5. Musuh Baru Aiko

1596 Words
Yolla ingin mengejar kedua temannya, tapi pemuda yang tadi di tabrak Aiko malah menahan tangannya. "Apakah kamu Fayolla? " tanya pemuda tersebut. "Iya, kamu kok bisa tahu? " jawab Yolla terkejut. "Aku Lucky, dulu semasa SMA saat turnamen kita adalah saingan. " "Astaga, aku ingat. Tapi aku tidak menyangka kalau kamu masih mengenali aku. Padahal waktu itu kita tidak sempat berkenalan, hanya saja aku selalu kesal padamu karena sekolahku selalu kalah dari sekolahmu, " balas Yolla ramah. "Sekarang kita jadi satu universitas, semoga kita bisa bekerja sama nanti. Bolehkah aku minta nomor ponselmu? " "Tentu saja, " jawab Yolla yang ingin menambah banyak teman. "Terima kasih ya, " balas Lucky tersenyum senang. "Iya sama - sama, aku tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan rivalku dulu. Oh iya aku pamit duluan ya, lain kali kita ngobrol lagi, " sela Yolla. "Bye… " jawba Lucky melambaikan tangan kiri nya. Yolla heran karena kedua temannya berlari keluar dari area Universitas A. Mau tak mau dia juga ikutan berlari untuk menyusul mereka. "Kalian ini, katanya mau makan," protes Yolla sambil mengatur napas. "Iya makan, tapi jangan di sini. Ayo aku ajak ke tempat yang lebih enak dan nyaman. Aku traktir deh," jawab Aiko tenang. Aiko menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya. Dia mengajak kedua temannya menuju tempat makan lesehan yang lumayan jauh dari Universitas A. "Wah! Tempatnya nyaman sekali," ucap Flora, tangannya dimasukkan ke danau kemudian ikan - ikan kecil bergerombol menggigit jemarinya. Kemudian Flora menjerit segera mengangkat tangannya karena merasa geli. Yolla juga menyukainya. Tempat makannya di sebuah gubuk bambu berukuran kecil, hanya muat untuk sepuluh orang. Tapi gubuk itu dibangun di atas danau dan ada banyak jumlahnya. Di tepi danau juga ditanam berbagai bunga warna - warni sehingga tempatnya memiliki kesan alami. "Ini sangat cocok untuk tempat makan keluarga, karena di sebelah danau juga banyak wahana mainan untuk anak-anak. Kapan ya aku bisa mengajak keluargaku kesini?" timpal Yolla teringat dengan kedua adiknya. "Pasti nanti ada saatnya, yang terpenting sekarang kamu harus mencari uang banyak. Karena dengan uang kamu bisa melakukan apapun," jawab Aiko. "Nah itu, aku sedang stres berat mikirin bagaimana untuk dapat uang? Sedangkan waktu aku nanti habis jadi asisten kekasihnya Gara, " keluh Yolla. "Kamu tenang saja, nanti akan aku kasih cara agar kamu bisa dapat uang tanpa susah patah. Intinya sekarang kita harus makan dulu sebelum aku pingsan, " bujuk Aiko. Tak beberapa lama datang pelayan yang membawa menu masakan. "Pilihlah sesuka hati kalian! Uangku terlalu banyak untuk ku habiskan sendiri," ucap Aiko setengah tertawa. "Apa saat kabur kamu masih meminta jatah uang pada orang tuamu?" tanya Yolla penasaran. "Tidaklah, aku kan bisa minta uang pada Kak Mahesa. Berapapun yang aku mau pasti dikasih," jawab Aiko santai. Yolla dan Flora jadi merasa tidak segan lagi untuk memesan banyak makanan. Lima belas menit kemudian semua sudah tersaji di atas meja yang pendek. Karena makannya hanya duduk di atas tikar. "Aiko, aku masih penasaran. Kenapa kamu tadi berlari saat bertemu dengan Lucky?" tanya Yolla. "Hah? Kamu kenal cowok tadi? " pekik Aiko dan Flora bersamaan. "Iya, dia dulu adalah rival aku saat ada turnamen antar sekolah, " jawab Yolla. Aiko mulai menceritakan tentang lembar formulir yang dia rebut. Mendengar kisah Aiko, Yolla tertawa sampai terbahak - bahak. "Kenapa kamu tertawa? Aku saja malah tegang, takut nanti kalau melihat dia lagi," protes Flora yang memang penakut. "Tenang! Kurasa setelah ini Cowok itu tidak mungkin ada di Universitas A. Karena lembar formulirnya sudah habis," jawab Aiko santai. "Tak kusangka, kamu bisa senekat ini. Tapi dia itu lebih cerdas dariku loh, aku saja yang jauh di bawah dia masih dapat beasiswa. Pastinya dia akan dapat beasiswa juga," ujar Yolla. "Sekali aku menginginkan sesuatu, maka aku tidak akan melepaskannya. Tapi kalau dia mendapat beasiswa ngapain juga mengambil formulir?" balas Aiko tersenyum puas. "Kita lanjutkan mengobrol nanti saja deh, kita fokus makan setelah itu mengumpulkan formulir ke bagian pendaftaran, " bujuk Flora. "Iya, takut aku malas jika nanti ketemu dengan Lucky, " sela Aiko. "Tidak perlu khawatir! Aku masih ada urusan di Universitas A, nanti biar aku yang mengumpulkan formulir kalian," jawab Yolla menenangkan. Tak beberapa lama ponsel Yolla berbunyi, dia segera membuka satu pesan yang masuk. "Dari siapa?" tanya Aiko. "Gara, dia menyuruh aku kalau sudah pulang kuliah langsung ke tempat Alesia, " jawab Yolla lemas. "Sampai kapan kamu bekerja dengannya?" tanya Aiko khawatir. "Entahlah, aku juga tidak tahu, " jawab Yolla pasrah. "Kalau begitu jika ingin bebas kamu harus jadi wanita matre. Dengan kamu mendekati banyak pria kaya kamu akan mendapat uang banyak untuk menebus hutang ke Gara dan juga bisa memberikan untuk keluargamu, " saran Aiko. "Bukan masalah aku mau yang banyak atau tidak, tetapi apakah para lelaki kaya itu yang mau dengan ku apa tidak? " sela Yolla tertawa. "Kamu itu cantik sekali tahu, hanya perlu di poles sedikit saja. Soal fashion nanti biar aku yang urus, " balas Aiko. "Aiko, kamu yakin itu cara yang baik? Aku justru khawatir jika nanti ada yang menodai Yolla, " sela Flora cemas. "Tenang saja, nanti akan aku kasih tahu caranya, " jawab Aiko santai. "Aku pernah baca novel, hampir mirip seperti kisah Yolla. Akhirnya mereka malah jatuh cinta, " sela Flora senyum - senyum sendiri. "Siapa yang jatuh cinta? " tanya Yolla penasaran. "Kamu dan Gara, " balas Flora bersemangat. "Siapa tahu nanti kalian jatuh cinta beneran," timpal Aiko ikut menggoda. "Tidak mungkin, Gara sudah punya tunangan yang sangat cantik. Terlebih lagi aku sudah tidak berminat dengan orang kaya yang sombong. Cukup satu kali aku mengalaminya," Sergah Yolla trauma. Aiko dan Flora ikutan bersedih, mereka tahu asmara di masa lalunya Yolla yng sangat pahit. "Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Yolla mengalihkan pembicaraan. "Mungkin beli beberapa perlengkapan alat lukis, buat hiburan dan latihan di rumah," jawab Flora. "Aku ikut. Kamu kan orang baru, pasti belum tahu daerah sini," sergah Aiko khawatir. "Terimakasih, Aiko." ucap Flora tersenyum manis. Setelah semua makanan dibayar oleh Aiko, mereka segera kembali ke Universitas A. Tapi Aiko dan Flora tidak ikut keluar dari taksi, mereka berdua melanjutkan ke toko besar yang menjual perlengkapan lukis serta buku pelajaran khusus kebutuhan untuk mahasiswa. *** "Wah! di sini lengkap sekali," decak Flora. "Tentu saja. Ini adalah toko yang menyediakan segala kebutuhan kuliah. Pemiliknya adalah istrinya Profesor, jadi harganya lebih murah dibanding lainnya," jawab Aiko sambil memilih beberapa komik. "Eh itu ada lowongan pekerjaan, ayo kita lihat dulu," kata Flora senang. "Kamu mau kerja?" tanya Aiko. "Iya dong, tabungan aku nantinya sedikit - demi sedikit bisa habis kalau tidak sambil bekerja, " jawab Flora. "Yuk, siapa tahu masih ada," balas Aiko mendukung. Mereka berdua melihat secarik kertas yang di tempel di dekat kasir. Kemudian datang wanita tua yang menegur mereka berdua. "Apakah kalian berminat bekerja di sini?" tanya Ibu tua itu, usianya sekitar 60 tahunan. "Oh iya, Bu Profesor. Kebetulan saya punya teman yang sedang mencari pekerjaan, tapi masih kuliah," jawab Aiko sopan. "Kamu Aiko kan? Adiknya Mahesa?" tanya Istri Profesor dengan wajah ceria. "Bu Profesor masih ingat saya?" Aiko seolah tak percaya. "Tentu saja, beberapa tahun yang lalu kamulah yang menolong Ibu waktu mau di jambret di depan Mall. Mana mungkin Ibu melupakan gadis cantik yang jago berkelahi itu," jawab Istri Profesor tertawa lirih. Aiko hanya nyengir mengingat kejadian itu, waktu itu dia masih SMA. "Karena yang mendaftar adalah teman kamu, jadi langsung Ibu terima. Mulai besok setelah selesai kuliah bisa langsung kerja di sini," jawab Istri Profesor. "Perkenalkan, namanya adalah Flora. Dia ramah pasti sangat cocok jadi penjaga toko di sini, " ucap Aiko. Flora malu - malu menjulurkan tangan pada wanita tua itu. "kalian ini gadis yang cantik. Namaku Merlin. Baiklah, kalau begitu Ibu melayani tamu dulu ya." "Terima kasih, Bu Merlin. " Setelah berpamitan Bu Merlin langsung pergi ke kasir lagi. Aiko dan Flora kembali mencari barang-barang yang dibutuhkan. Namun tanpa sengaja Flora bersentuhan tangan dengan seorang pemuda yang sama - sama mau mengambil cat air warna merah. "Maafkan aku," ucap pemuda itu. "Tidak papa," jawab Flora gugup, dia segera menjauh. Namun pemuda itu mengejar dan menghadang Flora di depannya. "Nama aku Kris, kamu siapa?" tanya pemuda itu sambil mengulurkan tangan. Flora berbalik arah mengabaikan pemuda yang bernama Kris itu. Kris mau mengejar lagi tapi di halangi oleh Aiko. "Hey, kalau dia tidak mau di ajak kenalan jangan memaksa!" ucap Aiko tegas. Karena dia tahu jika Flora gadis penakut dan tidak pernah dekat dengan lelaki. "Oh maaf karena sudah mengganggu temanmu," jawab Kris murung. Aiko tersenyum puas, tapi saat dia membalikkan badannya dia malah menabrak seorang pemuda yang tinggi. Dukk… "Auhh…" pekik Aiko. "kamu… Kita bertemu lagi," ucap Pemuda berkaca mata dingin. Aiko ingin berlari, tapi tangannya langsung di cengkeram erat oleh Lucky. " Apa setiap mempunyai kesalahan kamu selalu berlari?" sindir Lucky kesal. Aiko merasa dihina, dia dengan berani menghempaskan tangannya supaya bisa melepaskan diri. "Lalu kenapa? Apa kamu mau minta ganti rugi untuk selembar formulir itu? Berapa yang kamu minta?" tantang Aiko dengan angkuh. "Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan uang, Nona kaya?" jawab Pemuda itu santai tanpa tersenyum. "Lucky, ayo kita harus cepat! Waktunya sudah mepet," ajak Kris yang ternyata adalah temannya. "Kamu lolos lagi kali ini," ancam Lucky dengan senyuman jahat pada Aiko. Aiko naik pitam, dia maju beberapa langkah dan berdiri tepat di depan Lucky. Dia harus mendongakkan wajahnya karena tubuh nya hanya sepundaknya pemuda itu. "Anda pikir saya takut? Anda belum tahu siapa saya," balas Aiko sengaja menantang. "Lucky, Ayo kita segera pergi, jangan berurusan dengan gadis menyeramkan itu," kata Kris. Aiko tidak terima, kemudian melemparkan komik yang ada ditangannya mengenai kepala Kris. Kemudian dia berlalu pergi meninggalkan kedua cowok tampan itu sambil menjulurkan lidah tanda mengejek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD