Riko dan Diana memilih RM Angkringan Jogja untuk mengisi perut mereka. RM Angkringan Jogja ini berlokasi di Pasar Raya tepat nya di samping Plasa Andalas (PA) di kota Padang. Rumah makan ini merupakan rumah makan favorit di kalangan muda, tidak heran jika setiap hari pengunjung selalu ramai dan antrian pun lumayan panjang.
"Din, kayaknya tempat nya penuh, nggak ada tempat buat kita duduk"
"Iya ya, terus gimana dong?"
"Nyari tempat lain aja yok?"
"Jangan deh, aku pengen makan di sini"
"Tapi rame Din, belum lagi harus ngantri"
"Tapi aku pengen makan rendang dari sini, plus mau makan bakwan jagung, ketan s**u, dan masih banyak lagi"
"Belum juga nyampe sebulan udah banyak aja ngidamnya buk"
"Aku nggak ngidam cuman aku lagi pengen makan aja, soalnya udah hampir 2 Minggu aku nggak makan"
"Maksudnya?"
"Iya.. maksudnya aku kan nangis mulu selama ini, terus jadi nggak nafsu deh buat makan"
"Terus sekarang udah nggak nangis lagi?"
"Kita udah nikah 5 hari Riko, masak iya aku meratapi nasib mulu, capek lah. Lagian buat apa sih selalu merasa innocent? Kita itu harus bisa Move on and keep going on"
"Iya deh. Terus gimana nih masih mau nunggu antrian?"
"Hmmm... gimana kalau kita pesan makan di sini tapi makan nya di Taplau? Sekalian nunggu sunset"
"Boleh"
"Hmm"
Jujur saja Riko terkesima melihat senyum manis Diana, dia merasakan getaran aneh di dalam hatinya. Padahal selama ini dia dan Diana tidak pernah memiliki hubungan yang spesial dan tidak ada perasaan yang spesial diantara mereka. Namun hari ini Riko merasa ia mulai jatuh cinta.
Setelah mengantri cukup lama akhirnya giliran mereka pun tiba, Diana sangat semangat memilih menu. Salah satu keunikan angkringan ini adalah, pelanggan dapat memilih menu nya langsung. Pelanggan bisa langsung mengambil nasi, lauk pauk yang di sukai sudah tersedia tinggal di pilih, juga ada berbagai macam wejangan ala khas Jogja, semua menu yang di pilih di antar ke kasir untuk di hitung. Setelah Kasir menghitung semuanya baru lah pelanggan memilih tempat duduk yang di sediakan. Jadi pelanggan tidak perlu membayar setelah makanan selesai. Diana membawa pesanan mereka ke kasir lalu meminta petugas kasir untuk membungkus makanan. Kemudian Riko membayar bills. Setelah selesai mereka pun beranjak meninggalkan angkringan menuju pantai.
Jelang 15 menit mereka pun sampai di pantai. Diana melihat lihat apakah ada tenda yang kosong. Setelah menemukan sebuah tenda kosong, mereka pun melangkah menuju tenda tersebut lalu duduk. Tanpa menunggu lama-lama keduanya menyantap hidangan yang sudah terbungkus rapi. Keduanya makan dengan lahap.
"Hati hati Ko nanti kamu tersedak"
"Nggak bakalan. Kamu juga makan nya lahap banget"
"Iya aku lapar, seharian soalnya kita beberes kontrakan"
"Iya, kotor banget kontrakannya"
"Emang pemilik kontrakan nggak pernah ya bersih bersih kontrakan walaupun kosong nggak ada penghuni"
"Kayaknya sih nggak, halaman nya aja kotor juga tuh"
"Pantesan... emang penghuni yang lain nggak mau ya jaga kebersihan? Ya masak sih bersihin halaman aja nggak bisa?"
"Sebenarnya sih bukannya nggak bisa tapi nggak mau. Tau lah kebanyakan orang Indonesia jorok dan malas"
Riko menunjukan senyum sindiran di akhir katanya.
"Aku juga orang Indonesia ya, tapi aku nggak jorok"
"Kan aku bilang kebanyakan bukan semua"
"Iya iya"
"Lagian cuman kontrakan itu yang murah di area sekitaran sini. Aku takut nanti kalau kita ambil yang sebulan nya 600 San nanti kita malah kewalahan buat bayar perbulannya"
"Emang yang ini berapa satu bulan?"
"Cuman 250"
"Oh"
"Iya, aku juga udah bayar sampai 5 bulan. Jadi kamu nggak perlu khawatir "
"Ok. Terus untuk makanan sehari hari kita nanti bagaimana?"
"Emnmm... aku bakalan usaha buat nyari kerja"
"Kamu serius?"
"Iyalah, kan kamu udah jadi tanggung jawab aku. Lagian aku juga harus buktikan ke Papa aku kalau aku bisa hidupin kamu dengan tangan aku sendiri"
"Emang kamu mau kerja di mana?"
"Dimana aja, nanti di lihat dimana ada peluang pekerjaan"
"Sebelum nya kamu pernah kerja?"
"To be honest, nggak! Nggak pernah"
"Terus kamu yakin bisa kerja? Susah lho nyari kerja dengan ijazah SMA, kalaupun ada pekerjaan yang menguras banyak tenaga. Kayak kuli bangunan, buruh kasar, buruh di pasar, dan sebagainya. Kamu yakin kamu bisa melamar di kantoran?"
"Nggak yakin sih, tapi kalaupun emang harus jadi kuli bangunan demi kamu aku siap. aku bakalan usaha sebisa aku buat nafkahin kamu. Yang jelas intinya urusan finansial itu tugas dan tanggung jawab aku. Tugas kamu cuman pegang dan simpan berapa pun yang aku kasih dan kamu harus jaga bayi di rahim mu"
"Iya deh, terserah kamu aja. Yang jelas aku serahkan hidup dan matiku di tangan kamu. Karena bukan cuman kamu yang di usir dan nggak di anggap anak, aku juga Ko. Sebenarnya sakit sih, aku tuh heran, kenapa ya orang orang tuh senengnya sama orang yang sukses, baik, berada, yang bagus bagus lah. Tapi coba kalau orang susah, sakit sakitan, atau suka berbuat salah, selalu mengecewakan, pasti di tinggalin. Kayak nya manusia itu pengen nya bahagia dengan kebanggaan tersendiri dan kebahagiaan oleh harta benda seumur hidup. Nggak ada yang mau menderita apalagi kecewa"
Riko hanya tertegun diam mendengar dan menyimak apa yang di katakan oleh Diana. Dia juga sependapat dengan Diana, karena selama hidupnya baru kali ini dia melakukan kesalahan tapi langsung ayah kandung nya mencampakkan dirinya dan tidak mau bertemu dengan nya lagi. Seketika ia merasa asing dan di asingkan oleh Ayah sendiri. Sakit rasanya.
"Ko"
Diana menepuk bahu Riko yang tengah melamun.
"Humm.. hah?"
"Kamu melamun?"
"Engg... nggak"
"Terus?"
"Nggak ada aku lagi mencerna kalimat mu yang tadi"
"Oh... udah lah nggak usah di pikirin. Lagian emang kita yang salah. Kan kita yang udah Lost control"
"Kamu nyesel nggak kenal aku"
"Nggak... aku nggak pernah nyesel ketemu sama kamu, cuman aku masih heran aja sih, dari sekian banyak pria yang aku kenal kenapa aku bisa kena musibah kayak gini sama kamu"
"Mungkin karena emang kita jodoh"
"Mulai deh mulai... udah mulai muncul aja sifat buaya nya"
"Emang kenapa? Nggak boleh ya aku rayu istri aku sendiri"
"Istri... hah.. aku aja masih nggak nyangka bakalan jadi istri kamu"
"Iya ya.. rasa nya semua ini seperti mimpi. Tapi aku bahagia"
"Kenapa?"
"Karena mimpi ini indah"
Kalimat itu begitu mulus keluar dari bibir Riko bahkan empunya tidak menyadari bahwa ia akan berkata demikian. Seolah ia sudah tersengat listrik ada getaran cinta di dalam lubuk hatinya tanpa ia sadari. Diana hanya tersipu malu sembari menundukkan kepala kebawah.
Mentari pamit undur diri, begitu pula sepasang suami istri itu. Mereka pun kembali ke kontrakan setelah puas melihat sunset.