3. Skripsi Oh Skripsi

1614 Words
“Gimana hasilnya?” tanya Asti saat Ayana baru saja menempelkan tubuhnya di atas karpet hijau yang digunakan sebagai alas untuk duduk di ruang baca jurusan biologi. Ayana menghadapkan telapak tangannya ke arah Asti, bermaksud untuk menunggunya berbicara setelah ia meneguk air putih yang botolnya baru saja ia buka. “Hem, entahlah. Masih harus revisi LKPD lagi. Proposalnya padahal sudah fix,” ucap Ayana dengan lesu sambil menggeser botol minumnya ke arah tepi meja panjang. “Ya sudah direvisi lagi,” jawab Asti dengan ringan. “Iya aku juga tahu, As,” balas Ayana dengan kesal. “Tapi sekarang sudah masuk bulan November. Kapan aku seminar proposalnya kalau kayak gini?” tanya Ayana dengan lelah. Ia segera merebahkan kepalanya di atas meja yang dicat warna hijau botol itu. “Heh jangan tidur, nanti disemprot dan diusir sama Mbak Aci gimana?” peringat Asti dengan tegas. Mbak Aci adalah petugas perpustakaan yang terkenal galak di kalangan mahasiswa. Aturan dalam ruang baca harus dilaksanakan dengan baik. Jika tidak taat aturan maka akan mendapatkan omelan panjang kali lebar dengan suara menggelegarnya yang mampu membuat semua pengunjung ruang baca diam tak berkutik. Dan jika mood Mbak Aci sedang buruk, maka ia tak segan-segan akan mengusir mahasiswa ke luar ruangan dengan cara yang tidak terhormat. Ayana pun segera mengangkat kepalanya kembali. Jujur saja dirinya lelah karena harus merevisi produk skripsinya berulang kali, bahkan sudah puluhan kali sehingga membuat nama file yang ia simpan dalam laptop sangat panjang. Sejak semester enam, ia dan rekan-rekan satu kelompok dosen pembimbing telah melakukan bimbingan skripsi. Ayana dulu bertekad mampu lulus tiga setengah tahun, tetapi melihat kondisinya saat ini membuat harapannya musnah sudah. Tidak mungkin bulan Januari tahun depan ia mampu sidang skripsi sedangkan saat ini ia belum menjalani seminar proposal. “Kapan ya aku sempro, As?” tanya Ayana lagi dengan suara rendahnya. Wajahnya juga terlihat lesu dan lelah. “Ya mana aku tahu, Ay. Aku saja masih menunggu waktu senggangnya Bu Arin buat bimbingan. Kamu tahu sendirikan kalau beliau sibuknya minta ampun, apalagi sejak menjabat menjadi Wakil Dekan. Bimbingan satu bulan sekali saja aku sudah merasa bersyukur.” Ayana masih beruntung karena bisa melakukan bimbingan skripsi satu minggu sekali. Asti boro-boro bimbingan, dosen pembimbingnya saja sibuk keliling ke berbagai kota untuk menghadiri atau mengikuti seminar. Ayana pun membenarkan ucapan Asti. Seharusnya ia bersyukur atas apa yang terjadi padanya saat ini. Namanya ingin mencapai sesuatu pasti diperlukan suatu proses dan perjuangan. Asti pamit untuk mengambil skripsi yang terdapat pada lemari kayu khusus untuk menyimpan skripsi mahasiswa. Ayana menganggukkan kepalanya mengiyakan. Ayana memilih mengambil handphone yang ia simpan pada tote bag-nya saat bimbingan tadi. Mengingat bimbingan tadi ia menjadi gemas karena harus mengubah total LKPD yang ia kerjakan. “Dek,” panggil Ayana pada Rahma setelah ia bosan bermain handphone. Rahma yang sedang fokus mengetik pada laptopnya pun menghentikan jari-jemarinya yang menari di atas keyboard dan memandang ke arah Ayana. “Kenapa, mbak?” “Kamu kan sudah seminar proposal ya, dek. LKPD yang baik itu kayak gimana sih? Aku capek harus revisi terus,” keluh Ayana meminta penerangan. Rahma ijin menyimpan hasil kerjanya dulu sebelum menjawab pertanyaannya. “Jadi, Lembar Kegiatan Peserta Didik atau yang kita kenal sebagai LKS itu berisi tentang ringkasan materi dan langkah-langkah kegiatan siswa, mbak. Baik itu langkah-langkah pengamatan, percobaan, atau praktikum asalkan kompetensi dasar dari materi yang diajarkan itu dapat tercapai. Jadi jangan terlalu tebal, kan tujuan adanya LKPD ini untuk membuat siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan,” jelas Rahma dengan suara tenang, tampak tidak menggurui. Ayana menganggukkan kepalanya paham. Kemudian Rahma melanjutkan penjelasannya, “Selain itu, dengan adanya LKPD, siswa diharapkan dapat aktif dalam pembelajaran dan guru menjadi lebih minim aktivitasnya. Peran guru di sini hanya sebagai fasilitator, motivator, dan yang lain-lain itu. Mbak Ayana pasti sudah tahu. Terus gimana sih supaya siswa mau aktif dalam pembelajaran?” tanya Rahma lembut. “Dengan kita membuat LKPD yang menarik. Dengan desain yang menarik. Misalnya cover dengan gambar yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian isi LKPD jangan lupa ditambahkan tentang penjelasan LKPD kita, langkah-langkah siswa dalam menggunakan LKPD, dan yang paling penting kegiatan siswanya harus dikemas dengan apik. Bisa dengan ditambahkan bingkai dengan warna-warna yang menarik untuk menuliskan jawaban atas kegiatan mereka. Seperti itu. Gimana mbak, paham ndak?” tanya Rahma memastikan. Ia juga menunjukkan hasil LKPD yang telah ia buat serta milik kakak tingkat yang Rahma gunakan sebagai referensi. “Ah iya-iya, paham. Tadi Bu Puspa juga menyarankan untuk menambahkan langkah-langkah ini, sih. Jadi dikemas dengan model alur untuk langkah-langkah pengerjaan LKPD untuk membuatnya menjadi tampak jadi lebih menarik ya,” ucap Ayana. “Iya bener, mbak. Apalagi sekarang model untuk membuat alur kan banyak dan semakin menarik. Tinggal kita cari referensi kemudian kita coba aplikasikan pada LKPD kita.” “Iya, iya, dek. Sekarang aku mau cari referensi dulu, deh. Nanti kalau sudah di kos baru kukerjakan. Nggak bawa laptop ini.” “Iya, mbak. Semangat ya! Kita semua pasti bisa,” ucap Rahma dengan penuh semangat. *** Setelah melaksanakan sholat Isya, Ayana kembali fokus pada layar laptop yang sedang menyala. Lembar dokumen dengan judul “LKPD Otw Fix” saat ini sedang terbuka. Tangan Ayana aktif berjalan ke sana kemari di atas keyboard. Ia juga fokus pada berbagai menu yang disediakan pada menu Microsoft Publisher. Seperti penjelasan Rahma tadi siang, ia harus membuat LKPD yang menarik dengan berbagai warna yang tentunya tidak terlalu mencolok berlebihan. Warna lembut tapi tegas menurutnya lebih menarik dari pada warna tebal yang malah membuat mata menjadi kaget saat melihatnya. “Ay, ngerjakan apa?” tanya Asti yang sedang berdiri di tepi pintu kamar Ayana. Ayana yang sedang fokus-fokusnya pun terlonjak kaget saat mendengar tiba-tiba ada suara manusia di sekitarnya. Ayana memalingkang wajahnya dari layar laptop dan menghadap ke arah Asti dengan tatapan tajamnya. Asti sudah tahu kalau Ayana mudah terkagetkan dan mengingatkan Asti untuk mengetuk pintu jika berkunjung ke kamarnya. Namun terkadang Asti suka jahil padanya. Asti hanya memasang wajah tidak bersalah dan menunjukkan cengiran khasnya yang menampakkan kerapian gigi-gigi putihnya. “Maaf kebiasaan,” ucap Asti dengan wajah yang masih tanpa dosa. Kemudian seperti biasanya, Asti akan nyelonong masuk ke dalam kamar Ayana dan ikut memperhatikan layar laptop Ayana. “Lha? Bukannya ini LKPD yang minggu lalu dan sudah kamu revisi ya?” tanya Asti memastikan setelah melihat lembar kerja yang sedang digarap oleh Ayana. Ayana pun ikut memperhatikan layar laptopnya dengan seksama. Kemudian ia mengambil hasil print out tadi pagi. “Ah!!!” teriak Ayana frustasi. “Hus, suaramu, Ay!!” peringat Asti dengan nada tajam. Mereka sudah sering mendapat teguran dari ibu kos karena selalu membuat kegaduhan dan keramaina di kos. Baik saat hanya berdua atau pun ketika Netizean Budiman berkunjung. Ayana pun segera membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanan. Kemudian suasana menjadi hening di antara mereka untuk menunggu apakah ada teriakan ibu kos yang menegur teriakannya di malam hari. “Ah, aman,” ujar Ayana sambil mengelus dadanya dan menghembuskan napasnya lega. Tidak ada tanda-tanda teriakan ibu kos yang akan memarahinya. “Bener kan apa kataku?” tanya Asti memastikan setelah Ayana kembali diam. Ayana mengangguk dengan lemah. “Aku baru teringat bahwa file yang ku-print tadi pagi kusimpan di flash disk. Padahal biasanya aku mem-back up-nya juga di laptop,” jelas Ayana dengan tampang yang sangat mengenaskan dan lesu. Asti pun segera mengambil handphone-nya. Kemudian ia menekan tombol mikrofon pada aplikasi w******p, tepatnya pada grup WA dengan nama Netizean Budiman yang diikuti dengan berbagai emoticon orang menari. Dengan menggebu-gebu Asti menceritakan hal apa yang baru saja terjadi. Tak berapa lama, notifikasi masuk ke handphone Asti dan Ayana secara beruntun dan menyebabkan keberisikan. Jelas saja notifikasi itu berasal dari anggota Netizean. Ayana pun merebahkan kepalanya di atas kasur dengan menghadap ke kanan. Ia rasanya putus asa. Kenapa dirinya bisa seceroboh ini? Ayana pun hanya mampu memejamkan mata untuk mengumpulkan kembali niatnya merevisi LKPD dan mengabaikan getaran handphone-nya yang tidak berhenti. “Aku punya es krim di kulkas bawah. Makan es krim yuk, Ay,” ajak Asti. Ia tidak tega melihat wajah Ayana yang mirip seperti mayat hidup. Meskipun Asti cenderung resek dan selalu bocor untuk menceritakan hal apa pun kepada Netizean, ia juga tetap peduli pada Ayana. Dan Asti sudah hapal betul jika mood Ayana akan kembali naik sedikit setelah mengkonsumi es krim atau coklat. Ayana hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Mood-nya hari ini benar-benar rusak parah. Ia hanya ingin merebahkan tubuhnya sejenak dan melupakan akan skripsi yang terus menghantuinya. “Apa aku ambilkan es krimnya?” tawar Asti tidak menyerah. “Enggak deh, As. Aku rasanya pingin rebahan saja. Besok saja kulanjutkan. Otakku rasanya sudah mau terbakar, atau entah ini apa sudah terbakar apa belum. Intinya otakku rasanya lelah,” jawab Ayana. “Ya sudah aku kembali ke kamarku saja ya,” pamit Asti. Ayana hanya mengganggukkan kepalanya. “Maafkan ya, As. Aku nggak bermaksud ngusir kamu. Tapi aku benar-benar capek.” “Santai sajalah, Ay. Aku juga kayaknya mau tidur. Atau nggak aku mau memanfaatkan WiFi kos dan akan streaming lagu-lagu terbaru.” “Iya, bener. Manfaatkan WiFi kos yang telah kita bayar tiap bulan, As,” jawab Ayana dengan sedikit bersemangat. Asti berdiri dari duduknya kemudian berjalan keluar dari kamar Ayana. Tak lupa ia juga menutup pintu kayu itu. Langkah Asti diikuti oleh Ayana, kemudian Ayana mengunci pintu kamarnya agar ia merasa aman saat tidur. Untungnya ia sudah mencuci muka dan sikat gigi sehingga hanya perlu berjalan ke kasur untuk merebahkan tubuhnya. Tak lupa ia mematikan lampu kamarnya. Ayana mengubah-ubah posisi tidur untuk mencari posisi teryaman. Kemudian ia melingkupkan selimutnya pada tubuhnya dan tak berapa lama Ayana pun sudah terlelap. Tampaknya hari ini adalah hari yang memberatkan bagi Ayana apalagi ada masalah lain yang sedang mengintainya. Namun Ayana tidak menyadari hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD