Berita besar untuk mendengar River setuju datang ke acara inovasi. Potato begitu berterima kasih pada Rana, akhirnya pria yang selama ini menutup pintu hati sudah mengubahnya. Sekarang mereka harus memikirkan inovasi yang akan ditampilkan di acara satu tahun sekali tersebut. Kalau bisa, mereka harus mengguncang satu isi dunia dengan kembalinya River ke permukaan.
River membentuk meja diskusi setelah makan pagi itu. Mereka semua tengah mengerutkan dahi, memikirkan ide yang mungkin bisa membantu. Waktu tinggal sedikit untuk mencapai acara tersebut, hanya tersisa dalam hitungan hari.
"Bagaimana dengan oven yang bisa menyeduh minuman?" Aura mengusulkan lebih dulu.
"Itu terlalu biasa untuk menggemparkan dunia," jawab Potato. "Akan lebih bagus jika kita memiliki penyedot debu yang dapat mengeringkan pakaian."
"Kita sudah memiliki pengering pakaian." River menimpali.
"Kalau kita membuat tas yang dapat memuat banyak barang? Seperti mengirimkannya ke dimensi lain untuk sementara waktu agar mendapatkan ruang lebih banyak. Itu pasti sangat membantu banyak orang."
"Imajinasimu sungguh lancar, Rana. Sampai saat ini, tidak ada dimensi yang kau sebutkan. Kita hidup di zaman modern dan kau berbicara tentang sihir."
Rana sedikit kecewa, meskipun dia menerima kenyataan. "Jadi, kita akan menciptakan apa untuk menggemparkan banyak orang?"
"Karya yang tampil di acara inovasi akan menjadi populer biasanya. Untuk itu, profesor selalu meraup untung yang banyak. Krisis yang kita lalui akan berakhir dengan cepat."
"Kalau begitu, kita tidak bisa sembarangan memberikan usul, bukan?" ucap Rana, disetujui oleh semua pihak.
"Kenapa tidak menciptakan sesuatu yang akan terus dikonsumsi? Kita harus membuat mereka semua ketergantungan."
Rana menyikut sang kakak. "Pikiranmu sangat licik Aura, tapi aku suka. Kita memang harus membuat mereka ketergantungan agar perekonomian kita terselamatkan dari krisis."
"Ide yang sangat bagus, Aura."
Pujian River membuat Aura tersipu malu. "Aku hanya berusaha membantu."
"Sekarang kumpulkan padaku ide apa saja yang kalian punya. Kita harus bekerja sama untuk menyelamatkan kondisi keuangan kita."
Semua sudah bertekad untuk membantu River. Mereka menyempatkan diri di sela-sela aktivitas. Potato dengan pekerjaan kulinya, mencatat inovasi ketika beristirahat. Aura yang menggantikan Potato juga sama hal nya. Sedangkan Rana membantu sang kakak sebentar sebelum memasuki ruang penelitian.
Rana baru sempat berpikir lagi setelah meja diskusi dibubarkan. Saking fokusnya, dia tidak tahu kalau seseorang duduk di sampingnya. River menatap buku catatan yang dicoret-coret dengan serius.
"Tulisanmu ternyata begitu kaku."
Rana terperanjat, langsung menyembunyikan buku catatannya. "Sejak kapan kau duduk bersamaku?"
"Belum lama ini. "
"Kau seharusnya membuat suara agar aku tahu."
"Kau terlalu fokus pada buku catatan sehingga pergerakanku luput dari pendengaran."
Rana tidak ingin memperpanjang masalah itu lagi. Dia bergeser ke samping agar buku catatannya tidak lagi diintip.
"Kau berkata akan mentraktirku jika pergi ke acara inovasi, bukan?"
Rana menganggukkan kepala tetap fokus pada catatannya. "Hmmm, benar. Memangnya ada apa dengan itu?"
"Aku ingin mengubahnya menjadi sebuah permintaan yang harus dikabulkan."
Rana terusik, menoleh ke arah pria yang kini bersandar tanpa menatapnya. "Apa kau ingin meminta sesuatu dariku?"
"Ya, darimu. Apa aku tidak bisa menggantinya?"
"Aku tidak berkata bahwa itu adalah sesuatu yang mustahil. Kau dapat menggantinya."
River menipiskan bibir. "Kalau begitu, aku akan sangat menantikannya."
Rana hanya melihat bagaimana pria yang tadi duduk di sampingnya perlahan bangkit dan pergi menjauh. Kenapa harus tersenyum seperti itu? Memangnya apa yang diinginkan River sampai mengganti kesepakatannya?
***
Semua ide sudah terkumpul, tinggal River yang memutuskan untuk memilih yang mana. Butuh waktu dan berbagai pertimbangan agar tahu akan menetapkan inovasi apa untuk ditampilkan, yang pasti dengan diskusi mereka sudah bisa membantu River untuk memantapkan hati.
River bekerja di ruang penelitian begitu lama, setelah kakak beradik dan juga Potato yang disibukkan memikirkan banyak ide, sekarang giliran River yang merealisasikannya. Harapan terakhir bergantung pada River agar inovasi mereka selesai tepat sebelum acara dilangsungkan.
Malam ini meja makan tidak dihadiri oleh sang profesor. Hal itu menarik diri Rana untuk mengantarkan makan malam. Dia baru tahu kalau River yang dianggap gila di meja penelitian ternyata benar adanya, menghabiskan waktu sangat banyak di satu ruangan tanpa memikirkan hal lainnya, termasuk melupakan soal makan malam.
Sesampainya di ruang penelitian, Rana menghampiri meja sang profesor. Pantas saja tidak hadir di meja makan karena ternyata River tertidur pulas dengan membaringkan kepala di meja. Dia meletakkan nampan berisi makanan, lalu menghampiri pria yang tampak kelelahan.
"Sepertinya dia tidak tidur hanya untuk menyiapkan sesuatu untuk acara inovasi."
Rana mengambil kesempatan dalam kesempitan, memandangi River untuk sesaat, menelusuri wajah sang profesor dengan pandangan mata. Dia tidak pernah berharap kalau mereka akan bertemu, pria yang memanggilnya dengan sebutan nenek moyang pertama kali ternyata sanggup membuat dia jatuh hati.
Perasaan yang tidak akan pernah terbalaskan. Rana sudah merasa cukup untuk hal itu, di mana dia dan River dapat berbagi cerita, berdekatan seperti seorang teman, berpelukan sebagai anggota keluarga.
Pada malam itu, Rana memutuskan untuk menunggu saja sampai sang profesor bangun. Tetapi justru dia yang tertidur karena terlalu lama menunggu.
Sementara Rana tertidur, River baru saja terbangun dan langsung beranjak dari kursi komputer. Melihat seseorang tengah berbaring di tempat tidurnya membuat River segera menghampiri. Dia juga melihat nampam berisi makanan di atas meja. Menurutnya, kemungkinan besar Rana tertidur selagi menunggu dia bangun. Lantas, River menghabiskannya meskipun sudah dingin.
River memperbaiki posisi tidur wanita itu, yang duduk bersandar berganti dengan tidur berbaring. Jika dipikir-pikir lagi, entah bagaimana dia bisa mendapatkan semangat dari wanita yang bernama Rana ini. Mungkin karena sosoknya yang begitu banyak bicara sekaligus dipenuhi oleh rasa ingin tahu? Yang jelas dia sangat nyaman jika berada di dekat wanita itu.
Dia harus membayar banyak pada Rana dan Aura yang sudah membantunya. Mungkin dengan penelitiannya terhadap Stardust. Apa yang dapat dia temukan dari Stardust? Benda serupa bola ajaib itu masih belum mau bekerja sama dengannya.
Alhasil, River memutuskan untuk meneliti Stardust malam itu, berharap bahwa dia akan mendapatkan informasi penting. Dia tidak boleh menunda-nunda lagi agar Rana dapat kembali ke zaman asal. Walaupun dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah jalan pulang ditemukan.
Dirinya yang lain tidak menginginkan perpisahan. Kalau Rana tidak lagi ada di dunia Stardust, maka akan bagaimana dunianya? Kehidupan yang tidak membosankan semenjak ada wanita itu, pasti akan kembali seperti semula. Dia sendiri bingung harus mengambil keputusan apa.
River menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri di tengah kegundahan hati. Dia harus tetap tenang dan juga mengendalikan emosionalnya
"Aku harus mencari jalan keluar bagi mereka untuk pulang," ucap River, membulatkan tekad. Dia tidak boleh lagi goyah.