“Mas, kamu lihat kondom kita tadi gak ya? Kok hilang ya Mas kondomnya, jangan-jangan ada di tas hitam kamu. Coba kamu cek dulu, nanti ketahuan istrimu. Cepat kabari aku ya kalau sudah ketemu, soalnya aku cari-cari dari tadi gak ada kondomnya. Tas hitam kamu ada di mobil kan, Mas?” tanya Soraya lewat pesan w******p pada Dirga, wanita itu menduga kemungkinan pria itu sudah sampai di rumah istrinya.
Dirga yang baru akan makan malam bersama istrinya merasa resah setelah melihat pesan dari Soraya. ‘Soraya bodoh, kenapa dia bisa teledor seperti ini?!’ batin Dirga.
Dirga tersenyum pada istrinya. “Sayang, tas hitam tadi kamu taruh mana ya?”
“Ada di dalam kamar. Mau kuambilkan?”
“Tidak usah, aku akan ambil sendiri.”
“Baiklah.”
Dirga segera masuk ke dalam kamar dan mencari tas hitamnya. Dirga membawanya ke dalam kamar mandi, dia keluarkan semua barang yang ada di dalam tas hitam itu. Namun Dirga tidak menemukannya juga. Dirga langsung mengirim pesan pada Soraya, bahwa kondom itu tidak ada di dalam tas.
“Mas? Sudah ketemu tasnya?”
“Sudah, aku buang air besar sebentar.”
Ting!
Suara pesan masuk dari Soraya terdengar.
“Mas, kondom kita tidak ada di sini. Mungkin kamu lupa membawanya. Jangan sampai ditemukan oleh istrimu. Aku sudah membersihkan tempat kita tadi, tapi kondomnya tetap tidak ada.”
Dirga mengumpat dalam hati, dia mencoba mengingat-ingat di mana dia melepas kondom sehabis melakukan hubungan badan dengan Soraya. Dirga baru ingat kalau kondomnya berada di dalam tas coklat khusus kaos kaki, dan juga dasi.
Dirga langsung bergegas keluar dari kamar mandi, dan segera menuju ke mobilnya. Dia mencari tas coklat miliknya.
“Cari apa sih kamu, Mas?”
“Tas coklat, ada kaos kaki yang kotor, mau kutaruh di mesin cuci.”
“Sudah kuletakkan di mesin cuci kok, Mas.”
“Apa!” Dirga kaget, dia berdebar sambil menatap kedua mata istrinya. “Lalu mana tasnya?”
“Tasnya aku taruh di dalam lemari. Ada apa sih, Mas?”
“Enggak kok, kamu duluan makan, aku sebentar lagi nyusul.”
Dirga memastikan istrinya duduk di meja makan, setelah memastikan dia baru mencari kondom bekas pakai itu.
Hampir menggila, Dirga tidak menemukan kondom itu. “Sialan, ke mana kondomnya?” Dirga meremas rambutnya.
“Apakah Anyelir menemukan kondom itu, dan dia berpura-pura tidak terjadi apapun? Ah kurasa tidak mungkin, Anyelir bukan orang yang mudah mengelola emosi, dia pasti akan marah kalau memang menemukan kondom itu.”
Akhirnya Dirga ke meja makan menyusul istrinya untuk makan malam, dia tidak lagi memikirkan tentang kondom bekas itu, Dirga berpikir kalau Soraya telah membuangnya ke tempat sampah dan lupa akan hal itu.
Anyelir segera menyendokkan nasi kepada suaminya. “Mas, kamu mau makan apa?”
“Berikan aku daging saja, Anyelir.”
“Daging ini tadi dari Soraya. Soraya mengirimkannya siang ini menggunakan kurir.”
Dirga seperti meledak otaknya, dia langsung menatap wajah Anyelir. Tetapi di wajah Anyelir hanya tampak senyuman manis. “Kenapa Soraya kirim ini? Dia tidak bilang apapun padaku.”
“Apa kamu tadi terbang sama dia, Mas?”
“Iya, jadwal tadi aku terbang sama dia.”
“Begitu ya, mungkin Soraya tau kalau kamu suka daging, jadi dia kirim ini ke sini. Soraya baik, Mas, dia sangat perhatian sama kamu ya.”
DEG!
Jantung Dirga sangat kencang detaknya, dia tidak mampu menekan rasa gugupnya. Senyumnya pun terlihat aneh. Dirga sangat mencintai Anyelir, mendapatkan Anyelir saat dulu tidaklah mudah. Dirga harus melewati banyak rintangan, Dirga tidak direstui orang tua Anyelir karena profesinya sebagai pilot yang sering terbang meninggalkan istri di rumah.
“Soraya memang baik, dia perhatian sama semua orang. Dia mengirim daging ke teman-teman yang lainnya juga, bukan cuma padaku saja, Sayang.”
“Oh begitu ya, Mas. Aku salut deh sama Soraya, dia baik sekali. Tapi kenapa perempuan baik seperti dia belum ada jodohnya ya, Mas? Kalau aku jadi pria, aku pasti akan menikahinya.”
“Urusan jodoh adalah urusan Allah. Soraya juga sedang berusaha mencari, dengan caranya yang bersikap baik seperti ini, semoga ada yang tertarik padanya.”
“Semoga Soraya dapat suami seperti kamu ya Mas.”
DEG!
Jantung Dirga kembali berdetak cepat. “Kenapa kamu ngomong begitu, Anyelir? Soraya menyukai pilot senior, dia menyukai Pak Ridwan. Dia tidak mungkin mendambakan pria seperti aku untuk dijadikan suaminya. Aku ini pria idamanmu, tidak boleh ada wanita lain yang mengidamkan aku, hanya Anyelir seorang saja yang boleh.”
“Hahahaha, kamu bisa aja, Mas.” Anyelir mencubit pinggang Dirga.
Rumah tangga mereka baik-baik saja, tidak pernah ada konflik, bahkan terkesan lurus-lurus saja. Ekonomi mereka di atas rata-rata, kehidupan yang harmonis, hanya saja Anyelir belum diberi kepercayaan menjaga seorang bayi di rahimnya.
Mereka pun makan malam dengan gurauan dan manja khas dari Anyelir. Dirga sangat menyukai sikap manja Anyelir yang selalu dekat-dekat padanya.
Anyelir wanita cantik dengan alis tebal, rambutnya lurus berwarna hitam, matanya seperti warna capucino, terdapat kumis tipis di atas bibirnya yang menambah kesan manis juga sexy.
“Mas, tadi aku nemu bungkusan aneh di depan, pas aku mau beresin sepatu kamu.”
Mata Dirga langsung mengarah ke wajah Anyelir. “Bungkusan apa?”
“Hanya bungkusan kecil kresek hitam, aku langsung membuangnya begitu saja ke tempat sampah, karena terlihat basah dan menjijikan. Itu apa sih, Mas?”
Jantung Dirga seperti mau meledak, keringat dingin langsung keluar dari dahinya, kakinya mulai gemetar. Dirga tergagap, “Ka–kamu buang bungkusannya, Anyelir?”
“Iya Mas, sebenernya mau kubuka, karena aku penasaran itu apa, tapi tidak jadi karena aku jijik. Langsung kubuang begitu saja ke tempat sampah. Kamu kenapa sih, Mas? Kok kamu gugup begitu?”
“Enggak, aku masuk angin. Kerokin aku ya nanti.”
“Ya ampun, aku buatkan wedang jahe dulu ya, Mas. Kamu kok gak bilang dari tadi sih.”
Anyelir sibuk mencari jahe di dapur, dan juga mencari madu. Dia sangat cemas kalau suaminya sakit, cemasnya melebihi jika dirinya sakit.
Dirga melihat Anyelir yang sedang sibuk di dapur, Dirga melipir ke depan. Dia mencari bungkusan yang dimaksud Anyelir. “Di mana bungkusan itu? Jangan-jangan itu kondomnya.”
Dirga mulai mengorek tempat sampah kecil warna putih itu. Dia mencari-cari sampai dia tumpahkan semua sampah yang ada di tempat sampah. Akhirnya ketemu bungkusan kresek hitam yang terlihat basah. Dirga segera membukanya, dan benar saja itu adalah kondom bekasnya dengan Soraya.
“Sial, kenapa bisa terjatuh di sini sih. Untung saja Anyelir tidak membukanya.”
“Mas! Hp kamu bunyi tuh,” teriak Anyelir.
“Iya iya!”
Dirga cepat-cepat membereskan semua sampah yang dia tumpahkan tadi. Bungkusan tadi dia letakkan di saku celana. Dirga lari kecil menuju meja makan, betapa terkejutnya dia melihat nama Soraya yang menelponnya. Mata Dirga menatap punggung Anyelir yang masih mengupas jahe.
“Dari siapa, Mas?”
“Oh ini dari staff, ada penjadwalan ulang.”
“Kamu mau terbang lagi, Mas?”
Dirga tidak menjawab Anyelir, tapi dia langsung keluar menerima telepon dari Soraya. Dirga berbisik menerima telepon dari Soraya.
“Ada apa? Kamu jangan telpon kalau aku di rumah, ngeyel banget sih kamu!”
“Mas, aku cuma mau tanya tentang kondom, aku masih kepikiran, sudah ketemu belum?”
“Sudah, Anyelir yang menemukannya, untungnya kamu bungkus, dia belum sempat membukanya.”
Astaga, syukurlah. Coba kamu cek, Mas. Kondomnya kering gak?
“Maksudmu apa?”
“Aku takut kondomnya bocor, coba lihat sebentar.”
Dirga membuka bungkusan itu, dengan perasaan jijik dia memeriksa kondom itu, betapa terkejutnya kondom itu robek kecil di bagian ujungnya.
“Sialan kamu Soraya, kamu mau jebak aku?! Kondomnya bocor!” bentak Dirga dengan suara tertahan agar Anyelir tidak mendengar suaranya.