Tidur Rana begitu nyenyak dan juga sangat nyaman, sensasinya sama seperti berbaring di kasur yang ada di Bumi. Apa dia sedang bermimpi atau justru sudah pulang ke rumah?
Rana berusaha untuk bangun dari alam bawah sadarnya. Dia melihat pemandangan putih seluruhnya di depan mata. Perasaan yang tidak enak membuat dia segera mendongakkan kepala, tanpa dikira menemukan River.
Apa yang terjadi? Kenapa Rana bisa berbagi tempat tidur bersama sang profesor? Dia berusaha mengingat-ingat dan dia pikir tidak ada yang terjadi lagi setelah dia menunggu River terbangun.
Terlebih pelukan River begitu erat, membuat dia mau tidak mau masuk ke dalam pelukan. Berusaha melepaskan diri juga sulit sepertinya. Jadi, dia memutuskan untuk memanggil nama pria itu.
River langsung terjaga, menurunkan pandangannya sehingga bertemu dengan tatapan kesal dari seorang wanita. Dia mengendurkan pelukan tanpa melepaskan tentunya.
"Kenapa kita berakhir seperti ini?"
"Tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya memelukmu ketika aku membutuhkannya, seperti apa yang kau katakan padaku."
"Tetap saja, kita tidak bisa berbaring bersama seperti ini. Aura dan Potato akan salah sangka jika melihat kita."
"Kenapa begitu gelisah? Aku hanya memelukmu saja, sama seperti pelukan kita di depan umum. Hanya saja, sekarang dalam posisi yang berbeda dan di tempat yang berbeda."
"Kenapa kau senang sekali memelukku?"
"Karena aku merasa nyaman."
"Ini tidak baik, sangat buruk untukku," gumam Rana. Dia dapat merasakan jantungnya berdetak cepat.
"Aku tidak mendapatkan apa-apa setelah meneliti Stardust tadi malam."
"Kau mulai menelitinya? Kenapa tidak tinggalkan saja untuk sementara waktu dan fokus dengan acara inovasi?"
"Aku hanya ingin melakukannya."
Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Rana tanyakan, berkaitan dengan ruang bawah tanah. Dia ingin mengetahui lebih jelas soal penelitian yang disembunyikan pada orang banyak itu. Namun, jika melihat situasi mereka yang harus mempersiapkan diri untuk acara inovasi tentu bukan sebuah ide yang baik jika membahasnya sekarang. Dia tidak ingin merusak suasana hati atau lebih parahnya lagi mengubah pikiran River untuk pergi ke acara inovasi.
Pikiran Rana melayang ketika sadar telah membaui aroma yang khas dari tubuh River. Sepertinya profesor juga menggunakan parfum untuk penampilan mereka. Dia tidak pernah mengira kalau baunya akan begitu menggoda, membuat dia ingin tetap berada dalam posisi itu lebih lama.
Rana belum pernah berada dekat dengan seorang lelaki. Apa rasanya akan begitu mengejutkan? Jantungnya tidak berhenti berdetak sejak tahu kalau pria yang ada di dekatnya adalah River.
"River, aku ingin mengetahui tentangmu lebih banyak."
River membuka kedua matanya, sungguh penasaran dengan keinginan itu, tetapi juga tidak ingin mengetahuinya lebih jauh. Kebimbangan apa yang dia rasakan sekarang sebenarnya? Sangat mengganggu sekali.
"Untuk apa?"
"A—aku,"—Rana memberanikan diri untuk memeluk dengan erat, rasanya sangat nyaman berada di dalam pelukan—"sebenarnya juga tertarik padamu."
Kalimat itu adalah apa yang River tunggu-tunggu. Tidak salah lagi kalau ternyata ketakutan Rosa benar terjadi.
Pelukan perlahan mengendur, River bergerak bangkit. Dia rasa sudah cukup berbaring dengan pelukannya. Rana menjadi salah paham karena kedekatan mereka yang dia anggap hanya sebatas teman.
Rana berekspresi buruk, merasa sebuah dinding pembatas tengah dibangun di antara mereka. Apa yang dia takutkan sungguh terjadi. Haruskah dia mengatakan kalau semua hanya pura-pura saja?
"Kau yang seperti ini membuatku jadi mengira kalau kau benar-benar menyukaiku." River menipiskan bibir, bangkit dan berlalu menuju karya inovasinya.
"Bagaimana kalau itu benar?"
River berpikir kalau dia tidak ingin mendengarnya. Rana keras kepala, tidak peka akan sikapnya yang enggan untuk mereka tetap bersama. Mau tidak mau, kini dia harus membalikkan badan, menatap ke arah wanita yang masih duduk di tempat baringan.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan perasaanmu?"
"Aku berharap bahwa kau akan menerimanya. Tentu saja tidak memaksa. Aku tidak tahu apakah kau memiliki perasaan yang sama padaku."
Sejujurnya River mengalami kebimbangan, dia tidak tahu harus bagaimana saat mereka berhadapan, terkadang ingin menjauh dan terkadang ingin mendekat. Mungkin kedekatan mereka telah membuat kesalahpahaman tetapi dia juga harus sadar bahwa dirinya yang membuang kesalahpahaman itu.
Rana berusaha jujur dengan perasannya sedangkan dia bermain tarik ulur seperti seseorang yang baru saja menginjak masa remaja. Tidakkah dia merasa nyalinya sangat kecil jika menyangkut perasaan. Dia harus mengakui kalau wanita yang bernama Rana ini telah membuat dia tertarik. Kalau dia selalu bersikap sebagai pengecut, maka itu bukanlah dirinya, bukan?
"Baiklah. Kita akan melakukannya, menjalin sebuah hubungan."
Rana melebarkan mata, sungguh tidak percaya kalau dia akan mendapatkan jawaban yang dapat menyenangkan hati.
"Aku merasa kalau kita akan cocok untuk tetap bersama. Tapi aku memiliki satu permintaan yang harus kau penuhi. Ini bukan sebuah syarat, akan tetapi permintaan."
"Aku akan mendengar permintaanmu lebih dulu."
"Apa pun yang terjadi, kau harus kembali ke duniamu. Meskipun perasaanmu bertambah besar atau suatu saat dirimu memutuskan untuk tetap tinggal bersamaku selamanya, kau harus membuang jauh-jauh pemikiran itu. Kita pada dasarnya hidup di tahun yang berbeda, tempatmu bukan di sini. Dan aku harus menunaikan janjiku yang akan memulangkanmu."
Itu keputusan yang sangat berat pastinya. Tetapi dia masih memikirkan soal kakaknya. Dia tidak bisa egois dengan kebahagiaan sendiri dan mengorbankan kebahagiaan Aura. Jujur saja, dia mengharapkan kakak iparnya masih hidup.
Perasaan tidak ada yang dapat mencegah dengan siapa akan menyukai. Rana tidak tahu kalau cinta pertamanya akan begitu sulit untuk dipertahankan.
"Aku akan menanggung risikonya."
River melangkah maju, meraih tangan wanita itu, lalu menatap begitu dalam. Dia tidak pernah mengira jika Rana akan menempati hatinya. Mungkin selama ini dia kabur seperti seorang pengecut, menutupnya dari Rana kalau dia juga tidak bisa tenang ketika mereka saling berhadapan. Dia di umurnya yang sekarang ternyata masih merasakan kegugupan.
"Bukan hanya dirimu, tapi kita akan menanggungnya. Ini juga berat untukku, memberanikan diri untuk mengakui perasaan ketika kita pada akhirnya harus terpisah. Memang sebaiknya kita tidak mengungkapnya, akan tetapi siapa yang tahu mengenai perasaan?"
"Aku ingin menikmati waktuku saat masih bisa melihatmu. Tidak tahu kapan aku akan kembali dan itu sangat menyiksa. Kenapa aku begitu dramatis hanya karena seorang pria sepertimu?"
River tersenyum tipis. "Ayo, kita nikmati waktu kita selama masih bisa bersama. Aku tidak akan menjadi seorang pengecut."
Rana menganggukkan kepala, lalu memeluk River. Mereka saling berpelukan hingga teringat akan waktu yang berlalu begitu cepat. Mereka yang ada di luar ruang penelitian pasti khawatir tentang mereka.
"Aku harus menekan tombolnya," ucap River, kemudian menghampiri sofa dan menjangkau tombol yang ada di bawah sana.
Pintu langsung terbuka, memperlihatkan sosok Potato yang datang dengan tergesa. Tidak tahu apa yang membuatnya begitu, robot itu bergerak dengan gelisah seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Potato sudah menunggu begitu lama sampai pintu ruang penelitian terbuka." Dia melihat ke arah Rana yang ternyata justru berada di ruangan profesor, padahal dia sungguh kewalahan mencari. "Ada kabar mengejutkan mengenai Aura!"
"Aura?" Rana mengerutkan dahi, tiba-tiba sang kakak memiliki peran yang sangat penting ketika pekerjaannya hanya berkutat di dapur. "Ada apa dengan Aura?"
"Dia ... sepertinya akan melahirkan!"