Part 10

1324 Words
"Mulai hari ini aku akan bertanggung jawab atas kebahagiaanmu dan juga kesejahteraan mu Diana, aku janji" ~Hendriko Di kamar Diana merenung di sudut ranjang dengan membelakangi Riko. Dia masih tidak percaya bahwa dalam satu malam ia berubah menjadi orang asing dan tidak memiliki siapa-siapa. Berkali-kali ia menghela napas dengan sangat berat. Riko yang menyadari bahwa Diana sedang terluka mendekati istrinya. "Din..." Diana segera menghapus air mata nya lalu menoleh sesaat. "Aku minta maaf" "Buat apa? Semuanya udah terjadi. Nggak ada yang perlu di sesali" "Tapi tetap aja aku yang bersalah, semuanya karena aku" "Stop nyalahin diri kamu sendiri. Sekarang kita berdua harus bisa buktikan ke Mama Papa kita kalau kita bisa jadi anak yang bertanggung jawab terhadap hidup nya. Kita harus bisa buktikan ke orangtua kita kau kita bisa menjalani pernikahan ini dengan baik tanpa satu keluhan yang keluar dari mulut kita" "Huh..." Riko menarik napas dalam-dalam seolah ia memiliki banyak beban di benaknya. "Kamu kenapa? Kamu nggak yakin dengan kata-kata ku? Kamu takut?" Riko mengusap wajah nya dengan kasar. "Bukan begitu Diana. Aku hanya tidak yakin apa aku bisa menghidupi mu apalagi membahagiakan mu" "Kalau begitu berjanjilah kalau kamu bakalan bahagiain aku hari ini esok dan seterusnya" "Are u sure?" "Ya... why not?" "don't u scare?" "Scare of what?" "Everything". Diana menghela napas. "Kalau kamu bertanya apakah aku takut, maka jawabannya adalah : aku takut kehilangan kamu. Karena cuman kamu satu-satunya harapan yang aku punya saat ini. Aku tidak sedang merayu atau pun merangkai puisi, tapi kamu lihat sendiri kan aku di usir sama papa. Dan sekarang Mama pasti lagi sedih, dia sedang berpikir bagaimana nasib aku di masa depan. Apa kamu lihat betapa tidak berdaya nya dia..." Mata Diana kini mulai berkaca-kaca. "Iya aku ngerti... tapi kamu tau kan kalau aku juga khawatir bagaimana kalau aku tidak bisa membahagiakan kamu suatu saat nanti. Sekarang aja kita bingung mau tinggal di mana apalagi kebutuhan yang lain. Aku nggak yakin aku bisa penuhi semuanya Din." "Kenapa sekarang kamu malah jadi nggak yakin Ko, bukannya waktu itu kamu percaya diri bahkan kamu yang meyakinkan aku untuk berani mengambil tanggung jawab ini. Tapi sekarang kamu malah takut." Riko menghela napas. Ia berpikir sejenak untuk menyusun kalimat apa yang tepat untuk menjelaskan kekhawatirannya pada Diana. "Huf... aku bukannya plin plan Diana. Tapi aku juga tidak sok jagoan. Bagaimanapun juga rasa takut cemas dan khawatir itu pasti ada. Karena yang kita pikirkan bukan cuman satu Din, tapi semua aspek kehidupan" "Kalau kamu pikirkan semuanya malam ini kepala kamu bakalan pecah. Jadi sebaik nya tidak usah terlalu di pikirkan. Aku capek Ko aku mau istirahat." Diana tidur dengan riasan dan gaun pengantin yang belum ia lepaskan. Dengan membelakangi Riko ia pun tertidur dengan lelap. ******* Ke esokan harinya Riko dan Diana bergabung bersama Sela dan Rina untuk sarapan pagi di meja makan. "Papa mana?" Diana bertanya pada kedua adiknya, sebab tidak biasa nya Papa mereka pergi ke kampus pagi sekali, biasanya mereka selalu sarapan berempat. Karena Ibunya berangkat pagi-pagi sebab harus mengajar di SD, sedang ayah nya ke kampus jam 10 pagi. Namun tidak untuk hari ini. Ia bahkan tidak melihat kapan ayahnya berangkat. "Tadi pagi udah berangkat ke kampus kak, katanya sih ada kelas pagi di kampus" Jawab Sela seadanya, padahal sebenarnya tidak ada kelas pagi, ayah nya hanya menghindari mereka berdua. Tapi mana mungkin Sela mengatakan pada kakaknya alasan Ayah mereka yang sebenarnya, ia takut nanti malah melukai hati kakaknya. "Kak.... Sela bakalan berusaha bujuk papa supaya kalian tinggal di sini aja. Nggak perlu nyari rumah" "Nggak usah Sel.. nanti kamu malah kena marah. Lagian kakak udah jadi tanggung jawabnya bang Riko. Biar bang Riko yang pikirkan semuanya kamu nggak perlu khawatir tentang kakak. Kamu bakalan baik-baik aja kok." "Terus kalian tinggal dimana?" tanya Rina. "Untuk sementara waktu di kos Abang dek" "Kapan kalian pindah" "Setelah sarapan" jawab Diana singkat. "Kok cepet banget sih kak" "Takutnya nanti Papa malah nggak pulang pulang kalau kami belum pindah" "Itu cuman perasaan kakak" Sela menyela perkataan Diana, sedangkan Riko hanya diam saja menyaksikan percakapan tiga bersaudara ini. Rina kelihatan kecewa karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan kakaknya. ''Enggak, ini bukan perasaan,aku aja.Tapi memang kenyataannya begitu. Papa kecewa sekali denganku" Riko langsung memegang pundak istrinya dengan maksud untuk menguatkan Diana. " Kamu enggak boleh ngomong kaya gitu. Papa itu cuma butuh waktu buat bisa menerima semua ini. Nanti juga kalau papa udah bisa terima, dia bakalan humble lagi kok, Jangan sedih ya...'' "Hmm" "Yaudah Sel Rin kami siap siap dulu ya... ntar kesiangan lagi" "Aku bantu ya kak" Rina menawarkan bantuan. "Aku juga ikut bantu ya" Sela pun turut menawarkan. "Yaudah deh, kalian boleh bantu" Mereka berempat menyudahi sarapan lalu beranjak ke kamar Diana untuk membereskan pakaian, Diana mengeluarkan semua pakaian yang ada di lemari. Ketika sebuah jas almamater UNAND tergantung di hanger, Diana pun meraih jas tersebut. Tanpa sadar ia meneteskan sebulir air mata. Kemudian ia juga menarik napas dalam-dalam Riko yang melihat hanya bisa berbisik. "Maafkan aku Diana" "Ini bukan salah kamu sendiri aku juga salah" Keduanya menarik napas secara bersamaan. Kemudian mereka kembali membungkus pakaian, buku-buku, dan juga foto-foto yang terpampang di atas meja belajar. Riko melihat foto Diana dan Lendro di sana, ia pun memasukkan foto tersebut ke dalam kardus. Namun saat hendak memasukkan tangannya di cegat oleh Diana. "Yang ini jangan. Ini nggak perlu di bawa. Ini mau aku buang" "Lo kenapa ini kan cuman foto" "Aku nggak mau mengenang kenangan di balik foto itu" "Ya sudah. Terus ini mau diletakin dimana?" "Taro di sini aja nanti aku buang" Diana menyodorkan plastik hitam pada Riko dan menyuruh Riko untuk memasukkan foto itu ke dalam plastik. Lalu Riko pun hanya bisa mengikuti perkataan Diana. Setelah semuanya selesai, ke empat anak itu keluar sambil membawa dus dus yang berisikan barang-barang milik Diana. Ketika mereka berada di ruang tamu Ibu Luna baru saja sampai di rumah sehabis mengajar di SD RK Andreas. "Sayang... apa-apaan ini. Kamu mau minggat?" "Bukan Ma... semalam kan Papa bilang kalau kami berdua cuman boleh nginap satu malam aja" "Loh... loh.. kok kamu malah iya in sih sayang. Papa kamu cuman marah sebentar kok. Nanti juga pasti bakalan baik lagi. Kamu ngapain bungkus semua barang emangnya kamu nggak bakalan balik lagi ke sini. Kamu mau ninggalin Mama?" "Bukan gitu Ma... lagian barang-barang aku sedikit kok, cuman ini doang" "Ya tapi kan kamu nggak perlu bungkus semua. Nggak ada yang usir kamu" "Aku yang usir" sontak mereka semua pun terkejut mendengar ucapan dari Bapak Lukas barusan. Mereka kaget karena Bapak Lukas tiba-tiba saja muncul di depan pintu. "Anggap saja aku yang usir" "Papa" Ibu Luna tidak terima dengan apa yang baru saja suami nya katakan. "No debat Ma" Bapak Lukas pun berlalu dan meninggalkan mereka semua. "Nggak papa kok Ma. Diana aman kok dengan Riko" "Ya Tuhan... anakku" Ibu Luna tidak kuasa menahan tangis. Ia pun memeluk anaknya yang malang. Rina dan Sela ikut memeluk Diana. Mereka berempat berpelukan sambil menangis. Tangisan ini terdengar sangat haru karena mereka menangis seolah Diana tidak akan pernah kembali lagi. "Ma.. Mama nggak perlu khawatir aku bakalan baik-baik aja kok dengan Riko. Aku yakin Riko bisa menjagaku dengan baik" Diana menggenggam tangan Ibunya lalu menundukkan kepalanya untuk mencium tangan ibunya. "Iya sayang... mama tau. Tapi kalau ada apa-apa kamu kasih tau Mama ya... Kalau kalian kekurangan uang ataupun membutuhkan sesuatu jangan takut telpon Mama minta sama Mama" "Baik Ma.." Setelah merasa cukup puas berpelukan dengan adik-adiknya dan juga Ibunya, Diana pun melepaskan pelukan lalu berpamitan dengan keluarganya. Riko ikut menyalami adik ipar nya dan juga ibu mertuanya. Lalu setelah berpamitan Riko memasukkan semua barang-barang milik Diana ke dalam bagasi mobil. Kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil lalu berlaju ke kos milik Riko. Sela Rina dan juga Ibu Luna hanya bisa meneteskan air mata menyaksikan kepergian orang yang mereka sayangi. Mereka masih berdiri di teras rumah hingga mobil yang di tumpangi Diana menghilang dari pandangan mata. Lalu ketiganya masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedih yang tak tertahankan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD