“Sudah kuduga. Pasti desain kamu yang akan dipilih oleh pihak Kedai DnA,” puji Yanuar disertai dengan decakan kagum. Tak lupa dengan lengan yang ia sampirkan pada bahu Tama. Tama pun segera menepis lengan Yanuar yang dengan percaya dirinya bertengger pada bahunya.
“Ya ampun, Tam. Kamu kayak anti banget sama aku sih,” heran Yanuar.
Tama melirik tajam ke arah Yanuar. Berharap Yanuar diam dan tidak berisik seperti suara tutup botol minuman bersoda yang dimanfaatkan sebagai alat pengiring untuk mengamen.
“Desain Aini yang anak planer designer dan paling dipercaya Pak Abdul saja sampai kalah.” Yanuar tidak mempedulikan Tama yang memberikan tatapan tajam kepadanya. Ia masih meneruskan ocehannya.
“Berisik,” sahut Tama dengan nada tajam dan dinginnya.
“Traktirlah kawanmu ini, Tam,” ajak Yanuar. Ia benar-benar mengabaikan peringatan Tama yang memintanya agar diam.
Tama melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Yanuar yang terus mengoceh tanpa henti. Berjalan menuju ke arah mobil kantor yang membawa mereka ke Kedai DnA.
“Aini, kamu harus berguru kepada Tama agar desain kamu semakin berkembang dan menarik minat klien,” celetuk Yanuar ketika mereka dalam perjalanan kembali ke Biro Architecta.
Tama yang duduk di jok belakang, tepat di sisi Yanuar hanya diam dan fokus menolehkan pandangan ke arah jalan yang cukup padat oleh berbagai jenis kendaraan bermotor. Sedangkan Aini yang duduk di jok tengah hanya menampilkan senyum kecil yang tampak dipaksakan.
Keterdiaman dua insan yang disinggung oleh Yanuar menciptakan hening di dalam mobil. Beruntungnya Pak Abdul menggunakan mobil pribadinya, jika ia bergabung bersama dengan para bawahannya mungkin suasana hening akan menemani sejak berangkat hingga tiba pada tujuan.
Yanuar pun akhirnya memilih diam. Sepertinya ucapannya kali ini sudah kelewatan. Biasanya Aini akan menanggapi segala perkataan yang ia ucapkan, tetapi kali ini berbeda.
“Aini kamu marah?” tanya Yanuar saat mereka baru saja turun dari mobil.
“Marah kenapa, Mas?” Aini membalikkan pertanyaan yang diajukan oleh Yanuar.
Yanuar menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. Ia pun bingung. Namun, Yanuar sadar bahwa ucapannya telah menyakiti Aini karena perempuan itu tidak membalas ucapannya.
“Ehm, mungkin karena ucapanku di mobil tadi melukai perasaan kamu,” ucap Yanuar akhirnya.
“Enggak kok, Mas,” jawab Aini dengan menampakkan senyum simpulnya. Senyum yang terlihat berbeda dari biasanya. Terlihat dipaksakan agar Yanuar tidak terus menerus menerornya.
“Jika ucapanku tadi menyakiti hati kamu. Aku minta maaf ya, Ai,” ujar Yanuar canggung.
Entah mengapa ia merasa tidak enak hati kepada Aini. Ia memang terkenal asal bicara, tetapi ketika seseorang yang ia ajak bicara tidak memberikan respons, hal itu akan membuat Yanuar tak enak hati. Ia juga masih memiliki kepekaan terhadap respons lawan bicaranya, apakah orang tersebut dapat menerima ucapannya atau tersinggung dengan ucapannya.
Tama yang berjalan di belakang Yanuar dan Aini hanya menjadi pendengar yang tak diundang. Hendak tidak mendengarkan pun suara mereka masuk ke dalam gendang telinganya.
Biarkanlah mereka menyelesaikan masalah mereka. Batin Tama.
Kemudian ia mengambil langkah lebih lebar karena dua insan di hadapannya berhenti di tengah jalan, menghalangi langkahnya menuju biro sehingga ia memutuskan untuk melewati mereka.
***
“Jun, aku mau makan ayam bakar depan kantor. Ikut nggak?” tanya Tama yang sekarang sedang berdiri di samping meja Yanuar.
Yanuar yang sedang berkutat pada desain yang ada di hadapannya pun mengalihkan fokusnya. Ia menaikkan alisnya, merasa heran karena Tama yang selama ini makan siang selalu dirinya yang harus mengajak, siang ini laki-laki dingin itu yang menawarkan diri terlebih dahulu.
Apakah karena terpilihnya desain yang ia rancang membuat dirinya tiba-tiba berubah seperti ini? Tanya Yanuar pada dirinya.
“Ikut nggak? Katanya mau ditraktir,” decak Tama kesal. Ia sudah menawarkan diri, Yanuar bukannya menyambutnya dengan antusias tetapi menunjukkan raut curiga.
“Tumben banget,” celetuk Yanuar.
“Nggak mau ya sudah.”
Tama pun berjalan meninggalkan meja Yanuar dan Yanuar masih duduk dengan tenang di kursinya. Melihat Tama yang berjalan menjauhinya membuatnya segera menyelamatkan desain yang ada pada PC di hadapannya kemudian berlari kecil mengejar Tama.
“Ambekan banget, Pak,” ejek Yanuar.
Tama mengabaikan ucapan Yanuar. Ia tetap melanjutkan langkahnya dan memasukkan salah satu tangannya pada saku celana kain yang ia kenakan hari ini.
Yanuar berdecak sebal karena Tama masih sama seperti biasanya. Rasanya Yanuar hanya akan membuang-buang tenaga jika berbicara dengan Tama.
Tama memesan dua porsi ayam bakar dan dua gelas es jeruk. Setelah membayar pesanan, ia duduk menghampiri Yanuar yang dengan santainya bermain handphone dan membiarkan sang pentraktir memesan makan siang mereka.
“Tam,” panggil Yanuar saat menyadari kehadiran Tama di meja mereka. Ia masih fokus pada layar handphone-nya.
“Hem,” sahut Tama.
Yanuar menunjukkan layar handphone-nya. Setelah beres melihat sesuatu yang ditunjukkan oleh Yanuar, ia pun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang ada pada rumah makan itu.
“Menurutmu apa memang ucapanku menyakitinya, ya?”
“Hem. Entah. Aku tidak terlalu pandai menilai seseorang. Jika aku orang yang kamu ajak ngobrol ya biasa saja,” jawab Tama enteng.
Yanuar menghembuskan napas besar. Ia juga mengacak rambutnya.
“Kenapa? Takut Aini menjauh dari kamu?” tanya Tama menohok hati Yanuar.
Yanuar kembali menghembuskan napas kasar. “Entah. Rasanya aku nggak tenang karena ia memberikan respons yang berbeda dari biasanya.”
“Aku nggak tahu itu tanda apa. Mungkin kamu memiliki rasa pada Aini sehingga ketika Aini tiba-tiba memberikan respons yang berbeda kamu tidak tenang,” tebak Tama. Kali ini sepertinya ia mulai akan kembali menjadi laki-laki yang banyak bicara karena terlalu lama bersama dengan Yanuar.
“Tapi bisa juga karena kamu memang tipe orang yang nggak rnakan,” lanjutnya.
Yanuar sudah hendak menjawab ucapan Tama tetapi terjeda karena pesanan mereka yang baru saja diantarkan. Tama mengucapkan terima kasih.
Meskipun ia terkenal sebagai laki-laki yang dingin, ia masih paham dan menganut sopan santun untuk mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang diberikan.
Yanuar meminum es jeruknya terlebih dahulu. “Apa iya begitu?” tanya Yanuar tidak yakin.
Tama mengangkat bahunya. Ia pun tidak tahu. Mana pernah ia merasakan hal itu. Ia belum pernah mendekati seorang perempuan. Ia masih merasa perlu menyiapkan banyak hal. Ia juga masih memiliki banyak rencana yang harus terealisasikan sebelum ia mulai mendekati seorang perempuan.
Tama kemudian mulai mencuil ayam bakar yang masih cukup panas setelah mencuci tangannya pada mangkok kecil yang berisi air. Dalam air tersebut terdapat potongan kecil jeruk nipis, berfungsi untuk mengurangi bau amis yang dihasilkan dari daging ayam yang mungkin masih menempel selepas makan.
Yanuar akhirnya mengikuti Tama. Pikirannya masih belum tenang, bukan dirinya jika seperti ini.
Ia berusaha menghilangkan kegalauan yang melandanya dengan menikmati lezatnya ayam bakar depan kantor yang menjadi favoritnya itu. Beberapa suapan awal ia mulai bisa sedikit menghilangkan pikiran yang cukup membebaninya. Namun saat mendengar ada suara beberapa perempuan yang mengobrol tidak jauh dari mejanya membuat otaknya kembali tidak dapat bekerja dengan tenang.
“Ai, kamu kenapa sih? Dari tadi melamun terus,” ucap Susan setelah menelan nasi dan ayam bakar.
“Iya. Apalagi sejak dari Kedai DnA. Apa terjadi sesuatu di sana?” sahut Cintiya.
“Nggak ada apa-apa kok,” jawab Aini dengan kembali memasang senyum kecil yang terlihat dipaksakan. Ia berharap rekan-rekannya berhenti bertanya tentang kondisi hatinya saat ini. Ia tidak ingin menumpahkan air mata di tempat makan yang cukup ramai siang ini.
Yanuar dan Tama yang berada pada meja yang memang sedikit tertutup oleh tembok pun mendengar pembicaraan para perempuan itu. Suasana warung makan yang tidak terlalu ramai oleh suara membuat telinga mereka mampu mendengarkan perbincangan yang terjadi di meja yang letaknya tak jauh dari mereka dengan jelas.
“Nggak mungkin. Kamu biasanya nggak pernah kayak gini.”
“Bener kata Cintiya, kamu kan selalu ceria dan banyak omong. Sekalinya kamu nggak banyak ngomong itu membuat kita menjadi curiga,” ujar Susan.
Aini menghembuskan napasnya pelan. Ia bingung haruskah mengatakan hal ini pada rekan-rekannya atau tidak. Hati dan pikirannya sedang menimbang bagaimana baiknya.
“Tuh kan, dari raut wajah kamu saja sudah tampak banyak beban,” seru Susan.
Aini menghembuskan napasnya dengan cukup kuat. “Ehm, tapi kalian jangan membocorkan hal ini pada siapa pun ya. Terutama pada Mas Tama dan Mas Yanuar,” ujar Aini.
Ucapan Aini membuat Susan dan Cintiya menyipitkan matanya. “Memangnya ada apa? Kalian ada masalah?” tanya Cintiya dengan tidak sabar.
“Enggak. Aku saja yang menciptakan masalah.”
Kalimat yang meluncur dari bibir Aini membuat Cintiya dan Aini memasang wajah bingungnya. Mereka tidak paham.
“Gimana sih, Ai? Aku bener-bener nggak paham.”
Aini meminum jeruk hangatnya terlebih dahulu sebelum memulai sesi ngobrol yang mungkin akan menguras banyak tenaganya.
“Ehm, jadi setelah presentasi desain kedai pada pihak klien dan dipilihnya desain terbaik. Aku ijin ke kamar mandi sebelum kembali ke kantor,” mulai Aini. “Aku benar-benar butuh kesegaran karena desain yang kukerjakan sepenuh hati ditolak. Yah, meskipun cara menolaknya dengan cara terbaik dan terhormat, tetap saja ada rasa tidak rela dalam hatiku.” Wajah Aini tampak sendu. Nasi yang baru ia makan beberapa suap sudah tidak menarik lagi. Lambungnya pun sudah terasa penuh.
“Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan jika harus ditolak oleh pihak Kedai DnA. Hanya saja Ayunda menyusulku ke kamar mandi,” lanjut Aini.
Susan dan Cintiya mendengarkan cerita Aini dengan penuh perhatian. Mereka bahkan menghentikan aktivitas makan siang.
“Ayunda berkata bahwa Pak Abdul menyayangkan desainku yang masih kurang maksimal padahal aku kerja di bagian design planer. Itu yang membuatku terbebani.”
“Tapi kamu nggak menyalahkan Mas Tama kan?” tanya Cintiya spontan. “Secara desain dia yang lolos.”
“Aku juga nggak tahu. Sejujurnya ada rasa kesal. Kenapa Mas Tama harus ikut berkontribusi dalam mendesain proyek kali ini. Tapi mau bagaimana lagi, Pak Abdul juga saat rapat kala itu mempersilakan siapa pun untuk mengajukan desain.”
Susan dan Cintiya menepuk-nepuk punggung tangan Aini yang terletak di atas meja. Mendapatkan teguran dari atasan secara tidak langsung tentu menciptakan beban tersendiri. Maka sebagai sahabat seperjuangan mereka hanya bisa memberikan semangat dan selalu menemani agar tidak sampai membuat kualitas kerja salah satu dari mereka menurun.
Sedangkan Yanuar dan Tama yang mendengarkan semua ucapan itu terdiam di kursinya masing-masing. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Dan berusaha memilih sikap apa yang harus dilakukan setelah ini.