Bab 27: Keluar Hutan

1092 Words
Ada yang salah dari River yang mulai kehilangan tenaga. Dia memaksa diri hingga tidak tahu kalau di depan mereka ada batu besar yang harus dihindari. Kalau bukan karena teriakan Rana, mungkin mereka akan terbentur begitu kuat, mengingat River mengatur kecepatan berlari penuh. Sisa-sisa energi terakhir tidak menjadikan River kehilangan cara untuk menyelamatkan mereka berdua. Dia menyalakan roketnya yang hanya bisa membantu mereka sedikit saja, hanya beberapa detik sebelum mereka mendarat ke tanah. Mulanya River yang akan terjatuh lebih dulu, akan tetapi Rana tidak membiarkan pria itu membuat luka di bagian punggung kembali dan akhirnya mengambil inisiatif untuk memutar keadaan mereka. Alhasil, Rana yang merasakan sakit, meskipun masih tidak sebanding dengan jatuh dari ketinggian. Perlahan River mengangkat tubuhnya, melihat wanita yang tanpa dikira pada saat sekarang menyunggingkan bibir. Dia ingin menanyakan alasan kenapa Rana melakukan tindakan ceroboh dengan memutar keadaan, sayangnya dia terlalu lelah untuk berkata-kata. Rana memandangi mata yang redup sekaan sudah terkuras seluruh tenaga, keringat bercucuran di wajah tampannya, napas yang tersengal itu membuat dia menelan ludah. Dia ingin mengumpat pada diri sendiri, kenapa pria yang menyukai jas laboratorium ini begitu seksi? Perhatiannya teralih pada lengan yang gemetar, River menahan bobot tubuh dengan kedua tangan di atas tanah, di sisi-sisi tubuhnya. Oh, sial! Kenapa jantungnya harus berdetak saat situasi mengenaskan ini? Langit masih menangis, tetapi Rana tidak dihantam oleh tetesannya. Hanya air yang mengalir dari rambut pria itu saja, membasahi muka dan menggetarkan jiwanya. Rana bangkit sembari memegangi lengan gemetar itu, niatnya untuk menenangkan River, akan tetapi lagi-lagi dia harus terhenti karena keterpanaan. Sejak kapan dia menjadi wanita memalukan sampai memikirkan untuk mendapatkan ciuman dari seorang pria? Dia pasti sudah tidak waras. River menundukkan kepala di bahu wanita itu, tumbang juga akhirnya. Pada saat yang bersamaan, sebuah sinar muncul menyilaukan pandangan mata. Rana berusaha untuk melihat siapa yang datang dan sangat berharap kalau bukanlah orang yang harus mereka hindari, karena mereka sudah tidak bisa berjalan. "River?" Rana tidak yakin dengan suara barusan hingga cahaya menyilaukan tidak lagi mengarah pada mereka, baru dia menangis, entah apa alasannya. Mungkin karena pengalaman yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya atau mungkin juga karena terkejut dan ingin mengeluh untuk hari-hari yang berat. "Potato ...." Hanya itu yang bisa dia katakan dalam air mata derasnya. Tangisan terhenti ketika kepalanya disentuh, dia baru menyadari kalau River belum benar-benar tenggelam. Walaupun begitu, dia tetap mengeluarkan air mata yang sulit dihentikan. Mereka kembali pulang dengan bantuan Potato. Setibanya di rumah pun, Aura begitu khawatir dan memukul p****t adiknya, hal yang sering dilakukan ketika Rana sudah benar-benar di luar batas. "Meskipun kita tidak berada di Bumi, tapi kita tetaplah menumpang! Kau tidak bisa membuat pemilik rumah kesulitan!" Rana tidak memiliki pembelaan, dia hanya menangis tanpa mengeluh kesakitan. Sementara para penduduk yang mendengar kegaduhan bertanya-tanya, akan tetapi sepertinya untuk sekarang rumah Profesor River tidak menerima tamu. Sementara River dibaringkan di atas sofa yang bisa diatur luasnya. Sebenarnya kamar hanya untuk menyimpan barang-barang, mungkin bisa dianggap sebagai formalitas saja, karena waktu yang River habiskan lebih banyak di ruang penelitian. Satu hal lagi alasan kenapa Potato diciptakan yaitu untuk merawat ketika diri terluka. Jarang River mengalami luka yang begitu parah dan sekarang adalah waktu bagi Potato untuk menunjukkan keahlian terpendamnya. Potato mulai memindai tubuh itu dengan laser yang muncul dari kedua matanya. Dia menemukan ada 16 titik luka, satu di antaranya adalah yang paling parah. Jika dilihat dari bagaimana luka-luka itu tercipta, kemungkinan besar River jatuh dari ketinggian atau terhantam batu besar sehingga meninggalkan luka dalam di bagian punggung. Potato menelusuri bagian kedua kaki yang mana kemampuan tambahan sudah digunakan sampai mencapai batas. Selama ini River menggunakannya agar dapat pulang dengan cepat, tidak ada rencana untuk waktu tersulit di depan nanti. Sekarang dia harus memperbaikinya agar River dapat berjalan kembali. Namun, yang paling penting untuk ditangani adalah punggung River. Jika pria itu tidak akan merasakan sakit pada kedua kaki, maka berbeda dengan bagian punggung. Seperti tubuh manusia pada umumnya akan merasakan sakit ketika dipukul atau terjatuh. Mungkin River yang masih memejamkan mata tidak terlihat kesakitan, tetapi dia tahu kalau nanti akan berbeda. Tubuh manusia cenderung merasakan akibat dari tindakannya kemudian dan River yang kesakitan adalah hal yang paling dia benci di dunia. *** Rana mengeluh kesakitan, mengepalkan tangan dengan kuat. Pagi ini punggungnya diolesi oleh ramuan yang diberikan oleh Potato, tidak begitu tahu apa dan mereka harus percaya bahwa robot yang kelihatan sangat serius itu tidak berniat menyakiti. "Apa ... River baik-baik saja?" tanyanya hati-hati pada Aura yang sepertinya masih marah. Rana terkejut saat pundaknya dipukul, bukan bagian yang terluka, tetapi dia tetap merasakan sakit. Pukulan Aura memang tidak main-main, bahkan dia masih ingat waktu Shaw memancing kemarahan. Kakak iparnya sampai lari ke jalanan untuk menghindar. Kalau diingat lagi, itu kenangan yang lucu, tetapi tidak sepenuhnya untuk duka mereka. "Bagaimana bisa baik-baik saja? River tidak sadarkan diri sampai pagi ini. Jangan sampai orang-orang tahu karena kalau tidak, pria yang datang beberapa waktu lalu akan kembali ke mari." "Pria ... yang datang beberapa waktu lalu?" Aura menyelesaikan perban adiknya. Dia mendengkus. "Kau tidak boleh keluar dari rumah satu milimeter pun. Apa kau mengerti?" Rana melihat sang kakak yang mengemas obat-obatan, lantas mengenakan pakaian kembali. "Aku juga membelikan pakaian untukmu. Apa itu cocok?" Aura menghentikan gerakan tangannya, melirik sang adik dengan tajam. "River yang membelikannya untuk kita. Kau harus mengetahui posisi kita yang bukan berasal dari dunia ini. Jika tidak bisa kembali, maka ada banyak hal yang harus dipelajari sebelum membaur dengan orang-orang di dunia ini. Aku mohon, jangan bertindak sembarangan lagi. River telah berkorban banyak untuk menyelamatkanmu, seharusnya kita berterima kasih padanya." "Aku akan pergi melihat River." Rana memang tidak menanggapi perkataan sang kakak, tetapi bukan berarti dia tidak terpikirkan. Benang di kepalanya begitu kusut dan dia ingin berhenti memikirkan hal-hal yang berat sebentar. Jadi, dia memutuskan untuk melihat River. Dia tidak sengaja berpapasan dengan Potato yang baru saja keluar dari ruang penelitian. Ekspresi sedih sekaligus kecewa terpancar di wajah robot yang selalu ceria itu, menjelaskan kalau keadaan River benar-benar buruk. Apakah dia boleh mengatakan, ingin melihat keadaan River? Rana tidak merasa pantas, karena dia berkontribusi paling banyak atas kejadian buruk yang menimpa River. "A—aku cuma ingin ke kamar mandi. Sepertinya bukan lewat sini, ya?" Rana membalikkan badan dengan cepat. "Ingin melihat River?" Rana memutar kakinya menghadap robot yang memiliki bentuk kepala seperti kentang itu. Di menganggukkan kepala lambat-lambat, tidak berani mengungkapkan betul niat hatinya. "Masuklah," ucap Potato, masuk ke ruang penelitian kembali. Dia yang tujuannya datang memang untuk melihat keadaan River, tanpa ragu menyusul masuk. Pintu otomatis tertutup dengan sendirinya dan dari langkah yang semakin maju, dia dapat melihat River dengan keadaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD