Tidak ada yang dapat mendengarkan teriakan, meskipun sekencang apa pun Rana bersuara. Wajar saja, karena mereka berada di bagian belakang gedung yang letaknya persis berada di tepi jurang. Entah apa pemikiran orang yang membangun, tanpa memedulikan betul ada di mana letaknya.
Rana mendesah kesal, pandangannya nanar melihat River terbaring tidak berdaya. Pria itu masih hidup, dia tahu saat melihat d**a naik turun yang menandakan bahwa River tetap bernapas, kemungkinan besar hanya pingsan.
Tetapi dia tidak bisa membiarkan situasi begitu saja. Mereka jatuh dari ketinggian yang sangat jauh, sudah pasti akan ada dampak dari itu semua. Rasanya pasti lebih sakit daripada dipukul dan dia ngilu jika membayangkannya.
Ketika Rana berusaha untuk mencari jalan keluar, suara air mengalir terdengar tidak jauh dari posisi mereka. Pikirannya berubah menjadi lebih tenang dan membuat dia teringat pada satu kenangan di mana dia pernah mengalami hal yang seperti ini waktu berada dalam masa-masa sekolah, para murid harus menghadapi apa yang dinamakan dengan perkemahan. Jadi, tidak begitu sulit untuk dia mengeluarkan ide mengenai keselamatan.
Jika dia mencari celah untuk melihat keadaan langit dari balik dahan yang rimbun, bisa terlihat kalau sekarang tidak lagi begitu terang. Dia ingat waktu mengikuti River ke bar saja sudah siang hari, sekarang sudah berlalu beberapa jam sejak dia dikejar sampai akhirnya diculik.
Sebelum benar-benar gelap sebaiknya dia mencari tempat untuk mereka berlindung. Nasib baik kalau dia dapat menemukan gua, karena ketika langit sudah gelap akan sulit dideteksi apakah nanti turun hujan atau tidak.
Rana menandai setiap perjalanannya di batang pohon dengan menggoreskan batu di sana, berharap tidak akan tersesat di hutan yang tidak tahu luasnya berapa ini. Dia juga tidak ingin mengambil risiko terpisah dari River, pria itu tidak bisa ditinggalkan seorang diri dalam keadaan tubuh yang sakit.
Beberapa saat mencari, Rana tidak menemukan gua. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari ranting, kebetulan di sekitar mereka ada banyak, bahkan ada yang masih kuat untuk dijadikan sebagai tonggak. Mungkin dengan itu dia dapat membuat tempat berlindung jika menambahkan daun yang lebar ukurannya. Tidak sulit menemukan daun yang lebar di hutan.
Rana memancangkan empat kayu sehingga membentuk persegi mengitari River, ranting yang tipis nan kokoh dijadikan sebagai jembatan untuk setiap sudut. Dia menggunakan batu sebagai palu, kemudian menyusun daun yang lebar di atasnya dan juga sisi-sisi yang lain, lalu mengikat ujungnya dengan tulang daun yang telah dipisahkan.
Cukup cepat untuk Rana membuat satu karya seni berupa rumah kecil-kecilan untuk dua orang. Dia tidak mengira akan melakukan hal seperti sekarang di zaman yang modern. Kalau saja dia mengerti dengan teknologi, sudah pasti yang dibuatnya akan jauh berbeda. Mungkin dia juga akan mempertimbangkan untuk membuat kamar, ruang makan, ruang tengah, dan dapur.
Sayangnya, dia bukan Rana yang berasal dari dunia modern.
Rana masuk ke dalam rumah buatannya dan pemandangan yang dia lihat masih sama. Selagi cahaya belum benar-benar redup, dia memutuskan untuk melihat kondisi River. Perlahan jas laboratorium yang sudah kotor dan terkoyak sakunya dilepaskan, pria itu mengenakan baju biasa di dalam jas putihnya. River yang tidak mengenakan jas laboratorium terlihat seperti orang normal.
Rana mendorong tubuh pria itu agar menghadap ke samping, memunggunginya sehingga dia dapat melihat apa yang ada di balik baju. Tidak dikira kalau pemandangan yang dia temukan cukup memilukan, warna kulit punggung kontras warnanya dengan kulit asli.
Rana sadar kalau kondisinya serius, ditambah pemandangan saat ini membuat dia semakin sadar kalau mereka berada dalam situasi sulit. Bagaimana dia akan membantu River yang sedang berjuang menahan rasa sakit?
Rana bergegas keluar, mencari sesuatu untuk membawa air dari sungai yang akan dipakainya nanti untuk membasahi luka. Tetap saja, mereka berada di hutan yang mana wadah tidak akan bisa ditemukan. Jadi, dia memilih untuk membuka kemeja, tanpa pikir panjang melepaskan pula baju dalamnya.
Dia begitu berani, karena tahu bahwa tidak akan ada yang melihat. Segera setelah itu, dia memasang kemejanya kembali dan berlari ke aliran sungai. Baju dalamnya direndam, diangkut pergi ke rumah buatan kembali.
Luka-luka di tubuh River dia bersihkan semua. Berulang kali dia berlari ke sungai dan membawa air baru untuk membersihkan luka. Terakhir, dia membiarkan baju dalamnya yang basah menempel di punggung River, berharap bahwa air dari sungai yang dingin dapat meredakan rasa sakit.
Mungkin karena letih bolak-balik, ditambah terkejut oleh keadaan, Rana tanpa sadar tertidur dalam posisi duduk. Padahal, dia sudah berniat untuk tidak memejamkan mata dengan alasan mereka yang berada di hutan, bisa saja ada binatang buas muncul untuk menerkam.
Sementara River yang tertelungkup baru saja membuka mata, terbangun akibat rambut yang seperti ditetesi air. Dia bergeser untuk duduk, akan tetapi kepalanya langsung menemukan sesuatu menyentuh kepala dan membuat dia segera menunduk. Setelah itu, dia bergerak lagi ke kanan dan ke kiri, akan tetapi setiap sisi begitu dekat dengannya.
Tanpa River sadari saat dia bergerak lagi, tidak sengaja menekan sesuatu sehingga sebuah cahaya datang dari satu tempat. Pada saat itu pula dia melihat Rana yang terlelap dalam keadaan memeluk lutut. Dia juga baru tahu kalau sekarang berada di tempat yang sempit dan juga gelap. Kenapa mereka bisa berakhir seperti sekarang?
Dia hendak meraih bola ajaib yang ada di sebelah Rana. Saat yang bersamaan pula dia melihat wanita itu menggigil. Suara tetesan air semakin bertambah saja, turun dari atas rumah sementara mereka. Selain itu, tanpa diduga air perlahan mengalir membasahi posisi mereka.
River terlonjak menghindar, akan tetapi tetesan air hujan tidak bisa dikondisikan. Mereka akan basah kuyup sekaligus kedinginan jika tetap berada di sana. Mereka harus mencari tempat yang benar-benar teduh.
River mengenakan jas yang terlihat memilukan baginya, dia tidak begitu mengeluh lantaran air hujan telah mengurungkan itu. Jadi, dia memutuskan untuk menyimpan bola ajaib dan membawa Rana keluar dari sana. Tadinya dia ingin membopong wanita itu, sayang sekali suara jeritan menahan diri. Ada yang salah dengan punggungnya dan dia ingat penyebabnya.
Rana telah terbangun sepenuhnya akibat suara jeritan, sejak tadi dia setengah sadar sebenarnya. "River," lirihnya dalam rintik hujan. "Kau tidak apa-apa?"
"Kita harus segera pergi dari sini," ucap River, tidak memedulikan pertanyaan.
"Aku sudah mencari gua sebelumnya, tapi tidak ada. Jangan paksakan dirimu, kita berteduh saja di bawah pohon."
River berdecak kesal. "Aku tidak bisa memakai roket pada saat hujan begini, punggungku juga tidak kuat menahan beban loncatan jika kita menggunakan pegas. Tidak ada cara lain, satu-satunya cara adalah aku akan berlari dengan cepat."
Tanpa menunggu tanggapan, River langsung melancarkan aksinya. Bisa dikatakan kalau malam itu meeupakan mode tercepat yang pernah dia gunakan selama hidup. Dia sudah seperti ninja modern dengan langkah super gesitnya.
"Rrriver ...." Bahkan suara Rana gemetar ketika mengucapkan sepatah kata, ditambah dia yang menggigil kedinginan.
"Aku menyimpan bola ajaib di saku jas yang tidak terkoyak. Bisakah kau memastikannya agar tidak terjatuh sampai kita tiba nanti?" River yang sudah biasa dengan kemampuannya tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan saat berbicara.
"Bbbaik!"