9. Satu Langkah Menuju Seminar

1640 Words
Jalan yang dilewati untuk menuju suatu puncak gunung tentu tidaklah mudah. Ada jalan yang mudah dilalui, landai dan lurus. Ada pula jalan menanjak yang harus menggunakan banyak energi dan membuat napas ngos-ngosan untuk kita mencapainya. Jika seseorang berniat mendaki gunung, maka puncak adalah tujuan akhirnya. Meskipun sebenarnya bisa mencapai puncak suatu gunung adalah bonus dari perjalanan panjang yang telah dilewati. Ayana sudah melalui jalan yang panjang dan berliku demi gelar sarjananya yaitu proses penyelesaian skripsi. Bahkan mungkin jalannya menuju kesana harus diwarnai dengan bapaknya yang tidak mau bertemu dengannya sebelum ia mendapatkan gelar sarjana pendidikan. Dan tentunya lawan yang paling berat adalah mentalnya yang sempat down. “Proposal sudah fix ya. Untuk produknya diperhalus sekali lagi agar saat kamu seminar nanti hanya sedikit saja yang perlu diperbaiki,” ucap Bu Puspa membuat Ayana tersenyum cerah. “Sudah dari dua bulan lalu, Bu proposalnya siap,” batin Nufi dan Ayana dengan gemas dalam hati. Akhirnya. Kata-kata yang selama ini ia tunggu akhirnya masuk ke dalam rungunya. Alhamdulillah, ucap Ayana dalam hati berulang kali. Ayana tidak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. “Nanti daftar ke Prof. Susan untuk mengetahui siapa dosen penguji kamu ya. Begitu juga dengan kamu, Fi,” lanjut Bu Puspa. Kemudian ia mulai memberikan arahan akan hal-hal apa yang harus dilakukan agar seminar proposal dapat terlaksana. “Baik, Bu,” jawab Ayana dan Nufi bersamaan. Nufi pun tak kalah sumringah. Senyum lega dan senang terpancar jelas pada wajah yang memiliki pipi tembam itu. Bu Puspa memberikan sedikit pesan dan wejangan untuk pelaksanaan seminar proposal nanti seperti mempersiapkan Power Point yang menarik dengan dikemas secara singkat dan jelas, mempersiapkan semua keperluan seminar maksimal setengah jam sebelum pelaksanaan seminar berlangsung terutama masalah menyambungkan layar proyektor dengan laptop, mengingatkan dosen H-1 pelaksanaan seminar, dan yang paling penting menguasai skripsi yang dikerjakan. “Jangan sampai kalian yang nulis skripsi, tetapi kalian yang gelagapan karena tidak menguasai apa yang kalian tulis!” tegas Bu Puspa. Beliau tipe dosen yang jarang marah, tetapi sekali saja mahasiswa membuat kesalahan maka tak tanggung-tanggung beliau akan memberikan hukuman yang paling menakutkan. Pernah dulu saat semester tiga, kelas Ayana memiliki jadwal mata kuliah Struktur Perkembangan Tumbuhan pukul tujuh pagi. Namun, mahasiswa yang datang baru setengah dari jumlah keseluruhan. Hingga hampir pukul setengah 8, teman-teman Ayana belum juga lengkap. Akhirnya beliau membereskan laptop yang telah tersambung dengan layar proyektor dan membawanya ke dalam ruangan. Beliau juga mengatakan dengan tegas bahwa tidak akan mengisi materi, hanya memberikan file materi. Hal itu membuat semua mahasiswa yang berada di dalam ruangan diam tak berkutik. Padahal kala itu adalah pertemuan terakhir sebelum dilaksanakannya Ujian Akhir Semester. “Baik, Bu,” jawab Nufi dan diikuti dengan anggukan kepala Ayana. “Persiapkan semuanya dengan baik. Jika revisi hanya sedikit maka proses validasi produk akan menjadi lebih cepat. Kalian bisa ambil data segera sehingga kalian tidak perlu menambah semester untuk lulus,” lanjut Bu Puspa. “Iya, Bu,” jawab Ayana. Ayana dan Nufi saling berpandangan setelah nasihat Bu Puspa telah tersampaikan. Ayana menganggukkan kepalanya ke arah Nufi. “Kalau begitu kami permisi ya, Bu,” pamit Nufi diikuti dengan Ayana. “Iya. Segera kabari ya Mbak kalau sudah mendapatkan jadwal,” pesan Bu Puspa. “Nggih, Bu.” Ayana dan Nufi mencium punggung tangan Bu Puspa bergantian setelah mengambil map di atas meja kerja Bu Puspa yang berisi proposal dan produk skripsi mereka yang penuh dengan coretan bolpoin warna biru. Kemudian mereka keluar dari ruangan Bu Puspa bergantian. Tak lupa mengucap salam sebelum ruangan Bu Puspa Ayana tutup. “Nuf, aku mau ke ruang baca ya. Mau ketemu Netizean,” kata Ayana saat mereka berjalan di koridor ruang dosen. “Atau kita ke Prof. Susan sekarang ya?” Ayana tampak berpikir keras. “Aku juga mau ke sana,” ucap Nufi. “Gimana kalau kita naruh barang-barang kita di ruang baca dulu?” saran Nufi. Ayana menyetujui saran Nufi. Mereka melanjutkan langkah dengan beriringan menuju ke ruang baca jurusan. Terdapat beberapa pasang sepatu yang Ayana kenali sebagai sepatu milik Netizean Budiman saat matanya berkeliling melihat rak sepatu. Ternyata teman-temannya sudah berkumpul semua di ruang baca. Begitu membuka pintu ruang baca yang terbuat dari bahan teriplek tebal yang dicat dengan warna cokelat gelap, Ayana dan Nufi disambut dengan banyaknya mahasiswa yang berkumpul di ruang baca, hampir penuh. Membuat oksigen yang ada di ruangan mulai menipis. “Jangan lupa ngisi daftar hadir, Ay,” peringat Nufi saat Ayana sudah mulai melenggang santai menuju meja teman-temannya. Ayana seketika berbalik ke arah pintu, menuju meja panjang yang diletakkan menempel pada dinding. Di atasnya terdapat buku besar yang sering digunakan sebagai buku pembukuan keuangan dan sebuah bolpoin hitam. Ayana segera menuliskan nama, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), kelas, dan tak lupa membubuhkan tanda tangan di bawah nama Nufi. “Ayo, yang baru datang jangan lupa mengisi daftar hadir ya!” teriak Mbak Aci dengan suara yang cukup membahana dan memekakkan. Ayana yang baru saja duduk bergabung dengan kawan-kawannya pun bernapas lega dan mengelus dadanya pelan karena berkat Nufi ia tidak mendapatkan semprotan dari Mbak Aci. “Ila, kamu sudah ngisi daftar hadir?” tanya Mbak Aci dengan raut muka yang menakutkan. “Belum, Mbak,” jawab seorang mahasiswi yang bernama Ila dengan suara sangat pelan dan menundukkan kepalanya dalam. Sebelum Mbak Aci semakin menunjukkan raut wajah berangnya, Ila segera berjalan menuju ke sudut ruangan untuk mengisi daftar hadir dengan mata Mbak Aci yang terus mengawasinya. Semua mahasiswa yang ada di ruang baca seketika terdiam seribu bahasa. Sibuk dengan aktivitasnya masing-masing dan tidak berani mengeluarkan suara sebelum kondisi kembali tenang. Hening menjadi teman dan menggambarkan suasana pagi itu di ruang baca. Semuanya sibuk dengan laptop, skripsi, dan handphone masing-masing. Ayana pun sibuk dengan handphone-nya, sedangkan teman-teman di mejanya sibuk dengan laptop di hadapan tubuh dan di samping laptop ada lembar revisian serta skripsi cetak milik kakak tingkat. Getaran di handphone Ayana membuatnya mengalihkan fokus dari salah satu postingan yang melipir di beranda instagramnya. Ada sebuah pesan masuk ke whatsappnya, dari Nufi. Ayo kita menemui Prof. Susan. Setelah membaca pesan itu dari bar notifikasi, Ayana mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangan ke arah Nufi. Mereka saling mengangguk, seperti seorang detektif yang akan menjalankan misi rahasia. Mereka sama-sama berdiri dari duduknya. Tak lupa Ayana merapikan penampilannya, menghindari bagian belakang tunik batiknya yang kusut. “Mau ke mana, Ay?” tanya Fitri sambil mendongak penuh ke atas. “Ke Prof. Susan,” jawab Ayana dengan suara pelan. Ia tidak ingin menjadi sasaran untuk diwawancarai teman-temannya saat ini. Fitri sudah tampak akan berseru heboh dari mimik muka dan gerak bibirnya. Namun, sebelum hal itu terjadi Ayana sudah memberikan kode dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, kemudian ia mengucapkan kata nanti tanpa suara. Fitri mengangguk paham dan mengepalkan tangannya memberikan semangat. Ayana melangkah keluar dari ruang baca jurusan bersama Nufi. Mengenakan sepatu yang tadi ia letakkan di rak sepatu. Ada dua pasang sepatu yang masuk ke dalam tong sampah. Ah, ada saja mahasiswa yang masih berani tidak meletakkan sepatunya pada tempatnya. Ayana dan Nufi melongokkan kepalanya pada ruang besar dosen, ruang berkumpulnya beberapa dosen—setiap dosen memiliki ruangannya sendiri berdasarkan rumpun mata kuliah yang diampu. Tidak terlihat Prof. Susan. Mereka melanjutkan mencari posisi Prof. Susan di ruang Tata Usaha Jurusan dan masih belum terlihat adanya Prof. Susan. Tak lelah, mereka mencoba mengecek pada ruang makan dosen dan memasang indra pendengaran mereka dengan baik. Sayup-sayup terdengar suara Prof. Susan yang sedang tertawa bersama beberapa dosen yang lain. Ayana dan Nufi memutuskan untuk duduk pada kursi tunggu yang terbuat dari besi di depan ruang makan, menunggu Prof. Susan keluar. Tidak etis rasanya apabila mereka menyelonong masuk jika belum memiliki ijin. Dua insan itu menunggu dengan sabar. Ayana mengedarkan pandangannya ke arah koridor jurusan yang ramai hilir mudik mahasiswa, dosen, dan karyawan jurusan biologi. Lelah memutarkan kepalanya ke sana kemari, Ayana memilih memainkan kuku-kuku jarinya. Tidak membawa handphone membuatnya bingung harus melakukan apa, sedangkan Nufi tampak sibuk dengan handphone-nya. Suara Prof. Susan yang terdengar lebih kencang membuat Ayana dan Nufi segera beranjak dan menjauhkan diri dari gravitasi kursi. Mereka menunggu dengan was-was, khawatir Prof. Susan terburu-buru dengan jadwal yang beliau miliki. Saat Prof. Susan sudah melangkah keluar dari ruang makan dosen, Ayana dan Nufi seketika melangkahkan kakinya cepat untuk mengejar beliau. Demi seminar proposal, maka mereka harus gerak cepat. “Prof,” panggil Ayana dan Nufi bersamaan, membuat Prof. Susan menghentikan langkahnya. “Iya. Ada apa, Nam?” tanya Prof. Susan dengan suara keibuannya. Prof. Susan adalah salah satu dosen yang memang terkenal kalem tetapi akan tegas pada beberapa kesempatan jika mahasiswa terlalu ramai di dalam kelas. “Kami hendak mendaftar untuk seminar proposal, Prof.” Prof. Susan pun paham dan mengajak mereka kembali ke ruang makan dosen. Selain digunakan untuk makan, ada beberapa kubikel yang digunakan sebagai meja kerja individu dosen. “Dituliskan di sini ya. Sama seperti yang di atas nama kalian,” ucap Prof. Susan dengan meletakkan buku besar di atas meja. Ayana mempersilakan Nufi untuk menulis terlebih dahulu kemudian dirinya. “Sudah, Nak?” “Sampun, Prof.” Prof. Susan melihat data yang ditulis kemudian mengecek nama-nama dosen yang bidangnya berkaitan dengan skripsi kedua mahasiswanya itu. “Ayana nanti dosen pengujinya Bu Wanti dan Pak Jo, ya. Kemudian Nufi dosen pengujinya Bu Wanti dan Bu Arin. Untuk tanggalnya nanti diisi saat akan seminar ya,” jelas Prof. Susan. “Baik, Prof. Terima kasih, Prof.” Ayana dan Nufi bergantian mencium tangan Prof. Susan kemudian keluar ruang makan. Mereka berbelok ke ruang TU jurusan untuk meminta lembar penilaian seminar, berita acara, dan undangan seminar. “Setelah ini kita bareng-bareng cari dosen penguji untuk menentukan jadwal ya, Ay.” “Oke, Nuf.” Nufi dan Ayana berjalan beriringan untuk mencari Bu Wanti, Bu Arin, dan Pak Jo di ruangnya. Dan langkah menuju seminar pun tidak semudah itu, mereka harus melewati berbagai langkah agar seminar dapat terlaksana. Perjuangan mengejar gelar sarjana memang tidaklah mudah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD