KEPERGIAN BHUMI

2170 Words
"Mas Bhumi, nanti Mas Bhumi mau lanjut SMPnya dimana ?? Mas Bhumi kan udah selesai ujian" tanya Langid yang sedang asyik bermain ayunan di taman bermain tidak jauh dari rumahnya, di temani Bhumi yang sedang mendorong dengan pelan ayunan Langid dari belakang. Bhumi hanya bisa menghela nafas begitu pertanyaan Langid terdengar di telinganya. Seketika Ada perasaan sedih dari wajahnya. "udah ah.. Mas Bhumi capek dorongin kamu" ucap Bhumi dengan bibir mengerucut. "ihh.. Mas Bhumi.." cetus Langid yang juga ikut mengerucutkan bibirnya. Bhumi pun berlari untuk mengambil sepedanya, kemudian kembali mendekati Langid, sambil menepuk-nepuk sadel sepedanya. "ayo sini" sahut Bhumi sambil tersenyum, membuat Langid terkejut. "Loh, Mas Bhumi kan tau kalo Langid nggak bisa bawa sepeda" "Makanya.. sini Mas Bhumi ajarin !" ucap Bhumi kembali dengan nada lembut. Namun hal itu membuat Langid nampak kesal. Langid yang sedari tadi duduk di ayunan, kini berdiri mendekati Bhumi dengan alis yang mengerut. "Nggak mau... Langid maunya di boncengin aja sama Mas Bhumi !!!" ucap Langid dengan nada tinggi dan menaikkan sedikit dagunya. Bhumi hanya dapat menghela nafas melihat tingkah Langid. Langid mengikuti tingkah Bhumi menghela nafas sambil meniup poninya, membuat Bhumi tertawa kekeh. "dasar manja" ucap Bhumi sambil mengusap kepala Langid dan nampak kebahagiaan di wajah Langid karena Bhumi tidak pernah sekalipun membalas ketika Langid sedang marah kepadanya. "Ya udah, sekarang kita pulang yah.. nanti Bunda nyariin kita" Lanjut Bhumi sambil menaiki sepedanya dan menunggu Langid duduk manis di belakang. Dalam perjalanan pulang, Bhumi mengayun sepedanya dengan pelan, menikmati suasana sore hari. "Langid, kamu tau nggak gimana rasanya seorang semut yang di pisahkan dari kumpulannya ??" tanya Bhumi sambil terus mengayun sepedanya. "sedih lah Mas.. yang misahin juga kok tega" jawab Langid Bhumi hanya bisa menghela nafas dengan panjang mendengar ucapan Langid. Entah bagaimana cara menyampaikan pada Langid bahwa ia harus ikut dengan orangtuanya dan melanjutkan sekolahnya ke Luar Negeri. "Mas Bhumi, nanti Mas Bhumi SMPnya yang deket-deket aja dong Mas.. biar pulangnya bisa jemput Langid" ucap Langid sambil kegirangan. Senyumnya merekah sepanjang perjalanan. Bhumi semakin tak kuasa menjelaskan kepada Langid tentang kepindahannya. "Bagaimana perasaan Langid seandainya dia tahu aku akan segera pergi dan kami tidak bersama lagi ??" Batin Bhumi sambil terus mengayuh sepedanya. Pikirannya menjadi kacau. Ia merasa gunda dan sedih memikirkannya. Lalu setelah mengantar Langid pulang, ia pun memutar sepedanya kemudian bergegas untuk segera pulang. Dalam perjalanan, Bhumi terus mengayuh sepedanya namun pikirannya tetap memikirkan Langid. Ia tidak sanggup berkata jujur kepada Langid. Sepanjang jalan pulang, Bhumi tidak bisa memusatkan pikirannya. "Aku serasa mengayuh sepeda di ruangan yang hampa dan datar di jalan yang panjang yang tak ada pangkal dan ujungnya" Batin Bhumi *** Malam harinya, Bhumi berniat mengatakan kepada Langid tentang kepindahannya, karena mamanya telah tiba dari Jerman untuk menjemputnya. Namun ia merasa sangat gugup. "Entah mengapa tiba-tiba perasaanku terasa kosong. Mama udah tiba, Artinya, aku akan berpisah dengan Langid. Kalau Langid tau aku akan pergi, dia pasti sedih" Batin Bhumi Ia kemudian mengambil sebuah kotak putih berukuran besar yang ingin diberikannya kepada Langid, lalu melangkah keluar rumah dan mengeluarkan sepeda dari garasi mobil rumahnya untuk segera ke rumah Langid. Namun setibanya disana, suasananya nampak sepi. Ia memanggil Langid beberapa kali, tetapi tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba Langid muncul di belakang Bhumi yang membuatnya terkejut. "Mas Bhumi.." sapa Langid dengan wajah girang. Bhumi hanya tersenyum memegang sebuah kotak putih di tangannya. "Mas Bhumi udah dari tadi ya ?? Langid abis dari pasar malam sama Bunda" ucap Langid. "Loh.. kok Bhumi kesini, malem-malem gini ?" tanya Lintang sambil mengusap kepala Bhumi. "Nggak papa kok Bunda.. Cuma lagi bosen aja di rumah" jawab Bhumi. "Ya udah, kalian main di dalam yah.. Bunda masuk duluan" ucap Lintang seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun Bhumi tidak mampu membendung rasa sedihnya. Ia melangkah mendekati Lintang dan sontak memeluk Lintang dari belakang dengan sangat erat dan memejamkan matanya. Langid sontak terkejut membuka mulutnya dengan lebar melihat tingkah Bhumi. Lintang yang tadinya akan masuk ke rumah, tiba-tiba menghentikan langkahnya karena terkejut. Kemudian ia membalikkan badannya ke arah Bhumi dan menunduk mensejajarkan dirinya dengan Bhumi. "Bhumi kenapa ?" tanya Lintang sambil mengelus kedua pipi Bhumi, membuat Bhumi memegang kedua tangan Lintang. Air matanya tiba-tiba menetes. Ada luka yang terlukis samar dimatanya. "Bhumi nggak papa kok Bunda.. Bhumi cuma kangen aja sama Bunda.. beneran" jawab Bhumi sambil menggenggam erat tangan Lintang Lintang yang masih merasa heran dengan sikap Bhumi hanya bisa terdiam sepersekian detik, kemudian tersenyum kepada Bhumi. Lintang mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bhumi. "Ya udah.. ayo masuk" ucap Lintang sambil memegang tangan Bhumi dan mengambil tangan Langid kemudian masuk ke dalam rumah. Langid yang tidak tau apa-apa hanya bisa tersenyum. "ayo Mas Bhumi, kita main di dalam aja" ucap Langid melangkahkan kakinya duduk di sofa ruang tamu kemudian menyandarkan kepalanya di sofa. "Langid capek yah ?" tanya Bhumi Langid menggangguk kemudian menghela nafas sambil meniup poninya dan membuat Bhumi tertawa. "Kok ketawa sih ?" tanya Langid sambil menyipitkan matanya menatap Bhumi dengan bibir mengerucut. "Nggak papa.. kamu lucu" jawab Bhumi sambil mengusap kepala Langid. Kemudian Bhumi menyodorkan sebuah kotak putih ke Langid. "ini apa Mas ?" "itu buat kamu.. buka aja" "tapi kan ini bukan ulang tahun Langid" "emangnya kalo mau ngasih hadiah, harus nunggu ulangtahun dulu ya ??" Langid hanya menaikkan bahunya tanpa berkata apapun. "ayo bukaa !" pinta Bhumi. Langid pun membuka kotak tersebut, dan mengeluarkan sebuah lampu LED 3D berbentuk bumi. Awalnya Langid merasa biasa saja, namun tiba-tiba Bhumi memencet tombol pegangan lampu tersebut dan memancarkan cahaya berwarna warni, yang membuat Langid begitu takjub. Sebuah lampu hias berbentuk bumi dengan desain tata surya yang dapat membuat proyeksi planet dan bintang-bintang kecil pada seisi ruangan. Kemudian dilengkapi dengan tombol musik yang dapat mengeluarkan alunan musik sendu. "Waooww... bagus banget Mas" ucap Langid dengan mata membelalak dan senyum yang semakin melebar" "Ini beneran buat Langid ?" tanya Langid memperjelas. Bhumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Langid suka ??" tanya Bhumi "Suka banget Mas.." jawab Langid kegirangan "Nanti kalo kamu mau tidur, kamu nyalain aja lampu ini, terus bintang-bintangnya bakalan keluar dan jagain kamu deh sampai kamu bangun" lanjut Bhumi sambil tersenyum. Langid hanya mengangguk sambil terus menatap lampu itu dengan wajah bahagia. Mereka tampak sangat menikmati keseruan malam itu yang menjadi hari terakhir mereka bersama, sambil tertawa terbahak-bahak. Hingga akhirnya, Langid tertidur di sudut sofa karena kekelahan bermain. Bhumi menghela nafas sambil memandang Langid. Dalam hatinya ada kerancuan yang membuatnya merasa berdosa kepada Langid. "Entah mengapa aku begitu berat berterus terang kepadanya bahwa sebentar lagi kami akan saling berjauhan" Batin Bhumi. "Loh.. Langid ketiduran ya?" ucap Lintang yang baru saja keluar dari dapur. "iya Bunda.. mungkin kecapean" jawab Bhumi. "Ya udah, Bunda pindahin Langid ke kamar, nggak papa ??" tanya Lintang "Nggak papa kok Bunda.. Pindahin aja ke kamarnya, nanti di gigit nyamuk disini" jawab Bhumi sambil tersenyum. Lintang kemudian menggendong Langid dan mengantarnya ke kamar, sementara Bhumi mengikuti Lintang masuk ke kamar Langid dengan membawa Lampu hias yang ia berikan kepada Langid, lalu menyalakan lampu tersebut dan membuat kamar Langid dipenuhi bintang-bintang dan juga pancaran planet yang sangat indah, membuat Lintang takjub melihatnya. "Wah.. hadiah Bhumi bagus yah.." ucap Lintang. Bhumi hanya tersenyum menatap Lintang dan kembali menghela nafas. Lintang yang sedang duduk di tempat tidur milik Langid, nampak masih penasaran dengan sikap Bhumi. Sambil menatap wajah Bhumi yang masih berdiri di hadapannya, Lintang kemudian mengambil tangan Bhumi. "ayo duduk disini" ucap Lintang sambil memegang tangan Bhumi. Bhumi melangkahkan kakinya ke arah Lintang dengan sangat lemah dan bibir yang mengerucut. "Bhumi ada yang mau diceritain nggak sama Bunda ?" ucap Lintang dengan lembut sambil menggenggam tangan Bhumi. Namun Bhumi masih saja menunduk. Lintang menghela nafas kemudian mengusap kepala Bhumi. "Bhumi kenapa ?" ujar Lintang mengoyak hening. Lintang menatap raut wajah sedih dari Bhumi. Bhumi menatap wajah Lintang dan menghela nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Bhumi pun tidak sanggup lagi menahan tetesan air mata yang meluncur di pipinya tanpa sepatah katapun sambil terus menatap Lintang, sosok yang selalu memberikan perhatian dan kehangatan di pelupuk matanya. Tangisannya pecah, kemudian memeluk Lintang dengan erat. "Bunda.. Bhumi harus gimana ?" ujar Bhumi sambil tersedu. "Bunda, Bhumi bakalan pindah.. Bhumi bakal ikut sama Mama Papa ke Jerman" Sontak ucapan Bhumi membuat Lintang sangat terkejut. Sosok yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri dan sangat ia sayangi harus pergi. Lintang memeluk Bhumi dengan erat sambil terus mengusap kepala Bhumi. Lintang pun tak dapat membendung tangisannya. "Bunda.. kita ngobrolnya di luar aja yah.. Bhumi takut nanti Langid denger" ucap Bhumi yang segera keluar dari pelukan Lintang dan membuat Lintang mengangguk tersenyum sendu. Bhumi kemudian kembali duduk di sofa ruang tamu, di temani Lintang di sampingnya. "Bunda maafin Bhumi" ucap Bhumi dengan wajah sendu. Lintang kembali menggenggam tangan Bhumi sambil tersenyum. "iya sayang.. Bunda ngerti" "Bhumi nggak tau harus bilang apa sama Langid.. Bhumi nggak bisa liat Langid sedih bunda" sambung Bhumi dengan terisak. "Sayang.. denger bunda" ucap Lintang seraya memegang kedua bahu Bhumi. "Kalo Bhumi nggak kuat ngomong sama Langid, bunda bisa ngerti.. Bunda tau, ini bukan maunya Bhumi kok. Yang terpenting sekarang, Bhumi harus melanjutkan pendidikan Bhumi sesuai harapan kedua orangtuanya Bhumi" ucap Lintang dengan dengan mata yang berkaca-kaca. Bhumi kembali memeluk Lintang sambil terisak tangis. "Bhumi bakalan kangen sama bunda sama Langid" "Bunda ngerti sayang.. Bhumi yang sabar yah" ucap Lintang seraya menenangkan Bhumi. Bhumi hanya mengangguk dalam pelukan Lintang. "Bhumi berangkatnya kapan?" tanya Lintang "besok bunda" jawab Bhumi dengan penuh rasa bersalah. "Kok Bhumi baru ngomong sekarang ke bunda ??" "Maafin Bhumi yah bunda.. Bhumi juga baru tau kemarin kalau Bhumi bakalan dipindahin sama mama papa" ucap Bhumi dengan mencibikkan bibirnya. "Ya udah nggak papa" ucap Lintang sambil tersenyum dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Lalu mereka berdua saling berpelukan layaknya ibu dan anak. Hening dan tanpa pembicaraan sedikitpun. Dan karena waktu sudah pukul 10 malam, Lintang dengan berat hati membiarkan Bhumi untuk pulang dan melepaskan tangan Bhumi untuk terakhir kalinya sambil menangis tersedu, begitupun dengan Bhumi. Lintang mengantar Bhumi ke teras untuk mengambil sepedanya. Bhumi pun menaiki sepedanya namun pandangannya masih ke arah Lintang dengan tersedu-sedu lalu melambaikan tangannya ke arah Lintang. Lintang membalas lambaian tangan Bhumi dan membiarkan Bhumi pergi sampai sosoknya tidak terlihat lagi, kemudian masuk ke dalam rumah mengunci pintu dan menyandarkan kepalanya di balik pintu dengan tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak. *** Pagi ini, Lintang telah menyiapkan sarapan untuk Langid. Sembari duduk di hadapan meja makan untuk menunggu Langid keluar dari kamar, Lintang masih terus berfikir bagaimana cara mengatakan kepada Langid bahwa Bhumi harus melanjutkan sekolahnya ke Luar Negeri tanpa membuat Langid bersedih. Ia terus berfikir dan tanpa sadar, Langid telah berdiri disampingnya. "Bunda ??" ucap Langid sambil mengeluarkan sebuah kursi dari balik meja makan. Sontak Lintang terkejut buyar dari lamunannya. "Eh.. Langid udah bangun ?" ucap Lintang yang masih terlihat gugup. Langid hanya mengangguk dengan wajah kegirangan. "Tidur Langid nyenyak banget Bunda gara-gara lampu yang di kasi sama Mas Bhumi.. Rasanya tuh Langid kayak di jagain Mas Bhumi kalau lagi tidur.. Adem banget pokoknya.. untung aja hari ini masih libur" cetus Langid. Lintang berusaha tersenyum mendengar cerita Langid walau dadanya penuh sesak. "Ya udah.. sekarang Langid mandi dulu yah.. Bunda mau ngomong sesuatu kalo Langid udah selesai mandi" "Oke Bunda.. bentar lagi, pasti Mas Bhumi juga datang" jawab Langid dengan semangat dan segera berlari menuju kamar mandi. Ucapan Langid semakin membuat tubuh Lintang terasa kaku. Jantungnya berdetak tak beraturan. Setelah mandi, Langid segera menghampiri Bundanya yang telah menunggu di teras depan. Sembari berjalan dengan senyum cerianya, ia juga memegang boneka kesayangannya. "Bundaaa..." ucap Langid mengagetkan Lintang kemudian tertawa kekeh. "ayo duduk sini" Perintah Lintang sambil menepuk kursi kosong di sampingnya. Langid menurut begitu saja. Lintang sebenarnya tidak tega mengatakannya kepada Langid, mengingat betapa mereka sangat bersahabat dan Bhumi adalah anak yang paling dekat dengan Langid. Namun bagaimanapun Langid harus mengetahuinya. Dan dengan terbata-bata, Lintang memulai pembicaraannya. "Sayang, maafin Bhumi yah.." ucap Lintang. Langid hanya mengerutkan keningnya. "Maksud Bunda apa ?" Lintang kembali menghela nafas panjang lalu kembali melanjutkan pembicaraannya. "Sayang, Bhumi harus pergi ke Luar Negeri, ikut orangtuanya. Langid terdiam. Bola matanya seperti ingin keluar. "La.. Langid. nggak ngerti maksud Bunda" ucap Langid gemetar. Mendengar ucapan Langid, d**a Lintang terasa sesak. Lintang kembali menatap Langid dan mengusap rambutnya dengan sangat pelan. "Sayang, Bhumi terpaksa harus ikut orangtuanya, karena orangtuanya mutusin untuk pindah ke Luar Negeri, dan mereka nggak bisa kalo harus bolak balik ke Indonesia buat jengukin Bhumi. Jadi dengan sangat terpaksa, Bhumi harus ikut." Perkataan Lintang seolah membuat Langid bagai tersambar petir. Bibirnya beku, Tangannya yang memegang boneka itu ia rapatkan ke dadanya. Sejenak suasana menjadi hening. Langid masih tercengang mendengar ucapan Lintang. Wajahnya yang putih berubah pucat seperti orang yang bertahun-tahun tidak sembuh dari deraan penyakit. Langid kemudian bangkit dari duduknya dengan wajah tertunduk. "Bu.. bunda, Langid ke kamar dulu." ucap Langid sambil berusaha melangkah membalikkan tubuhnya dengan langkah yang begitu pelan. Sembari terus melangkah, perkataan Lintang pun terus terngiang di telinganya bahwa Bhumi harus pindah ke Luar Negeri. Langid tidak sanggup menahan uap panas dimatanya. Butiran air bening terus menetes di pipinya. sampai akhirnya ia tiba di kamarnya dan duduk di sudut tempat tidurnua sambil mengusap air matanya. tatapannya kosong. Sesuatu serasa terlepas dari jiwanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD