Bab 48: Acara Inovasi

1052 Words
Mereka bergegas menuju kamar, melihat keadaan Aura yang tengah sekarat. Siapa yang dapat membantu mereka pada saat seperti ini? Belum pernah ada yang melahirkan di tempat tinggal River sebelumnya. "Aura, bisakah kau mendengarkan aku?" Rana berucap. "Kau harus tetap mempertahankan kesadaranmu. Tenang saja, kau akan baik-baik saja. Keponakanku akan lahir dengan sempurna dan juga lancar. Ayo, lakukan seperti apa yang aku katakan. Sekarang tarik napasmu dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan. Pikirkan hal yang positif saja atau sesuatu yang menyenangkan di dalam hidupmu." Aura melakukan seperti apa yang disarankan padanya. Dia menghirup napas yang terasa berat, lalu mengeluarkannya perlahan. Ini kelahiran anak pertama dan dia melakukannya tanpa Shaw di sisi. Tanpa terkira bayangan menyedihkan tentang hari itu, hari di mana suara tembakan terdengar membuat dia mengeluarkan air mata. Dia merindukan suaminya. Apa mereka tidak akan pernah bertemu lagi? "Aura, tetap tenangkan dirimu." Suara sang adik menarik kesadaran yang sempat tenggelam dalam larutan air mata. Dia memaksa diri untuk tetap membuka mata, melupakan kejadian mengerikan dan menggantinya dengan kenangan indah. Bayi mereka akan lahir ke dunia, memperlihatkan jemari mungil yang manis. Terlepas dari laki-laki atau perempuan, Aura sudah bertekad untuk tidak mempermasalahkannya bersama Shaw. Dia harus bisa melalui persalinan dengan baik agar suaminya dapat berbangga diri karena akan menjadi seorang ayah. Rasa sakit hilang seiring waktu. Aura terheran-heran, berpikir bahwa itu cukup sebentar untuk disebut sebagai sebuah persalinan. Apa yang terjadi? Kenapa suasana tiba-tiba berubah hening dengan dia yang tidak lagi mendesis? "Ada apa?" tanya Rana. "Kau merasakan apa?" Dia pun juga merasa heran sebenarnya. "A—aku tidak merasakannya lagi." "Apa maksudmu?" "Sepertinya itu adalah kontraksi palsu." "Kontraksi palsu atau dikenal dalam dunia medis sebagai kontraksi Braxton Hicks merupakan hal normal yang terjadi pada wanita hamil. Kontraksi semacam itu merupakan persiapan rahim untuk menghadapi persalinan dan akan muncul lebih sering sebagai tanda melahirkan semakin dekat." Potato menjelaskan lebih dulu sebelum ada yang bertanya. Dia menyempatkan diri ketika semua orang fokus pada kesakitan Aura, mencari informasi menggunakan pengetahuannya. "Sebaiknya kalian tidak datang ke acara inovasi dan tetap berada di rumah," ucap River, mengambil keputusan mutlak sebagai seorang pria. "Potato lebih baik berada di dekat Aura selama kami pergi. Langsung kabari aku ketika terjadi hal seperti ini lagi. Jika memang benar bahwa Aura akan mengalami kontraksi lebih sering sebagai tanda baginya untuk melahirkan, maka kita harus siap dalam keadaan apa pun." Semuanya mengangguk setuju. Setelah itu, River mendekat pada wanita hamil yang tampak kelelahan akibat menahan rasa dari kontraksi. Hanya sekilas saja dia menyaksikan raut wajah itu sebelum senyuman terbit di wajah Aura. "Jangan khawatir. Aku akan melakukan yang segala yang terbaik untuk kelahiran bayimu nanti." Aura menganggukkan kepala. "Terima kasih, River." Pria yang beranjak pergi itu membuat Rana mengambil kesempatan untuk mendekati sang kakak sebelum keluar menyusul. Dia menenangkan dan menunjukkan upayanya dari kata-kata seperti apa yang River lakukan tadi, baru kemudian dia pergi dari sana menyisakan Potato yang akan mengambil alih situasi. Rana memasuki ruang penelitian, menemukan River di sana menyelesaikan pekerjaan. Dia sebagai asisten berniat untuk membantu, akan tetapi sepertinya River sudah benar-benar siap dengan penelitiannya. "Kita akan pergi ke acara inovasi." Dari perkataan itu terselip kegugupan, Rana bisa membacanya dengan jelas karena sifat yang tiba-tiba berbeda dari biasanya. Mungkin karena sudah lama tidak mendatangi acara tersebut, River terlihat sangat gugup. Rana menyentuhkan tangan mereka, membuatnya saling menggenggam. "Aku akan selalu ada bersamamu." River menatap wanita di depannya, tengah memberikan dorongan semangat. Dia menganggukkan kepala kemudian. "Terima kasih sudah berada di sisiku." *** Hampir semua penduduk kota, bahkan dari luar ikut menyaksikan acara inovasi. Beberapa yang menyadari kedatangan sang profesor langsung menyapa, misalnya hadirin pelelangan. Rana juga melihat wanita yang mendesaknya menjadi salah satu di antara barisan orang kaya. Kini wanita itu menyipitkan mata, tentu saja bertanya-tanya kenapa Rana dan sang profesor berjalan sambil bergenggaman tangan. Dia tidak berniat untuk melepaskan, justru menjadikannya lebih erat seolah tidak ingin kehilangan. River yang mengetahui hal itu pun menoleh ke belakang dan tersenyum. Dia bergeser hingga dapat menemukan kursi yang cocok untuk mereka tempati. Dulu dia adalah seorang maniak acara inovasi dan tahu di mana saja tempat duduk yang memperlihatkan sudut-sudut yang bagus. "Kita akan duduk di sini?" tanya Rana, pertanyaan yang sudah jelas jawabannya karena pria yang menyeret telah duduk di sana. "Ya, duduklah di sampingku dan letakkan karyanya di lantai." Rana langsung duduk dan dia menggelengkan kepala, meletakkan karya yang mereka bawa di atas pangkuan. "Tidak. Kau sudah bersusah payah dan aku hanya menghargainya di bawah tempat dudukku? Itu jelas tidak sebanding." River tersenyum hangat. "Kau sangat manis." Muka Rana seketika merona merah. Dia memperhatikan sekeliling yang untungnya orang-orang begitu sibuk mencari tempat duduk. Meskipun begitu, Rana tetap saja merasa kalau kalimat tadi tidak perlu diucapkan. Sentuhan tangan River yang menggenggamnya membuat dia teralih dari kekhawatiran. Pria itu kini telah menatap ke arah depan sana, tidak peduli apakah mereka akan ketahuan atau tidak. River menolehkan kepala, menatap wanita di sampingnya yang terheran-heran, melemparkan sebuah senyuman. "Aku selalu menantikan waktu di mana bisa berkencan seperti ini di tempat umum." Rana tersenyum pula, terbawa arus kenyamanan yang diberikan padanya sehingga mengenai anggapan orang lain membuat dia lupa. "Memangnya, kau tidak pernah pergi berkencan sebelumnya?" "Pernah." Rana langsung memajukan punggung yang bersandar, berharap jawabannya 'tidak', tetapi nyatanya sebaliknya. Dia sangat ingin tahu mengenai wanita yang di maksud. Siapa yang telah mengajak pujaan hatinya pergi berkencan? "Dengan siapa?" "Seseorang yang tidak kau kenal. Dia tidak menyukai hal-hal seperti yang kita lihat sekarang. Selera kami berbeda. Jadi, kau adalah orang pertama yang menemaniku, menyukai apa yang aku suka." "Oh, begitu? Aku sangat penasaran, siapa wanita itu? Dia pasti sangat cantik." River tersenyum geli menyaksikan bagaimana Rana mengekspresikan kecemburuan. Dia melihat ke sekeliling setelah itu. "Aku dengar bahwa dia menjalin hubungan dengan pria yang sama sepertiku. Sangat jarang menemukan seseorang yang tidak menyukai tentang teknologi di Stardust. Dan kemungkinan besar dia akan datang bersama kekasihnya." "Bukankah dia tidak menyukai acara seperti ini?" "Dia mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku, dapat mengkomunikasikan tentang pertentangan itu, sedangkan aku tidak memiliki keahlian di bidang memahami wanita. Kami memutuskan hubungan karena aku adalah pasangan yang payah." Berkata seperti itu dengan raut wajah baik-baik saja, kenapa River terlihat begitu menjengkelkan? "Perpisahan kami sudah cukup lama, bahkan sudah tidak saling menyukai lagi. Kau tidak perlu membebani pikiranmu dengan hal yang tidak penting." River mengangkat tangan wanita itu, mengecupnya dengan lembut. "Bagaimana kalau kita nikmati saja acaranya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD