“Dari pihak kami, kami berharap dan jika perlu kami menekankan agar desain dan bahan yang digunakan untuk pembuangan limbah harus yang paling terbaik di antara yang terbaik dan tentunya aman karena limbah dari laboratorium kebanyakan cukup berbahaya. Sedangkan untuk desain laboratorium secara keseluruhan semuanya saya rasa sudah sesuai standar dan kami percaya bahwa desain serta bahan yang akan digunakan nantinya sesuai dengan standar yang ada,” ucap salah satu dosen profesor yang bergabung dalam rapat gabungan antara kontraktor, pihak kampus, dan biro arsitek yang memenangkan tender untuk pembangunan sebuah laboratorium IPA dengan tegas.
“Saya rasa rapat kali ini sampai di sini. Mohon maaf apabila ada perkataan saya yang kurang berkenan. Dan terima kasih atas perhatiannya,” lanjut profesor tersebut. “Ah, dan untuk pihak kontraktor dan dari biro untuk tetap bertahan di sini begitu pula dengan bapak/ibu dosen yang lain. Mari kita makan siang bersama-sama agar pembangunan laboratorium minggu depan dapat berjalan dengan lancar. Aamiin,” tutup beliau.
Pembawa acara kemudian menutup rapat setelah menerima mikrofon dari profesor yang bertanggung jawab akan pembangunan laboratorium IPA yang mendapatkan dana hibah dari Dikti. Dengan ditutupnya rapat membuat seluruh peserta rapat mulai berdiri dari kursinya masing-masing untuk menuju ke arah meja panjang di belakang ruangan yang dialihfungsikan untuk menata makanan dan ada pula yang memilih keluar ruangan untuk menunaikan sholat Dhuhur.
“Tam, kamu mau makan siang dulu atau sholat dulu?” tanya Yanuar yang berdiri di samping kursi tempat Tama duduk.
“Sholat dulu deh, Jun. Aku juga belum terlalu lapar. Kalau kamu mau makan dulu silakan.”
“Aku ikut kamu saja deh. Aku gak enak kalau makan sama para cewek-cewek. Lagi pula Pak Abdul juga tampak sedang berbincang serius dengan pihak kampus dan kontraktor,” ucap Yanuar sambil melihat ke arah direktur biro Architecta yang memang sedang asyik berbincang dengan pihak kampus dan kontraktor.
“Ya sudah. Ayo!” ajak Tama.
Tama dan Yanuar berjalan keluar ruangan. Berjalan di koridor yang menuju ke arah mushola fakultas yang sudah mereka ketahui letaknya karena pernah sekali sholat saat rapat pertama kali dulu.
“Anak FMIPA dominan cewek ya, Tam,” ujar Yanuar saat mereka duduk di emperan mushola sambil melepas sepatu.
Tama mengamati sekelilingnya. Benar apa yang dikatakan Yanuar, mungkin perbandingan antara laki-laki dan perempuannya sekitar satu banding 9.
“Iya,” jawab Tama singkat.
Yanuar menampilkan raut wajah bosan karena jawaban Tama yang selalu singkat. “Ngajak ngobrol kamu itu harus mempunyai stok kesabaran yang banyak, Tam,” komen Yanuar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entah nanti pasangan kamu modelnya gimana ya kira-kira? Apa perempuan cerewet? Atau malah lebih diam dari kamu?” Yanuar terus berbicara sambil membayangkan bagaimana nanti jalannya asmara rekannya itu.
Tama menatap ke arah Yanuar dengan pandangan menghunusnya. Yanuar yang ditatap seperti itu pun hanya menunjukkan cengerin tidak bersalahnya. Toh ia sudah sering mendapatkan tatapan seperti itu dari Tama, jadi ia sudah kebal.
Tama berdiri dari duduknya, ia menuju ke arah tempat wudhu pria. Yanuar pun segera mempercepat prosesi melepas sepatu dan kaos kakinya untuk mengikuti Tama.
20 menit kemudian mereka telah selesai sholat dan kembali duduk di emperan mushola untuk menggunakan sepatu. Tama dengan pandangan fokusnya ke arah sepatu dan Yanuar yang masih sibuk mengawasi mahasiswa FMIPA yang berseliweran melewati mushola atau pun yang baru akan dan selesai sholat.
“Ayo, Ay! Buruan!” ucap seorang mahasiswi berkerudung warna hitam dengan nada yang memburu dan tergesa.
“Iya, iya, Fit. Sabar sebentar kenapa sih? Tali sepatuku lepas ini.” Mahasiswi yang mengenakan kerudung warna army merespons temannya itu dengan nada jengkel.
“Ih nanti saja. Kita sholat dulu. Jam satu aku harus ketemu sama Prof. Susan.”
“Iya, iya. Ayo! Rempong selalu deh. Salah sendiri kamu diajak ke kosku buat nge-print di sana kamu malah keukeh minta nge-print di belakang kampus,” ujar mahasiswi kerudung army itu dengan kesal. “Sudah ayo,” lanjut perempuan kerudung army yang tampak imut itu dengan menarik lengan rekannya dengan penuh tenaga.
Tama dan Yanuar sama-sama memperhatikan dua mahasiswi tersebut hingga mereka sudah masuk ke dalam tempat wudhu wanita. Tama dan Yanuar kemudian saling memandang. Mereka sama-sama mengedikan bahunya dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua mahasiswi itu.
“Kukira tadi Ai yang dimaksud itu Aini,” ucap Tama saat mereka mulai berjalan meninggalkan mushola untuk kembali ke auditorium fakultas yang tadi digunakan untuk rapat.
“Iya sama. Dan dengan bodohnya aku tetap memperhatikan mereka berdua yang sedang asyik ngobrol,” jawab Yanuar.
“Sama.”
Tama tidak menyangka bahwa dirinya tampak seperti ikut campur karena memperhatikan pembicaraan orang lain yang bahkan ia tidak mengenalnya. Ia selama ini tidak pernah seperti ini. Namun entahlah, ia tadi seperti terseret untuk tetap memperhatikan dan memfokuskan penglihatan serta pendengarannya kepada dua mahasiswi tadi.
Tama menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa ia bisa menjadi seperti ini? Ah, sudahlah. Ia berusaha melupakan percakapan dua mahasiswi tadi, ia tidak ingin menjadi Tama yang seperti dulu lagi.
“Mas Tama dan Mas Yanuar dari mana?” tanya Susan saat Tama dan Yanuar baru saja bergabung dengan Susan dan Aini yang sudah selesai makan dan sedang sibuk minum es buah yang dihidangkan.
“Sholat,” jawab Yanuar.
“Yah, kok kita nggak diajak?” protes Aini.
“Ya kalau kalian sadar bahwa sholat itu memang kewajiban seharusnya kalian tanpa diajak atau diperintah juga akan berangkat sendiri,” sahut Tama dengan nada datar yang mampu menohok semua orang yang berada di meja itu. Tama berucap demikian dengan mata yang terfokus pada nasi di piringnya.
Yanuar, Susan, dan Aini pun langsung diam membisu. Apa yang diucapkan Tama memang benar 100%. Ibadah adalah urusan hamba dengan Tuhannya. Maka sebagai hamba, harusnya sadar bahwa seorang hamba yang membutuhkan Tuhan bukan Tuhan yang membutuhkan hamba-Nya.
Tama mendongak dan memperhatikan rekan-rekannya yang diam. “Kenapa?” tanya Tama dengan tidak pekanya.
“Nggak jadi makan, Jun?” tanya Tama karena melihat Yanuar yang mendiamkan nasi di piringnya. Bukan Yanuar sekali. Seorang Yanuar adalah orang yang sangat susah dijauhkan dari makanan.
“Jadi. Ini baru mau kumakan,” jawab Yanuar. Kemudian ia mulai melahap makanan di piringnya. Begitu pula dengan Aini dan Susan yang melanjutkan menikmati es buah mereka.
Mereka makan dalam keadaan hening. Tama tentu tidak masalah. Sedangkan tiga orang yang lain masih tertohok atas ucapan spontan Tama. Susan dan Aini kemudian pamit untuk melaksanakan sholat setelah es dalam gelas mereka habis. Meninggalkan Yanuar yang sudah sibuk dengan handphone-nya karena kecepatannya dalam makan dan Tama yang masih fokus dengan butiran-butiran nasi, lauk, dan sayur yang ada di piringnya.
“Yang lain ke mana?”
Suara Pak Abdul membuat Yanuar mendongakkan kepalanya yang tadi menunduk fokus ke layar handphone dan Tama segera mengalihkan piring dan gelas yang ada di hadapan Pak Abdul ke meja samping mereka.
“Susan dan Aini masih sholat, pak,” jawab Yanuar.
Pak Abdul mengangguk. “Setelah ini kita kembali. Tama atau Yanuar yang menyetir?” tanyanya.
“Saya saja, pak. Yanuar kan sudah tadi saat perjalanan ke sini. Biar saya yang menggantikan,” ucap Tama menawarkan diri. Ia tidak mungkin membiarkan Yanuar lagi yang menyetir. Ia sudah mempunyai lisensi untuk menyetir mobil, tak etis rasanya jika masih membiarkan Yanuar yang menyetir saat mereka kembali nanti.
“Oke. Saya sudah selesai berbincang dengan pihak kontraktor dan kampus tadi. Semuanya sudah beres. Kita hanya perlu ke sini pada awal pembangunan dan mengecek proses pembangunan setiap satu minggu sekali agar tidak ada pembangunan yang melenceng dari rancangan,” ucap Pak Abdul.
“Siap, pak!” jawab Tama dan Yanuar secara bersamaan.
“Apa kita tunggu Susan dan Aini di parkiran saja?” tanya Pak Abdul.
“Ehm. Boleh saja, pak. Saya coba hubungi Aini dulu,” ucap Yanuar.
Setelah menghubungi Aini. Mereka bertiga berjalan meninggalkan auditorium yang masih tersisa beberapa orang saja.
Dalam perjalanan menuju parkiran, terlihat dan terdengar perbincangan antara dua manusia di sisi jalan koridor.
“Mbak Ayana!” panggil seorang laki-laki.
Seorang perempuan yang dipanggil tersebut pun menolehkan pandangannya ke arah sang pemanggil dan menghentikan langkahnya.
“Eh, hai dek,” respons perempuan itu dengan senyum cerianya yang menampilkan lesung pipi pada pipi kirinya. Membuatnya menjadi lebih manis dan imut.
“Anak-anak mau ngadakan acara gathering hari Sabtu sore sampai malam di joglo biologi. Yah nanti diisi dengan semacam cara mendirikan tenda, masak saat camping, pokoknya latihan dasar-dasar saat pendakian gitu deh, mbak,” jelas laki-laki itu. “Mbak mau gabung, nggak?”
“Ehm. Angkatanku banyak yang ikut nggak, dek?”
“Ada Mas Wishnu, Mbak Ndari, Mbak Lilis. Gimana, mbak?” tanya laki-laki itu dengan tidak sabar.
“Boleh deh. Dari pada gabut di kos. Nanti jangan lupa ingatkan aku lagi ya,” pinta perempuan yang dipanggil Ayana tadi.
“Siap, mbak. Mbak mau ke mana?”
“Mau pulang. Sudah selesai bimbingan aku. Jadi mau di kos saja. Lihat temen-temen riweh di kampus buat kepalaku semakin pusing,” jawab perempuan itu sambil terkekeh.
“Diantar siapa, mbak? Mau kuanterin?” tawar laki-laki itu.
Ayana menggeleng dengan kuat. “Enggak usah, dek. Aku sama temenku. Itu dia nunggu di sana,” jawab Ayana sambil menunjuk pada ujung koridor yang memang ada seorang perempuan di atas motor matic.
“Oh oke deh, mbak. Sabtu pagi kuingatkan biar nggak lupa.”
“Siap. Duluan ya, dek.”
“Iya, mbak. Hati-hati di jalan.”
“Siap.”
“Itu kan perempuan tadi ya, Tam?” tanya Yanuar saat Ayana berjalan meninggalkan tempatnya berdiri tadi.
“Iya.”
“Kalian kenal?” tanya Pak Abdul ikut bergabung dalam pembicaraan karyawannya.
“Enggak, pak. Tadi hanya melihat saja saat di mushola.”
Pak Abdul mengangguk. Lagi pula tidak mungkin juga karyawannya mengenal mahasiswa di kampus ini. Kenapa juga ia memikirkan hal ini? Seharusnya yang ia pikirkan adalah bagaimana cara menarik klien sebanyak-banyaknya.