Aiko mondar-mandir di depan rumahnya karena semenjak tadi kedua temannya itu tidak pulang. Padahal ini sudah larut malam sedangkan Flora juga seharusnya sudah pulang bekerja karena toko Bu Merlyn tutup.
Dia sangat khawatir karena ke dua temannya merupakan orang baru di kota itu, jadi mereka masih belum tahu seluk beluk daerah sekitarnya.
"Apa mereka tersesat yah? Kenapa ponsel keduanya juga tidak aktif sih? Bikin cemas saja," batin Aiko kesal sekaligus resah.
Baru kali ini Aiko mencemaskan keadaan orang lain, biasanya dia sangat cuek dan hanay mementingkan kebahagiaan diri sendiri. Bertemu dengan Yolla dan Flira memang sedikit demi sedikit merubah karakter egoisnya.
"Besok jadwal tes praktik untuk masuk Universitas, aku takut jika Flora sampai tidak mengikuti. Karena gadis itu dulunya tidak berniat kuliah, " gumam Aiko.
Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, segera Aiko mengangkatnya.
[Ada apa, Kak Mahesa]
[Kamu tidak perlu khawatir, Flora dan Yolla bersamaku. Nanti akan pulang terlambat dan aku akan mengantar mereka]
[Apa? Jadi mereka bersama Kakak?]
Namun sebelum pertanyaannya mendapat jawaban, sambungan telepon sudah terputus.
"Bagaimana bisa? Kak Mahesa bukan tipe pria yang suka menindas wanita lemah. Apa mereka sedang pendekatan? Ah tidak mungkin, karena Aiko dekat lelaki saja sudah gemetar. Sedangkan Yolla? Ah gila, apakah dia akan menjadikan kakak aku korban pertamanya?" batin Aiko penuh tanda tanya.
Aiko memilih masuk ke dalam paviliun, tapi jika seorang diri dia merasa bosan dan mau tidur juga masih belum mengantuk. Akhirnya dia memilih untuk menonton televisi.
Tak lama kemudian ada suara mobil yang berhenti di depan gerbang, Aiko mengenali mobil itu. Dia segera berlari keluar menuju Kakak sepupunya dan kedua temannya saking merasa penasaran.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bersama Kak Mahesa?" tanya Aiko di depan pintu.
Mahesa tertawa, karena baru kali ini pemuda tampan itu melihat Aiko mengkhawatirkan orang lain. Selama ini sepupu Mahesa itu jarang punya teman karena sikapnya yang angkuh, juga waktunya banyak dihabiskan untuk berkencan dengan gonta-ganti pasangan.
Flora menunduk malu, sedangkan Aiko segera beralih menatap sepupunya untuk meminta penjelasan.
"Aku ada keperluan mendesak, sebaiknya kamu bertanya pada temanmu saja. Aku kembali ke hotel ya? " ucap Mahesa tersenyum tanpa rasa bersalah.
Pemuda tampan itu segera masuk ke mobil dan menghilang dari pandangan ketiga gadis itu.
"Cepat jawablah! Kalian kemana?" tanya Aiko tak sabar.
"Kami makan malam, jadi ternyata Kak Mahesa itu adalah teman Gara dan Alesia. Dan mereka mengajak aku dan Flora untuk malam bersama, " jawab Yolla apa adanya.
"Oh, tapi makan malam kenapa bisa sampai larut begini? " selidik Aiko.
"Kamu kepo sekali sih? Aku jadi tidak mau menjawab ya, aha… " canda Yolla masuk duluan.
Ketika Flora mau masuk, langsung dihadang oleh Aiko.
"Eits, katakan dulu kalian setelah makan pergi kemana? " selidik Aiko.
"Kami bertemu dengan orang tua Gara yang merupakan ketua Dewan di Universitas A, karena kebetulan mereka mengenali Yolla makanya mengobrol sampai larut malam di rumah Gara, " jawab Aiko.
"Apa? Rumah Gara? Kalian ke rumah Gara? "Pekik Aiko seolah tidak percaya.
" Iya, dan sepertinya kedua orang tua Gara menyukai Yolla, " bisik Flora.
"Wah.. Ada gosip baru nih. Ayo kita ke atas menggoda dia, " ajak Aiko.
Setelah mereka berdua sampai di atas, rupanya Yolla tengah duduk di sofa sambil memakan cemilan milik Aiko.
"Ini terbuat dari apa? Renyah dan gurih sekali? " tanya Yolla.
"Itu sukun yang dikasih bumbu pedas, eh tidak ada yang mau kamu ceritakan padamu? Misal kedua orang tua Gara yang berniat menjodohkan kamu dengan putra mereka gitu, " goda Aiko.
"Tidak, lagian Gara sudah punya Alesia. Apakah kamu tidak mau mendengar cerita orang yang tadi siang baru jadian? " sindir Yolla gantian melirik ke arah Flora.
"Flora? Jadian sama siap? " tanya Aiko kaget.
"Em… Em… Aiko apakah kamu akan marah jika aku… "
"Ayo katakan jangan bertele-tele, aku tidak akan marah, " sela Aiko gemas.
Flora mulai menceritakan kesepakatan dirinya dengan Mahesa. Sontak saja Aiko dan Yolla tertawa terpingkal-pingkal.
"Coba jelaskan padaku bagian mana yang lucu?" tanya Flora heran.
"Tidak ada yang lucu, aku hanya tidak menyangka jika kakak aku bisa begitu," jawab Aiko.
"Kalau aku mendukung Kak Mahesa, dia sangat tahu barang yang bagus makanya langsung gerak cepat sebelum banyak saingan," timpal Yolla.
"Ah sudahlah, aku mengantuk dan mau tidur dulu, " sela Flora segera masuk ke kamar.
"Kamu tidak mau mencoba cemilan milik Aiko? " tawar Yolla.
"Tidak, aku sudah kenyang, " tolak Flora.
"Aku juga mau tidur ah, besok takut bangun kesiangan," timpal Aiko.
"Aku juga sudah lelah, semalam malam semua, " balas Yolla.
Esok harinya mereka bertiga tetap bangun kesiangan, bagaimanapun juga semalam tidurnya kemalaman. Setelah buru-buru mandi dan bersiap diri, mereka berlarian menuju halte bus.
Ternyata yang telat bukan hanya mereka bertiga, mungkin karena semalam terlalu semangat belajar sampai larut malah bangunnya jadi kesiangan.
Sesampainya bus di halte dekat Universitas, orang-orang saling berebutan segera turun yang akhirnya membuat macet.
"Ayo cepatlah!" teriak orang-orang yang ada di belakang Aiko.
Karena berdesakan Aiko kesal, sikunya langsung menyodok perut orang di sampingnya lumayan keras. Dengan begitu orang itu mundur sedangkan Aiko bisa keluar duluan.
"Hey gadis psikopat!" bentak orang di belakangnya.
Aiko yang mudah marah justru tertawa lirih karena ada orang yang berani menyinggungnya. Diapun segera berbalik arah.
"Kamu!" pekik keduanya secara bersamaan.
Yolla dan Flora juga ikut kaget, karena tadi tidak sempat memperhatikan jika di bus tadi ada Lucky. Karena beru kali ini mereka melihat Lucky naik bus.
"Dunia ini sempit sekali, bertemu denganmu aku pasti sial!" umpat pemuda itu yang tidak lain adalah Lucky.
Lucky langsung maju beberapa langkah, senyum jahatnya menghiasi bibirnya yang seksi.
"Itu karena kelahiranmu juga merupakan kesialan," balas Aiko tajam.
Mata Lucky langsung mengerjap, Aiko bisa melihat jika pemuda itu terlihat sangat terluka.
"Apa-apaan ini? Kenapa wajah memelasnya membuat aku bersimpati? " batin Aiko kesal.
Lucky yang biasanya bersikap tenang kini berubah marah. Namun emosinya itu di tahan dan pemuda itu langsung pergi begitu saja.
"Eh, apa kalian melihat sikap dia tadi? " tanya Aiko pada kedua temannya.
"Tidak, dan aku tidak mau tau karena aku harus segera ke ruangan praktik. Aku duluan ya? " jawab Flora sambil berlari mengikuti yang lain.
"Aiko, apa kamu tidak mau ikutan berlari biar cepat sampai?" tanya Yolla.
"Oh iya, tempat aku malah lebih jauh dari Flora, " balas Aiko segera kabur.