Tertangkap Basah

1068 Words
Sementara itu, ojek online yang telah tiba langsung mengantar Ranti ke rumah Mona juga. Sepanjang perjalanan, hati Ranti kebat-kebit, antara berharap kecurigaannya akan perselingkuhan Irwan tidak terbukti tapi juga naluri yang merasa hal itu sangat besar kemungkinan memang terjadi. "Mbak, sudah sampai. Di sini kan alamatnya?" Terkejut, Ranti geragapan karena sedari tadi rupanya ia melamun saja. Ya Tuhan, bahaya sekali melamun semalam ini dengan ojek tak dikenal pula. Usai turun dan meminta untuk ditunggu sebentar oleh si Abang ojek, Ranti mendekati sebuah rumah di hadapannya yang memang persis seperti rumah yang ada di foto Mona. Ada nomor 65 di pagar hitam kayu tertutupnya. Jam yang sudah menunjuk angka delapan malam membuat Ranti ragu dan beberapa kali menoleh ke belakang. Takut-takut kalau ada orang lingkungan situ yang akan mencurigainya. Tapi tujuannya sudah bulat. Ia harus memeriksa apa benar suaminya ke situ atau tidak. Apa benar suaminya ada main dengan Mona atau tidak. Jantungnya seketika berhenti berdetak kala mengintip melalui celah kecil di pintu pagar kayu tinggi rumah itu. Terlihat di halamannya ada mobil CRV hitam yang sangat dikenalinya. Tidak salah lagi! Suaminya benar-benar ada di situ. "Mbak, nggak apa-apa?" tanya si Abang ojek yang rupanya sedari tadi tampak mengawasi Ranti. "Aman, Bang," jawab Ranti sekenanya, meski getaran dalam suaranya sudah pasti menyiratkan sebaliknya. Ranti menghela napas panjang sekedar untuk meregangkan hati dan mentalnya yang tengah dihajar habis-habisan. Dalam semalam, ia mendapati suaminya melempar talak, berbohong besar soal larinya uang gaji, dan bahkan kini ketahuan berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri! Meski dalam kondisi hancur sehancur-hancurnya, beruntungnya Ranti masih bisa berpikir waras. Pagar kayu terkunci itu tak mungkin bisa didobraknya. Lagipula ia juga tak perlu melakukan hal itu. Membuat onar di rumah seseorang malam begitu bukan tabiatnya. Hal itu pasti hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. "Yang penting aku sudah punya bukti, Mas," ucapnya pelan sambil mengeluarkan ponsel dan memfoto mobil Irwan dari celah pagar. "Setidaknya kamu nggak akan bisa mengelak telah selingkuh di belakangku," katanya lagi. Usai itu, ia kembali naik di boncengan si Abang ojek dan meminta untuk diantar kembali ke rumah Bu Ine. Ada keinginan memeriksa ke dalam rumah Mona dan menangkap basah suaminya. Tapi rasanya itu tak perlu. Toh rasanya ia juga tak akan sanggup melihat kenyataannya nanti. Fakta bahwa selama ini Irwan telah berkhianat membuat hatinya murka. Ia bertekad tak akan sudi bahkan hanya untuk bertatap muka lagi dengan Irwan di kemudian hari. Sesampai di rumah Bu Ine, Ranti mendapati ibu mertuanya masih menunggu di sofa ruang tamu. Wanita tua itu menyongsong Ranti dengan pertanyaan bertubi-tubi. “Kamu udah ketemu Irwan? Di mana dia? Katakan dia baik-baik saja, kan, Ranti?” "Baik-baik aja, Bu. Anak Ibu sedang asyik-asyikan di rumah wanita lain, teman kerjanya." Ranti menjawab lugas tanpa memandang wajah sang ibu mertua. "Ap-apa? Kamu jangan sembarangan memfitnah suami kamu sendiri, Ranti!" Bu Ine langsung marah dan malah menuduh dengan keras. "Ibu nggak percaya ya udah, yang penting aku udah tau kenyataannya dengan mata kepalaku sendiri. Kami fix akan bercerai." Sambil berusaha bersikap tegar, Ranti berlalu ke kamar untuk kemudian keluar lagi dengan menyeret dua koper besar berisi baju-baju dan barang pribadinya. “Ranti! Jangan pergi dulu, Ranti. Ibu akan membujuk Irwan untuk minta maaf sama kamu, Ibu akan--” "Maaf kata Ibu? Kata maaf udah nggak ada gunanya, Bu. Sampai mati pun aku nggak akan pernah maafin dia. Dan akan kupastikan anak Ibu itu dapat pelajaran yang setimpal karena telah mengkhianatiku, Bu," sela Ranti penuh amarah. Gegas ia keluar menuju pagar karena taxi online yang dipesannya tampak sudah datang dan menunggunya di depan. Sia-sia Bu Ine meneriaki sang menantu agar tetap di situ. Sakit hati Ranti sudah tak terperi. Tak ada satu hal pun yang membuatnya sudi bertahan di rumah itu lagi. Ranti memilih pulang ke rumah orangtuanya sendiri. Kedua orangtuanya menyambut dengan sangat terkejut. Sebab, selama ini mana pernah Ranti bercerita tentang masalah apa pun di rumah tangganya. Kini mendadak saja malam-malam putri kesayangan mereka pulang dengan membawa cerita memilukan. Sesaat tadi dia memang dikuasai amarah, hingga yang tersisa di dalam dadanya hanyalah dendam dan sakit hati. Tapi begitu sampai di rumah masa kecilnya itu, hatinya kembali merasakan nyeri tak terkira akibat sakitnya dikhianati Irwan. Tak sesuai keinginan, ia justru menangis sesenggukan menumpahkan segala amarah sekaligus kehancuran hatinya saat itu di hadapan kedua orangtuanya. Di hadapan dua orang yang seumur hidup berusaha sekuat tenaga agar air mata putri mereka tak pernah tumpah sama sekali! "Ya Allah, Nak. Gimana bisa sampai sejauh itu kelakuan suami kamu? Mana janjinya dulu yang akan membahagiakanmu? Ibu kan sudah bilang kalau kamu itu seharusnya nurut sama kami. Biar kami yang cari suami yang jelas budi pekerti dan akhlaknya--" Bu Hana, ibunda Ranti, mulai berceloteh sedih sambil mempersalahkan keputusan Ranti di masa lalu. "Keterlaluan itu si Irwan. Suruh dia ke sini, Ranti. Bapak akan bikin perhitungan sama dia. Berani-beraninya dia itu sampai mengkhianati kamu!" Pak Andi tak kalah emosi. Orangtua mana yang tega bila putri yang sangat mereka sayangi telah dinikahi tapi kemudian dikhianati oleh lelaki? Sungguh, bila saja ada Irwan di hadapan Pak Andi saat itu, sang pria setengah baya dengan uban sudah memenuhi separuh kepalanya ini tak akan ragu untuk menghajarnya habis-habisan. Tak lama kemudian, ada telepon dari Bu ine yang diangkat oleh Bu Hana. Parahnya, seorang ibu yang tengah tersakiti akibat luka hati putrinya itu langsung emosi dan menumpahkan amarah pada sang besan. "Begitu kelakuan putra Ibu, ya! Sama sekali tidak punya adab. Berani sekali berselingkuh setelah Ranti begitu patuh menjadi istri selama ini. Apa kurangnya putri kami pada Irwan, Bu?" tuntut Bu Hana lepas kendali. Entah apa jawaban Bu Ine dari seberang sambungan, yang pasti Ranti langsung mencegah ibunya untuk berbicara lebih panjang. Ia meminta gagang telepon dan berkata pada sang mertua dengan nada dibuat sedatar mungkin. “Tak perlu Ibu membujukku untuk pulang ke situ, Bu. Kami nggak akan pernah kembali bersatu bahkan meskipun Irwan datang dan bersujud padaku sekalipun.” “Tunggu, Ranti. Ini pasti hanya salah paham aja. Ibu yakin Irwan nggak seburuk perkiraan kamu, Ranti. Kasih dulu dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya--” "Menjelaskan apa, Bu? Bahwa dia udah menemukan wanita yang jauh lebih sedap dipandang mata daripada aku? Hanya itu penjelasannya bila Ibu masih belum paham juga, Bu!" Dengan perkataan itu, Ranti hampir menutup teleponnya sebelum mendengar seraknya suara Bu Ine diikuti suara benda terjatuh. Seketika Ranti dengan cemas memanggili sang ibu mertua dari gagang telepon yang ia genggam. “Bu? Bu? Ada apa Bu? Ibu kenapa, Bu? Ibuuuuu!” bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD