SAHABAT KECIL

2336 Words
Langid berlari menuju gudang belakang Sekolah sambil terisak tangis. Kepergian ayahnya seolah menjadi beban berat untuknya. Ia terus-terusan di bully oleh teman-temannya karena tidak memiliki ayah. Belum lagi, Bundanya yang harus banting tulang bekerja di salah satu rumah makan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dengan tersedu-sedu, Langid duduk di balik tembok gudang sekolah yang usang dan penuh dengan jaring laba-laba. Namun meskipun demikian, tempat itu adalah tempat ternyaman untuk Langid mengeluarkan seluruh tangisannya hingga terkadang kepulangannya dari sekolah selalu berakhir dengan mata sembab di wajah indahnya. Namun hari itu semuanya berbeda. Langid di kejutkan dengan sosok anak laki-laki yang berdiri di hadapannya memegang sebuah sapu menatap Langid yang masih duduk di lantai sambil terisak. Dengan wajah penuh penasaran, anak laki-laki tersebut melangkah mendekati Langid, membuat Langid ketakutan dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "kok nangis ?" sontak suara itu membuat Langid kembali terkejut. Samar-samar ia mengintip dari telapak tangannya melihat wajah anak lelaki yang juga duduk di hadapannya. Namun tidak nampak kejahatan dari wajahnya. Akhirnya dengan sangat pelan, Langid menurunkan tangannya dan memperlihatkan wajahnya dengan mata sembab dan masih terisak. "kenapa nangis ?" anak tersebut kembali bertanya kepada Langid. Lalu dengan nada pelan, Langid mengeluarkan suaranya "Kaa... kaamuu siapa ?" Anak tersebut tersenyum memandang Langid dan membuat Langid seketika lega karena sejak tadi berpikir, dirinya akan di pukul menggunakan sapu. "Aku Bhumi.. Bhumi Satria Adiguna.. kamu siapa ? kenapa nangis ? kenapa sembunyi disini ?" Masih dengan wajah penuh penasaran, Bhumi kembali bertanya pada Langid, namun Langid hanya terdiam dan menunduk. Namun tiba-tiba, tanpa sepatah katapun Langid berlari, keluar dari gudang dan membuat Bhumi terkejut. Mulutnya terbuka lebar dengan Mata membelalak memandang pintu yang dilalui Langid keluar, lalu bergumam "Dia kenapa ?" Namun Bhumi hanya menghela nafas kemudian menaikkan kedua bahunya seolah memperlihatkan bahwa dirinya tidak peduli. Bhumi, seorang anak lelaki, yang duduk di bangku kelas VI SD. Ia dikenal oleh setiap guru sebagai anak yang pandai. Wajahnya yang tampan dengan hidung mancung dan kulit sawo matang, serta sikapnya yang ramah membuat tiap guru di Sekolah terkesima dengannya. *** Langid tiba di rumah dan lagi-lagi dengan mata yang sembab. "Assalamualaikum Bunda" Sapa Langid sembari mengambil tangan Bundanya kemudian mencium telapak tangannya. Lintang, Bunda Langid yang sejak tadi duduk di meja makan, lagi-lagi melihat kesedihan di wajah putrinya. "Waalaikumsalam" Langid mengeluarkan kursi dari balik meja makan kemudian duduk di samping Lintang. Lintang tersenyum kecil sambil mengelus kepala Langid "nangis lagi ya ?" Langid hanya mengangguk kemudian menundukkan kepalanya. "Tuhan nggak adil.. temen-temen Langid semuanya punya ayah.. cuma Langid yang nggak punya" Mendengar perkataan Langid, Lintang hanya bisa menghela nafas. Kemudian memegang kedua bahu Langid sambil memutar tubuhnya berhadapan dengannya. "Sayang.. tau nggak, kenapa Tuhan biarin temen-temen Langid selalu gangguin Langid ?" Langid hanya menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut "Itu karena Tuhan tau, kalau Langid anak yang kuat" "Tapi Langid capek Bunda.." ucap Langid dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi ditahannya. Keluhan Langid seolah membuat Lintang tak kuasa mengeluarkan air mata, namun ia menahannya sambil menunduk sepersekian detik kemudian kembali menatap Langid "Tau nggak, Langit diatas sana akan selalu terlihat indah.. Ketika pagi datang, awan menemaninya.. Ketika malam datang, bulan dan bintang juga ikut menemaninya.. Bahkan setelah hujan yang begitu lebat, akan selalu ada pelangi yang indah dari Langit" Lintang tersenyum sambil mengusap pipi Langid lalu melanjutkan pembicaraannya. "Bunda yakin, Langidnya bunda juga bisa kayak Langit diatas sana. Jadi Langid nggak usah sedih, cukup bersabar sebentar aja.. Langid kan anak yang kuat" Langid kemudian tersenyum sambil mengangguk. ... Keesokan harinya Bel berbunyi menunjukkan jam istirahat telah tiba. Langid mengambil bekal yang ia bawa dari rumah kemudian berjalan menuju taman untuk menyantap bekal buatan Lintang. Sementara itu, di waktu yang sama, Bhumi berjalan keluar kelas hendak menuju ke Perpustakaan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat Langid dari kejauhan. "itukan anak yang kemarin nangis di gudang sendirian" Batin Bhumi. Bhumi menyipitkan matanya sembari memperjelas wajah Langid. Tiba-tiba ia terkejut melihat empat orang anak perempuan menghalangi jalan Langid. Yang satu mendorong Langid hingga terjatuh, dan yang satu merampas bekal Langid. Mereka tertawa. Bhumi mempercepat langkahnya, dan mendengar salah satu dari anak tersebut mengatakan "Langid nggak punya ayah.. Langid nggak punya ayah" sambil bersorak kegirangan. Bhumi nampak kesal mendengar ejekan anak-anak tersebut. Ada sorot kemarahan melihat Langid yang terintimidasi. "Hey kalian" dengan nada meninggi dan tatapan mata yang tajam dari Bhumi membuat empat orang anak tersebut terkejut kemudian lari ketakutan. Bhumi mengambil kotak bekal Langid yang terjatuh kembali melangkah mendekati Langid yang masih terduduk di lantai sambil terisak tangis. "Kamu nggak papa ??" Langid hanya menjawab pertanyaan Bhumi dengan menganggukkan kepalanya dan mengusap air matanya. "Ini.." Bhumi menyodorkan kotak bekal Langid sambil tersenyum. "Masih aman kok isinya" Langid mengambil kotak bekalnya dengan wajah datar, lalu melihat wajah Bhumi kemudian kembali menunduk. "Terimakasih" ucap Langid masih dengan wajah datar, kemudian mengusap lututnya yang kotor karena terjatuh tadi. "Ini buat kamu aja karena udah nolongin aku tadi" Langid menyodorkan kotak bekalnya ke arah Bhumi, membuat Bhumi menaikkan alisnya karena terkejut. "Kata Bunda, kalau ketemu sama orang baik, kita juga harus baik" ucap Langid. Namun belum sempat Bhumi berbicara, Langid kembali mengeluarkan suara "tapi aku minta satu yah.. soalnya tadi nggak sarapan" Sontak ucapan Langid membuat Bhumi tersenyum lebar. Langid lalu mengajak Bhumi ke taman untuk membuka bekal makanannya. Lalu sesampainya di taman dan duduk di sebuah gazebo sekolah, Langid membuka bekalnya. "ini..." Langid menyodorkan sebuah roti bakar kepada Bhumi. Bhumi mengambilnya dan langsung melahapnya dengan cepat membuat Langid terheran-heran. "Kamu lapar yah?" ucap Langid "nggak juga, tapi enak" jawab Bhumi sambil terus mengunyah. Langid tersenyum sambil berkata "Makanan Bunda emang selalu enak kok" Mereka berdua saling menatap dan tersenyum sambil menikmati bekal makanan Langid. "Jadi kamu suka nangis karena di gangguin mereka yah ?? tanya Bhumi. Langid hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu nggak usah nangis kalo digangguin sama mereka. Mereka bakalan terus gangguin kamu kalo kamu nangis.. Keluarin aja tampang seram kamu biar mereka takut" ucap Bhumi membuat mereka berdua tertawa. Bhumi kemudian memperhatikan papan nama Langid yang menempel di seragamnya kemudian bergumam dalam hatinya "Langid Aruna Cahyani" "Oh.. jadi nama kamu Langid ?" Langid hanya mengangguk sambil memainkan poninya dengan terus meniup-niupnya. "Mulai sekarang, kamu panggil aku Mas Bhumi yah.." Langid menatap wajah Bhumi dengan mulut terbuka dan tatapan yang heran. Bhumi kembali tersenyum, lalu melanjutkan pembicaraannya. "Adikku juga dulu manggilnya Mas Bhumi kok. Dia juga sama kayak kamu.. Cengeng" sambil menyipitkan matanya melihat Langid kemudian kembali tersenyum "Kamu mau kan manggil aku Mas Bhumi?" Langid tersenyum dan mengangguk kesenangan. "Emangnya adik Mas Bhumi kemana ?" ucap Langid dengan rasa penasaran. Namun Bhumi hanya menanggapinya dengan datar. "Udah di panggil Tuhan" Langid menunduk, memegang erat kotak bekalnya. Ia merasa bersalah telah bertanya kepada Bhumi. Namun Bhumi yang melihat tingkah Langid kembali tersenyum. "udah.. nggak papa kok" ucap Bhumi. Rupanya, Bhumi mendapatkan sosok adiknya yang telah lama meninggal pada diri Langid. Bulan, adik kesayangannya yang lemah lembut dan selalu bersikap manja padanya, namun karena penyakit yang ia derita mengakibatkan dirinya tidak dapat tertolong. Bhumi sangat merasakan kehilangan sejak kepergian Bulan, adiknya. Bhumi yang sedari tadi menyembunyikan rasa sedihnya dari Langid, hanya bisa menghela nafas kemudian tiba-tiba ia memejamkan matanya. "Bhulan... Mas Bhumi kangen..." batin Bhumi. "Mas Bhumi..." Suara lembut dari bibir Langid sontak mengejutkan Bhumi. Langid menatap Bhumi sambil memiringkan kepalanya, menengok wajah Bhumi. "Mas Bhumi, Bel nya udah bunyi" Bhumi menghela nafas dan tersenyum. "Ya udah, kamu masuk gih.. Mas Bhumi juga mau masuk kelas" Langid membalas senyuman Bhumi sambil menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berjalan dengan arah berlawanan. Langid melangkah memasuki ruang kelas V.c sedangkan Bhumi memasuki ruang kelas VI.a *** Langid melangkahkan kakinya keluar dari garbang sekolah. Raut wajahnya hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tak ada lagi mata sembab yang harus ia perlihatkan kepada bundanya ketika pulang sekolah Sembari terus berjalan, sontak ia terkejut melihat dua orang anak laki-laki yang sedang menghalangi jalannya. Anak itu memaksa Langit untuk memberikan uangnya. Ya, anak itu memalak Langid. "Berikan uangmu kepadaku dan kau boleh lewat" ucap salah satu anak sambil menyodorkan telapak tangannya kepada Langid, sedangkan yang satunya merentangkan tangannya, menghalangi jalan Langid. Langid berdiri kaku ketakutan. Ia memejamkan matanya dan kedua tangannya yang memegang erat tas ranselnya sampai gemetaran melihat kedua anak tersebut. Air matanya serasa ingin keluar. Namun ia mengingat kata-kata Bhumi di taman tadi. "Kamu nggak usah nangis kalo digangguin sama mereka. Mereka bakalan terus gangguin kamu kalo kamu nangis.. Keluarin aja tampang seram kamu biar mereka takut" Ucapan Bhumi terngiang di kepalanya. Langid tiba-tiba membuka matanya sambil mengerutkan alisnya, menatap tajam kedua anak tersebut. Bibirnya mengerucut. "memangnya kamu siapa minta uang sama aku ?!" Langid memberanikan diri menggertak anak tersebut dengan nada yang tinggi sambil mengangkat dagunya namun tetap saja, jantungnya berdetak sangat cepat karena ketakutan. Kedua anak tersebut tampak marah mengepalkan kedua tangannya lalu melangkah maju mendekati Langid, membuat Langid terkejut. Mata Langid yang tadinya tajam tiba-tiba membelalak seperti ingin keluar. Bibirnya terasa kaku. "Wooyyy !!!" Sontak terdengar suara dari arah kiri bahu jalan membuat Langid dan kedua anak tersebut terkejut. Langid melihat Bhumi menggandeng sepedanya melangkah ke arahnya. Kedua anak laki-laki tersebut melihat Bhumi dan tiba-tiba lari ketakutan. Langid menghela nafas panjang sambil meniup-niup poninya "Mas Bhumi..." Bhumi menengok ke arah Langid sambil tertawa. "Nah gitu dong.. sekarang kamu hebat" Lirihnya sambil mengacungkan jempol, membuat Langid tertawa keriangan. "ayo.. biar Mas Bhumi anter pulang" ucap Bhumi sambil menepuk sadel sepedanya "ayo.." jawab Langid sambil mengangguk, lalu duduk manis di sadel belakang sepeda Bhumi. Setelah memastikan Langid duduk dengan baik di belakang, Bhumi mulai mendayung sepedanya. Mereka terlihat sangat bahagia layaknya seorang kakak dan adik. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Langid. Dan dengan hangat, Langid mempersilahkan Bhumi untuk masuk ke rumahnya. "ayo Mas Bhumi, masuk dulu.. aku kenalin sama Bunda" ucap Langid kegirangan 6 tangan Bhumi. ppp0 Bhumi tampaknmelihat tingkah Langid yang sangat mirip dengan Bulan, adiknya. Bumi tersenyum dan mengangguk, lalu meletakkan sepedanya di halaman rumah Langid. "Assalamualaikum lpunda" teriak Langid sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya dan di susul Bhumi di belakang. "Waalaikumsalam anak Bunda.." jawab Lintang sambil tersenyum, namun ada rasa heran melihat tingkah Langid kegirangan dan tanpa mata sembab di wajahnya. Langid memundurkan langkahnya dan berhenti tepat di samping Bhumi. "Bunda, kenalin.. ini Mas Bhumi.. tadi Mas Bhumi nolongin Langid waktu di jailin sama temen-temen" Lintang melangkah ke hadapan Bhumi sambil menyodorkan tangannya. Bhumi mengambil tangan Lintang dan mencium punggung tangannya, membuat Lintang tersenyum dan mengelus kepala Bhumi. "Makasih yah Bhumi, udah mau nolongin Langid" ucap Lintang "Iya tante, nggak papa kok.." jawab Bhumi sambil tersenyum. "Gimana kalo sekarang kita makan ?? Bunda udah masak mie ayam yang enak loh" ucap Lintang tersenyum sambil menyipitkan matanya. "Waahhh.. mau.. mau... Langid jadi laper.. Mie ayam buatan Bunda kan paling enak" ucap Langid sambil melompat kegirangan. Bhumi hanya terdiam melihat tingkah Langid yang lagi-lagi mengingatkannya dengan sosok adiknya. "Mas Bhumiii... ayooo !" Langid kembali memegang tangan Bhumi dan menariknya menuju meja makan. "Hmmm.... masakan tante enak banget...Bhumi sukaaa" ucap Bhumi sambil melahap habis makanannya. Lintang menatap Langid dan Bhumi yang sedang makan sambil sesekali saling mengganggu lalu tertawa geli bersama-sama, membuatnya tersenyum. Ia menahan air mata dari pelupuk matanya karena begitu terharu melihat putrinya yang seceria ini. Setelah menghabiskan Mie ayam, Bhumi dan Langid kembali bermain di sofa ruang tamu. Lintang menghela nafas, sambil tersenyum dan sesekali menggaruk hidungnya, dengan tangam melipat di dadanya dan kemudian melangkah duduk di samping Bhumi. Bhumi menengok ke arah Lintang sambil tersenyum. "Bhumi tinggalnya dimana ?" tanya Lintang "Deket kok tante.. itu di depan, di Arteri Pondok Indah" jawab Bhumi sambil menjulurkan tangannya, menunjuk arah bagian Utara bahu jalan. "Ohh.. di Arteri.." ucap Lintang sambil tersenyum kepada Bhumi, kemudian lanjut bertanya. "Bhumi udah bilang sama Mama Papa kalo hari ini pulangnya telat ?" Bhumi yang tadinya ceria, tiba-tiba menatap Lintang dengan tatapan kosong. Seketika wajahnya berubah layu seperti kembang sepatu yang hampir gugur kala sore tiba. Bhumi menunduk dengan bibir mengkerucut, kemudian dengan nada pelan ia menjawab. "Mama sama Papa tinggal di Luar Negeri tante.. Mereka sibuk kerja. Kadang mereka datang sebulan sekali tapi kadang juga nggak.. Itupun cuma sehari, trus pergi lagi" Lintang yang sedari tadi mendengarkan Bhumi berbicara hanya bisa menghela nafas, kemudian mengusap kepala Bhumi dengan lembut. "Jadi Bhumi di rumah tinggalnya sama siapa ?" Lintang melanjutkan pertanyaannya "Banyak kok tante.. sama Bibi Jani, Mbok Mina, Mang Kasep, Mang Ali.." jawab Bhumi. Lintang dapat menyimpulkan bahwa Bhumi selama ini tinggal bersama para pembantunya dan ia tidak mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya, yang membuat Bhumi begitu murung ketika ditanya masalah orangtua. Lintang kembali menghela nafasnya kemudian memegang tangan Bhumi yang sejak tadi masih menunduk dengan wajah sendu. "Bhumi mau nggak manggil tante dengan sebutan Bunda, kayak Langid ?" Bhumi sontak menengok Lintang dengan wajah terkejut. Matanya membelalak dan seketika pipinya menjadi merah. Lalu dengan semangat, ia menganggukkan kepalanya. Lintang tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya seolah menyuruh Bhumi untuk memeluknya. Tanpa pikir panjang, Bhumi langsung memeluk Lintang dengan erat layaknya pelukan seorang anak kepada ibunya. Air mata Bhumi tiba-tiba menetes di pipinya. Ia tidak menyangka bisa mendapatkan pelukan hangat seorang ibu yang selama ini ia rindukan. "Makasih, yaa tant.... ehh.. Bunda" ucap Bhumi, dalam pelukan Lintang. Lintang hanya tersenyum, mengangguk sembaru mengusap kepala Bhumi. Langid pun yang sedari tadi hanya menyimak Lintang dan Bhumi berbicara, kini terserum merekah, mendekat dan masuk ke pelukan Lintang. Sejak saat itu, Bhumi dan Langid selalu bersama. Langid menjadi satu-satunya teman perempuan yang paling akrab dengannya. Begitupun Bhumi yang menjadi penguat Langid dan satu-satunya teman yang sangat akrab dengannya, karena sejak awal Langid selalu menutup diri untuk berteman dengan siapapun. Setiap hari ketika bel istirahat tiba, mereka selalu bersama-sama menikmati bekal makanan buatan Lintang yang dibawa oleh Langid ke sekolahnya. Lalu sepulang sekolah, Bhumi mengantar Langid pulang ke rumahnya dan seperti biasa, Bhumi selalu menikmati Mie ayam buatan Lintang yang sangat ia sukai, sembari mendapatkan pelukan hangat dari Lintang yang membuatnya semakin merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Mereka juga sering menghabiskan waktu di sebuah taman untuk memberi makan kucing-kucing yang berkeliaran di sekitaran taman
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD