7. Potret Sanubari Ayana

1770 Words
Ruang kamar kos Asti terlihat penuh oleh beberapa plastik kresek yang berisi makanan berat, camilan, es, dan tentunya tujuh makhluk ciptaan Allah yang ber-gender perempuan. “Jadi gimana, Ay?” tanya Asti dengan nada dan wajah yang begitu penasaran. “Makan dulu saja, rek. Perbincangan kali ini menguras tenaga soalnya,” saran Ayana dengan wajah lesunya. Yang lain menyetujui saran Ayana. Membuka nasi bungkus masing-masing yang mereka beli di food court kampus dan mulai menyantapnya dengan lahap. Bungkus nasi berupa kertas minyak telah diremas dan dimasukkan dalam plastik kresek yang tadi digunakan sebagai wadah nasi. Menancapkan sedotan pada plastik pengepres gelas plastik, kemudian mereka mulai menyedot es teh dengan perlahan kecuali Rahma yang tidak begitu menyukai es. Ayana menceritakan tuduhan bapaknya di malam Jum’at kemarin kepada Netizean Budiman dengan jelas, rinci, dan runtut. Mimik muka Ayana yang tadi sudah tampak lesu sekarang semakin bertambah lesu. Tampak mengenaskan dan sangat perlu dikasihani. “Terus gimana Ay? Sampai hari Minggu bapak kamu masih belum mau ngobrol sama kamu?” tanya Nia mewakili yang lainnya. Ayana menggeleng dengan pelan. Hari Sabtu dan Minggu ia sudah mencoba mendekati dan mengajak ngobrol bapaknya akan tetapi hasilnya nihil. Ibu dan abangnya pun juga ikut membujuk, tetapi dengan pendiriannya yang kuat bapak Ayana tetap pada apa yang beliau ucapkan di hari Jum’at. “Terus aku harus pulang ke mana, rek? Nggak mungkin kan aku di Surabaya terus, apalagi disaat nanti kalian pulang.” Ayana tampak putus asa. Air mata yang baru mengering kemarin malam, siang ini mulai terproduksi lagi dan membasahi matanya. Sebelum kembali ke Surabaya, Ayana sudah meminta maaf dan memohon kepada bapaknya agar bapaknya mencabut ucapannya tempo Jum’at. Ia bahkan sudah setengah duduk dengan menyejajarkan dirinya dengan lutut bapaknya saat beliau sedang asyik menonton acara sepak bola di salah satu saluran televisi, tetapi beliau tetap diam bagaikan patung dan matanya tak teralihkan sedikit pun dari layar datar itu. Lebih parahnya, bapak Ayana tidak mau mengantarkan putrinya kembali ke stasiun hingga akhirnya mengorbankan abangnya untuk mengantarnya. Hal itu membuatnya menangis di sepanjang jalan menuju stasiun hingga di dalam kereta. Ia tidak peduli, ia tidak malu, ia hanya ingin melampiskan kesedihan yang melanda hatinya karena sikap bapaknya yang tiba-tiba berubah kepadanya. “Kenapa nggak pulang ke rumah abang kamu saja? Apa om juga melarang?” tanya Fitri dengan suaranya yang cukup cempreng. “Bener itu. Ke rumah abang kamu saja. Seandainya pun kamu nggak bisa ketemu sama om, tante pasti mau menemui kamu ke rumah abang kamu,” sahut Fina yang tadi masih fokus dengan siomaynya. Wajah Ayana sedikit demi sedikit mulai berbinar. “Ah iya. Kenapa aku nggak kepikiran ya?” “Ya soalnya pikiran kamu sudah pusing dan penuh dengan perubahan sikap yang bapak kamu lakukan.” Asti akhirnya mulai menyahuti. “Iya. Nanti aku mau coba hubungi abang dan kalau pulang biar aku pulang ke sana,” ucap Ayana dengan senang. “Adanya Netizean Budiman ini membuat kepala kita bisa menjadi dingin dan mampu memecahkan masalah yang ada,” ucap Nugi. “Bener banget. Terima kasih ya, net. Kalian luar biasa pokoknya.” Ayana menghambur ke arah teman-temannya dan memeluk mereka. Di siang hari yang cukup panas itu, mereka tidak memedulikan keringat yang sudah menempel pada baju. Mereka hanya yakin dan percaya bahwa mereka adalah sahabat yang rasanya sudah seperti keluarga. *** Sejak saat itu, Ayana terus berjuang dan tak kenal lelah dengan yang namanya revisi. Ia sudah kebal apabila Bu Puspa memintanya untuk revisi. Dengan adanya Netizean Budiman juga membuatnya mampu bangkit, tidak down ketika harus berulang kali membuang tenaganya untuk revisi. Tidak merasa sayang saat harus merelakan berlembar-lembar kertas mendapatkan coretan dari Bu Puspa. Semakin dicoret kertas-kertas itu, ia merasa bahwa ia mampu membuat skripsinya menjadi skripsi yang paling baik. Ia menjadi percaya diri bahwa ia dipercaya untuk mengembangkan produk skripsinya menjadi produk yang layak untuk digunakan dalam pembelajaran. “Gimana? Sudah selesai bimbingannya? Bu Puspa masih mau menerima kedatanganku yang terlambat nggak ya?” tanya Vita beruntun. Napasnya memburu, ia tadi mengirim pesan di grup bimbingan skripsi bahwa ia terjebak macet di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya. “Tadi beliau menanyakan kealpaan kamu. Terus kujelaskan kalau kamu masih di jalan. Coba ketuk pintu saja, Vit,” jawab Nufi. Sedangkan Ayana hanya menjadi pendengar di antara mereka. Dirinya merasa tidak sanggup untuk berkata-kata. Ia merasa kembali lelah dan muak dengan jalan hidupnya saat ini. “Oke deh. Aku mau mencoba masuk dulu ya.” Ayana dan Nufi hanya menganggukkan kepalanya. “Kamu mau pulang atau di sini saja, Ay?” tanya Nufi saat hanya mereka berdua yang tersisa di koridor ruang dosen. “Ehm. Kamu mau pulang, Nuf?” tanya Ayana balik. “Iya. Mau tidur kalau nggak ya entahlah. Nonton drakor mungkin. Kalau pulang, ayo sekalian.” “Boleh, deh.” Ayana dan Nufi berjalan bersisian menuju ke parkiran fakultas. Ayana tampak tak fokus. Pikirannya rasanya blank. Nufi menyenggol lengan Ayana cukup kuat, membuat Ayana menolehkan kepalanya ke arah Nufi dan mengangkat alisnya. “Kenapa, Nuf?” “Itu lho, dipanggil sama Mbak Aci.” Nufi mengarahkan kepalanya ke arah ruang baca jurusan. Ayana mengikuti Nufi memandang ke pintu ruang baca jurusan, Mbak Aci sedang berdiri di sana sambil membawa beberapa tumpuk map. “Ayana!” panggil Mbak Aci dengan suara yang cukup lantang. Ayana berjalan mendekat ke arah Mbak Aci dengan tampang lesunya. “Kenapa, mbak?” “Nanti sore kamu ke mana? Ikut aku beli nasi bebek yuk di belakang RSAL,” ajak Mbak Aci dengan semangat. “Boleh deh, mbak. Aku juga pingin jalan-jalan. Biar nggak di daerah kampus terus,” gurau Ayana. “Oke deh. Nanti ku-chat kamu ya.” “Siap. Aku mau pulang dulu ya mbak,” pamit Ayana. “Iya. Hati-hati. Nufi, tolong antarkan adek kecilku sampai kos dengan selamat lho ya!” peringatnya. Nufi tertawa geli. Namun ia tetap mengangguk. Kemudian mereka berdua melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. “Terima kasih ya, Nuf. Hati-hati di jalan,” ucap Ayana saat Nufi akan pergi meninggalkan kosnya setelah ia turun dari boncengan motor matic milik Nufi. “Siap. Aku pulang dulu ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Motor Nufi yang sudah melaju meninggalkan gang kosnya membuat Ayana melangkahkan kakinya yang dibalut dengan flat shoes warna moca dengan aksen dua mutiara yang ditempel pada ujung sepatu ke arah bangunan kos. Menaiki tangga satu per satu untuk mencapai kamarnya dengan langkah lemah. Ia mencari-cari kunci kamar kosnya dalam tote bag, kemudian mulai membuka pintu dengan kunci berwarna silver. Tanpa mengganti bajunya dan melepas kaos kaki yang masih menempel pada kaki, Ayana langsung mengambrukkan dirinya di atas kasur. Tote bag yang tadi tersampir pada bahu pun belum terlepas, ia rasanya ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. Kenapa berat sekali rasanya bersabar? “Ayana, ini sekali lagi direvisi ya. Perlu ditegaskan pada beberapa bagian tentang langkah-langkah inkuirinya. Kemudian untuk setiap langkah inkuiri* ini, kamu buat se-natural mungkin. Jadi jangan terkesan seperti memaksa antar step-nya. Bisa dipahami ya?” ucap Bu Puspa tadi. “Iya, bu,” jawab Ayana sambil menganggukkan kepalanya. LKPD yang tadi pagi baru saja ia cetak dan bersih dari noda saat ini kondisinya penuh dengan coretan bolpoin warna biru milik Bu Puspa. Ayana tak mempermasalahkan coretan itu, hanya saja kenapa harus revisi lagi? Ini sudah bulan Januari. Lalu kapan ia sempro, validasi LKPD, ambil data di sekolah, dan sidang skripsi? Ayana ingin sekali berteriak, tapi dari pada ia mendapatkan lemparan sandal dan amarah dari ibu kos lebih baik ia menahannya. Dan akhirnya Ayana salurkan dengan tawa miris yang terdengar menyedihkan. Bagaimana bisa ia pulang ke rumah lebih cepat jika masih harus revisi terus menerus. Sebenarnya jika ia tak pulang tak apa, hanya saja hubungannya dengan bapak sedang tidak baik-baik saja. Jika semuanya baik-baik saja mungkin ia akan lebih tenang dan menjalani revisi skripsi dengan lebih ceria tanpa beban. Sedangkan saat ini kondisinya tidak seperti itu, ia merasa tertekan karena hubungannya dengan bapak sedang tidak baik dan juga ia merasa lelah serta muak karena harus revisi terus menerus. Revisi yang seakan tidak ada ujungnya. Ayana menutup matanya dengan lengannya. Ia tak ada daya. Rasanya ia ingin menyerah, tapi jika ia menyerah maka tamat sudah hidupnya. Ia akan semakin dijauhi bapaknya dan membuat hidupnya tidak tenang. Lagi pula sangat disayangkan jika ia berhenti saat ini, ia sendiri yang memilih untuk berkuliah jadi ia juga harus bertanggung jawab akan pilihannya. Mengambil bantal bersarung motif bunga tulip berwarna lilac, ia rapatkan di depan mukanya dan ia segera berteriak. Mengeluarkan segala emosi yang menumpuk. Dan bantalnya itu berhasil menyelamatkannya dari amukan ibu kos dan juga siksa batin yang ia tahan dari tadi. Dirinya merasa lega, sangat lega. Dan PR-nya setelah ini adalah ia harus mengumpulkan niat dan semangat untuk merevisi kembali produk skripsinya. Ia tidak boleh merasa tertekan seperti ini. Ayana bangkit dari rebahannya kemudian menggantungkan tote bag-nya. Ia melepas kerudungnya dan juga mencari baju ganti yang nyaman untuk kondisi cuaca yang cukup panas di pukul 10 pagi ini. Dering handphone-nya membuatnya membatalkan niatnya yang ingin membeli sarapan dan makan siang di depan gang kos. Ia mengambil HP yang membuat kondisi kamar menjadi berisik, nama Nia dengan display picture foto mereka bertujuh muncul di layar HP-nya. “Assalamu’alaikum. Ada apa?” tanya Ayana saat ia menerima panggilan itu. “Wa’alaikumsalam. Kamu di mana? Aku nyari kamu di segala penjuru kampus kok nggak ada?” tanya Nia balik. “Di kos. Habis bimbingan tadi aku langsung pulang.” “Yah. Kukira di kampus, kita-kita ini mau makan bareng mi ayam di belakang kampus. Kamu nggak ikut?” Mendengar nama mi ayam disebut membuat perut Ayana yang belum diisi makanan pun meronta-ronta dan berteriak, meminta untuk segera diisi. “Wah, pingin dong. Tapi aku sudah terlanjur pake baju santai ini. Emang ada yang mau jemput aku?” “Ya tinggal pake jaket atau kardigan kan beres, Ay. Kalau kamu mau ayo kujemput. Biar nanti dipesenin anak-anak, jadi kita tinggal makan nanti,” ucap Nia disertai dengan tawa. “Boleh, deh. Jemput aku ya?” “Iya. Tunggu di pintu gang biar cepet.” “Oke. Siap.” Kehadiran Netizean Budiman dalam hidup Ayana memang memberikan banyak arti dalam hidupnya. Galau yang menyergap diri akan mulai sedikit melebur dengan kehadiran mereka. Mereka memang sangat berarti dan selalu istimewa di hatinya. Note: Inkuiri adalah salah satu metode pembelajaran, di mana siswa diharapkan aktif dalam pembelajaran dan guru hanya berperan sebagai fasilitator, motivator atau membimbing dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam pembelajaran inkuiri adalah orientasi dengan berupa melihat suatu video, gambar, atau membaca suatu informasi, kemudian dilanjutkan dengan merumuskan pertanyaan, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data melalui percobaan atau praktikum, dan terakhir adalah menuliskan kesimpulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD