. gilee benerr.. ngapain coba ?"
Bhumi lalu membuka matanya kemudian berjalan menuju dinding kaca di balik tirai panjang yang memiliki pemandangan gedung-gedung tinggi lainnya. Kemudian membuka sedikit tirai tersebut.
"Biar gue bisa lebih dekat aja lihat Langit" ucap Bhumi tersenyum sambil menatap Langit yang masih mendung karena hujan.
"Alessan.. Bilang aja mau natap langit sambil ngebayangin Langid kecil lo itu" ledek Arga.
"Pinter juga sahabat gue" ucap Bhumi tersenyum sambil melirik Arga.
"Gimana ? udah ketemu Langid ?" tanya Arga
Bhumi kembali berjalan menuju sofa
"Bentar lagi ketemu" ucapnya sembari duduk dan menyandarkan tubuhnya.
"Kalo udah ketemu bilang yah.. siapa tau gue naksir" ujar Arga yang juga duduk menyandar di kursi kebesarannya.
"Sialan lo" ucap Bhumi sambil melirik Arga dengan menyipitkan matanya.
***
Langid yang baru saja tiba di ruangan divisinya dengan wajah kelelahan, segera menaruh tas di kubikelnya lalu duduk di kursi putar miliknya seraya mengaktifkan komputer yang ada di hadapannya.
Shila, salah satu teman divisi Langid yang juga tengah menyalakan komputer, tiba-tiba menggeser kursi yang ia duduki untuk mendekat ke meja langid.
"Gue punya gibahan.." bisik Shila. Matanya sesekali melirik ke arah teman-teman satu divisinya yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Pak Direktur bakalan mengangkat salah satu staf dari divisi kita buat jadi sekretaris pribadinya" Bisik Shila.
"Serius?" tanya Langid dengan mengernyitkan dahinya. Shila menganggukkan kepalanya lalu ingin melanjutkan ceritanya, namun belum sempat Shila menjawab pertanyaan Langid, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan Marta, Kepala Divisi mereka yang berdiri di samping meja kerja Langid. "Aruna, kamu di panggil ke Ruang Direktur !" ucap Marta yang terlihat kesal sejak mengetahui Langid akan menduduki posisi sekretaris, kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat dan segera masuk kedalam ruangannya.
"Aruna, lo kok di cari Pak Direktur sih?" tanya Shila heran karena tanggung jawab SDM dan seluruh data-data administratif karyawan perusahaan adalah tanggung jawab Marta sebagai ketua divisi mereka.
"Nggak tau Shil" jawab Langid dengan wajah heran.
"Ya udah cepet kamu kesana, nanti kena semprot lagi" ujar Shila. Langid hanya mengangguk dengan wajah yang masih terheran-heran kemudian melangkah keluar dari ruang divisinya menuju pintu lift yang berada di pojok lorong. Lalu masuk ke kapsul lift yang kebetulan sedang kosong.
Ting.
Suarang dentingan lift yang menandakan telah sampai pun sudah terdengar. Langid segera keluar dan berjalan dengan cepat menuju ruang Direktur.
"Kamu Aruna yah ? Ayo silahkan masuk" ucap Bayu mendekati pintu lalu segera mendorong pintu seraya mempersilahkan Langid masuk kedalam ruangan. Langid tersenyum ramah dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang Direktur Utama yang sangat luas.
Langid melihat Sosok lelaki tampan yang sedang duduk di sebuah sofa, Sontak Bhumi pun melihat Langid yang sedang membuka pintu. Lalu mata mereka bertemu untuk sepersekian detik.
"dia kan gadis yang tadi pagi bantuin nenek itu nyeberang" Batin Bhumi sambil memandang Langid.
Langid kemudian membungkukkan badannya seraya memberi hormat pada lelaki tersebut yang tidak lain adalah Bhumi.
Bhumi yang melihat Langid dengan tingkah laku sopan pun mengangguk dan memberi senyum.
Langid kembali melangkah ke hadapan Arga yang sejak tadi telah menunggunya.
"Kamu yang namanya Aruna ?" tanya Arga.
"Iya pak, saya Aruna"
"Kamu tau, apa alasan saya memanggil kamu ?"
"Nggak pak" timpal Langid dengan wajah memucat.
"Saya ada salah yah pak ?" Lanjutnya sambil memainkan kuku jari tangannya yang lentik.
"Mulai sekarang kamu saya pindahkan dari posisi staf divisi personalia menjadi sekretaris pribadi saya" ucap Arga dengan nada penuh penekanan.
"Sa..saya ja.. jadi sekretaris bapak ?" tanya Langid dengan mata membelalak.
"Masih kurang jelas ?" ucap Arga sambil memeriksa berkas dokumen di mejanya.
"Tapi pak.. Saya kan cuma staf biasa, dan untuk jadi sekretaris direktur, saya rasa harus melewati beberapa posisi dulu pak" protes Langid.
"Kalo begitu, kamu tinggal pilih mau di pecat atau jadi sekretaris saya" jawab Arga datar.
Langid terdiam menelan ludahnya.
"Ba.. baik pak, terserah bapak" ucap Langid menundukkan pandangannya.
"Ya sudah, kalo begitu, sekarang kamu boleh keluar dan segera atur barang kamu di meja sekretaris" ucap Arga sambil menatap Langid dengan tajam.
"Baik pak, Saya permisi" balas Langid sembari berdiri dari dudukannya dan membalikkan badannya untuk melangkah namun sebelum melangkah keluar ruangan, ia menarik nafas dalam-dalam dan kemudian meniup poninya. Bhumi yang memperhatikan Langid sontak menelan ludahnya dengan mata membelalak memandang Langid. Ia membayangkan sosok Langid kecil yang juga selalu melakukan hal tersebut.
Langid pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun sebelumnya, ia membungkukkan badan di hadapan Bhumi seraya berpamitan untuk keluar. Bhumi pun membalas Langid dengan senyum simpul di wajahnya.