11. Bad Day

1834 Words
Sejak semalam, Ayana merasa tidak tenang. Jantungnya berdebar lebih cepat. Ia juga merasa takut. Takut pagi ini membuat kesalahan dalam seminar proposalnya. Dan tentunya takut jika proposalnya ditolak. Materi presentasi telah ia buat sebaik mungkin sejak dua hari yang lalu. Ia juga telah mempelajari proposalnya secara mendalam. Ia tidak ingin mendapatkan banyak revisi yang menyebabkan proses mengambil data semakin lama. Ayana dan Nia berjalan dengan menenteng tiga tas kain yang cukup besar di koridor jurusan. Masuk ke salah satu ruang kelas dan meletakkan semua itu di belakang ruangan. Kemudian Ayana menuju ke ruang TU jurusan untuk meminjam layar proyektor, sedangkan Nia membantu menyalakan laptop. “Kurang apa lagi, Ay?” tanya Nia setelah semuanya siap. “Ehm, sepertinya sudah,” jawab Ayana sambil mengecek satu per satu persiapan untuk presentasi. Laptop telah terhubung dengan proyektor. Meja dan kursi untuk dosen juga sudah siap dengan sebotol air mineral dan map kertas yang berisi lembar berita acara, lembar penilaian, dan lembar komentar dosen serta sebuah bolpoin di atas meja. “Bingkisan buat dosen sudah beres kan ya, Ni?” tanya Ayana memastikan. “Sudah, say. Semua sudah beres. Tinggal nunggu jam 8 saja buat dimulainya seminar. Kamu sudah mengingatkan dosen kan kemarin malam?” “Sudah. Kan kamu juga sudah chat aku, ngingetin aku buat chat dosen.” “Oke deh. Masih setengah jam lagi, Ay. Makan rotimu dulu tuh,” pesan Nia. “Sarapan itu penting biar kamu tetep bisa fokus. Sama itu s**u cokelat kesukaan kamu.” “Iya. Iya. Bawel banget deh kamu. But thank you so much.” Ayana kemudian mengambil roti dalam kresek putih berlabel nama waralaba yang memiliki banyak cabang toko di mana-mana. Saat sedang fokus mengunyah roti sandwich dengan isian cokelat, layar handphone-nya menyala. Ada sebuah pesan masuk dari ibunya. Ibu Semangat seminarnya ya, Nduk. Ibu bantu doa dari rumah. Ayana meletakkan rotinya di atas meja. Ia memilih mengambil handphone-nya. Kemarin malam ia sudah menelepon ibunya dan meminta restu agar seminar hari ini berjalan dengan lancar. Ia berharap bapaknya sudah mau berbincang dengannya, tetapi sayang harapan kecil Ayana tidak terkabul. Bapaknya masih enggan untuk memulai obrolan dengannya. Ayana hanya ingin mendapatkan semangat dan doa kecil dari bapak, tetapi ya sudahlah. Ia berusaha legowo. Berusaha menabahkan hatinya. Iya, bu. Terima kasih. Ayana selalu sayang ibu dan bapak. Apa bapak tidak mengucapkan apa pun untuk Ayana? Bahkan hingga saat ini Ayana masih berharap bapaknya mau memberikan sedikit semangat padanya. Tidak sampai lima menit, balasan pesan dari ibunya kembali masuk. Kamu tetap semangat ya. Ibu yakin, bapak pasti juga tetap mendoakan kamu. Membaca pesan dari ibunya tentu saja membuat hatinya kecewa. Sepertinya benar, bahwa bapaknya baru akan bersedia berbicara padanya jika ia sudah menyandang gelar sarjana. Ayana membalas pesan ibunya kemudian ia menyimpan handphone-nya ke dalam ransel hitamnya. Raut mukanya menjadi keruh. Ia hanya berharap semoga semuanya tetap berjalan lancar meskipun harapannya untuk mendapatkan doa dari bapaknya belum ia dapatkan. Namun di dalam lubuk hatinya, ia yakin bahwa bapak pasti tetap mendoakannya. “Kenapa nggak dimakan lagi rotinya?” tanya Nia saat melihat Ayana memilih menekuri sedotan putih untuk meminum s**u kotak rasa cokelat kesukaannya. “Sudah kenyang,” jawab Ayana. “Habis dapat chat dari siapa emang sampai kamu jadi kayak galau gitu?” Nia mulai kepo. “Kan kamu jomblo,” candanya. Nia nyengir lebar tanpa merasa bersalah. “Dari ibu. Aku tadi malam sudah telepon ibu untuk meminta restu agar hari ini dilancarkan. Aku berharap bapak sudah mau berbicara denganku, tetapi nyatanya harapanku harus pupus. Bahkan saat aku tanya pada ibu barusan apakah bapak menitipkan pesan untukku pun, bapak tidak memberikan hal itu,” cerita Ayana. Bahkan Ayana tidak peduli dengan candaan yang Nia lontarkan. Nia segera merangkul bahu Ayana. “You can handle it, beb. I trust you. Dan aku yakin, bapak kamu pasti tetap mendoakan kamu. Semarah-marahnya bapak ke kamu, tidak mungkin beliau mengabaikan kamu begitu saja.” Ayana mengangguk. Ia juga meyakini dalam hati dan berharap seperti itu. “Ya sudah dimakan lagi rotinya. Kamu bukan tipe orang yang rela buang-buang makanan.” Ayana kembali mengangguk. Nia memang hapal betul tentang dirinya. Ia begitu memahami bagaimana seorang Ayana. Tak berselang lama, anggota Netizean yang lain datang. Mereka membawa beberapa tas kertas serta sebuket bunga. Tak lupa juga membawa satu kotak s**u yang berukuran besar. “Sudah jam berapa ini?” sindir Nia pada sahabatnya dengan memasang wajah galak. Yang tentu saja wajah galak itu hanya topeng. “Nunggu Nugi mandi lho. Lamanya sungguh luar bisa. Ampun deh aku,” jawab Fitri sambil memasang muka sebal. Orang yang disebut oleh Fitri hanya menampilkan cengiran kecil. Mau bagaimana lagi, tadi pagi ia tertidur lagi setelah sholat Shubuh. Tidak. Ia memang berniat melanjutkan merajut mimpi setelah sholat. “Sudah deh. Yang penting kalian sudah datang. Sudah sarapan kalian?” tanya Ayana. Meskipun mereka bersahabat tetapi ia juga memiliki rasa sungkan jika harus membuat mereka direpotkan dan terganggu aktivitasnya karena dirinya. “Belum. Nanti saja setelah selesai kamu seminar,” jawab Nugi. “Makan di food court yuk. Biar aku yang bayar. Baru dapat uang saku dari abang tersayangku. Katanya hadiah karena aku akhirnya seminar proposal,” ucap Ayana dengan senyum bahagia yang terpatri. Anggota Netizean tentu saja tidak dapat menutupi wajah berbinarnya. Siapa juga yang menolak jika ditraktir makan. Apalagi mereka-mereka ini adalah anak rantau yang harus menghemat pengeluaran. Berharap di akhir bulan tidak sampai makan mi instan setiap hari. “Kurang tujuh menit, Ay. Siap-siap gih,” peringat Fina yang sedari tadi menjadi pendengar di antara kebisingan suara yang disebabkan oleh teman-temannya. Ayana berdiri dari kursinya. Ia merapikan penampilannya. Kerudung putih yang dulu ia pakai saat ospek ia tata agar lebih nyaman. Ia juga merapikan jas almamater yang ia kenakan. Di dalam jas ia mengenakan kemeja putih yang ia pinjam dari Rahma. Rok hitam berbentuk A menutupi kaki kecilnya. Flat shoes hitam juga sudah pas di kakinya yang berukuran cukup kecil. Tak lupa kaos kaki warna cokelat s**u juga menutup kakinya. Ayana menghembuskan napasnya pelan. Berusaha menenangkan debar yang kembali mendera. Ia sungguh gugup melakukan presentasi proposalnya. 15 menit kemudian ruang kelas yang ia gunakan untuk melaksanakan seminar telah terisi penuh oleh mahasiswa yang terdiri dari beberapa teman angkatannya dan juga adik tingkat. Di kursi depan, telah diisi oleh dosen pembimbing dan dua dosen penguji. Seminar proposal di jurusannya memang boleh disaksikan oleh siapa pun. Sedangkan saat sidang skripsi, hanya ada mahasiswa yang diuji dan tiga dosen saja yaitu satu dosen pembimbing dan dua dosen penguji. Rasanya benar-benar seperti disidang di ruang sidang saat pelaksanaan sidang skripsi, karena masa itu adalah penentuan kelulusan. Ayana dipersilakan untuk mempresentasikan proposalnya selama 15 menit. Ia merasa lega karena dapat menyampaikan proposal dan produknya dengan baik. Namun ia juga takut tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen. “Ya. Saya ucapkan selamat karena Ananda Ayana telah berhasil mempresentasikan proposal skripsinya dengan baik dan lancar. Tidak banyak saran dari saya, hanya perlu diperhatikan lagi nanti beberapa paragraf kalimat yang sangat panjang ini ya, di halaman 15 pada kajian pustaka tepatnya. Lebih baik dijadikan dua paragraf agar yang membaca dapat memahaminya dengan mudah,” ucap Bu Puspa membuka sesi saran dan pertanyaan sebelum dosen penguji. Jangan harap dosen pembimbing hanya melihat dan mengamati mahasiswa bimbingannya mempresentasikan skripsi. Beliau juga tetap akan memberikan saran dan pertanyaan, sama seperti dosen penguji. Ayana membuka lembaran proposalnya pada halaman yang disampaikan oleh Bu Puspa, kemudian ia menandai dan memberikan catatan sesuai saran tersebut. “Kemudian, pada bab tiga dipertegas juga ya teori inkuiri mana yang kamu pilih untuk skripsi kamu. Karena di sini kamu mencantumkan banyak teori inkuiri yang disampaikan oleh beberapa ahli.” Ayana mengangguk dan menuliskan catatan kembali. Sambil mencatat ia juga memperhatikan Bu Puspa secara penuh. “Saya rasa begitu saja saran saya. Monggo Pak Jo dapat memberikan saran dan pertanyaannya kepada Ayana.” “Baik, terima kasih. Ananda Ayana memilih inkuiri dan diaplikasikan pada materi lumut. Benar ya?” tanya Pak Jo. “Benar, Pak,” jawab Ayana dengan tegas. “Untuk materi tentang lumut saya serahkan kepada Bu Wanti yang lebih paham dan menguasai tentang hal tersebut. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara Ananda menggiring siswa agar tahapan inkuiri ini tampak lebih natural dan terkesan tidak dipaksakan. Karena setelah saya mencermati produk Ananda, jujur saya masih merasa kesulitan memahami.” Ayana mengangguk. “Jadi saya ingin memberikan bacaan kepada siswa tentang materi lumut untuk menarik rasa ingin tahu mereka, atau dalam tahapan inkuiri biasanya disebut dengan orientasi. Kemudian dari bacaan tersebut saya meminta siswa untuk merumuskan masalah yang berupa pertanyaan. Kemudian mereka saya giring untuk merumuskan hipotesis atau dugaan sementara. Langkah selanjutnya saya siapkan tabel yang harus diisi oleh siswa sebagai langkah mengumpulkan data. Berdasarkan data tersebut, diharapkan mereka dapat menarik sebuah kesimpulan.” Ayana menjawab dengan tenang, pelan, dan runtut. Ia merasa lega karena mampu menjawab dengan tenang. Berdasarkan cerita rekan seperjuangan skripsi yang lain, Pak Jo terkenal memberikan pertanyaan yang terkadang tidak berada di dalam proposal tetapi yang masih berkaitan. “Ya. Kalau dijelaskan seperti ini semua memang mudah dipahami dan juga runtut ya. Saran saya, tolong nanti dibuat lebih halus lagi tiap langkah-langkahnya,” pesan Pak Jo. “Baik, Pak.” Kemudian Pak Jo memberikan saran akan kepenulisan terutama pada bab dua. Di bab satu beliau juga memberikan saran agar batasan masalah* dalam proposal diperjelas. “Selamat ya Ayana, akhirnya kamu berhasil mencapai tahap seminar. Saya rasa untuk proposal sudah diberikan banyak masukan oleh Bu Puspa dan Pak Jo. Saya lebih menyoroti pada LKPD yang saudara buat,” ucap Bu Wanti dengan nada tenang tapi tegas. “Jujur saja saya kecewa terhadap cara pengemasan kamu dalam LKPD ini. Materi yang kamu tulis sangat jauh dari materi untuk siswa SMA. Apalagi kamu asisten saya. Materi ini melenceng jauh dari kompetensi dasar yang ditagihkan,” ucap Bu Wanti yang mampu menohok hatinya dengan kuat. Dilihat dan didengarkan oleh banyak orang tentu ia merasa malu. Ia merasa dirinya selama ini bukan asisten dosen mata kuliah Sistematika Tumbuhan yang baik. Ya Allah. Ayana merintih dalam hatinya. Hatinya serasa dicubit dengan kuat. Apa ini ada kaitannya dengan bapak yang belum mau berbicara padanya? Apa bapak masih marah dan kecewa kepadanya? Bu Wanti pun melanjutkan dengan memberikan saran-saran yang lain. Dan tentu saran itu adalah saran bahwa LKPD yang ia buat harus ia rombak besar-besaran, dengan kata lain LKPD yang ia buat selama ini tidak ada artinya. Namun beruntungnya, proposal yang ia kerjakan dalam satu semester lebih ini diterima dengan revisi. Jika ditolak, maka menangislah sudah Ayana. Ayana yang merasa bahwa ketika ia telah sampai pada tahap seminar proposal semuanya akan mudah. Ternyata tidak seperti itu. Ternyata perjalanannya masih sangat panjang. Catatan: Batasan masalah adalah subbab pada bab satu skripsi. Tidak semua skripsi menggunakan batasan masalah, bergantung pada kebijakan kampus masing-masing. Bahkan terkadang dalam satu kampus, tidak semua jurusan menerapkan pedoman skripsi yang sama. Batasan masalah merupakan subbab yang berisi tentang batasan atau garis terhadap masalah yang diangkat dalam skripsi. Adanya batasan masalah ini, diharapkan mahasiswa dapat menuliskan skripsi sesuai dengan yang diharapkan—tidak melebar dan tidak mengkerucut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD