Di malam itu, Bu Ine pingsan sebab serangan jantung. Wanita separuh baya yang memang telah memiliki riwayat tensi tinggi dan risiko serangan jantung itu terlalu terguncang hingga tubuhnya tak kuat lagi bertahan. Tubuh tua itu terbaring di lantai sebelah meja telepon dengan tanpa ada seorang pun di rumahnya. Tentu saja kondisi itu sudah terbayang kini di benak Ranti.
Dan ia yang masih menyayangi sang ibu mertua meski bagaimanapun amarahnya pada Irwan, langsung menelepon ambulance rumah sakit langganan Bu Ine untuk menjemput beliau. Dan ia juga bergegas minta diantar oleh ayahnya untuk kembali ke rumah Bu Ine. Dalam perjalanan, ia sibuk menelepon Irwan meskipun tahu ponselnya sedang dimatikan. Astaga! Pria itu tak sadarkah bahwa ibunya tengah dalam bahaya? Berasyik masyuk dengan wanita lain membuatnya lupa daratan dan hilang akal!
Akhirnya ia berkirim pesan yang mengabarkan agar segera menyusul mereka ke rumah sakit yang dituju. Rasa bersalah kini menyelimuti benak Ranti. Kalau saja ia tak berkata kasar terhadap ibu mertuanya mungkin Bu Ine tak akan sampai seperti itu.
“Sudahlah, Ranti. Ini semua bukan salahmu. Kita doakan saja Bu Ine bisa melewatinya. Semoga beliau selamat dan kembali sehat,” hibur Bu Hana yang tak beranjak sama sekali dari samping sang putri. Mereka telah berada di depan ruang IGD untuk menunggui Bu Ine ditangani oleh tim Dokter.
“Lagipula juga ini kan salah suami kamu. Irwan sendiri yang membuat ibunya sampai begitu.” Pak Andi yang yang masih diselimuti amarah mengepalkan tangan seolah siap hendak melepaskannya pada menantu kurang ajarnya nanti.
Ranti hanya termenung menyesal. Telah lama ia berhasil menyembunyikan semua keretakan rumah tangganya dengan Irwan di hadapan Bu Ine. Tapi kejadian malam itu terlalu membuatnya tertekan hingga ia lepas kendali tadi. Wanita mana yang masih bisa sabar bila melihat dengan mata kepala sendiri suaminya langsung pergi ke rumah wanita lain selepas mengucapkan talak?
Derap langkah kaki berlari menghampiri tempat Ranti dan dua orangtuanya menunggui Bu Ine.
“Ranti, kenapa sama Ibu, Ran?” tanya Irwan yang langsung mencengkeram lengan istrinya dan mengguncangnya pelan.
“Masih berani kamu tanya kenapa, ha?” Pak Andi langsung menarik bahu Irwan dengan kasar agar menghadap ke arahnya.
“Pak? Bapak dan Ibu juga di sini?” tanya Irwan yang sepertinya tadi terlalu panik hingga tidak memperhatikan dua orang lain selain Ranti.
“Jangan banyak tanya kamu! Ibu kamu pingsan dan kena serangan jantung karena ulahmu, tahu! Dasar lelaki gak punya otak kamu!” Tanpa bisa menahan amarahnya lagi, Pak Andi melepaskan bogem mentah yang sedari tadi memang ia siapkan untuk sang menantu kurang ajar.
Ranti dan Bu Hana tersentak kaget dan masing-masing kini memegangi dua pria yang saling berhadapan dengan wajah penuh emosi itu. Keduanya berusaha menenangkan suami masing-masing agar tak melanjutkan keributan.
“Sabar, Pak. Ini di rumah sakit,” ucap Bu Hana seraya menarik sang suami agar duduk agak menjauh di sisi lain ruang IGD. Sementara Ranti tak berucap sepatah pun, hanya mengempaskan lengan Irwan tanpa menatap wajah sang suami yang pipinya memerah kena tonjok Pak Andi.
“Bapak kamu itu gila ya—“
“Kamu yang gila, Mas! Kamu emang pantas dihajar tahu, nggak! Kamu dari rumah Mona, kan? Nggak peduli sama istri yang sudah kamu talak dan ibu kamu yang shock dengan fakta kebusukanmu, ha? Itu namanya gila!” Ranti mendamprat habis Irwan saat itu juga.
“Ap-apa? Rumah siapa?” Dengan mata membelalak, Irwan tampak kebingungan bagaimana bisa Ranti sampai tahu mengenai ia yang berada di rumah Mona segala?
“Jangan menyangkal kamu! Aku ngikutin kamu dan lihat sendiri mobilmu ada di halaman rumah Mona! Rupanya kalian selama ini ada main di belakangku, ya? Pantas saja gajimu lari semuanya bukan ke istrimu tapi ke dia. Iya? Katamu uangmu habis untuk cicilan rumah dan mobil tapi Ibu bilang sendiri rumah itu sudah dibeli cash oleh mendiang ayahmu! Bualan macam apa itu! Itu namanya suami gila, Irwan! Kamu yang gila, bukan Bapakku!”
Irwan meneguk ludahnya susah payah. Dari mana Ranti sampai tahu semua itu? Astaga, segala kebohongannya telah ketahuan rupanya. Dalam waktu semalam? Bagaimana mungkin? Benak Irwan masih bertenya-tanya soal bagaimana Ranti bisa mengetahui semuanya dalam waktu sekejap mata. Padahal biasanya Ranti begitu patuh dan penurut hingga bahkan tak pernah protes mau diberi uang belanja berapapun.
“Mau ngomong apa lagi kamu, ha? Kehabisan bualan yang lain lagi, iya?” tantang Ranti sambil berusaha menekan suaranya agar tak meninggi. Ia sadar itu di rumah sakit dan ia tak boleh menciptakan keributan.
Belum sempat Irwan menjawab, tim dokter sudah keluar dan mengabarkan bahwa Bu Ine sudah sadar. Gegas Irwan berlari masuk ke dalam ruangan untuk menghampiri ibunya sementara Ranti diajak pulang oleh dua orangtuanya. Tak perlu mereka melihat Bu Ine, toh dokter sudah bilang kalau beliau sudah melewati masa kritisnya dan kini sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
Di dalam ruangan, Bu Ine yang masih mnegerjap-ngerjap lemah menyebut nama Ranti, tapi yang menghampirinya adalah Irwan.
“Irwan, mana Ranti?” tanya wanita itu lemah.
“Bu, Ibu nggak apa-apa, kan, Bu? Apa yang sakit, Bu?” tanya Irwan khawatir karena di tubuh ibunya masih dipasangi beberapa kabel yang tersambung ke alat rekam jantung yang terpasang di dinding atas kepala ranjang pasien.
“Irwan, mana Ranti? Ranti bilang kamu—“ Bu Ine tampak bingung. Kondisi setelah tidak sadar membuatnya sedikit mengalami de javu dan belum bisa mengingat banyak hal detail yang baru saja terjadi.
“Ibu tenang, Bu—“
“Tidak, Irwan. Mana Ranti? Ibu mau ketemu istri kamu!” bentak Bu Ine keras.
“Iya, Bu, Iya, biar Irwan panggil dulu. Ranti di luar,” jawabnya kemudian berbalik keluar untuk memanggil sang istri.
Betapa terkejutnya saat ia tak mendapati siapa pun di depan ruang IGD itu. Ranti dan kedua mertuanya telah pergi dari sana tanpa pamit.
“Mereka pasti langsung pulang, huuuft ....” Bahunya melorot dan ia bingung harus menelepon Ranti untuk minta tolong agar menemui ibunya atau masuk lagi ke dalam dengan risiko kena omel Bu Ine. Oh, keduanya sama-sama bukan hal yang mudah.
Akhirnya ia memilih menelepon Ranti karena yakin wanita itu pasti belum jauh. Siapa tahu Ranti masih mau menyempatkan diri menemui ibunya karena Bu Ine yang mencarinya. Namun, sayang sekali ponsel istrinya itu ternyata kini dimatikan. Ya, Bu Hana yang melihat panggilan di ponsel putrinya dengan nama Irwan terpampang di layar langsung berinisiatif untuk mematikan ponsel sang putri.
“Biar dia urus sendiri ibunya, Ranti. Biar dia tahu gimana repotnya tanpa istri!”
bersambung ….