Ayana baru saja turun dari gerbong kereta api lokal ekonomi. Ia berjalan menuju pintu keluar stasiun dengan menggendong ransel hitam yang berisi beberapa pakaian dan barang yang sudah tidak ia pakai lagi selama di Surabaya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir banyaknya barang yang akan ia packing ketika nanti sudah kembali ke kampung halaman setelah selesai sidang skripsi. Sling bag warna mocca yang berisi handphone, dompet, charger HP, dan air pod tergantung pada bahu kanannya.
Ia menengok ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan mobil bapaknya saat berada di luar stasiun. Ketika ia menunduk hendak mengambil handphone di dalam sling bag untuk menghubungi orang tuanya terdengar suara klakson mobil yang membuat Ayana mengurungkan niatnya itu dan memilih melihat mobil itu apakah bermaksud memintanya menepi atau mobil itu milik bapaknya. Melihat jenis dan warna mobilnya, Ayana pun yakin dengan pasti jika itu mobil milik bapaknya. Ayana segera berjalan menuju mobil tersebut.
“Assalamu’alaikum, ibu, bapak,” ucap Ayana dengan riang dan senyum cerah meskipun hari sudah gelap saat ia masuk ke dalam mobil.
Ia meletakkan sling bag dan ransel di sampingnya, kemudian ia mencium tangan ibu dan bapaknya. Ibu menyambutnya dengan begitu hangat, beliau memberikan usapan singkat pada kepalanya yang berbalut jilbab bergo navy sedangkan bapaknya menampilkan muka garang yang Ayana sendiri pun tidak ketahui penyebabnya. Padahal Ayana memberikan senyum hangat yang tertuju pada bapaknya. Respons bapaknya membuat senyum hangat dan cerah yang tadi ia tampilkan kini berubah menjadi raut kebingungan.
Ada apa? Batin Ayana.
Melihat raut bingung Ayana, ibunya memberikan senyuman maklum berharap Ayana tidak perlu memikirkan hal tersebut. Namun bukannya menurut akan apa yang diharapkan oleh ibunya, otaknya terus berpikir kesalahan apa yang ia lakukan. Bapaknya sangat jarang marah kepadanya, kalau pun marah beliau langsung mengeluarkan unek-uneknya, tidak ada yang dipendam. Dan kali ini beliau mendiamkannya dengan raut muka yang menyeramkan.
“Kamu bersih diri dulu terus jangan lupa sholat. Kemudian ayo kita makan malam bersama,” perintah ibunya dengan lembut saat mereka sudah tiba di rumah.
“Iya, bu,” jawab Ayana dengan patuh.
Ia berjalan dengan langkah gontai karena masih memikirkan apa yang membuat bapaknya menjadi memperlakukannya berbeda. Selama ini beliau selalu menyambutnya dengan hangat saat pulang. Memberikan senyuman, memeluknya, dan mencubit pipinya gemas. Menjadi putri bungsu membuatnya menjadi anak yang begitu dimanjakan dan disayang. Apalagi kakaknya adalah laki-laki dan sekarang sudah menikah, sudah memiliki rumah sendiri yang terletak tidak jauh dari rumah orang tuanya membuatnya semakin berada di atas angin karena mendapatkan kasih sayang yang melimpah.
Ayana masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan ransel pada lantai dan sling bag pada gantungan baju, ia duduk di atas kasur empuknya. Ia merenung. Pikirannya tidak tenang. Otaknya memikirkan banyak spekulasi-spekulasi negatif.
Ayana akhirnya memilih segera beranjak dari duduknya, ia tidak ingin membuat bapaknya semakin marah apabila menunggu dirinya terlalu lama untuk makan malam.
30 menit kemudian Ayana sudah bergabung di meja makan yang terletak menyatu dengan dapur. Bapaknya tampak sedang sibuk dengan handphone-nya dan ibunya sedang menyiapkan makan untuk bapak.
“Ayo makan, nak. Kamu pasti lapar,” ajak sang ibu.
Piring di hadapan bapak dan ibu sudah terisi, kini saatnya Ayana mengisi piringnya. Ayana mengangguk kemudian mulai mengisi piringnya dengan nasi, lauk, dan sayur yang tersedia di atas meja. Makan malam kali ini dalam keadaan hening membuat Ayana semakin menciut. Padahal jika Ayana pulang seperti hari ini, suasana di meja makan begitu ramai. Entah kesalahan apa yang ia perbuat sehingga menjadi seperti ini.
Ayana hanya mampu memendam pertanyaan itu di dalam benaknya. Ia tidak berani mengutarakan saat bapaknya sedang fokus makan. Bapak sebenarnya tidak pernah melarang siapa pun untuk berbicara ketika makan asalkan yang diperbincangkan adalah sesuatu yang positif, bukan membicarakan orang lain atau ghibah. Namun melihat mood bapak yang tidak baik, maka memendam semuanya adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
“Bapak,” panggil Ayana setelah mereka selesai makan.
Ibu Ayana yang sedang meletakkan piring pada bak pencuci piring pun ikut menoleh ke arah Ayana, memberikan semangat kepada Ayana. Bapak yang dipanggil mengalihkan pandangannya dari layar handphone dan terpusat pada putri bungsunya.
“Ehm, apa adek buat salah ke bapak sehingga bapak mendiamkan adek?” tanya Ayana dengan suara pelannya sambil menundukkan kepalanya dalam. Ia tidak berani melihat respons wajah bapak atas pertanyaannya.
Ayana sebagai putri bungsu di keluarga membuatnya dipanggil adek hingga dirinya sebesar ini. Namun ia tidak keberatan, dengan panggilan adek membuat dirinya selalu disayang disetiap saat oleh keluarga.
Bapak Ayana masih diam membisu, tidak memberikan jawaban apa pun terhadap pertanyaan Ayana. Dan Ayana pun masih terus menundukkan kepalanya dalam.
Melihat keheningan di meja makan membuat ibu Ayana mengambil alih situasi, beliau berpura-pura batuk untuk mencairkan suasana dingin itu. Dan nyatanya usaha ibunya berhasil karena membuat bapak Ayana segera membuka mulutnya yang tadi terkunci rapat.
“Kamu kapan sidang skripsi?”
Nyatanya bukan kelegaan dan angin segar yang ibunya serta Ayana rasakan atas terbukanya kunci pada mulut bapaknya, tetapi sebuah pertanyaan yang menyayat hati Ayana. Pertanyaan yang begitu horor. Pertanyaan yang dirinya pun tidak mampu memberikan jawaban.
“Kan adek belum seminar proposal, pak. Setelah seminar proposal, adek juga harus validasi produk dulu kemudian baru bisa ambil data di sekolah. Data yang diperoleh lalu diolah dan hasilnya nanti bisa disidangkan,” jelas Ayana perlahan dengan posisi yang masih menundukkan kepalanya menghadap ke arah jari-jarinya yang sedang bertaut di atas pahanya.
“Lalu kapan kamu seminar proposal? Katanya kamu sudah mulai mengerjakan skripsi dari semester enam kan? Dan sekarang sudah bulan November, masuk semester tujuh. Jangan-jangan selama ini kamu hanya membuat cerita karangan agar tidak tampak kalah seperti Anisa saat di hadapan keluarga besar kita waktu itu?” tuduh bapaknya.
Tuduhan itu tentu menciptakan luka besar bagi perasaan dan hati Ayana. Air mata pun tanpa diminta mulai menetas dengan tak tertahankan. Ayana berusaha menahan suara isakan yang akan keluar dari bibirnya. Ibunya yang berdiri di depan rak piring hanya mampu diam membeku. Tak menyangka bahwa suaminya akan berucap demikian.
“Bapak tidak percaya dengan adek?” tanya Ayana dengan nada pilu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah bapaknya dengan air mata yang menetes deras. “Adek juga sudah berusaha untuk cepat agar bisa segera seminar proposal. Adek juga punya impian agar lulus 3,5 tahun. Namun harapan itu sirna, pak. Adek juga saat ini sedang merevisi produk yang adek kerjakan.”
“Berarti kamu yang memang tidak mampu membuat produk skripsi yang baik sehingga dosen kamu tidak mempercepat seminar kamu. Mungkin beliau malu jika melepaskan kamu untuk seminar tetapi hasilnya mengecewakan makanya kamu harus revisi dan revisi terus,” jawab bapak Ayana dengan nada dingin dan tajam.
“Setiap bapak dan ibu telepon kamu untuk menanyakan kelanjutan skripsi, kamu selalu lapor bahwa kamu sedang revisi. Lalu sampai kapan kamu akan revisi terus? Sampai semester 8 dan kamu mau menambah semester lagi? Mau menambah biaya kuliah lagi?”
Ayana menggeleng dengan tegas. Bukan begitu. Ia juga tidak ingin lulus melebihi semester yang seharusnya.
“Jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi ke rumah ini jika kamu belum sidang skripsi dan mendapatkan surat keterangan kelulusan,” ucap bapak Ayana dengan tegas kemudian beliau berdiri meninggalkan dapur tanpa memandang Ayana yang memberikan tatapan nanar ke arahnya.
“Bapak!” tegur ibunya.
Bapak Ayana tidak mempedulikan teriakan istrinya. Beliau berjalan dengan tegas menuju ke arah kamar. Membiarkan putri bungsunya yang menangis di dapur dan istrinya yang tidak percaya bahwa ia bisa berbuat seperti itu.
“Bu,” rengek Ayana.
Ia akhirnya menumpahkan segala tangisan yang tadi ia pendam. Ibu Ayana segera menghampiri putrinya. Ayana langsung memeluk d**a dan perut ibunya yang ada di hadapannya. Dengan masih duduk di kursi makan, ia menangis tersedu-sedu.
“Ayana juga ingin segera seminar proposal, bu. Ayana juga lelah jika harus revisi terus menerus,” aku Ayana dengan tangis sesenggukan dan suara yang terpenggal-penggal di sela isakan tangisnya.
Ibu Ayana mengelus punggung putrinya dengan lembut. Berusaha menenangkan keadaan hati putrinya yang pastinya hancur.
“Apa bapak benar-benar tidak mengijinkan adek untuk pulang ke sini lagi sebelum adek dapat surat keterangan lulus, bu?” tanya Ayana memastikan dengan mendongakkan kepalanya ke arah ibunya. Air mata masih terus mengalir.
“Ibu juga tidak tahu, dek. Nanti ibu akan coba bicarakan dengan bapak ya,” hibur ibunya.
Ayana mengangguk dalam pelukan itu. “Semoga ucapan bapak tadi hanya gertakan ya, bu?”
“Iya. Semoga saja.”
Ibu Ayana pun juga berharap bahwa ucapan suaminya tadi hanya spontanitas saja. Bukan permintaan mutlak yang harus dipatuhi. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya jika tidak melihat putrinya pulang ke rumah, lalu harus pulang ke mana putrinya jika suaminya melarang kepulangan putri mereka ke sini?
“Sudah. Lebih baik kamu istirahat dulu, nak. Besok kita coba bicara dengan bapak lagi ya?” bujuk ibu Ayana setelah tangis sang putri mulai reda.
Ayana pun mengangguk dan melepaskan pelukannya pada ibunya. Ia membersihkan bekas air mata menggunakan jari-jemarinya. Wajahnya sembab. Matanya dan ujung hidungnya merah.
Ibu Ayana mengelus pelan rambut halus Ayana, berharap putrinya tenang dan merasakan bahwa ada dirinya di samping kerapuhan hati yang melanda Ayana saat ini.
Ayana mencium pipi ibunya singkat sebelum ia melangkah dengan gontai meninggalkan dapur untuk menuju kamarnya. Dalam benaknya ia berpikir, kenapa tiba-tiba bapak menanyakan tentang pelaksanaan sidangnya yang ia pun tidak tahu kapan. Dan yang lebih membuat hatinya tersayat adalah tuduhan-tuduhan yang bapaknya lontarkan. Seakan-akan bapak tidak percaya atas kemampuan Ayana selama ini. Perih dan sakit. Hati Ayana rasanya perlahan-lahan mulai potek.