Bab 19: Wanita Berkipas

1056 Words
Pria normal nan tampan dalam anggapan Rana ternyata juga bagian dari kelompok robot. Dia bisa mengambil kesimpulan begitu ketika melihat bagaimana kedua tangan berputar dan bergerak dengan cepat. Sangat mengerikan ketika kulit luarnya tampak persis seperti apa yang dimiliki manusia, akan tetapi atraksi membuat minuman telah menyingkirkan ingatan buruk itu menjadi sebuah kekaguman. "Selamat menikmati." Pria itu berkata sambil menyuguhkan segelas minuman berwarna hitam pekat. Dia memang terkagum-kagum tadi, tetapi sekarang memandang minuman dengan ngeri. Apa yang ada di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan sesuatu seperti selera. Namun, melihat bagaimana peramu minuman yang tidak sabar menunggu respons darinya membuat dia mau tidak mau meraih minuman tersebut. Rana tetap saja ragu sampai akhirnya bibir gelas sudah menyentuhnya, langsung tercium aroma dari dalam gelas itu. Kenapa baunya seperti oli? pikir Rana. Pertentangan di dalam diri, dia ingin menolak dan tidak bisa membiarkan raut kekecewaan muncul di wajah tampan pria plontos itu. Apa yang harus dia lakukan? Sungguh keputusan begitu sulit. "Ah, Profesor River!" seru bartender sesaat mengalihkan perhatian dari pelanggannya. Rana terkejut, segera mencari cara untuk menyembunyikan diri, tetapi dia tidak menemukannya juga sampai River duduk di sebelahnya. Pelarian terakhir dari hidupnya agar tidak ketahuan yaitu memutar kepala ke arah lain, bahkan dia berpura-pura mabuk dengan menopang kepalanya dan membiarkan rambutnya menutupi wajah. River sendiri sudah menaruh perhatian pada wanita yang rasanya dikenali ini. Di saat yang bersamaan, dia juga berpikir tidak mungkin kalau Rana berada di bar sekarang. "Anda akan memesan minuman?" River menoleh pada sang bartender, menyingkirkan kecurigaan. "Hari ini sama seperti biasa." "Baiklah. Satu gelas cokelat panas, bukan?" "Tanpa gula." Rana mengerutkan dahi, siapa yang menikmati cokelat panas ketika berada di dalam bar? Seharusnya mereka menyediakan minuman beralkohol atau sejenisnya. Apa River adalah seorang anak kecil? Dan lagi, kenapa pesanannya sangat berbeda dari standar kehidupan di dalam bar? Dia bukanlah robot yang butuh mengonsumsi oli. Selagi menunggu, ketertarikan River masih belum reda. Dia tidak hanya sekali datang dan belum pernah melihat wanita di sebelahnya ini. Apalagi kondisinya tampak tidak baik, membuat dia ingin membantu. "Hei, Nona. Anda baik-baik saja?" Rana membelalakkan mata. Orang yang sedang dia hindari sedang melakukan interaksi dengannya saat ini. Jika dia menanggapi, pasti akan ketahuan. Apa dia harus berbicara dengan mengubah suaranya sedikit? Pada akhirnya, Rana menjadikan tangan sebagai alat berkomunikasi. Dia melambai-lambaikannya, berharap di mengerti kalau tidak perlu ikut campur dengan urusannya. "Tidak perlu memaksakan diri, masih ada banyak pria di dunia. Anda akan mendapatkan yang lebih baik." Apa River menganggap bahwa dia sedang mengalami putus cinta? pikir Rana. Sekali lagi Rana melambaikan tangan. Dia juga berusaha membuat jarak di antara mereka dengan bergeser ke kursi kosong di sebelahnya. Kini dia membaringkan kepala di atas meja, tetap menutupi wajah dengan rambut. "Jika itu menyisakan trauma bagi Anda untuk dekat dengan laki-laki, maka tidak masalah. Kita semua butuh waktu untuk sembuh. Saya harap, Anda bisa keluar dari masalah itu secepatnya," ucap River. River tidak sengaja melirik minuman yang ada di dekat wanita itu, dia rasa tidak cocok untuk orang yang sedang putus cinta. Jadi, dia putuskan untuk menggantinya dengan cokelat panas yang dipesan, kemudian dia pergi dari sana. "Nona, apa Anda baik-baik saja?" Rana menaikkan kepala, lalu menganggukkan kepala sambil menunjukkan jempolnya. Perlahan dia mengintip dari celah rambut untuk melihat, apakah River masih duduk di sampingnya? Saat tahu kalau River tidak lagi berada di tempat, dia merasa lega dan merapikan rambutnya kembali. Aroma cokelat panas menarik perhatian, mengetahui kalau dia memang membutuhkan asupan setelah menghabiskan banyak tenaga untuk mengejar. Dibandingkan hal itu, bukankah cokelat panas merupakan pesanan River? Melupakan hal itu, Rana melihat sekeliling untuk mendapatkan keberadaan pria yang diikuti sejak tadi. Dia tidak ingin kehilangan jejak. "Anda mencari pria tadi?" "Oh, y-ya ... Anda tahu ke mana perginya?" "Sepertinya dia sudah memasuki ruang pertunjukan." "Ruang pertunjukan?" "Ya, tempat di mana orang-orang melakukan pelelangan. Profesor River adalah salah satu orang yang berkontribusi di dalam acara itu." "Di mana tempat pelelangannya? Apa kau bisa menunjukkannya padaku?" Pria plontos itu menunjukkan satu arah yang dindingnya tertutup tirai. "Anda bisa mencari di sana. Ada pintu di baliknya." Rana menganggukkan kepala, meraba pakaiannya untuk memberikan bayaran, akan tetapi dia lupa kalau sekarang tidak lagi berada di dunianya. Terlebih di zaman yang sudah berlalu puluhan tahun, apakah mata uang pembayaran masih sama? "Anda tidak perlu membayar. Profesor River sudah melakukannya." "Kalau begitu, terima kasih atas minumannya." Kepala plontos sudah mengangguk, Rana bergegas menuju pintu yang ada di balik tirai. Dia langsung menemukannya tidak lama setelah itu. Ada banyak suara dari dalam sana, sepertinya pelelangan sudah dimulai. Rana mengambil tempat duduk yang kosong, letaknya paling belakang. Dia melihat ada banyak sekali orang-orang berkumpul di ruangan yang lampunya sengaja dibiarkan mati agar fokus hanya pada tokoh yang ada di depan sana. Rana pernah menonton film mengenai pelelangan, orang-orang akan memberikan nilai untuk sebuah barang dan calon pembeli akan menambah dari nilai itu sampai yang tertinggi menjadi pemenangnya. Ternyata berada di tempatnya langsung sungguh memacu adrenalin. "Ada di mana River?" gumamnya. "Profesor River?" Seorang wanita di sebelahnya membuat Rana terkejut. Dia bersikap biasa setelah itu agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan, karena dia tahu bahwa River adalah orang yang cukup populer di dunia Stardust. "Siapa Anda baginya?" Wanita itu menyipitkan mata, menyimpan seringai di balik kipas tangan. "Saya, saya adalah—" Suara tepukan tangan membuat perhatian beralih. Rana berpikir kalau wanita tadi akan melupakan pertanyaan yang menyulitkan jawabannya, akan tetapi justru tetap bergeming menatapnya. Sikap yang tampak posesif, tampaknya wanita itu menyukai River. "Saya pengagumnya," jawab Rana. "Anda tahu, kalau Profesor River sangat berbakat, bukan? Siapa yang tidak mengaguminya?" Wanita itu tertawa dengan nada suara rendah. "Semua orang berada di sini dengan alasan yang sama, rancangan teknologi Profesor River. Dia selalu menyenangkan dengan inovasinya, bagaimana kami bisa tidak mengagumi? Karyanya akan selalu terjual dengan nilai tertinggi. Saya sungguh penasaran, hari ini dia akan menampilkan apa pada kami?" Rana baru sadar kalau dia berada di bangku hadirin, dengan kata lain dia berada di bangku orang-orang kaya yang akan menjadi calon pembeli. Dia sudah membuat kesalahan fatal dan sudah seharusnya pergi dari sana! "Nona, Anda mau ke mana?" "S—saya—" "Tetaplah duduk, karena karya Profesor River akan segera ditampilkan. Sebagai pengagumnya, Anda tentu tidak ingin kehilangan setiap detik dari penampilan sang profesor, bukan?" "Tapi saya—" "Tidak perlu gugup," ucap wanita berkipas seraya menghalangi tangan untuk beranjak dan membawanya duduk kembali. "Cukup acungkan saja papan nilai Anda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD