Bab 45: Bar Unik

1084 Words
Rana seperti mendengar rencana yang sangat keren. Mereka akan memberikan pelajaran pada orang-orang yang memperlakukannya dengan buruk. Kalau begitu, mengapa dia tidak menyetujuinya saja? "Baiklah. Aku akan mengikutimu." Rana tidak lagi melewati pintu belakang seperti tamu yang memaksa untuk masuk, melainkan melewati pintu depan seperti orang-orang yang memenuhi kualifikasi. "Profesor River?" Seorang pengawal memperhatikan, menoleh pada wanita yang datang bersama sang profesor, dia seperti tidak asing dengan tampangnya. Rana menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, mengedikkan dagu untuk memperlihatkan wajah. Para pengawal harus mengenali wajahnya agar dia dapat memberikan pelajaran, bukan? Pengawal tersebut membelalakkan mata ketika menemukan ingatannya kembali. "A—anda? Bukankah—" River menurunkan telunjuk yang mengarah pada wanita di sampingnya. "Ada apa? Kenapa begitu terkejut?" Dia merangkul bahu Rana, lalu berkata kembali, "Aku datang bersama kekasihku. Tidak asa masalah, bukan?" Rana yang mendengarnya langsung membelalak pula. Dia tidak salah dengar, bukan? "T—tentu saja, Profesor. Anda sekalian bisa masuk ke dalam bar." Rana berdiri kaku, tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan soal perasaannya. Setiap kali dia ingin menjauh, ada saja yang membuat River sulit dilupakan. Kenapa dia harus merasakan siksaan yang begitu kejam itu? River baru sadar kalau dia memeluk kedua bahu begitu lama. Dia melepaskannya, memasukkan tangan ke dalam saku jasnya kembali. "Tempat ini bukan bar sungguhan. Alkohol sangat dilarang di dunia Stardust dan apa yang mereka sajikan hanyalah minuman yang terlihat mirip. Jadi, jangan harap kau bisa mabuk karena alkohol. Orang-orang hanya akan mabuk jika dia minum terlalu banyak. Kau tahu, yang aku maksud adalah minum terlalu banyak seperti cokelat panas misalnya." "Aku mengerti." "Ayo, ikut aku." Mereka duduk di tempat yang sama seperti terakhir kali. Rana baru sadar kalau dia akan bertemu dengan pria bartender berkepala plontos itu lagi, membuat dia bersemangat secara mendadak, kegundahan hati lenyap seketika. "Kita bertemu lagi, Nona." "Kau masih mengingatku?" "Tentu saja. Siapa yang bisa melupakan wanita seperti Anda?" Rana tersenyum lebar. "Aku berpikir bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi." Bartender itu tertawa. "Senang menerima harapan Anda untuk pertemuan kita." River hanya menjadi penonton sejak tadi. Dia mengetuk meja untuk mengalihkan perhatian sampai melambaikan tangan ke hadapan mereka yang berbincang, baru keberadaannya diperhatikan. "Sebaiknya siapkan pesanan kami dengan cepat." "Maaf telah mengabaikan Anda, Profesor River. Saya akan menyiapkannya sebentar." Selagi bartender membuatkan minuman, Rana duduk memperhatikan gerakan-gerakan yang begitu menakjubkan. River melihat kekaguman di mata itu, membuat dia merasa enggan untuk tetap berada di sana. "Aku akan pergi ke kamar kecil sebentar." Rana menganggukkan kepala, lalu memperhatikan bartender yang melakukan atraksi kembali. Padahal, hanya menyiapkan minuman dan kenapa begitu mengagumkan? Dia sampai tidak bisa berpaling darinya. Pesanan mereka selesai tidak lama setelah itu. Rana bertepuk tangan, menunjukkan apresiasinya terhadap kemampuan sang bartender. Jika di Bumi memiliki pria yang sama seperti bartender ini, pasti penjualan mereka laris manis. "Saya Martim, bartender tetap di bar ini." "Oh, saya Rana, asisten profesor River." "Ah, begitukah? Senang berkenalan dengan Anda, Nona Rana." Rana tersenyum. "Bagaimana caranya kau membuat minuman dengan gerakan yang indah?" "Ingin mempelajarinya?" "Bolehkah aku mempelajarinya?" "Tidak ada larangan untuk mempelajari sesuatu. Saya akan mengajarkan Anda beberapa gerakan." *** River baru saja keluar dari kamar kecil. Dia yang hendak kembali ke tempat duduknya mendapati sebuah pemandangan lebih dulu. Kenapa Rana bisa berakhir di sana? Dia bergegas menghampiri mereka yang asyik mengobrol serta menunjukkan beberapa gerakan dalam rangka mempersiapkan minuman. Dia tebak bahwa Rana yang terkagum-kagum ingin mempelajari cara membuat minuman dengan lebih bergaya. Rana memutar tubuhnya, langsung menemukan River yang sudah duduk di tempat, memandanginya dengan ekspresi dingin. Tampaknya pria itu tidak suka dengan tindakannya. Padahal, dia hanya belajar saja, tetapi rasanya seperti ketahuan berselingkuh. "Ah, sepertinya cukup sampai di sini. Pengalaman yang sangat menyenangkan," ucap Rana, kemudian beranjak dari ruang bartender dan duduk kembali di tempat. River meneguk minuman, lalu meletakkannya sebelum berkata, "Apa kau benar-benar menyukai bartender itu?" Rana langsung menatap ke arah sang bartender. Untung saja suara musik di sana telah meredamnya sehingga tidak ada yang tahu apa yang sedang dikatakan oleh River. "Kau sudah gila? Jangan katakan hal seperti itu di depan orang yang bersangkutan." "Kau belum menjawab pertanyaanku." Rana menatap pria di depannya dalam waktu lama. "Apa itu penting bagimu? Aku rasa, apa pun jawabannya bukan sebuah masalah. Kau tidak harus mengetahuinya. Asistenmu juga memiliki privasi, bukan?" River menganggukkan kepala, tidak membantah hal itu. Tetapi dia bukan seseorang yang suka bermain petak umpet, apalagi layangan. Dia makhluk berumur dengan segala pemikiran kompleksnya. "Aku tertarik pada rasa penasaranmu." Rana yang tegang kedua bahunya langsung turun, setengah tidak mengerti dengan ucapan River. Dia juga tahu kalau sekarang kalimat itu bukan ditujukan untuk sebuah perasaan. "Kalau begitu, tetaplah di sisiku untuk menikmatinya." Entah dari mana kata-kata itu berasal, Rana hanya ingin mengungkapkan apa yang ingin dia katakan. Meskipun tidak mengatakan secara langsung mengenai perasaannya, akan tetapi dengan kata-kata barusan, dia berharap sedikit banyaknya apa yang mengusiknya dapat tersampaikan. "Bagaimana itu menjadi mungkin ketika kau akan kembali ke Bumi?" "Kenapa tidak kita nikmati saja ke mana arus membawa?" Mereka saling menatap begitu dalam. Hanya mereka yang tahu makna dari percakapan mereka. River meneguk minumannya, disusul pula oleh Rana. Ada yang tidak beres di antara hati keduanya. Mereka sama-sama tahu kalau keonginan tadi sama sekali tidak mungkin. Cepat atau lambat, Rana harus pulang ke Bumi karena di situ asalnya. "Kita harus segera kembali," ucap River. Rana tidak membantah dan juga tidak berkata-kata. Dia hanya mengikuti langkah kaki yang membawanya menuju jalan pulang. Selama di dalam perjalanan, Rana bergeming berada di belakang, sedangkan River berjalan lebih dulu. Suasana sangat hening dengan mereka yang memilih untuk tidak berbicara. Langkah itu terhenti ketika River tidak lagi melanjutkannya. "Rana, bolehkah aku memelukmu?" Sejujurnya Rana tidak tahu bagaimana menjawabnya. Pelukan biasanya dilakukan oleh pasangan, tetapi juga tidak menutup kemungkinan pelukan dilakukan antara teman atau keluarga. Jadi, dia hanya bergumam dalam artian membolehkan. River membalikkan badan, berjalan lurus ke depan hingga dapat menjangkau wanita yang menunggu untuk memberikannya sebuah pelukan. Sudah lama dia tidak merasakan apa yang dinamakan dengan pelukan, bertahun-tahun. Dia hampir lupa rasa yang hangat dan nyaman itu. "Kau ... benar-benar tidak ingin pergi ke acara inovasi?" "Kenapa membahasnya sekarang?" "Aku hanya berpikir kalau Potato ada benarnya. Jika kau pergi, maka aku akan mentraktirmu." River tertawa kecil dalam pelukan mereka. "Dengan apa? Kau bahkan tidak bekerja dengan benar." "Nanti. Aku akan bekerja dengan benar agar bisa mentraktirmu." River tidak menjawabnya, yang pasti upaya tadi cukup menggerakkan hati yang beku. Mungkin karena Rana mengatakannya pada saat yang tepat atau juga mungkin karena pelukan yang diberikan. "Kau bisa memelukku kapan saja ketika kau membutuhkannya. Tapi tolong naikkan gajiku untuk itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD