6. Kakak Sepupu Aiko

1456 Words
Setelah membeli kebutuhan untuk melukis, Flora dan Aiko memutuskan untuk pulang ke paviliun. Sore harinya mereka duduk bersantai sambil menonton televisi, tetapi nyatanya acara apa yang di tonton tidak jelas sebab keduanya malah sibuk mengobrol. "Kira-kira Yolla bisa menghadapi kekasih Gara nggak ya? Dari cerita sepertinya Alesia orang yang suka mengatur dan banyak maunya, apalagi Yolla juga cantik takutnya jika nanti Alesia merasa sedikit cemburu, " ucap Aiko penasaran. "Iya, aku juga ikut khawatir. Semoga saja dia bisa melaluinya dengan lancar," jawab Flora cemas. " Jenuhnya aku! Malam ini kita ke Club yuk? Aku merasa bosan sampai rasanya mau mati. Sepertinya aku haus mangsa," ajak Aiko. "Mangsa apa? " tanya Flora panik. "Aku suka sekali menaklukkan lelaki, kalau mereka sudah mengejar aku rasanya aku puas bisa meninggalkan mereka, " jawab Aiko. "Ih serem, kamu tidak takut kena karma? Jangan begitu lagi ah, " bujuk Flora. "Tapi aku juga agak kurang bersemangat sih, lagi di fase lelah saja menjalani hubungan yang tidak jelas. Habisnya aku belum pernah bertemu lelaki yang benar-benar membuat aku jatuh cinta sih, " gumam Aiko. "Suatu saat pasti akan ada, untuk sekarang fokus kuliah saja deh, " saran Flora. "Ih, kamu sudah seperti Mamiku saja, " balas Aiko tertawa. Flora hanya tersenyum, dalam hatinya juga sangat ingin di perhatikan oleh Mamanya. "Eh, bagaimana? Malam ini mau tidak main ke Club. Minum-minum dikit lah, " ajak Aiko lagi. "Tidak, aku di rumah saja mau membaca buku. Besok kita kan ada tes tertulis, aku takut jika tidak bisa menjawab. Apa kamu tidak khawatir?" tolak Flora cemas. Gadis pemalu itu terlalu takut membayangkan tempat yang banyak alkohol dan lelaki yang berkeliaran. "Kamu memang gadis baik dan patuh, mungkin jika kedua orang tuaku punya anak sepertimu pasti sudah sangat bahagia. Yah…tapi bagaimana lagi? Aku bukan tipe anak yang suka di atur. Dan soal tes tertulis aku yakin pasti bisa menjawabnya. Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu," pamit Aiko masuk ke kamarnya sendiri. "Hati-hati ya?" jawab Flora. "Tenang saja, memangnya siapa orang yang berani mencari gara-gara denganku? " balas Aiko tertawa. Flora hanya tersenyum, terkadang dia ingin sekali memiliki sedikit nyali agar tidak menjadi perempuan yang penakut dan pemalu. Bertemu dengan Aiko dan Yolla benar-benar hal yang paling indah. Aiko meraih remote, mematikan telefis dan matanya fokus membaca buku tentang kesenian melukis. Setengah jam kemudian Aiko keluar dari kamarnya. "Bagaimana penampilanku?" tanya Aiko memutar tubuhnya seperti model. "Cantik, tapi apa tidak terlalu seksi bajunya?" "Ha… ha… kata cantik itu sudah cukup, selebihnya tidak penting. Bye… aku keluar dulu, mungkin pulangnya malam," pamit Aiko tersenyum riang. Aiko menatap kepergian temannya. Aiko adalah orang yang selalu percaya diri, begitu juga dengan Yolla. Mereka berdua tampak cantik dan bersinar dengan gaya masing-masing. Flora beranjak ke kamarnya, menatap dirinya sendiri pada cermin besar. "Sebenarnya aku juga cantik, hanya saja aku yang tidak percaya diri, " gumam Flora bersemu merah. Flora iseng membuka majalah kecantikan, sekarang dia hanya seorang diri di rumah dan bingung mau ngapain juga. Sampai malam kedua temannya belum juga pulang, Flora sudah mulai merasakan lapar. "Mau masak tapi nggak bisa. Apa aku beli nasi goreng saja ya di depan halte itu? Semoga saja masih buka," batin Flora. Gadis lemah lembut itu segera mengambil jaketnya dan keluar dari paviliun. Senang juga dia tinggal di sana, hanya berjalan sebentar sudah banyak yang jualan dipinggir jalan. "Bu, nasi goreng satu porsi. Dibungkus saja," pinta Flora sopan. "Oh iya, tunggu sebentar." jawab Ibu pemilik warung dengan ramah. Ibu itu ingat jika pembeli barusan adalah temannya seorang gadis yang hampir tertabrak mobil. Dengan keihklasan Ibu itu memberikan porsi yang lebih banyak. "Ini, Nona," ucap penjual sembari memberikan bungkusan. "Terimakasih, Bu. Ini uangnya," jawab Flora sambil mengulurkan uang. Bau nasi gorengnya sangat enak. Flora sudah tidak sabar untuk segera menikmatinya. Flora memilih makan di ruang tamu, dia menikmatinya dengan riang, dia juga sadar jika porsi nasi gorengnya semakin banyak. "Mungkin ibu penjual itu merasa berterimakasih, karena kejadian kemarin malah membawa berkah baginya." Setelah habis Flora merasa kekenyangan, dia mulai mengantuk dan segera masuk ke kamarnya. Namun, gadis penakut itu merasa heran kenapa lampu kamarnya mati, karena seingat dia tadi lampu menyala ketika ditinggalkan. "Apa lampunya rusak?" batin Flora. Flora memberanikan diri untuk masuk dan mencari saklar yang terletak di samping ranjang. Kedua tangannya meraba-raba karena kondisi gelap. Namun sesuatu terjadi, tangan lentiknya tiba-tiba menyentuh benda yang mulus seperti kulit seseorang. Aaa…… Flora menjerit sekeras mungkin karena terkejut, dia ingin berlari tapi justru menabrak sisi pintu. Bruakk… "Aduh…" pekik Flora yang sudah terkapar di lantai. Keningnya terasa perih dan berdenyut. Ruang kamar seketika menyala, Flora sangat ketakutan karena ada seorang pemuda yang hanya memakai celana pendek. "Jangan… jangan mendekat!" teriak Flora histeris. "Keningnmu berdarah," kata seorang pemuda tak kalah kagetnya. Flora mengusap keningnya, saat jemarinya di lihat sudah ada lumuran darah yang yang lumayan banyakdia langsung pusing. Bruak…. Ailen tumbang tak sadarkan diri. --- Yolla lumayan capek juga, tadi dia menemani Alesia melakukan pemotretan di tiga tempat yang jaraknya jauh. Untung saja saat pulang Gara menjemput dan secara kebetulan arah rumah Alesia melewati Pavilliun Aiko. Sehingga Yolla bisa mengirit biaya bus. Pukul sebelas malam Yolla baru sampai di Paviliun. "Jadi ini rumahmu?" tanya Gara yang terkesan dengan Pavilliun unik itu. "Keren sekali, " timpal Alesia. "Bukan, aku hanya menumpang pada temanku," jawab Yolla. Tanpa pamit Gara langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Itu orang sudah tidak sayang nyawa ya? Nyetir mobil selalu cepat seperti orang yang dikejar rentenir, padahal ada kekasihnya di mobil itu," gumam Yolla. Tak lama kemudian Aiko juga pulang di antar mobil mewah. Sopir tampan itu bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk Aiko seperti seorang ratu. "Makasih, Honey. Sampai berjumpa lagi," ucap Aiko sambil memberikan ciuman jarak jauh. Yolla merasa ngeri melihat Aiko yang bertingkah sembarangan. Pemuda itu melambaikan tangannya dan segera pergi. "Kamu dari mana? Dan yang barusan itu pacar kamu?" tanya Aiko penasaran. "Aku dari Club, dan dia adalah kenalanku," jawab Aiko riang. "Apa? Baru sehari kenal sudah dekat seperti itu?" tanya Yolla tak percaya. "Kenapa memangnya? Dia tampan dan kaya. Senior kita di Universitas A. Lumayan untuk bersenang-senang, karena aku berniat memutuskan pacarku, apalagi di sini aku tidak bawa mobil jadi kan ada sopir gratis gitu, " kata Aiko enteng. "Ada masalah apa kok mau putus?" tanya Yolla lagi. "Aku bosan, sudah tidak menarik lagi. Terus aku kan di sini, aku butuh orang untuk mengantar aku ke sana kemari, ya mana mau kali aku naik bus terus kecuali saat kuliah, " ucap Aiko tanpa merasa bersalah dan langsung masuk ke Paviliun. Yolla menggeleng-gelengkan kepalanya merasa takjub dengan temannya yang satu ini. Diapun segera menyusul Aiko dari belakang. Sesampainya mereka berdua di lantai atas, mereka terkejut melihat seorang pemuda yang sedang tiduran di sofa sambil menonton televisi. "Kak Mahesa!" teriak Aiko sambil berlari ke pelukan Kakak sepupunya. "Hey… kamu ini masih seperti anak kecil yang manja saja," ucap pemuda yang sangat tampan itu. "Kapan Kak Mahesa ke sini?" tanya Aiko antusias. "Baru saja, itu temanmu yang di dalam terluka. Coba lihat," ucap Mahesa agak cemas. Aiko dan Yolla bergegas masuk ke dalam kamar Flora. Apda saat itu Flora juga baru saja sadar debab mendengar teriakan Aiko tadi, tangannya menyentuh keningnya ternyata sudah diperban. "Kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Yolla cemas. Kemudian Flora menceritakan kejadian tadi saat dirinya terjatuh. "Maaf, aku tidak tahu kalau Aiko mengajak teman menginap. Tadi sebelum ke sini aku sudah kirim pesan pada Aiko tapi tidak di balas, jadi aku langsung masuk saja ke kamar ini yang tidak terkunci," sela Mahesa menjelaskan. "OPS… Maaf, sepertinya ini kesalahanku. Tadi aku terlalu sibuk sampai tidak sempat membuka pesan," ucap Aiko merasa bersalah. "Sibuk apa? Berkencan?" batin Yolla menahan tawa. "Tidak apa-apa. Kalian segera tidurlah! Aku juga akan tidur di sofa. Besok aku akan pindah ke hotel, aku kemari hanya ingin mengambil barang di kamar sebelah saja," kata Mahesa santai. "Jangan! Saya disini cuma numpang. Bagaiman kalau saya saja yang tidur di sofa," Sela Flora. "Itu juga bukan ide yang bagus, apalagi kamu sedang sakit. Sebaiknya Kak Mahesa tidur di kamarku agar bisa mengambil barang yang tertinggal. Dan aku tidur bersama Flora, " saran Aiko. Akhirnya mereka setuju. "Oh iya, Kak Mahesa. Perkenalkan, dia Fayolla dan yang ini adalah Flora," ucap Aiko. "Iya, salam kenal nama aku Mahesa. Aku senang kalau Aiko ada temannya. Jadi aku tidak khawatir dia tinggal di sini," ucap Mahesa tersenyum manis. "Kalau begitu aku mau istirahat dulu ya, Flora semoga kamu cepat sembuh, " sela Yolla yang sangat ngantuk. "Iya, aku hanya luka sedikit kok," jawab Flora. "Kalian tidurlah, aku juga mau tidur, " timpal Mahesa. Yolla dan Mahesa keluar dari kamar secara bersamaan. "Flora, Kakakku sangat tampan kan?" tanya Aiko bangga. Flora hanya mengangguk sambil tersenyum dan wajahnya seketika memerah karena malu. Tapi Aiko tidak melihat karena mereka berdua tidurnya saling memunggungi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD