4. Si Dingin

1735 Words
Suara deru kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya menuju arah Senopati menemani perjalanan Tama dan Aini. Angin malam yang cukup menusuk tulang tidak mampu membuat kedua insan itu untuk membuka keterdiaman yang melanda. Aini hanya mampu berbicara pada dirinya sendiri dalam batin. Ingin mengajak Tama berbincang tapi ia takut mengganggu konsentrasi Tama yang sedang fokus menyetir Honda CB 150R warna hitam itu. Motor Tama yang masuk dalam kategori motor cowok yang berjok cukup tinggi membuatnya teringat akan kebingungannya ketika akan naik ke atas boncengan motor itu. Hendak berpegang pada pundak Tama tapi ia sungkan dan tak enak hati, lebih tepatnya ia takut melihat tatapan dingin Tama ketika di atas motor tadi. Dan untungnya Yanuar sebagai seorang laki-laki memiliki kadar kepekaan yang tinggi. Yanuar pun menyodorkan lengannya untuk membantu Aini naik ke atas boncengan. Tama pun mendapat ledekan dari Yanuar karena tidak peka, yang hanya dibalas dengan lirikan kecil dan tampang bodoh amatnya. Namun Aini patut bersyukur karena Tama masih bersedia mengijinkan dirinya untuk duduk di atas jok motornya dari pada harus naik ojek online di jam-jam malam seperti ini. Biarkanlah keheningan melanda di antara mereka asalkan dirinya bisa tiba di rumah dalam keadaan selamat. “Gang kanan depan itu kan?” tanya Tama memastikan. “Iya, mas,” jawab Aini. Kebekuan di antara mereka akhirnya sedikit mencair dengan pertanyaan Tama mengenai lokasi rumah Aini. Tak berapa lama setelah obrolan terakhir mereka, motor Tama telah berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi berwarna hitam. Tama tidak mematikan mesin motornya pertanda ia ingin segera melanjutkan perjalanan ke rumahnya tanpa perlu mampir atau sekedar pamit kepada orang tua Aini. Aini yang begitu peka pun segera turun dari motor Tama dengan berpegangan pada besi yang ada di jok belakang motor. “Terima kasih ya, mas. Maaf membuat Mas Tama terlambat sampai ke rumah. Hati-hati di jalan,” ucap Aini dengan senyum cerianya berharap Tama tidak dongkol karena dirinya yang sudah nebeng motornya untuk pulang. Tama hanya menganggukkan kepalanya singkat. Kemudian ia melajukan kembali motornya meninggalkan rumah Aini. Aini memandang kepergian Tama dengan menggelengkan kepalanya. Tak menyangka bahwa Tama begitu cueknya sebagai manusia. “Sabar, Ai. Mas Tama kan memang begitu orangnya,” ujar Aini pada dirinya sendiri sambil menutup pagar rumah. “Kenapa kamu ngomong sendiri?” tanya sebuah suara. Aini menolehkan kepalanya ke arah halaman rumah. Tampak mama Aini yang sedang berdiri di teras rumah. Jarak pagar dengan teras rumah yang tidak begitu jauh sepertinya membuat mamanya mendengar ucapannya padahal suaranya sangat pelan menurutnya. “Kenapa mama berdiri di teras?” tanya Aini tanpa membalas pertanyaan mamanya. “Nungguin kamu pulang. Ayah berpesan supaya mama nunggu kamu sampai kamu masuk ke dalam rumah.” “Ayah so sweet sekali. Pantas saja mama jatuh cinta dengan ayah,” ucap Aini menggoda ibunya. Aini memang memanggil orang tuanya dengan panggilan yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya mama disandingkan dengan papa maka Aini memanggil mama dan ayah. Tidak ada alasan khusus, ia hanya merasa nyaman seperti itu. Mama Aini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah ayo masuk. Kamu tadi naik ojek online?” tanya mama Aini sambil menutup pintu rumah. “Enggak. Dianterin sama manajer proyek.” “Cowok?” “Iya, kenapa emang, ma?” Aini memfokuskan pandangan ke arah mamanya dengan penuh selidik. Membuatnya mengurungkan niatnya yang akan mengambil gelas. “Kok baik banget? Jangan-jangan naksir kamu orangnya,” tuduh mama Aini dengan nada menggoda. “Boro-boro, ma. Wong orangnya saja cuek dan dingin. Kalau di kantor menakutkan. Aku saja tadi pas di boncengannya hanya diam membisu enggak berani ngajak ngobrol,” cerita Aini. “Berarti bener dong dia naksir sama kamu. Kata kamu dia dingin dan cuek kan, mana mau dia nganterin kamu kalau nggak karena ada sesuatu.” “Bukan Mas Tama juga yang menawarkan, ma. Tadi Mas Yanuar yang meminta tolong sama Mas Tama karena rumah Mas Tama di daerah Airlangga,” jelas Aini. “Yah, padahal jika naksir kan bagus, Ai. Jadi hilal jodoh kamu sudah terlihat,” ucap mama Aini dengan nada kecewa. Mama Aini memang kekinian, tidak kalah dengan anak muda jaman now. Beliau mengerti akan bahasa yang sering dipakai dan sedang booming. “Masih 26 juga aku, ma. Mama pingin Aini segera menikah?” Mama Aini tidak pernah menuntut Aini untuk menikah di usia berapa pun, begitu pula dengan ayahnya. Aini sendiri pun tidak pernah terburu-buru masalah laki-laki, ia tidak ingin menjalin hubungan dengan orang yang salah maka lebih baik pelan-pelan dari pada terlalu cepat memutuskan sesuatu dan hasilnya zonk. Terakhir ia menjalin hubungan pun di tahun kedua masa perkuliahannya dan berakhir di awal tahun ketiga berkuliah. “Enggak juga. Nanti kalau kamu nikah dalam waktu dekat mama sendirian dong di rumah. Jadwal ayah terbang sekarang kan semakin padat,” ucap mama Aini dengan wajah sendu. “Tapi kamu tentu harus menikah, nak. Asal jangan terburu-buru, cari laki-laki terbaik versi kamu,” nasihatnya. “Iya, ma. Sudah ah kenapa jadi malah bahas masalah jodoh. Aini mau bersih-bersih diri dulu, tubuh Aini rasanya gerah karena debu jalanan.” “Ya salah kamu karena tiba-tiba membicarakan manajer kamu, membuat mama jadi ingin lihat laki-laki itu seperti apa modelnya. Mama kepo.” “Ih mama ini.” Aini hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mamanya yang sekarang semakin maju saja terhadap perkembangan bahasanya. “Aini mau ke kamar dulu, ya. Mama segera istirahat, sudah malam,” pesan Aini. Aini kemudian meletakkan gelas kotor yang baru saja ia gunakan untuk minum air putih. Ia terbiasa meminum segelas air setelah keluar dari mana pun itu, tentu saja kecuali ketika keluar ke halaman rumah untuk mengambil paket atau pesanan melalui ojek online. “Iya. Ini mama juga mau masuk kamar. Kamu juga jangan begadang, besok masih harus bekerja.” “Siap mama!” jawab Aini kemudian mencium pipi kanan mamanya. Ia melanjutkan langkahnya meninggalkan dapur yang menjadi saksi perbincangan mereka di malam hari itu. Sedangkan Tama baru saja memarkirkan motornya di garasi rumah, tepat di samping mobil milik bundanya yang merupakan peninggalan almarhum ayahnya. Ia menutup garasi dan berjalan menuju ke arah dalam rumah melalui pintu yang terdapat dalam garasi setelah melepas sepatu dan meletakkannya pada rak sepatu di samping pintu. “Assalamu’alaikum, bunda,” ucap Tama dengan suara hangatnya. Tama seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda dalam dirinya. Ia akan tampak hangat dan penuh kasih ketika di hadapan bundanya. Namun ia akan menjadi pria dingin ketika di depan umum. Bundanya sudah sering mengingatkan agar Tama menjadi laki-laki yang ramah jika bertemu seseorang, tetapi ia menolak. Prinsipnya adalah ia tidak akan mau menjadi laki-laki yang terlalu ramah tetapi hanya untuk dimanfaatkan. Ia pernah menjadi orang yang ramah dan sangat baik kala masih menjadi siswa SMA, tetapi teman yang ia percaya malah memanfaatkan kebaikannya. Sejak saat itu ia pelan-pelan mulai menjadi sosok yang dingin dan selalu memberikan tatapan tajam pada orang-orang yang tidak ia kenal dekat. “Wa’alaikumsalam. Jadi makan malam di alun-alun?” tanya bunda Tama dengan lembut saat Tama mencium punggung tangan kanannya. “Iya, bun. Beli nasi lalapan tadi. Kangen sama menu itu, menu kesukaan ayah.” Tama pun duduk di samping bundanya yang sedang disibukkan dengan bolpoin dan buku besar. Tama sudah menawarkan jasa untuk membantu bundanya membuatkan pembukuan melalui aplikasi di laptop dari pada lelah menulis menggunakan tangan, tetapi bundanya menolak. Beliau berkata bahwa menulis pembukuan menggunakan buku lebih menyenangkan dan membuat kemampuan tangannya dalam menulis tidak kaku. Beliau memang suka menulis, terkadang juga membuat tulisan indah atau lettering dan diletakkan dalam pigura kemudian ditempel di dinding atau hanya sekedar disimpan dalam album foto. Bunda Tama tersenyum lembut merespons ucapan Tama. Jika boleh jujur, ia juga merindukan suaminya. Sangat merindukannya. Namun, dunia mereka sudah berbeda. Sudah sejak tujuh tahun lalu mereka ditinggalkan oleh sosok kepala keluarga, tetapi mereka mampu bertahan hingga saat ini dengan senyum yang selalu terpatri. Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain. “Kapan-kapan kita berdua yang makan bersama di alun-alun untuk mengingat kebersamaan kita dengan ayah,” ajak bundanya. “Iya, bun. Bunda kenapa malam-malam begini masih sibuk dengan buku dan bolpoin?” “Kan tadi habis ada acara di rumah Bu Retno. Bunda sungkan kalau nggak datang, wong bunda diundang apalagi hubungan keluarga kita dengan keluarga Bu Retno sudah sangat erat. Ada acara pengajian anaknya mau menikah,” jelas bundanya. “Oh ya? Mbak Arini?” Mbak Arini adalah putri Bu Retno, umurnya satu tahun di atas Tama. Mbak Arini dan Tama dulu selalu bermain bersama semasa kecil hingga SD. Sejak menginjak bangku SMP, kebersamaan mereka mulai berkurang hingga saat ini. Bahkan sekarang pun hanya sekedar saling sapa ketika bertemu di jalan. Namun ketika bertemu dalam beberapa acara yang diselenggarakan oleh warga perumahan dan membuat mereka dipertemukan, maka mereka akan berbincang seru layaknya kakak dan adik. Ya, Tama memang akan ramah dengan orang yang sudah ia kenal baik apalagi sejak kecil, ia sudah hapal bagaimana sosok Arini. “Iya. Tadi Arini berpesan, kamu harus mendampingi dia waktu acara akad nikahnya nanti.” “Kapan memangnya, bun?” “Sabtu minggu depan. Ini pengajiannya dilakukan lebih awal karena uztad yang diundang untuk mengisi acara kosongnya hanya hari ini.” Tama menganggukkan kepalanya paham. “Sabtu aku libur kerja, tapi entah jika harus lembur. Semoga sih enggak, biar aku bisa jadi saksi pernikahannya Mbak Arini.” “Ya ijin saja kalau misalnya harus lembur. Mbak Arini kan sudah seperti kakak kamu sendiri, nanti dia kecewa kalau kamu nggak hadir,” pesan bunda Tama. “Iya, bun. Pasti aku usahakan datang. Aku juga pingin banget ikut. Meskipun bukan kakak kandung tapi Mbak Arini sudah seperti kakak kandung.” “Iya, kalian berdua itu waktu kecil sulit dipisahkan memang.” Bunda Tama mengingat kembali masa kecil Tama dulu dengan Arini. “Bunda sama Bu Retno sampai bingung harus menggunakan cara apa untuk memisahkan kalian.” Tama tertawa kecil. Ia ingat masa itu, saat mereka baru saja pulang dari sekolah, mereka langsung bermain hingga sore hari. Dan saat diminta untuk pulang dan mandi di rumah masing-masing mereka menolak, mereka tetap ingin bersama, membuat para orang tua kelimpungan karena tangis mereka yang sama-sama melengking saat hendak dipisahkan. Hingga akhirnya Tama harus menunggu Arini dimandikan di rumahnya dulu kemudian bergantian dengan Arini yang ikut ke rumah Tama. Karena terlalu lelah bermain akhirnya mereka berdua terlelap, hal itu merupakan kelegaan bagi kedua orang tua sehingga bisa membawa pulang anaknya ke rumah masing-masing. Entah apa yang membuat mereka tidak mau dipisahkan, mereka hanya merasa bahwa mereka adalah kakak dan adik yang sudah melekat erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD