4. Serunya Mendaftar Kuliah

1587 Words
Malam harinya sesuai perjanjian, Yolla datang juga ke tempat yang tadi sudah ditentukan seorang diri karena tidak ingin melibatkan kedua temannya. "Heh, kau lama sekali! " Yolla dalam posisi bersalah, tak ingin memperkeruh keadaan hanya bisa mengalah. "Maaf, tadi membantu teman untuk belajar dulu, " jawab Yolla pasrah. "Ayo ikut aku!" Yolla menatap pemuda itu, bagaimana mungkin dia mau pergi dengan orang asing yang bahkan namanya saja tidak diketahui. "Kubilang ayo! Aku sangat tidak suka dengan orang yang membantah! " Yolla menghembuskan napas berat, dia tidak bisa berpikir jernih bagaimana bisa bertemu dengan orang yang terkena syndrom kaisar. Mau tak mau Yolla pasrah saja saat di bawa ke sebuah rumah, yang cukup mewah tetapi terletak di tempat yang agak sepi dari perkotaan. "Gila, apakah dia seorang lelaki m***m? " batin Yolla gelisah. Pemuda itu seolah menyadari apa yang dipikirkan Yolla langsung tertawa mengejek. "Aku sama sekali tidak tertarik padamu, ingat! Kamu berhutang padaku, jadi mulai sekarang aku tugaskan kamu menjadi asisten kekasihku. Kamu awasi dia dan laporkan segala kegiatan dia tanpa sepengetahuannya! " "Tapi aku kuliah, " sela Yolla. "Ya kamu bekerja setelah selesai kuliah! " Yolla mengangguk pelan, tidak apa - apa dari pada dirinya harus jual diri. Tetapi dalam hatinya terasa pedih sebab tidak akan bisa bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Yolla rasanya ingin menangis. Tetapi mencoba bertahan, karena air matanya tidak akan mungkin bisa menyelesaikan masalahnya. Setelah keluar dari mobil, mereka berdua masuk ke dalam rumah itu. Kemudian muncul seorang perempuan yang cantik sekali. Untuk beberapa saat Yolla sempat terpana. "Gara, siapa itu? " tanya wanita tersebut tersenyum lembut. "Katamu sedang membutuhkan seorang asisten, makanya aku menemukan yang tepat untukmu. Tapi dia hanya bisa bekerja setelah kuliah, " ucap Gara lembut. Yolla hanya mendengarkan obrolan sepasang kekasih itu, dalam hati mengumpat Gara yang di luar berlagak sombong dan kasar sedangkan dengan kekasihnya begitu lembut. Sungguh bermuka dua! "Namamu siapa? Aku Alesia, " sapa kekasih Gara lembut. "Aku Yolla. " "Baiklah, sepulang kuliah kamu bisa datang ke rumah aku ya? Aku juga paginya ingin menghabiskan waktu bersama Gara jadi aku rasa jadwal waktu kita cocok, " balas Alesia ramah. "Iya, " jawab Yolla. "Kalau begitu kamu bisa pulang sekarang, cukup berjalan selama lima belas menit ke arah kiri akan ada halte bus, " sela Gara. "Iya, " jawab Yolla. Dalam kegelapan malam Yolla menatap ke langit, dulu pernah dia hidup bahagia tetapi sekarang harus berjuang keras hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok. "Yolla, kamu harus kuat. Ada adik - adik kamu yang butuh bantuanmu, " gumam Yolla pada dirinya sendiri. Setelah larut malam Yolla baru sampai di paviliun. Kedua temannya yang merasa cemas masih menunggu di ruang santai. Meskipun mereka menyalakan televisi akan tetapi pikiran keduanya tidak bisa fokus. "Yolla, kamu baik - baik saja kan?" tanya Flora ketika wajah seseorang yang ditunggunya muncul dari tangga. "Aku baik - baik saja," jawab Yolla yang kelelahan. "Kamu masih virgin kan?" sela Aiko. "Masihlah, mana mungkin aku membiarkan Gara menindasku separah itu," sergah Yolla. "Syukurlah, dari tadi kami tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan mu," balas Flora dan Aiko bersamaan. Yolla ikutan duduk di sofa, merebahkan tubuh dan pikiran yang terasa letih. Memang hal paling menyedihkan adalah saat tidak ada uang, tetapi banyak kebutuhan. Sedangkan ingin bekerja juga tidak ada kesempatan. "Yolla, jika kamu ingin cerita kami akan mendengarkan. Setidaknya kamu bisa sedikit lega ada teman untuk berbagi keluh kesah, " bujuk Flora. "Jangan takut! Apapun yang terjadi kita pasti bisa bersama-sama melewatinya," ucap Aiko. "Terima kasih, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian. Sehingga aku tidak merasa kesepian, " balas Yolla. Setelah puas mengobrol akhirnya mereka bertiga merasa mengantuk. Tanpa disadari Mereka tertidur di sofa dengan posisi berdempetan saling tindih. Paginya mereka terbangun sambil mengeluh. "Aduh, punggungku mau patah," keluh Aiko. "Pundak kiri ku kaku sekali, siapa yang semalam bersandar padaku?" sindir Yolla melirik ke arah Flora. "Maaf, kakiku juga semalaman ditindih Aiko sampai semutan," jawab Flora tak mau kalah. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, tapi ujung - ujungnya mereka heboh karena sudah kesiangan untuk ke Universitas A. Setelah mandi dengan tergesa - gesa dan bersiap-siap mereka segera menuju ke Halte Bus. "Aku sangat merindukan mobilku," keluh Aiko dalam perjalanan. "Belajarlah mandiri, Flora saja tidak mengeluh," sindir Yolla yang sudah terbiasa berjalan kaki jarak jauh. "Setelah ini kita naik apa?" sela Flora penasaran. "Tidak perlu, cukup jalan kaki lima menit sudah sampai di pintu gerbang universitas" jawab Aiko mantap. "Apa kamu pernah ke sana?" tanya Yolla. "Tentu, kakak sepupu aku dulu lulusan terbaik Universitas A. Jadi aku sudah beberapa kali bermain ke sana," jawab Aiko bangga. "Wah keren, kalau aku tidak tahu bisa masuk di sana apa tidak, " balas Flora mengeluh. "Percaya dirilah, kamu pasti bisa dengan kemampuanmu, " bujuk Yolla sambil menepuk bahu Flora. Di sepanjang jalan banyak orang-orang seumuran mereka yang sepertinya juga mau mendaftar di Universitas A yang terkenal bergengsi. "Oh tidak! Formulir pendaftaran sangat terbatas, kita harus cepat-cepat mengambil sebelum kehabisan," teriak Aiko sambil berlari. "Aku sih tidak perlu mendaftar ulang. Karena aku langsung diterima," kata Yolla tenang. "Kenapa tidak bilang dari tadi?" pekik Flora, gadis itu langsung berlari menyusul Aiko yang sudah jauh di depannya. Yolla hanya tertawa melihat mereka berdua yang berlarian seperti tikus dikejar kucing. Dia sendiri memutuskan untuk pergi ke perpustakaan mencari beberapa buku yang menarik. --- *** Di depan ruang pendaftaran Aiko keluar dengan wajah kecewa. "Kenapa, apakah sudah habis?" tanya Flora sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berlarian dari jarak lumayan jauh. "Formulir pendaftaran cuma tinggal ini yang terakhir," jawab Aiko menyesal. "Tidak apa - apa. Lagian aku juga tidak yakin bisa masuk ke Universitas ini. Niatku sebenarnya hanya untuk mencari ibuku," bujuk Flora tersenyum tegar. "Tunggu! Kamu jangan mudah menyerah. Ini kamu ambil formulir ku," sela Aiko sambil menatap ke arah punggung seorang lelaki bertubuh tinggi jangkung. Flora tidak mengerti dengan maksud Aiko, dia hanya berdiri mematung sambil menerima selembar kertas formulir yang tadi diserahkan oleh sahabatnya. Aiko berjalan mendekati pemuda jangkung itu, secepat kilat dia merebut formulir pendaftaran dan kabur secepat mungkin. Flora sampai terkejut melihat kelakuan nekat temannya, dia ikutan berlari mengejar Aiko. Namun pemuda yang direbut formulir pendaftarannya hanya diam tak merespon. Setelah berlarian cukup jauh Aiko duduk di kantin sambil memesan minuman. "Kamu gila!" pekik Flora sambil duduk mengatur napasnya. kelakuan temannya sampai membuat jantungnya mau meledak. "Dalam situasi yang darurat kita harus menggunakan akal kita, walaupun dengan cara licik," jawab Aiko membela diri sendiri. "Aku sampai mau jantungan tadi. Apa kamu tidak merasa kasihan dengan pemuda itu?" tanya Flora cemas. "Anggap saja itu bukan keberuntungannya, kamu tidak perlu takut karena semua biar aku yang tanggung," jawab Aiko santai. "Terserahlah! Yang penting aku mau minum dulu," Flora merebut minuman yang dipegang Aiko. "Hey, pesan sendiri dong," protes Aiko. Namun sudah telat, karena minumannya sudah habiskan Flora. "Di mana Yolla ya?" tanya Flora mengalihkan pembicaraan. "Kirim pesan saja!" perintah Aiko dengan wajah cemberut. Flora segera mengirim pesan. Mereka berdua segera beranjak dari kantin setelah mendapat kabar dari Yolla. Aiko lumayan paham dengan lokasi Universitas A yang sangat besar itu. Sehingga mereka berdua tidak perlu kesulitan. Sampai di perpustakaan mereka berdua menemukan Yolla yang duduk di kursi paling ujung. "Kenapa duduk di kursi paling belakang?" tanya Aiko. "Mencari aman, karena kalau kita bertiga jadi satu pasti nanti heboh," jawab Yolla menahan tawanya. "Kamu sedang membaca apa?" tanya Flora pada Yolla. "Buku pengobatan, entah kenapa aku merasa sangat tertarik. Kalian mau masuk jurusan apa?" Yolla balik bertanya. Aiko dan Flora hanya saling berpandangan karena belum tahu apa yang mau dipilih. "Sebaiknya pilihlah sesuai minat kalian atau cita-cita kalian," nasihat Yolla pada kedua temannya yang tengah kebingungan. "Aku terlalu malas memikirkan soal pelajaran, tapi sebagai anak tunggal aku dituntut meneruskan perusahaan orang tuaku," jawab Aiko. "Aku juga lemah dalam pelajaran, tapi sejak kecil hobi aku melukis," timpal Flora tersenyum malu. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Aiko mengambil jurusan manajemen sedangkan Flora jurusan seni. Yolla menyarankan mereka berdua untuk mengambil buku sesuai jurusan masing-masing. Karena besok mereka akan mengikuti tes. "Melihat buku ini sepertinya aku lumayan percaya diri, karena sejak sekolah menengah pertama aku sudah les khusus sih," ucap Aiko sambil menutup bukunya. "Wah, berarti sejak kecil kamu memang sudah di gembleng supaya kelak jadi penerus bisnis yang hebat," jawab Yolla. "Kalau kamu rencananya mau melukis tentang apa?" tanya Yolla gantian pada Flora. "Mungkin Mama kandungku, walaupun hanya melihat dari foto lawas tapi aku bisa membayangkan jika Mamaku sangat cantik," Jawab Flora tersenyum pahit. "Sudah tentu, karena kamu sebagai puterinya juga sangat cantik," puji Yolla menghibur sahabatnya. Mereka kemudian fokus dengan bacaan masing-masing. Yolla meskipun sudah cerdas tapi masih tekun belajar. Flora juga semangat belajar karena dia khawatir besok tidak bisa lolos tes tertulis. Sedangkan Aiko malah asyik membaca komik. Karena dia adalah gadis yang mudah merasa bosan dalam hal apapun. "Apa kalian tidak merasa lapar?" tanya Aiko melirik keduanya. "Sebenarnya iya, tapi aku takut mengganggu belajar kalian," jawab Yolla meringis. "Kalau lapar begini bagaimana mungkin kita bisa konsentrasi," timpal Flora yang juga kelaparan. Mereka bertiga tertawa karena kepolosan mereka sendiri, sejak pagi mereka memang belum sarapan pantas saja kelaparan. semua pengunjung perpustakaan menatap tajam tiga gadis yang bikin gaduh. Mereka bertiga menunduk malu dan segera kabur. Aiko yang paling di depan tanpa sengaja menabrak d**a bidang seseorang, Duukk… "Auchh" pekik Aiko mengelus jidatnya yang terasa sakit. "Kamu… pencuri," ucap pemuda yang ditabrak Aiko. Pemuda berkaca mata itu sangat tampan, wajahnya terlihat familiar bagi Aiko dan Flora. Setelah menyadarinya mereka berdua segera kabur duluan, sedangkan Yolla yang tidak tahu apa - apa merasa heran dengan sikap kedua temannya yang dari tadi pagi hobi berlarian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD