Aiko tipe gadis pemalas yang selalu menyepelekan segala sesuatu, otaknya tidak pernah mau memikirkan hal-hal yang membuatnya pusing. Namun karena dia sejak kecil sudah dididik tentang ilmu Manajemen sehingga saat tes praktek dengan mudah dia menyelesaikan tugasnya dengan hasil yang memuaskan.
Dengan senyuman bangga dia keluar dari ruangan dan menuju ke tempat tes Flora yang tidak jauh dari sana.
Akan tetapi temannya masih belum selesai, dari dalam Flora mengisyaratkan 'masih lama'.
Aiko hanya mengangguk dan berlalu pergi. Dia bingung mau ke mana, karena jika ke kantin sendirian juga malas.
"Flora pastinya lama, melukis butuh ketenangan dan pikiran yang jernih. Sebaiknya aku tidak mengganggunya agar cepat selesai, terus aku harus kemana? Kira-kira Yolla sedang apa ya? Apakah dia masih sibuk? Ah… Jenuh banget aku, " keluh Aiko.
Tiba-tiba datang Aiko bersama teman lelakinya, Aiko heran sebab biasanya pemuda itu cuek padanya. Dan kali ini tiba-tiba menunjukkan wajah yang lebih ramah.
"Ada apa?" tanya Aiko jutek.
"Fayolla di mana?" tanya Lucky serius.
"Entahlah, sejak tadi pagi aku belum lihat. Kamu menyukainya ya?" goda Aiko.
"Bukan urusanmu!" jawab Lucky ketus.
"Ishh marah, tapi sebelum kamu terluka sebaiknya kamu nyerah saja deh! Dia sudah punya tunangan loh," ejek Aiko sengaja mengerjai.
Namun, bukannya Lucky kecewa, justru pemuda itu tertawa karena melihat tingkah Aiko yang seolah memprovokasinya.
"Kamu sungguh gadis yang tidak punya malu!" umpat Lucky tepat di depan wajah Aiko.
"Apa maksud kamu mengatakan hal itu?" pekik Aiko kesal.
"Intinya kamu adalah perempuan menyebalkan yang pastinya sangat tidak ingin aku temui, " balas Lucky.
Kmudian pemuda itu berlalu pergi.
Seketika hati Aiko langsung mendidih, dirinya yang terbiasa dipuja para lelaki karena kecantikannya tetapi kini di abaikan bahkan dimaki begitu saja.
Baru kali ini Aiko bertemu lelaki yang berani sangat angkuh.
"Satu bulan, akan aku buat kamu mencintaiku.setelah itu aku akan membuangmu seperti sampah yang tidak bisa didaur ulang," batin Aiko menahan emosi.
Ponsel Aiko berdering, dia segera mengambilnya dari dalam tas. Melihat nama Yolla jempolnya langsung beraksi menerima panggilan itu.
[Kamu di mana? Kenapa ponselmu juga tidak bisa dihubungi] tanya Aiko meluapkan amarah.
[Hey, kamu kenapa marah-marah. Tenang, hembuskan napas dan bicara baik-baik] bujuk Yolla menahan tawa.
[Aku sedang kesal sekali, sekarang kamu dimana sih? Aku mau cerita] balas Aiko.
[Aku masih di gerbang Universitas, tadi menemui Gara. Bisakah sekarang kita bertemu di kantin saja? Aku sangat lapar] pinta Yolla dari seberang.
[Baiklah, aku segera ke sana] jawab Aiko mulai mereda emosinya.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi, dari belakang ada seseorang yang menepuk bahu kirinya dengan lembut.
"Barusan yang telpon Yolla ya?" tanya Flora penasaran.
"Iya, kita disuruh ke kantin," jawab Aiko.
"Yup, ayo kita ke sana. Kebetulan akun sudah lapar, " jawab Flora.
Sepanjang jalan mereka berdua hanya diam, tapi bibirnya Flora terus tersenyum.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Aiko heran.
"Tadi lukisanku dipuji banyak orang, katanya keahlianku memang sudah bakat alami," jawab Flora malu-malu.
"Iya, tinggal dipoles lagi pasti kelak menjadi pelukis profesional. Aku juga mengakuimu, padahal aku ini tipe cewek angkuh yang tidak pernah memuji orang lain sekalipun memang hebat. Apalagi jika itu cewek, " ujar Aiko ikut senang.
"Apa tadi kamu juga lancar?" tanya Flora balik.
"Hal seperti itu sudah biasa bagiku," jawab Aiko merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Syukurlah, semoga kita berdua bisa lolos," ucap Flora penuh harap.
Sesampainya di kantin mereka berdua melihat Yolla duduk sendirian sambil melambaikan tangan.
Aiko dan Flora berlarian menghampiri Yolla seperti sudah sepuluh tahun tidak berjumpa.
"Kalian ini, kenapa selalu lari-lari begitu? Kalau jatuh apakah tidak malu? " protes Yolla.
"Stop! Jangan ada yang bicara sebelum aku bertanya!" sela Aiko tegas dengan wajah kesal.
"Ada apa? " tanya Yolla dan Flora bersamaan.
"Aku mau curhat, aku sangat kesal sekali dengan Lucky. Mulai detik ini kalian berdua akan menjadi saksi, jika dalam sebulan aku tidak bisa membuat dia tunduk dan jatuh cinta padaku maka namaku bukan AIko, " kata Aiko tegas.
Yolla dan Flora tertawa, mereka tidak mengira jika Aiko memiliki cara yang unik untuk membalas dendam pada seseorang.
"Aiko, aku justru khawatir kamulah yang jatuh cinta padanya, " sindir Yolla.
"Dan nanti kamu akan bucin setengah mati dan berkata, baru kali ini ada lelaki yang membuat aku jatuh cinta, " timpal Flora.
"Ah kalian berdua tidak asyik," keluh Aiko kesal.
Kemudian mereka bertiga mulai memesan makanan, sambil cerita mengenai tes dan hal lain. Sesekali terdengar suara tawa yang meriah sampai membuat para lelaki di sekitar sana tidak berhenti memandang.
Ketika gadis scorpio itu memang membuat gempar Universitas A, walau belum resmi menjadi mahasiswi tetapi kecantikan mereka sudah populer.
Ketika sudah selesai makan, mereka masih malas beranjak karena terlalu kenyang.
"Eh, Yolla. Kamu belum cerita kenapa tadi menemui Gara? " tanya Aiko.
"Jadi begini, Gara kan sudah di suruh orang tuanya untuk menikah. Dan ternyata hubungan dia dengan Alesia itu dilarang, makanya Gara dan Alesia meminta aku untuk nikah kontrak dengan Gara. Dengan begitu hutang aku langsung lunas, hanya saja Gara dan Alesia adalah pasangan yang sesungguhnya. Ih apaan sekaki kan mereka? Naif sekali aku mau, " ucap Yolla kesal.
"Jangan mau! Enak sekali mereka. Nanti bagaimana dengan masa depan kamu? Walau pernikahan kamu dengan Gara hanya nikah kontrak tetapi nanti setelah cerai kamu akan dipandang buruk menjadi janda. Jangan mau! Pokoknya setelah pulang kuliah kita temui Gara. Aku harus memberi perhitungan padanya! " sentak Aiko tidak Terima.
"Iya Aiko, kamu harus beri perhitungan pada lelaki seperti itu. Aku tidak rela Gara merusak masa depan Yolla. Lagi pula aku merasa dia sengaja mempersulit Adella," timpal Flora.
"Tentu saja, dia berani mempermainkan Yolla sama saja dengan menyinggung aku! Yolla, sekarang kamu masih ada acara? Bagaimana kalau kita temui Gara? " ajak Aiko berapi-api.
"Aku sudah tidak ada jadwal apa-apa.Jam segini dia ada di kantor, " jawab Yolla.
"Ayo sekarang ke sana! Kamu jangan takut, jangan mau ditindas! " bujuk Aiko.
"Terima kasih, " jawab Yolla terharu memiliki sahabat yang baik.
"Kalau sekarang aku tidak bisa ikut, aku kerja, " keluh Flora.
"Tidak apa-apa, kamu malah nanti akan takut jika melihat aku mengamuk, " balas Aiko.
"Kalian berdua hati-hati ya? " ucap Flora.
Tiba-tiba ponsel Yolla berbunyi, gadis itu berhenti sejenak untuk mengangkat telepon dari ayahnya.
[Nak, Dicky tadi tertabrak motor tapi pelakunya kabur]
[Ya ampun, bagaimana kondisi dia sekarang? ]
[Kaki retak akan segera dioperasi. Tapi dokter belum bisa bertindak sebelum Ayah melunasi biayanya terlebih dahulu. Ayah sama sekali tidak ada uang, sudah meminjam ke teman belum dapat juga]
Yolla menangis, saat ini dirinya juga hanya megang uang untuk makan saja. Sungguh terasa sesak di d**a ketika keluarganya dalam situasi sulit tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Aiko yang berada di samping Yolla mendengar semua obrolan.
"Tanyakan butuh berapa?" sela Aiko dengan suara pelan.
[Berapa, Ayah? Aku punya teman yang mau meminjamkan uangnya]
[Total obat dan lain-lain lima puluh juta, sayang. Semua sudah termasuk biaya rawat inap]
Aiko menganggukkan kepala sebagai tanda sanggup membantu.
[Baiklah, aku akan segera transfer. Tapi untuk saat ini aku belum bisa pulang]
[Ucapkan rasa terima kasih pada teman kamu, Nak. Nanti kalau Ayah sudah ada uang pasti Ayah akan mengembalikannya]
[Iya, Ayah. Aku juga akan berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan untuk membantu Ayah]
[Kamu harus semangat belajar, semoga kelak menjadi orang yang sukses]
Tak kuasa menahan air matanya, Yolla langsung menutup teleponnya. Dia merasa frustrasi memikirkan bagaimana caranya mendapat uang banyak, sebab gadis itu ingin segera mengembalikannya pada Aiko dan juga ingin bisa membantu perekonomian keluarganya yang sedang kritis. Belum lagi masalah hutang pada Gara yang seakan menjeratnya.
Flora dan Aiko memeluk Yolla untuk menenangkan, karena memang saat ini sahabat mereka dalam situasi yang terjepit.