Semua orang tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang memegang gagang telepon dan berbincang dengan klien, ada yang matanya fokus pada layar PC yang menampilkan suatu desain, ada yang sibuk berbincang serius mengenai ukuran bangunan yang akan dirancang, dan ada pula yang tampak sibuk melihat hasil cetak suatu desain bangunan.
“Teman-teman,” seru Ayunda dengan suara lantangnya. Kemudian ia melanjutkan ucapannya setelah mendapatkan perhatian semua orang yang berada dalam ruangan, “Pesan dari Pak Abdul, 15 menit lagi kita harus bergabung di ruang rapat. So, persiapkan diri kalian, ya.”
Pengumuman dari Ayunda membuat semua orang mulai mempersiapkan diri. Menyimpan file desain sebelum memode PC pada mode sleep, menggulung kertas hasil cetak dan menyimpannya pada tempat yang aman, dan mengakhiri perbincangan.
“Selamat pagi semuanya,” mulai Pak Abdul saat semua orang telah duduk pada kursinya masing-masing dan siap untuk melaksanakan rapat.
“Oke. Jadi tujuan saya mengumpulkan kalian di sini adalah untuk membahas proyek baru dari Kedai DnA yang terkenal itu. Yang selalu banyak pengunjungnya karena aneka minuman dan makanan yang disajikan. Kalian pasti tahu kan?”
Semua peserta rapat mengangguk. “Jadi owner-nya langsung menghubungi saya untuk meminta kita menjadi penanggung jawab dalam mendesain kedai cabang yang akan mereka bangun. Sebelum kita mempresentasikan desainnya, tentu seperti biasa silakan para planer designer untuk membuat desain yang paling menarik dan bagus di antara yang lain kemudian akan kita presentasikan di hadapan pihak DnA. Nanti jika sudah terpilih desain terbaik maka kita akan tentukan porsi kerja masing-masing. Selain planer designer silakan untuk yang lain boleh juga mengajukan desain. Rencananya kita akan bertemu dengan pihak DnA dua minggu lagi. So, prepare yourself from now. I hope you can do the best di antara yang lain. Bukan bermaksud untuk saingan. Tetapi silakan tingkatkan kemampuan kalian di proyek kali ini. Oke?”
“Oke, pak,” jawab semua peserta rapat sambil mengangguk-angguk paham.
Pak Abdul tidak pernah memimpin rapat secara kaku seperti orang lain. Ia selalu menyampaikan sesuatu dengan singkat, jelas, dan padat. Ia adalah salah satu direktur yang selalu merasa bahwa waktu yang ada tidak boleh terbuang untuk hal sia-sia. Dan menurutnya, rapat pun bukan ajang untuk menghabiskan waktu kerja, tetapi rapat adalah pemicu untuk meningkatkan semangat kerja agar lebih cepat dan tepat. Maka dari itu, ia selalu mengadakan rapat tidak pernah melebihi satu jam.
“Oke, kembangkan diri kalian dan sampai bertemu dua minggu lagi di rapat perdana kita dengan pihak DnA. Hari ini tetap semangat untuk bekerja. Jangan lemah dan membuang waktu dengan sia-sia. Dan ingat, improve yourself. But, don’t press yourself,” tegas Pak Abdul.
“Rapat kali ini sampai di sini. Pertanyaan silakan ditampung pada Ayunda dan seperti biasa akan saya jawab dan di-share oleh Ayunda di grup WA. Saya permisi. See you next time.”
Pak Abdul keluar dari ruang rapat diikuti dengan Ayunda. Dengan keluarnya Pak Abdul dan Ayunda dari ruang rapat membuat semua peserta rapat mulai saling berbincang.
“Kamu ikut, Tam?” tanya Yanuar.
“Entah. Belum ada pikiran ke sana. Tapi bisa saja aku ikut. Kenapa?”
“Nggak apa. Rugi saja kalau kemampuan mendesainmu kamu anggurkan,” jawab Yanuar.
Tama hanya mengangguk. Mengambil handphone yang tadi ia letakkan di atas meja rapat kemudian beranjak berdiri hendak meninggalkan ruang rapat.
“Tungguin kali, Tam,” ucap Yanuar sebal.
Tama hanya mengangguk tetapi ia tetap melanjutkan langkahnya, tidak berhenti untuk menunggu Yanuar. Membuat Yanuar misuh-misuh dan mempercepat gerakannya yang masih duduk di kursi rapat. Berat tubuhnya yang melebihi batas normal membuat gerakannya semakin susah dan membuat beberapa bagian tubuhnya harus terbentur meja ruang rapat. u*****n keras ia lontarkan secara spontan membuat yang lain memfokuskan pandangannya ke arah Yanuar. Sedangkan Tama yang baru menginjak pintu ruangan pun hanya menggelengkan kepalanya.
Tama terus berjalan ke arah mejanya. Mengabaikan Yanuar yang mengumpat di belakangnya. Ia sudah biasa mendengarkan u*****n dan sumpah serapah yang Yanuar ucapkan atas sikapnya. Yanuar juga yang ada-ada saja, hanya sekedar kembali ke meja masing-masing kenapa juga harus saling menunggu? Tama tidak paham jalan pikiran Yanuar yang terkadang dibuat ribet.
Yanuar segera melayangkan gulungan kertas desain yang sudah tidak dipake ke kepala Tama. Yanuar tidak peduli jika Tama memasang muka garangnya, ia hanya sedang kesal saja dengan kelakuan Tama yang selalu membuatnya ingin mengumpat dan menghajarnya.
Dan benar saja. Tama tak segan-segan memasang wajah garang dan dinginnya ke arah Yanuar yang mejanya tepat berada di sampingnya.
“Kenapa?” tantang Yanuar dengan santai. Ia sangat suka saat menjahili Tama. Apalagi ekspresi Tama yang selalu dingin dan dinilai menakutkan di hadapan anak-anak.
Tama mengabaikan Yanuar dan kembali fokus ke layar yang ada di hadapannya. Harusnya ia hafal jika Yanuar hanya ingin mengganggu dirinya.
Melihat respons Tama, Yanuar pun tertawa karena berhasil membuat Tama menanggapi kejahilannya. Memang hanya dirinya saja di antara yang lain yang berani mengganggu Tama dan dekat dengan Tama, sedangkan anak-anak yang lain tidak ada yang berani. Mengajak berbincang saja jika bukan karena pekerjaan mana mau mereka menemui Tama.
***
Kurang dari satu minggu batas waktu yang Pak Abdul janjikan untuk bertemu dengan pihak DnA, Tama mulai mendesain sebuah kafe dengan konsep yang mungkin berbeda dari yang lain. Setiap ia selesai dengan tugas utama pada proyek yang sedang berlangsung, ia akan membuka aplikasi CAD untuk mulai mendesain apa yang ada dalam angan-angannya.
“Kamu jadi ikut, Tam?”
Suara Yanuar tak membuat mengalihkan kefokusan Tama dari layar PC-nya. Tanpa menjawab pun seharusnya Yanuar tahu bahwa ia sedang fokus menggarap desain Kedai DnA.
“Belum jadi pun aku sudah dapat melihat bahwa desain kamu pasti ciamik. Dan langsung di-ACC sama pihak DnA,” komen Yanuar.
Yanuar dan Tama adalah rekan sejak masa perkuliahan. Hingga Tama harus bersyukur atau beristighfar karena harus satu tempat kerja dengan Yanuar kembali. Ia dan Yanuar dulu sering mengambil kelas yang sama sehingga Tama dan Yanuar sudah saling hafal atas diri masing-masing. Namun kedekatan di antara mereka tidak membuat Tama percaya begitu saja pada Yanuar, ia masih selalu membentengi diri dari orang-orang yang berpotensi akan memanfaatkannya.
“Anak-anak planer designer jaman sekarang pasti lebih jago. Pengetahuan mereka lebih banyak dari pada saat kita kuliah dulu,” tanggap Tama dengan mata fokus pada layar dan tangan kanannya sibuk menggerak-gerakkan mouse diikuti dengan tangan kiri yang bergerak kesana kemari di atas keyboard.
“Iya memang, tapi kemampuan kamu sejak kuliah sudah tidak perlu diragukan lagi. Jago luar biasa,” puji Yanuar.
Yanuar yang sering satu kelas dengan Tama sudah hafal di luar kepala bahwa kemampuan Tama dalam setiap tugas mata kuliah mampu mengerjakan dengan baik dan selalu menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.
Dosen kampus mereka bahkan menawarkan kepada Tama untuk bekerja di biro arsitek besar yang ada di Jakarta, tapi dengan sopan ia menolaknya. Ia ingin bekerja di kota ini saja bersama bundanya. Ia tidak ingin jauh dari bundanya yang saat ini tinggal sendiri. Membayangkan bundanya tinggal sendiri dengan posisinya yang jauh di Jakarta membuatnya tak nyaman dan tak tenang.
Tama merasa bahwa gaji berapa pun tak masalah, asal ia bisa selalu dekat dengan bundanya. Toh, ia juga membuka jasa freelance desain melalui aplikasi i********: dan website yang sudah ia buat sejak semasa kuliah. Dan penghasilan dari keduanya sangat cukup untuk hidupnya saat ini, ia juga sudah menabungnya.
“Halah. Sudah deh. Kamu ke sana. Ganggu konsentrasi saja,” usir Tama dengan nada judesnya. Ia adalah tipe orang yang susah fokus jika ada orang di sekitarnya yang mengganggu atau mengajaknya berbincang. Ia tak mempermasalahkan suara berisik, asal keberisikan itu tidak tepat berada di sampingnya.
“Waktunya makan siang, Tam. Makan di ayam bakar seberang, yuk,” ajak Yanuar.
“Kamu saja sana beli. Terus bungkuskan buat aku.”
“Enak saja. Niat hati ingin mencari teman makan tapi kamu dengan entengnya menyuruhku beli sendiri,” omel Yanuar kesal.
“Kan kalau kamu beli terus dibungkus bisa dimakan di sini. Sama saja kan makan bersama,” jawab Tama enteng.
“Kalau urusan makanan mulutmu itu memang mau terbuka untuk berbicara panjang lebar ya,” dumal Yanuar. “Sia-sia sudah aku ngobrol sama kamu dari tadi, ujung-ujungnya aku harus pergi sendiri.”
“Jangan lupa bungkuskan buat aku!” tandas Tama tak merasa bersalah.
Yanuar tak menanggapinya. Ia berjalan dengan langkah menggebu ke arah pintu kaca. Melihat Aini dan yang lain akan berjalan keluar juga, membuatnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengajak mereka makan siang di ayam bakar depan biro. Ia sudah mengidam-idamkan kelezatan bumbu ayam yang meresap sejak pagi tadi.
Tama yang mendengar Yanuar mengompor-ngompori anak kantor untuk berpindah haluan membeli ayam bakar dari pada nasi padang pun mulai goyah hatinya. Namun kemudian ia tersadar, ia yakin bahwa Yanuar pasti akan membelikan dan membungkuskan ayam bakar untuknya. Ia pun kembali fokus pada layar PC.
Adzan Dhuhur yang mulai terdengar dari berbagai penjuru membuatnya menghentikan kesibukannya dengan PC, ia menyimpan dan menutup desain yang ia buat.
Jujur saja ia sebenarnya tak enak hati dengan anak planer designer karena ia juga akan bergabung dalam mendesain konsep Kedai DnA, tapi ia tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata begitu saja. Baginya ini adalah langkah pembuktian bahwa ia menjadi manajer proyek karena memang ia berkompeten.
Biarkan ia dinilai sebagai orang egois. Kali ini dirinya sedang dalam ambisi yang besar. Ia juga sedang memiliki suatu target yang ingin dicapai, dan ini adalah salah satu cara untuk meraih target itu.