Flora mulai senang dengan pekerjaanya, walau melelahkan harus mondar-mandir tetapi jika saat sepi dia bisa membaca beberapa buku koleksi milik Bu Merlyn.
"Selain bekerja aku bisa belajar di sini, jadi tidak hanya mendapat uang tapi juga ilmu, " batin Flora senang.
"Hey, kamu kenapa dari tadi berdiri di sana? Mengintip Flora ya? " tegur Bu Merlyn.
"Flora melirik ke arah yang dituju oleh bosnya, rupanya ada lelaki yang dia tahu namanya adalah Kris.
" Maaf, Bu. Aku hanya ingin mengenal dia tapi dianya takut padaku, " jawab Kris jujur apa adanya.
Bu Merlyn tersenyum, sebagai orang yang pernah muda pasti sangat tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.
"Kemarilah, jadilah lelaki sejati. Kalau caramu begitu hanya akan menakuti Flora saja, " bujuk Bu Merlyn.
Secara perlahan Kris mendekati Flora, tersenyum nyengir antara senang dan malu. Begitu juga dengan Flora yang memang masih kesulitan untuk beradaptasi dengan teman baru apalagi lawan jenis.
"Hey anak lelaki, mengobrolah dengan santai. Jangan jadi pengecut yang bisanya menguntit, " sindir Bu Merlyn kemudian meninggalkan kedua anak muda yang sedang canggung itu.
"Flora, maafkan aku karena mengganggagu kamu. Aku hanya ingin berteman denganmu, " ucap Kris gugup.
"Iya," jawab Flora tak kalah gugupnya.
Tetapi untung saja Kris pemuda yang sopan, awalnya memang terlihat menyebalkan karena saat ingin mengenalnya terkesan memaksa.
"Kamu dari tadi di sini? Kenapa tidak pulang? " tanya Flora penasaran.
"Iya, aku dari tadi ingin berkenalan denganmu tetapi aku takut. Dan hanya bisa berdiri di sebelah sana sambil melihat kamu yang asyik membaca, " jawab Kris.
Flora tertawa, tidak menyangka ada lelaki yang bisa pemalu juga seperti dirinya.
Kemudian secara perlahan mereka mulai mengobrol mengenai Universitas A, Flora merasa nyaman dan berpikir tidak ada salahnya kalau mencoba berteman dengan banyak orang.
Setelah toko di tutup, Kris menawarkan Flora untuk di antar.
"Tidak usah repot-repot, aku bisa naik bus, " tolak Flora.
"Jangan sungkan, kebetulan arah kita sama," bujuk Kris.
Flora berpikir sejenak, lagian kalau searah itu memang tidak akan merepotkan. Diapun mengangguk.
Saat Flora masuk ke mobil Kris, Tiba-tiba datang mobil Mahesa.
"Itu Kak Mahesa, apakah dia mau menjemput aku atau menemui Bu Merlyn? Astaga… Kenapa aku menjadi gemetar begini? " batin Flora.
"Flora, kenapa kamu tegang begitu? Tenang saja aku tidak akan berbuat jahat padamu, " tanya Kris tersenyum manis.
"Maaf ya, aku hanya belum terbiasa, " jawab Flora.
Manisnya… Kris begitu bahagia bisa dekat dengan Flora yang sangat cantik dan lemah lembut itu. Pemuda mana yang tidak akan merasa bangga bisa mengenal gadis secantik Flora.
Sesampainya di Paviliun, Flora syok karena sudah ada mobil Mahesa di sana.
"Ya ampun, apa tadi aku salah lihat? Kenapa sekarang mobil Kak Mahesa sudah ada di sini? " batin Flora keheranan.
"Flora, Terima kasih karena kamu mau aku antar. Lain kali aku dengan senang hati bisa mengantar kamu lagi. Kita teman jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan ya, " ucap Kris.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, " jawab Flora.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Bye, " balas Kris berbunga-bunga.
"Iya, " jawab Flora dengan polosnya membalas lambaian tangan Kris.
Setelah mobil Kris berlaku pergi, Flora berniat untuk masuk. Tetapi saat melewati mobil Mahesa, pemuda itu langsung keluar membuat Flora kaget.
"Kak Mahe… "
Mahesa menarik tangan Flora dan mendekap erat, kemudian mencium bibir Flora dengan gemasnya.
Flora bengong, tubuhnya sangat kaku dan lututnya terasa lemas. Dia sangat kaget dengan apa yang barusan di lakukan oleh kakak sepupu Aiko ini.
"Ini hukuman karena kamu berani dekat dengan lelaki lain, jika masih berani lagi maka aku akan berbuat lebih dari ini. Ingat, kamu adalah wanitaku! " bisik Mahesa kemudian masuk ke mobil lagi dan berlalu pergi.
Seketika jantung Flora berdetak kencang, dia menyentuh lagi bibir yang tadi dikecup oleh Mahesa.
"Dia mencium ku?"
Flora sangat malu dan masuk ke dalam rumah, perasaan campur aduk yang membuat merasa bingung pada diri sendiri.
---
Malam ini Flora sendirian di rumah, sebab kedua temannya sedang kencan buta. Dia sama sekali tidak tertarik, lebih tepatnya takut.
Flora memilih di rumah dan mencoba menghibur diri dengan melukis sesuatu. Baru saja dia menggores satu garis, tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan Paviliun.
"Mereka baru saja berangkat, kenapa sudah pulang lagi? " gumam Flora.
Namun siapa sangka, orang yang muncul dari tangga bukanlah kedua temannya, melainkan seseorang yang ingin dia hindari untuk saat ini.
Flora langsung meninggalkan alat lukisnya, kemudian dia berlari menuju kamar tidur.
Mahesa hanya tersenyum karena pemuda itu sudah mengenali karakter Flora yang penakut.
Sedangkan di dalam kamar Flora menyandarkan punggungnya di pintu, biarpun sudah di kunci tapi hatinya was-was kalau sewaktu-waktu sepupu Aiko itu bisa masuk.
Flora masih ingat kejadian tadi sore, dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya. Apalagi itu adalah ciuman pertama nya yang pastinya membuat Flora akan salah tingkah.
Kemudian Mahesa mengetuk pintu kamar Aileen secara pelan, membuat Aileen merasa deg-degan.
Tok… tok… tok
"Aku sudah mendapatkan alamat Mama kamu loh, kalo dalam hitungan ketiga tidak kamu buka pintunya, maka aku akan langsung pulang," ucap Mahesa dari luar.
"Mama? Ah iya, kedatangan aku kemari untuk ini, " ucap Flora.
Tanpa berpikir panjang Flora segera membuka pintunya, tapi dia masih belum berani menatap wajah tampan pemuda di depannya.
"Kamu mau menemui Mama kamu tidak?" tanya Mahesa mesra.
"Iya," jawab Flora lirih.
"Kalau begitu malam ini aku harus dikasih hadiah dong," goda Mahesa dengan senyuman menawan.
"Apa?" pekik Flora kaget.
"Bukankah itu perjanjian kita?" tanya Mahesa mengingatkan.
"Hadiah apa? " tanya Flora semakin gugup.
"Malam ini tidur bersama, bagaimana?" tanya Mahesa lagi.
"Tapi aku takut hamil di luar nikah," ucap Flora ketakutan.
"Bagaimana kalau kita menikah dulu sekarang? " goda Mahesa semakin senang.
"Aku masih kecil, kuliah saja belum lulus," jawab Flora serasa ingin menangis.
Mahesa tertawa lirih, kemudian memeluk Flora yang sangat imut dan menggemaskan itu.
"Jadi nanti kalau kamu sudah dewasa mau mengandung anakku?" goda Deon lagi ketagihan.
"Bu… Bukan begitu," sergah Flora cemas dan malu.
Mahesa tertawa semakin keras dan langsung masuk sambil mengunci kamar, pemuda itu tersenyum melihat wajah cantik Flora yang tengah ketakutan.
"Kenapa dikunci? Eh maksudnya biar aku buatkan minum untuk Kak Mahesa dulu, " tanya Flora panas dingin.
"Dari kemarin aku belum tidur karena mencari keberadaan Mama kamu, malam ini aku menginap di sini ya?" pinta Mahesa tersenyum manis.
Tidak bisa dipungkiri jika terpesona dengan ketampanan pemuda di depannya itu, tapi akal sehatnya masih waras sehingga dia bisa mengendalikan diri sendiri.
"Silahkan, biar aku tidur di sofa," jawab Flora.
Mahesa langsung menarik tubuh Flora dalam pelukannya.
Flora sangat ketakutan dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi tenaganya tidak cukup kuat mengalahkan tubuh kekar pemuda tampan itu.
"Tenanglah! Aku tidak akan macam-macam padamu, seandainya aku ini lelaki b******k mungkin malam itu aku sudah mengambil keuntungan darimu dan memperkosamu. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja, setelah ini aku yang akan pindah ke sofa, " bisik Mahesa.
Flora terdiam, dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini.