Senyum itu manis. Tampak pas di wajah bulatnya. Tampak binar bahagia yang terpancarkan darinya. Ia tersenyum manis, tertawa lebar, merangkul kanan dan kirinya, membawa buket bunga, membawa boneka, dan berbagai hal lain digayakan gadis itu di hadapan kamera sebuah handphone yang dibawa oleh rekannya.
Netra itu tidak lepas memperhatikan kehebohan yang terjadi di depan sebuah tulisan nama jurusan. Saat awalnya gerombolan yang hanya diisi dengan para perempuan yang membuat kehebohan hingga datang beberapa laki-laki yang juga membawa hadiah buket bunga dan juga buket cokelat.
Gadis itu tertawa saat menerima hadiah-hadiah itu. Ia juga tampak merasa terharu karena hadiah yang diberikan oleh sekumpulan laki-laki itu.
Kemudian terlihat gadis itu berdiri di antara para lelaki yang baru saja menghampirinya. Mereka beberapa kali mengambil foto dengan berbagai gaya.
Dan netranya melebar saat seorang laki-laki dengan perawakan yang tinggi dan didukung dengan wajah tegas berjalan menghampiri gadis itu dan memberikan satu buket mawar merah besar, kemudian mengajak gadis itu berfoto. Sorakan dari sekumpulan orang yang sudah selesai berfoto menemani sesi foto sepasang insan itu.
Laki-laki itu terlihat hendak meninggalkan gerombolan mahasiswa yang sepertinya baru saja menyambut perayaan entah apa yang gadis itu lakukan. Mungkin seminar proposal atau sidang. Ia tidak tahu.
Laki-laki tinggi itu mengusap pelan puncak kepala gadis yang berhasil mencuri perhatiannya. Sang gadis memberengut sebal karena ulah laki-laki itu berhasil membuat kerudungnya berantakan. Dan respons yang diberikan laki-laki itu adalah tertawa geli.
Mereka kemudian tampak berbicara tanpa memperhatikan rekan-rekan gadis itu yang masih setia menunggu. Beberapa perempuan lain telah ijin pergi meninggalkan sang gadis, tampak sang gadis mengucapkan terima kasih dari gerak bibirnya. Dan dua insan itu masih terus asyik berbicara kembali.
Apa gadis itu tidak sadar diri bahwa teman-temannya sedang menunggunya. Dasar tidak peka. Nilainya dalam hati.
Ia ikut jengkel. Entah bagaimana perasaan teman-teman perempuan itu. Ia yang bukan temannya saja merasa jengkel.
Sekumpulan laki-laki yang tadi berfoto juga pamit meninggalkan sang gadis. Ucapan terima kasih kembali gadis itu lontarkan. Ia juga meminta maaf karena membuat mereka menunggu.
Dan, bukannya gadis itu tersadar. Ia tetap melanjutkan obrolannya dengan laki-laki yang tingginya cukup jauh dari tinggi badan sang gadis.
Hingga akhirnya tak berapa lama laki-laki itu menerima telepon. Dan sepertinya telepon itu penting karena kemudian laki-laki itu tampak akan pergi.
Ternyata ia tak hanya terkejut karena kedatangan laki-laki itu saja. Ia semakin dibuat tak percaya saat gadis itu mencium punggung tangan kanan laki-laki itu. Laki-laki itu membalasnya dengan memeluk gadis itu dari samping secara singkat.
Ia masih terus mengamati hingga laki-laki itu berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari gedung tempat gadis itu berfoto. Netra gadis itu masih belum lepas hingga mobil itu melesat pergi meninggalkan area parkir.
Gadis itu kemudian menghampiri rekan-rekan perempuannya yang sedang duduk di gazebo. Raut muka yang tadi cerah ceria perlahan tampak mendung. Kemudian salah seorang teman gadis itu menghampiri dan segera memberikan pelukan hangat. Terlihat gadis yang berhasil mengunci perhatiannya itu menangis tersedu. Temannya yang lain pun segera menghampiri dan ikut memeluk gadis itu.
Apa yang terjadi? Tadi ia tampak bahagia. Laki-laki yang baru saja pergi juga tampak tidak membuat masalah. Lalu ada apa?
“Woi,” panggil Yanuar tepat di samping telinga kiri Tama.
Tama memberikan tatapan tajamnya ke arah Yanuar. Bisa-bisanya laki-laki itu membuat indra pendengarannya berdengung karena suaranya yang merusak telinga itu.
“Bukan salahku ya. Kamu dari tadi kupanggil tapi tidak segera merespons. Ya sudah aku pilih cara yang mampu membuat kesadaranmu kembali ke dunia nyata,” bela Yanuar.
Memang benar, Yanuar sejak 10 menit yang lalu memanggil Tama tetapi Tama tidak segera menoleh ke arahnya. Maka ia pun berinisiatif untuk menyadarkan Tama dari entah hal apa yang membuat indra pendengarannya itu tertutup.
“Emang ada hal menarik apa sih sampe kamu nggak dengar waktu kupanggil?” tanya Yanuar penasaran.
“Cewek cantik ya?” Ia mencoba memutar pandangannya mencari objek yang berhasil menyita dunia Tama.
Yanuar behasil menemukan objek apa yang Tama perhatikan hingga tidak sadar dengan sekitar. Ia berusaha mengingat wajah gadis yang sepertinya pernah ia lihat juga.
“Bukankah itu mahasiswa yang pernah kita lihat saat di mushola fakultas tempo lalu?”
Tama menghembuskan napas lega. Ia bersyukur karena Yanuar tidak melihat tangisan gadis itu. Entah mengapa ia merasa tidak rela.
Ada apa denganmu, Tam? Bisik batinnya.
Yanuar menyenggol lengan Tama. Yanuar menjadi heran kenapa Tama tiba-tiba menjadi mudah melamun seperti ini. Biasanya laki-laki itu selalu cuek terhadap lingkungan sekitar. Masalah dengan Aini. Ah, bukan. Hanya Aini yang merasa bahwa hal tersebut adalah masalah. Tama saja tetap bersikap biasa seperti hari-hari sebelumnya setelah mendengar curahan hati Aini. Namun, isi hati orang siapa yang tahu.
Tama menoleh ke arah Yanuar dengan pandangan penuh tanya. Yanuar mendesis sebal. Kenapa ia bisa kebal memiliki rekan kerja seperti Tama?
“Itu mahasiswa yang pernah kita lihat di mushola kan?” tanya Yanuar lagi.
Yanuar sepertinya harus memberikan apresiasi kepada dirinya sendiri karena telah mampu menahan kesabaran, memupuk kesabaran dengan sangat banyak dan melimpah.
Tama hanya mengangguk singkat. Yanuar pun bangga karena ingatannya cukup tajam.
“Terus kenapa kamu dari tadi mengawasi dia terus?” tanya Yanuar curiga setelah paham bahwa pasti ada apa-apa dengan Tama.
Tama mengedikkan bahunya. Ia kemudian melangkah kembali ke area proyek saat melihat gadis itu bersama rekan-rekannya mulai berjalan menjauh dari gazebo yang tadi menjadi saksi kesedihan dan kehangatan yang terjadi.
Yanuar berdecak sebal. Ia berusaha mensugesti diri agar menjadi lebih sabar. Yanuar berjalan cepat mensejajari langkah Tama.
“Tumben banget kamu kayak kepo urusan orang lain. Bukan Tama sekali,” celetuk Yanuar dengan spontan mengeluarkan isi hatinya. Ia berucap dengan nada santai tapi mampu menyadarkan Tama akan hal yang baru saja ia lakukan.
Iya. Ada apa denganmu, Tama? Sejak kapan kamu peduli dengan urusan orang lain? Bukankah sejak masa itu kamu selalu membentengi diri? Ejek suara batin Tama.
“Apa jangan-jangan kamu sudah mulai kembali menjadi manusia normal? Ah bukan. Manusia normal yang suka kepo urusan orang lain seperti netizen di dunia maya.”
Yanuar masih terus mencerocos tanpa mempedulikan keterdiaman Tama. Dan dalam hati, Tama membenarkan apa yang Yanuar ucapkan.
Apa iya dirinya mulai menjadi manusia kepo dan penuh rasa ingin tahu urusan orang lain begitu tinggi? Tapi kenapa hanya pada gadis itu?
Tama berusaha mengenyahkan segala pikiran yang berkecamuk dengan mulai kembali fokus pada lembar desain yang sudah dicetak. Ia mulai melihat kesesuaian antara desain dengan pekerjaan di lapangan. Mengabaikan Yanuar yang masih mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat kepalanya pusing. Sudah cukup proyek kali ini dan proyek dengan Kedai DnA yang membuat pikirannya tersita, ia berharap bayangan gadis itu yang menangis segera lenyap dari pikirannya. Ia tidak mampu menampung banyak permasalahan.
***
“Bunda masak apa untuk malam ini?” tanya Tama yang sudah tiba di rumah satu jam lebih awal dari biasanya.
Ia menghampiri sang bunda yang sedang berkutat di dapur. Tentunya ia sudah membersihkan diri.
Pak Abdul mempersilakan para pegawainya yang meninjau proyek di Surabaya untuk pulang lebih awal. Tentu saja Tama merasa lega karena ia bisa mengusir sejenak bayangan tadi pagi jika bersama dengan bundanya. Bundanya yang akan banyak bercerita tentang toko kainnya setiap hari, akan membuat Tama sejenak lupa akan beban pikiran yang bertapa.
“Udang asam manis. Tidak masalah kan?”
Tama tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sangat menyukai menu itu. Mau dimakan di pagi hari, siang hari atau malam hari, ia fine-fine saja.
Bundanya tampak sibuk memisahkan daging udang dengan kulitnya. Sedangkan Tama hanya berperan sebagai penonton kesibukan bunda.
“Bunda,” panggil Tama ragu.
Bunda menjawab dengan deheman. Bunda masih fokus dengan keamisan udang itu. Kemudian suara gemericik air memenuhi dapur. Bunda sedang mencuci udang yang sudah selesai dipisahkan antara daging dan kulitnya.
Setelah meletakkan udang yang bersih pada sisi sebelah wastafel dan juga kompor, bunda memutar tubuhnya dan menghadap penuh ke arah Tama.
“Ada apa?” tanya bunda karena Tama hanya diam saja. Tidak melanjutkan akan perkataan yang sepertinya akan ia utarakan.
“Ehm….. Tapi bunda jangan menertawakan hal ini ya?” Tama memastikan terlebih dahulu kepada bundanya.
Jika seperti ini, ia merasa seperti seorang gadis yang malu-malu. Hadeh, sepertinya ia harus mencari bacaan untuk menambah pengetahuannya akan hal seperti ini.
“Kamu aneh deh, Tam.”
Tama hanya mampu menggaruk tengkuknya. Ia berada di antara dua sisi yang sama-sama membingungkan.
“Buruan ngomong, Tam! Kamu jangan mau minta ijin sesuatu yang terlarang lho ya! Melihat gelagat kamu seperti ini, membuat bunda curiga,” tuduh bunda padanya karena sikapnya yang tidak seperti biasanya.
“Ehm, bun. Bunda tahu kan kalau selama ini Tama jarang peduli dengan kehidupan orang lain,” ucap Tama.
Bundanya mengangguk. Dengan sabar beliau menunggu kalimat apa yang akan diucapkan oleh putranya itu. Ia dapat melihat raut kebingungan di putra semata wayangnya.
“Dan tiba-tiba, tadi pagi Tama memperhatikan seseorang begitu dalam. Bahkan melupakan pekerjaan yang harusnya Tama awasi,” jelas Tama.
Bunda masih merespons dengan anggukan.
“Menurut bunda, kenapa Tama bisa jadi seperti itu ya?”
Bunda rasanya sungguh ingin menertawakan pertanyaan putranya itu. Ah, sudah sebesar ini tapi Tama masih nol pengetahuannya akan hal-hal seperti ini.
“Cewek kah yang kamu perhatikan itu?” tanya bunda memastikan.
Tama menggaruk kepalanya. Wajahnya tampak malu.
Bunda tentu dapat menebak bahwa benar karena seorang perempuan putranya menjadi seperti itu. Kemudian suara tawa keluar dari bibir bunda. Bunda juga menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Putranya sudah hampir 25 tahun tapi urusan seperti ini mampu membuat seorang Tama kebingungan.
“Katanya tadi gak bakal ngetawain, bun,” peringat Tama. Ia sungguh malu.
Bundanya mengabaikan. Kemudian beliau memulai sesi konselingnya, “Bisa saja karena abang hanya penasaran dan ingin tahu. Tapi biasanya karena penasaran dan ingin tahu itulah membuat kamu jadi semakin penasaran dan berusaha mendekati perempuan itu agar rasa kepo kamu terjawab,” jelas bundanya pelan. “Teman kantor abang?”
“Bukan. Tadi melihat dia di tempat proyek.”
“Wow. Anak proyekan juga dia?” tanya bunda yang mulai tertarik.
“Bukan. Dia masih mahasiswa, bun. Kan proyek Tama sekarang di kampus.”
“Ah. Jadi abang kepo sama mahasiswa nih?” ledek bunda.
“Entah, bun. Dan ini kedua kalinya Tama melihat dia. Meskipun sepertinya dia tidak tahu bahwa Tama melihatnya.”
Bunda mengangguk paham. Kemudian bunda memilih duduk pada salah satu kursi di meja makan. Beliau masih ingin tahu akan cerita Tama itu. Masalah masak biar nanti saja dilanjutkan. Kesempatan seperti ini tak mungkin datang dua kali.