Abigail duduk dengan kekesalan yang masih menumpuk di hatinya. Bukan karena pria itu memaksanya berada di mobilnya. Tapi karena sejak tadi mereka belum juga menemukan mobil yang membawa Percy. Abigail ingin tahu apa anaknya masih tidur atau bangun. Dia perlu melihat keadaannya dan yang membuat Abigail lebih bingung adalah seberapa jauh rumah Ethen. Sejak tadi mereka tidak sampai-sampai juga. Jika dia bisa menghitungnya dengan jam mungkin telah dua jam berlalu. Membuat Abigail tidak tenang.
Jelas Abigail tidak bisa begitu saja bertanya tentang berapa lama lagi mereka akan sampai. Itu malah kerasa kalau dia tidak tahu alamat rumah pria itu.
"Jika lelah kau bisa tidur dulu,"
Abigail meletakkan kepalanya di sandaran. "Bangunkan aku kalau sudah sampai."
Gadis itu memejamkan matanya dengan pikiran kosong saat dia baru sadar kalau dia memang sangat ngantuk. Tadi malam sepertinya dia mendapatkan tidurnya dengan sangat cukup tapi sekarang dia malah masuk dengan tenang ke mimpinya.
Tapi lelapnya seperti baru saja terjadi saat dia merasakan sentuhan ringan di pipinya dan membuat matanya mengerjap dan perlahan terbuka. Jantungnya seperti lompat dari dadanya begitu wajah pria itu tepat ada di depan wajahnya. Abigail dengan cepat memundurkan dirinya, tapi dia tidak bisa ke mana-mana. Tubuhnya terhimpit antara pria itu dan pintu mobil.
"Apa...yang kau lakukan?"
Ethen tersenyum dengan miring. Tampak mengejek. "Kau takut padaku?"
Abigail berdehem dengan canggung, berusaha bergerak dengan sedikit leluasa tapi sulit saat Ethen sungguh tidak bergerak di depannya. Pria itu harusnya menyingkir, bukankah dia membenci Abigail? Atau Evelyn lebih tepatnya.
Ethen berdecak. "Penakut,"
"Kau bisa enyah dari depanku sekarang, Ethen. Aku bukan penakut, aku hanya tidak suka saja terlalu dekat denganmu."
"Tidak suka? Lalu apa yang kau lakukan selama lima tahun ini denganku? Memberikan aku segalanya dan terluka karena aku. Sekarang kau mengaku tidak suka." Ethen meniup wajah di depannya.
Abigaik terpejam sesaat dan saat dia kembali membuka matanya, dia harus kehilangan seluruh darah di tubuhnya. Bibir Ethen menempel di bibirnya dengan lembut. Menekan tanpa bergerak yang membuat Abigail tidak tahu harus bereaksi seperti itu. Tampaknya menghadiahkan satu tamparan saat ini tidak begitu berlebihan.
Itulah yang akan dilakukan Abigail dan tangannya malah berakhir diam di tempat. Ethen sudah lebih dulu mengantisipasi serangannya yang membuat kedua tangannya berakhir di dalam cengkraman tangan pria itu. Mata Abigail melotot tidak percaya. Dia tidak pernah semudah itu terbaca namun Ethen seakan selalu tahu apa yang akan dia lakukan. Membuat Abigail setengah frustasi rasanya.
Hingga saat pria itu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, barulah dia mundur dan dengan segera mengusap bibirnya dengan ibu jarinya. Abigail rasanya ingin mengutuk diri. Jelas perasaan Evelyn yang dianggapnya telah memudar datang kembali dan menjadikan sentuhan Ethen sebagai pemicunya.
Itulah yang membuat Abigail membalas ciuman pria itu dengan sepenuh hati dan Ethen yang tahu pancingannya berhasil, melepaskannya. Semudah itu Abigail kalah di mata pria itu.
Ethen kembali duduk di kursinya dan seringaian tidak hilang di wajahnya. "Masih bisa mengatakan tidak suka?"
Abigail menatap dengan kesal pada dirinya sendiri. Dia tidak akan pernah mau lagi berdekatan dengan pria itu. Ethen melemahkan pertahanannya dan dia harus segera menjauh darinya. Abigail membuka pintu mobil dan keluar dengan menutup pintu itu lebih keras sesuai dengan yang dirinya harapkan. Dia berharap juga bida menutup pintu itu dan mengurung pria itu di dalam sana. Kehadirannya hanya menganggu diri Abigail.
Begitu tiba di luar dan bisa menghirup udara segar, Abigail segera menemukan ketenangan dalam dadanya. Dia bisa bernafas dengan lega dan mencoba melupakan bagaimana rasanya saat bibirnya dengan begitu entengnya menjelajah bibir Ethen. Dia memukul bibir itu beberapa kali. Dia harus mencuci bibirnya akan kembali menemukan akal sehatnya. Dia telah gila dan dia harus menghentikan kegilaan ini.
"Kau hanya akan terus berdiri di sana?"
Dia tidak mau berbalik. Dia tidak akan pernah berbalik dan melihat wajah penuh kemenangan dari bajingat k*****t itu. Dia lebih suka menjadi buta agar tidak melihatnya.
"Terserah padamu mau berbuat apa, yang pasti sekarang kita harus berangkat."
Abigail mengerut. "Berangkat?" tanyanya berbalik dan melupakan keinginannya untuk tidak melihat wajah tersebut.
Saat itulah dia baru sadar kalau rupanya mereka tidak ada di rumah. Tidak ada rumah di sekeliling mereka. Hanya ada laut. Laut yang indah dengan deburan ombak tenang. Membuat mata Abigail dengan terkejut melihat ke arah Ethen.
"Di mana kita?"
Abigail yakin kalau jalan menuju rumah Ethen tidak memerlukan mereka melewati pantai atau laut. Jika benar ada Davema akan mengatakannya, walau Abigail tidak pernah membahasnya tapi Davema pasti akan mengatakannya dengan secara gamblang. Oh tidak, apa yang tidak dia tahu di sini?
Lain kali dia akan meminta Davema mengatakan segalanya. Seluruh hal yang bahkan tidak penting.
"Menuju pulau yang kau impikan?"
"Pulau?"
Ethen mendekat dan Abigail mundur satu langkah. Satu alis Ethen terangkat dengan bingung. Jelas perempuan itu telah tertangkap basah menginginkan Ethen tapi sekarang dia kembali ke sikap sandiwaranya. Dasar. Tapi Ethen tidak akan mengonfrontasinya lebih jauh, dia sudah dapatkan apa yang dia butuhkan. Sebuah bukti tentang perasaan perempuan itu.
"Pulau apa, Ethen? Apa Percy ikut dengan kita?"
"Pulau yang kau ingin datangi sejak dulu, kau selalu meminta pulau itu sebagai hadiah ulang tahunmu. Sekarang kita akan pergi berdua ke sana dan Percy tidak ikut. Dia sudah ada rumah sekarang, sopir pribadimu baru saja mengabarkan kepadaku."
"Aku tidak ingin pergi ke sana, Ethen. Bawa aku pulang."
"Kau benar-benar merepotkan, kau mau jalan sendiri atau kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan Percy?"
Abigail melongo. "Kau serius dengan ancaman itu? Kau akan membuat aku tidak bertemu dengan anakku? Kejamnya kau..."
"Itu menjadi pilihanmu, sekarang kau jalan sendiri atau aku harus menyeretmu."
Rasanya Abigail tidak pernah menjadi tidak berdaya seperti ini. Tapi di depan Ethen dia benar-benar terasa seperti Evelyn dan bukannya Abigail. Membuatnya menjadi perempuan lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Segalanya itu membuat Abigail semakin membenci keberadaan Ethen. Apalagi dengan lebih banyaknya kartu mati Abigail di tangannya. Sial sekali dirinya.
Abigail berjalan meninggalkan Ethen yang tampak santai saja dengan kelakukan Abigail. Jelas dia akan santai karena dia dapatkan apa yang sangat dia butuhkan. Penyerahan diri Abigail.
***