Pagi harinya semua sarapan bersama, dan pagi ini Yolla sengaja bangun pagi untuk memasak.
"Yolla, masakanmu lumayan juga," puji Mahesa.
"Terima kasih, Kak," jawab Yolla senang.
"Aiko, belajarlah memasak dengan Yolla. Biar nanti kalau sudah menikah suamimu bisa senang," bujuk Mahesa sambil melirik adiknya.
"Aku? Memasak? Oh tidak, nanti kuku aku bisa rusak," balas Aiko centil.
"Aiko kemana? Kenapa belum muncul?" tanya Yolla heran.
Baru saja ditanyakan, Flora baru muncul.
"Flora, ayo buruan makan. Biar nanti saat tes tidak lesu dan lapar, " ajak Yolla.
"Iya, maaf aku telat karena mau keramas susah sekali. Keningku sakit, tapi aku tidak mau rambutku lepek, " jawab Flora.
"Kenapa tidak minta bantuan aku? " sela Aiko.
"Aku tahu kamu juga pastinya akan sibuk dengan penampilan kamu sendiri, " jawab Flora tersenyum geli.
"Flora, rambut kamu dari pada di urai mending nanti di kelabang saja, terus di kucir ke atas. Pokoknya nanti aku bikin kamu secantik barbie deh, " tawar Flora.
"Baiklah, kita makan dulu yuk, " jawab Flora.
Yolla sudah selesai makan, karena terbiasa kerja keras dan menghargai waktu membuat Yolla terbiasa makan dengan cepat.
Flora pun juga berusaha makan cepat agar nanti bisa segera selesai mengucir rambutnya.
"Yolla, ayo katanya mau menghias rambutku? " Pinta Flora.
"Wah, Iya. Kamu tunggu di sofa biar aku ambil sisir dan talinya, " balas Yolla.
Mahesa diam-diam melirik ke arah Flora. Aiko yang menyadarinya langsung menggoda sang kakak.
"Ehm… "
"Ngapain kamu? " tanya Mahesa.
"Tidak papa, hanya sedang memergoki orang yang sedang terpesona oleh sang tuan Puteri, " sindir Aiko.
"Aku hanya sedang membatin saja, kenapa Flora begitu terlihat panik dan terus membaca buku saat sedang di hias rambutnya, " elak Mahesa.
"Dia selalu takut dalam segala hal. Dari kemarin sibuk membaca buku supaya bisa menjawab soal tertulis nanti, " jawab Aiko.
"Kamu kenapa tidak belajar? " selidik Mahesa.
"Aku sih santai saja, aku yakin pasti bisa lolos," timpal Aiko merasa bangga.
"Kamu memang gadis pemalas. Eh, Flora dan Yolla mengambil jurusan apa?" tanya Mahesa penasaran.
"Jurusan seni, dia hobi melukis. Sedangkan Yolla kedokteran. Dia sangat cerdas sampai kuliah saja tanpa tes dan mendapat beasiswa," jawab Aiko ikutan bangga.
"Coba saja kamu punya setengah dari semangat mereka belajar, pasti Om dan Tante tidak akan sampai menyita mobil dan kartu kreditmu, " tutur Mahesa.
"Ih males kalau bahas itu lagi, sebaiknya aku berangkat kuliah sekarang saja deh, " jawab Aiko ngambek.
"Nah kan, suka seenaknya sendiri, " balas Mahesa tersenyum geli.
"Kak, kamu kemari tidak bawa mobil ya? " tanya Aiko tersenyum penuh arti.
"Kenapa? Mau minta? Maaf ya, dalam hal ini aku tidak mau terlalu memanjakan kamu. Semua yang di lakukan oleh Om dan Tante adalah demi kebaikan kamu, Aiko, " tolak Mahesa.
"Pelit ah, " gumam Aiko merengut.
"Kalau bilang pelit lagi, mulai sekarang aku nggak mau ngasih uang, " sindir Mahesa.
"Tidak, Kak Mahesa yang paling tampan dan juga dermawan, " sela Aiko sambil merayu manja.
"Sudah sana berangkat kuliah, kedua teman kamu sudah siap-siap tuh! " sela Mahesa.
"Iya, Bye... " balas Aiko.
Ketika ketiga gadis cantik itu berpamitan, dari belakang Mahesa tidak bisa berkedip memandang wajah Flora yang begitu ayu dan sangat anggun.
---
Seleksi tes tertulis sudah berakhir, Aiko dan Flora keluar hampir bersamaan menghampiri Yolla yang masih setia menunggu di luar ruangan.
Aiko terkejut karena temannya itu tidak menunggu sendirian.
"Kamu… kenapa bisa di sini? Bukankah kamu tidak mendapat formulir?" tanya Aiko heran.
"Bukannya tidak mendapat, tapi karena dicuri seseorang," sindir Lucky dingin.
Aiko langsung mengalihkan pandangan ke arah lain seolah-olah tidak mendengar apa-apa.
"Yolla, aku pergi dulu ya? Lain kali kita ngobrol lagi, " pamit Lucky berubah ramah.
"Baiklah," jawab Yolla tersenyum sopan.
Pemuda tampan yang selalu memakai kaca mata itu segera berlalu pergi, saat melewati tubuh Aiko sama sekali tidak melirik.
"Yolla, ngapain dia ke sini? Dan sejak kapan kalian jadi akrab?" tanya Aiko dengan pandangan tak suka.
"Kami satu jurusan, apalagi sama-sama jalur beasiswa jadi kita juga satu kelompok nanti, " jawab Yolla.
"Wah, hebat. Tapi kenapa dia kemarin mengambil lembar formulir?" tanya Flora penasaran.
"Kalau itu aku tidak tahu," jawab Yolla jujur.
"Sudahlah, berarti aku tidak perlu merasa bersalah lagi. Karena dia bisa masuk ke sini tanpa formulir itu," timpal Aiko masa bodoh.
"Oh iya, Yolla aku sudah dapat pekerjaan. Menjadi penjaga toko paruh waktu. Nanti setelah ini aku mulai bekerja," sela Flora bersemangat.
"Benarkah? Selamat ya, sekarang tinggal aku bagaimana cara untuk mendapat uang tambahan. Sedangkan sepulang kuliah aku harus bekerja rodi pada Alesia, " balas Yolla bahagia sekaligus bersedih.
"Yolla, kita ini hidup di kota besar. Selain biaya tinggi juga susah mencari pekerjaan. Sudah aku bilang, kamu dekati para lelaki kaya nanti kamu bisa porotin mereka. Asal bukan dari Universitas ini aku rasa tidak masalah, yang penting kamu harus bisa jaga diri baik-baik. Yah, sekedar kasih ciuman dan pelukan tak masalah, yang penting tetap jaga keperawananmu agar punya harga diri, " saran Aiko panjang lebar.
Yolla dan Flora sampai melongo dengan ide Aiko, tetapi pada akhirnya Yolla buntu dan merasa itu adalah jalan yang terakhir.
"Tapi bagaimana aku bisa mencari lelaki yang sekiranya royal tapi tidak m***m? " tanya Yolla ragu.
"Malam ini kamu pulang jam berapa? Akan aku ajak kamu main, " balas Aiko tersenyum jahil.
"Jam tujuh malam, soalnya Alesia mau bepergian dengan Gara, " jawab Yolla.
"Yup, nanti ikut aku ya? Flora mau ikutan tak? "
Dengan sekejap Flora langsung menggelengkan kepalanya. Karena tahu pastinya Aiko akan mengajak ke Club malam.
"Kalian berdua jaga diri baik-baik ya? Jangan sampai terjerumus, " pesan Flora agak cemas.
Aiko merangkul Flora, dan mengelus kepala temannya seperti anak kecil.
"Iya, senakal-nakalnya aku, gini-gini masih memikirkan masa depan. Hanya saja aku punya cara sendiri untuk menggapai mimpi dan menikmati hidup, " bujuk Aiko.
"Aku percaya pada kalian, " balas Flora tersenyum memahami.
Persahabatan tidak memandang apapun, ikhlas menerima perbedaan dan juga saling memahami satu sama lain. Selalu ada di saat butuh, dan juga saking mendukung satu sama lain.
Mereka bertiga segera berjalan keluar dari Universitas.
"Bye, aku langsung kerja ya di toko? " ucap Flora.
"Aku juga langsung mau ke rumah Alesia, " timpal Yolla.
"Aku sendirian dong, " keluh Aiko.
"Atau mau ikutan kerja denganku? Kan masih ada satu lowongan lagi? " saran Flora.
"Tidak deh, kamu tahu sendiri aku ini pemalas tingkat akut, " tolak Aiko sambil nyengir.
Kemudian Flora melambaikan tangan dan berjalan sendirian berlawanan arah dengan kedua temannya.
Tidak lama kemudian ada mobil mewah datang, dan Yolla tidak asing lagi dengan mobil itu.
"Hay Beb, aku antar pulang yuk?" tawar lelaki itu mesra.
Aiko mengedipkan sebelah mata sebagai tanda setuju, gadis itu memang agak malas naik bus umum.
"Yolla, bagaimana kalau kamu berangkat kerjanya minta antar Randy sekalian? Aku jenuh juga ini mau ngapain di rumah, " tawar Aiko.
"Aku tidak enak, " bidik Yolla merasa sungkan.
"Tak masalah kan, Rand? " ucap Aiko.
"Santai saja, teman Aiko jadi teman aku juga, " jawab Randy tak keberatan.
"Ayo buruan naik, " ajak Aiko.
Demi menghormati Flora, Aiko naik duduk di belakang bersama sahabatnya.
"Ran, kamu punya teman yang asyik nggak sih? Tapi jangan m***m dan berengsek ya? " tanya Aiko ceplas ceplos.
"Ada banyak, " jawab Randy.
"Tapi bukan dari murid sini loh, " pinta Aiko.
"Jadi kamu berniat selingkuh dari aku nih? " sela Randy.
"Eh, mana mungkin. Aku cuma pengen Yolla ada kenalan gitu, biar dia ada yang jagain, " ujar Aiko terus terang.
Yolla mencubit lengan Aiko, sangat malu sekali rasanya.
"Iya... Iya, aku ada satu teman yang jomblo. Dia royal banget pasti teman kamu suka, " balas Randy.
"Nah gitu dong, kan asyik kita nanti bisa double date, " ujar Aiko.
Yolla melirik ke arah jendela, entahlah pilihan kali ini sudah tepat atau tidak. Tetapi jika tidak nekad dia juga tidak bisa berkutik saat melihat keluarganya dalam kekurangan.
"Yolla, berpikir realistis saja. Kamu pernah pacaran pakai hati akhirnya malah hancur sendiri kan?" bisik Aiko.
"Kamu benar, mulai saat ini tidak akan aku biarkan aku terluka hanya karena lelaki. Aku harus menjalani semua ini dengan berani untuk keluargaku, " tekad Yolla.
Sesampainya di rumah Alesia, pada saat itu juga ada mobil Gara yang baru datang.
"Randy, Aiko, Terima kasih atas tumpangannya ya? Aku keluar dulu, " ucap Yolla.
"Siap! " jawab Randy ramah.
Setelah keluar, Yolla berpapasan dengan Gara. Karena memang pada dasarnya Yolla gadis cuek diapun merasa enggan untuk menyapa lelaki tersebut.
"Mobil pacarmu dangat mahal, aku rasa cukup untuk melunasi hutangmu, " sindir Gara.
Yolla memilih pura-pura tidak mendengar, sebab jika diladeni malah akan membuat lelaki tersebut semakin menjadi-jadi.
"Kau tidak punya kuping ya? " bentak Gara.
Untung saja Alesia segera keluar, sehingga Gara berubah manis dan tidak mencari masalah dengan Yolla.
"Dasar lelaki munafik! Kalau aku sudah mengumpulkan uang yang banyak aku akan membayar semua hutangku padamu, " batin Yolla kesal.