"Lalu bagaimana caranya pelayan itu terbunuh?" tanya Abigail setelah dia berhasil mencerna semuanya dan dia dapatkan suaranya kembali.
"Dia ditemukan jatuh ke lantai dengan indikasi serangan jantung. Mereka semua percaya kalau itulah yang terjadi, karena gadis itu memang memiliki penyakit jantung. Seperti anda, sepertinya Nyonya saya."
Abigail memegang dadanya. Ya, dia bisa merasakan degup pada jantungnya. Dia memang memiliki lemah jantung. Evelyn yang memilikinya dan mewarisinya pada Abigail. Terimakasih untuk hadiah hebat dari Evelyn.
"Tuan tidak pernah berduka dan malah terlihat biasa saja. Setelah kematian pelayan itu, Tuan kembali berhubungan dengan Olivia dan itu membuat Nyonya marah. Nyonya merasa tidak adil, dialah yang berjuang menyingkirkan pelayan itu tapi malah Olivia yang merasakan bahagianya. Jadi Nyonya membuat Olivia kecelakaan."
"Kecelakaan?"
Davema menggeleng. "Bukan kecelakaan seperti yang anda pikirkan, tapi Nyonya menjebak Olivia. Dia ditemukan masuk ke hotel bersama pria dan mereka tidur bersama. Nyonya membayar seorang gigolo dan memberikan pil perangsang pada minuman Olivia, lalu semua orang tahu dengan skandal itu. Olivia harus dikirim pergi atau dia akan lebih lama mempermalukan keluarga. Tuan Ethen membenci Olivia dan dia menjadi orang yang paling murka saat itu. Itu yang kedua."
Abigail tidak terkejut lagi. Saat Evelyn bahkan sanggup membunuh untuk cintanya maka hal lainnya tidak lagi mengejutkan. Apalagi hanya memberikan obat perangsang di minuman sepupunya. Bahkan walau Evelyn memberikan racun untuk membunuh Olivia, Abigail tidak akan terkejut.
"Lalu bagaimana Nyonyamu bisa berakhir menikah dengan pria itu?"
"Itu ketiga, Nyonya. Nyonya saya menjebak Tuan Ethen, dia membuat Tuan Ethen hampir bangkrut dan satu-satunya yang bisa menyelamatkan Tuan saat itu hanya harta warisan dari mendiang ibu Nyonya. Dia membantu Tuan Ethen dan imbalannya adalah sebuah pernikahan yang tentu saja dilakukan Tuan tanpa cinta sama sekali. Di sanalah awal dari segala duka Nyonya, dia diabaikan dan dia tidak pernah dianggap ada. Tuan hanya akan bicara dengannya saat ada orang lain atau keluarga mereka. Nyonya hanya bisa menangis setiap malamnya."
Abigail mengepalkan tangannya. Tidak kuasa menahan kesalnya yang pastinya perasaan itu datang dari diri Abigail sendiri. Karena Evelyn tidak akan pernah marah dengan apapun yang dilakukan Ethen. Dia terlalu gila pada pria itu hingga akan dengan sukarela baginya menyakiti dirinya sendiri demi bisa selalu ada di dekat pria itu.
Tapi kini Abigail yang menjadi lawan Ethen dan Ethen tidak akan mendapatkannya dengan mudah. Apapun itu.
"Yang keempat Nyonya, Nyonya saya memberikan obat perangsang pada minuman Tuan dan membuat mereka akhirnya bisa tidur bersama. Walau keesokan harinya Nyonya saja harus mendapatkan balasan yang sangat tidak adil dari Tuan."
Evelyn benar-benar bisa dikatakan setengah gila. Bagaimana bisa dia berharap memiliki anak saat suaminya bersikap demikian. Abigail tidak habis pikir, apa yang ada di otak perempuan itu. Cinta seperti apa yang dia miliki hingga membuat dia bisa melangkah ke nerakanya sendiri.
"Olivia pulang dan dia tinggal di rumah Tuan. Setiap malam Nyonya akan melihat Olivia masuk ke kamar Tuan dan Nyonya hanya akan berakhir dengan meneteskan airmata sepanjang malam. Itu adalah neraka pribadi Nyonya saya dan saya merasakan sakit saat melihatnya."
"Lalu bagaimana Olivia bisa berakhir dengan menikah?"
"Nyonya saya yang mengaturnya. Dia membuat Olivia tidak memiliki pilihan lain dan mereka semua semakin membenci Nyonya saya. Bahkan saat hamil saja, Nyonya saya berdiri sendiri. Tidak ada yang peduli padanya."
Itu adalah harga setimpal yang harus dibayar Evelyn atas perbuatanya yang terlalu egois. Tapi apa yang dilakukan Ethen juga sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengabaikan istrinya sendiri. Sejahat apapun Evelyn, saat hamil harusnya Ethen bisa bersikap lebih baik. Demi anak mereka, demi Percy.
Sekarang setelah Percy lahir ke dunia, dia malah bersikap seperti seorang ayah? Tidak masuk akal dan Ethen memang b******n egois yang terkutuk. Abigail akan selalu ingat cap itu.
"Aku bukan malaikat atau iblis, Davema. Aku manusia biasa seperti kalian dan aku memiliki cerita yang sangat panjang untuk diceritakan pada kisahku. Tapi yang kau perlu tahu sekarang adalah, aku ada di tubuh Nyonyamu pastilah dengan satu alasan. Yaitu, membalas dendamku dan membuat Nyonyamu tidak lagi menjadi wanita yang hanya tergila-gila pada pria yanng tidak pernah mencintainya sama sekali."
Davema tampak lega namun sedih dalam detik yang sama. Abigail sendiri tidak memaksa Davema untuk paham dengn posisinya.
"Yang pasti aku membutuhkan bantuanmu, Davema."
Davema tampak mengangguk dan terlihat dia akan dengan senang hati membantu Abigail. Abigail beruntung untuk itu.
***
Abigail masuk ke dalam pelukan ayahnya dan melingkarkan tangannya di tubuh pria tua itu. Erat pelukannya membuat tetes airmata jatuh ke pipi Abigail. Dia mudah sekali menangis sekarang. "Ayah, aku akan sangat merindukanmu."
"Ayah juga, Anakku. Jaga dirimu di sana dan jangan lupa untuk terus berkirim pesan pada ayahmu ini."
Abigail melepaskan pelukannya dan mengangguk dengan yakin. Tentu saja Abigail tidak akan pernah lupa berkirim pesan pada ayahnya karena dia Abigail dan bukannya Evelyn yang terbutakan cinta hingga tidak bisa melihat mana cinta sesungguhnya yang dia miliki.
Tubuh Abigail berputar dan berdiri di samping mobil hitam di mana sopir telah menunggu mereka. Menatap ayahnya yang sedang mencium cucu kesayangannya. Mata ayahnya juga tampak merah jelas menahan tangis. Dia tidak ingin melihat Abigail melihatnya menangis dan merasa berat untuk pergi.
Evelyn tidak pernah menghabiskan banyak waktunya dengan ayahnya hingga saat hal itu bisa terjadi, malah dia tidak bisa tinggal lebih lama karena suami Evelyn. Abigail hanya melengos ketika pandangannya dan pria itu bertabrakan.
Ethen memeluk mertuanya dan mendengar wejangan yang kerap didengarnya setiap saat. Itu tidak membosankan untuk didengar tapi melihat Evelyn memiliki ayah setulus ini membuat Ethen tidak kuasa ingin mendengus. Pria tua itu jelas tidak tahu kalau dia membesarkan anak iblis.
Abigail telah masuk ke dalam mobil dan di sampingnya telah ada perawat yang membawa bayinya. Abigail tersenyum pada Percy. Sementara Davema ada di depan dekat dengan sopir. Ethen sendiri memakai mobilnya sendiri dan jelas tadinya pria itu berharap Abigail akan masuk ke mobil Ethen, sayanganya Abigail segera masuk saat bayinya telah masuk.
Abigail bisa melihat bagaimana Ethen mengepalkan tangannya . Pria itu pasti ingin terlihat telah berbaikan dengan Abigail di depan ayah Abigail, tapi Abigail tidak akan membuatnya menjadi mudah untuk Ethen. Abigail bukan Evelyn.
Mobil melaju dengan sedang setelah Abigail menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah ayahnya. Mencoba mengatur nafasnya dengan lebih baik lagi. Dia akan memasuki dunia baru dan gerakannya pasti hanya akan tetap dalam pengawasan dan itu akan membuat Abigail harus bergerak dengan lebih lembut.
Yang harus dia lakukan adalah menemukan keberadaan pria itu dan kekasihnya. Membunuh keduanya dan segalanya selesai. Setelah itu, entahlah, dia tidak dapat memastikannya. Mungkin dia akan mengurus surat perceraiannya dengan Ethen dan tinggal bersama dengan Percy dan ayahnya tanpa Ethen. Itu terdengar sangat baik tapi kadang khayalan tak pernah sesuai dengan kenyataan.
Akan selalu ada rintangan di depan sana dan Abigail adalah pelajar pada masalalu yang sangat baik.
Mobil tiba-tiba berhenti dan menghentikan lamunan Abigail juga. Dia menatap sekitar untuk melihat apa yang terjadi dan tidak menemukan apapun. Dia baru saja akan bertanya pada sopirnya saat tiba-tiba saja pintu di sampingnya terbuka. Dia melihat Ethen di sana.
"Keluar," pinta pria itu dengan dingin.
Abigail yang tidak tahu apa yang sedang direncanakan Ethen tidak membantah. Bayinya sedang tidur jadi dia tidak bisa bertengkar dengan Ethen di dalam mobil. Itu akan mengganggu lelapnya Percy. Abigail keluar dan menutup pintu dengan pelan. Berdiri di depan Ethen.
"Ada apa?" tanya Abigail. Dia melihat sekitar dan mereka ada di pinggir jalan dengan jurang di setiap sisi jalan. Ethen tidak mungkin sedang berencana membuangnya ke jurang kan? Jelas dia tidak mau masuk ke jurang lagi, dia tidak mau mati dengan cara yang sama.
Mobil di belakangnya tiba-tiba bergerak dan mata Abigail membulat terkejut lalu dengan segera dia hendak mengejar mobil itu. Tapi sudah pasti tangan Ethen meraih pergelangan tangannya dengan kuat. Menahannya beranjak. Jelas Ethen sudah memprediksi kekuatan Abigail hingga dia dengan mudah tidak memberikan Abigail lolos dari cengkramannya.
"Apa-apaan kau ini!"
Ethen baru melepaskan istrinya setelah mobil telah benar-benar meninggalkan mereka dan Abigail tidak memiliki pilihan lain selain menerima kenyataan kalau dia di tinggalkan.
Abigail menatap Ethen dengan kekesalan yang tidak dia tahankan.
"Kau sudah bisa berhenti berpura-pura membenciku sekarang. Kita hanya berdua di sini, Eve."
Abigail mendengus dengan kesal. "Apa kau sinting! Aku sungguh membencimu. Kau harusnya tahu itu."
Ethen memijit pelipisnya dengan helaan nafas. "Kau memang yang paling pandai dalam hal berpura-pura. Aku juga kadang tertipu olehmu."
Abigail melingkarkan lengannya di seputaran tubuh. "Apa yang kau inginkan, Ethen? Cepat katakan sebelum pukulanku yang berbicara padamu."
"Ayahmu ingin kau satu mobil denganku."
Abigail tertawa dengan tanpa humor. "Alasan yang bagus Ethen Gray. Kau patut mendapat...apa yang kau lakukan!?"
"Meladenimu hanya akan membuat aku sakit kepala. Lebih baik sekarang kau ikut aku atau aku akan membuangmu ke jurang itu."
Abigail hanya diam saat Ethen menyeretnya. Dia cukup pintar untuk tahu kalau tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan suaminya yang sialan.
***