Sudah beberapa hari, Langid terlihat sangat murung. Ia hanya keluar untuk makan atau sekedar duduk di sofa ruang tamu tempat ia biasanya bermain bersama Bhumi, lalu setelah 5 menit, ia akan masuk kembali ke kamarnya dengan tatapan kosong.
Lintang mengetahui betapa kepergian Bhumi sangat menyiksa Langid. Namun ia tidak ingin melihat putrinya terlalu lama larut dalam kesepian karena ditinggal oleh sahabatnya.
Lintang melangkah menuju kamar Langid dan saat pintu kamarnya terbuka, gadis kecil itu hanya menengok ke arah Lintang lalu memalingkan wajahnya menatap lampu hias pemberian Bhumi. Lintang mendekati Langid dan dengan lembut, mengelus-elus kepala putrinya itu.
Langid tiba-tiba menghela nafas dalam-dalam dan meniup poninya yang menjuntai.
"Ternyata Mas Bhumi sama aja kayak ayah. Mereka semua ninggalin Langid"
Langid tertunduk sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Lintang ikut merasa bersalah. Langid menatap Lintang dengan tatapan datar, air matanya serasa ingin tumpah..
"Sayang.. dengar Bunda"
Lintang memegang bahu dan memutar tubuh Langid agar berhadapan dengannya, dan berusaha menenangkan Langid.
"Sayang.. Langid nggak boleh sedih.. kita ngga bisa berbuat apa-apa. Mas Bhumi kan juga punya keluarga, punya orangtua, jadi Mas Bhumi juga harus nurut apa yang dikatakan orangtuanya. Kalo orangtuanya minta Mas Bhumi buat ikut pindah ke luar negeri yaa Mas Bhumi harus mau"
"Tapi Langid nggak punya temen main lagi Bunda"
Sontak Langid meneteskan air matanya dan menangis tersedu-sedu, membuat hati Lintang bagai teriris. kemudian memeluk Langid.
"Bundaaa.. gimana kalo nanti ada yang gangguin Langid ? Mas Bhumi udah nggak ada.. gimana kalo nanti Langid kangen sama Mas Bhumi ?" ucap Langid dengan serak tersedu-sedu.
"Mas Bhumi jahat.. Mas Bhumi nggak ngomong sama Langid kalo dia bakalan pergi ninggalin Langid." Lintang tiba-tiba melepaskan pelukannya kemudia menggenggam tangan Langid.
"Sayang.. Bhumi punya alasan kenapa dia nggak ngomong sama Langid. Bhumi nggak sanggup liat Langid nangis. Nanti Bhumi jadi ikutan sedih, trus pelajarannya disana bakalan terganggu sayang." Jawab Lintang sembari menenangkan Langid, kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"Sayang, Bhumi sama ayah nggak kemana-mana kok, mereka tetap ada disini" Lintang memegang d**a Langid, membuat Langid yang tadinya berlinang air mata kini tersenyum.
***
Hari ini merupakan hari pertama Langid sebagai murid kelas V Sekolah Dasar. Ia masih terduduk di atas tempat tidurnya dengan seragam sekolah yang sudah rapi. Namun ada sesuatu yang membuatnya sedih. Kepergian Bhumi akan membuat Langid merasa kesepian di sekolah nanti.
"hari pertama ke sekolah setelah libur panjang.. tanpa Mas Bhumi.. pulangnya juga nggak sama Mas Bhumi.." seru Langid sambil menatap lampu hias yang diberikan oleh Bhumi. "Tapi masa iya, Langid harus murung terus sih.. mau sedih gimana juga, Mas Bhumi gak bakalan pulang.. nggak bakalan liat tangisan Langid juga.." ucap Langid bermonolog sendiri. "Nggak.. nggak.. pokoknya, Langid harus semangat. Sekarang Langid nggak boleh sedih lagi walaupun udah nggak ada Mas Bhumi, Langid harus tetep kuat kalo di gangguin anak-anak lain." ucap Langid masih bermonolog sendiri sambil mengepalkan tangannya.
Akhirnya Langid beranjak dari kamarnya dan bersiap untuk ke Sekolah.
"Bundaa.. Langid berangkat yaah" teriak Langid sambil berlari keluar rumah.
Lintang yang baru saja keluar dari dapur ingin menemui Langid, tiba-tiba heran dengan sikap Langid. Matanya membelalak. Namun dalam hatinya, ia bahagia dan bersyukur, Langid tidak lagi larut dalam kesedihannya.
Langid pun bersyukur karena atas bantuan Bhumi, kini Langid tidak lagi di ganggu oleh teman-temannya.
"Terimakasih Mas Bhumi" batin Langid sambil tersenyum bahagia.
Seiring berjalannya waktu, Langid tumbuh menjadi anak yang periang. Tidak ada lagi ejekan dari teman-teman Sekolahnya. Namun tiap malam ketika akan tidur Langid selalu memperhatikan Lampu hias yang diberikan Bhumi sambil mendengarkan alunan musik sendu dari Lampu tersebut. Lagu yang akan membuatnya terlelap setelah memikirkan entah kapan dirinya bisa bertemu kembali dengan Bhumi, sahabatnya. Namun ketika pagi telah datang, Langid selalu tersenyum dan bersiap menghadapi hari-harinya tanpa Bhumi.