Saat River tampil di depan panggung, Rana berusaha untuk menyembunyikan wajah di belakang hadirin. Sikap itu menimbulkan tanda tanya besar bagi wanita yang bersemangat di sebelahnya dan tanpa bisa dicegah telah memegangi tangan Rana dengan kuat, tatapan yang ditunjukkan pun bukan mencerminkan niat baik. Hal itu membuat Rana semakin bertambah saja kegugupannya.
"Apa yang Anda lakukan di bawah sana? Itu sangat mengganggu ketika pertunjukan utama sedang dilangsungkan."
"Ah, itu ... saya ...."
"Cepat, duduklah di tempat semula dan nikmati pelelangannya. Jika Anda tidak ingin ketinggalan sesuatu yang sangat berharga, maka angkat tinggi-tinggi papan nilainya."
"Sebenarnya saya ingin pergi ke kamar kecil."
"Oh!" Seketika wanita itu melepaskan pegangannya. "Pergilah sebelum Anda mengotori lantai. Saya akan menjaga kursi Anda sampai nanti kembali."
Rana menganggukkan kepala, lantas tersenyum sebelum berlalu pergi. Dia tidak berjalan seperti biasa, akan tetapi membungkukkan punggung serta menutup muka dengan tangan agar River yang berdiri di depan sana tidak memperhatikan.
Kamar kecil hanya sebuah alasan saja. Rana sebenarnya mencari peluang lain untuk mengetahui tentang pelelangan. Belakang panggung adalah tempat yang cocok untuk itu.
"Ada di mana mahakarya Profesor River?!"
Rana segera bersembunyi ketika suara seorang pria asing terdengar. Dia mengawasi dari balik tumpukan kardus yang ukurannya cukup tinggi. Melihat bagaimana dua orang berjalan dengan tergesa, ditambah percakapan yang dia dengar sepertinya mereka adalah bagian dari penanggung jawab keberlangsungan acara.
"Kau harus pastikan kalau penampilannya berjalan lancar."
Bayangan dua orang itu menghilang di balik tirai. Dia sempat melihat sebelumnya bahwa mereka yang berbincang tadi mendekati sesuatu di ujung sana, tertutup oleh sehelai kain berwarna hitam. Jika dia tidak salah dengar, bahwa itu adalah karya cipta River. Dia sungguh penasaran, apa yang ada di baliknya?
Lagi pula, Rana sedang berada di belakang panggung di mana tidak ada orang lain lagi, hanya dia seorang berada di sana. Jika mengintip sebentar, tidak ada salahnya juga dan tidak akan ada yang tahu.
Rana seharusnya tidak membiarkan rasa penasaran menguasai, dia seharusnya bisa menahan diri. Namun, semua sudah terlambat karena dia tahu apa yang ada di balik kain tersebut.
"I—ini ...." Rana sulit berkata-kata, perasaannya campur aduk semua.
Apa yang dia lihat adalah Stardust. Bagaimana bisa pria itu berkhianat dengan melelang benda yang memiliki peran penting dalam kehidupannya? Tidak bisa, jelas dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Seharusnya dia tidak memberikan kepercayaan utuh pada pria itu.
Bodoh, sungguh sangat bodoh. Bagaimana dia bisa percaya pada orang yang baru beberapa hari ditemui? Dia tahu kalau River adalah seorang peneliti dan mereka yang berprofesi sama cenderung memiliki kegilaan tentang motivasi.
Tetapi Rana tetap tidak menyangka jika orang yang berkhianat itu adalah River. Padahal, tadi malam mereka baru saja berada dalam waktu yang nyaman dengan melihat pemandangan indah di langit. Apa itu semua siasat saja agar dirinya lengah dan menganggap bahwa River adalah orang yang baik?
"Cepat, bawakan mahakarya Profesor River!"
Suara melengking pria tadi berkumandang dari jarak yang tidak jauh. Rana kelabakan, bingung bagaimana harus mengambil tindakan dalam keadaan waktu yang terdesak. Pastinya, dia harus menyimpan Stardust bersamanya.
Rana segera duduk di bawah troli sekaligus menarik kain hitam agar menutupi seluruh bagian tubuh. Jantungnya berdegup kencang pada saat itu, sangat berharap kalau dia tidak ketahuan.
Setidaknya untuk sekarang, karena dia tahu kalau keberadaan dirinya di atas panggung nanti akan segera diketahui, mengingat saat Stardust hendak ditunjukkan, maka yang ada hanyalah dirinya. Pada saat itu, River akan terkejut lantaran pengkhianatannya terbongkar.
"Kenapa troli ini sangat berat?" Suara wanita, kemungkinan besar adalah orang yang berbicara dengan pria yang kedengarannya sangat pemarah itu.
"Sudah mendapatkannya? Maka, cepatlah naik ke panggung!"
"B—baik!"
***
Potato menemukan kejanggalan ketika mobil terus melaju lurus ke arah tujuan. Para penduduk keluar dari rumah mereka, ada pula yang melongok dari jendela. Pandangan mata mereka sama-sama ke satu arah yaitu rumah kecil yang dinding luarnya tidak berwarna seperti dicat kebanyakan, hanya mengandalkan warna asli dari besi tipis berlapis timah. Rumah itu adalah tempat tinggalnya selama diciptakan.
Potato memperbesar jarak pandangnya tiga kali lipat hingga dia akhirnya menemukan sebuah berita besar. Kendaraan yang biasa dibawa pemerintah ada di depan rumah mereka, ditambah pintu rumah yang terbuka lebar membuat dia semakin dilanda kekhawatiran.
Tanpa pikir panjang, Potato mengirimkan gelombang sinyal berupa pesan pada River, lantas dia segera turun. Apa yang harus dia lakukan adalah mengurangi kecurigaan. Jadi, dia tidak boleh terlihat gelisah dan melalu hari seperti biasanya saja.
Mereka menurunkan barang belanjaan dan memindahkannya ke dalam rumah. Pada saat itu pula Luigi datang atas permintaan River di toko tadi untuk memasang pintu baru. Luigi sendiri masih tidak tahu akan hal apa yang terjadi.
"Kenapa mereka datang? Apa River melakukan kesalahan?" tanya Luigi, terus memperhatikan keadaan rumah. Dia mendapati seorang wanita yang berbeda di sana dan membuat dia terkejut. "Oh, apa ada satu orang nenek moyang lagi yang tidak aku tahu?"
Potato segera menutup mulut pria tua itu. "Ssstt, keberadaan mereka adalah apa yang harus kita sembunyikan. Jangan sampai ada yang tahu kalau mereka datang dari dunia lain."
"A—apa maksudmu dengan mereka yang datang dari dunia lain?"
Pada saat yang bersamaan, Pushi datang dan berkata dengan nada rendah. "Seharusnya kau tetap diam jika tidak tahu apa-apa. Jangan biarkan dirimu bertanya dan lakukan saja pekerjaan seperti biasa di dalam rumah tuamu, Luigi." Setiap kalimatnya ditekankan, penuh akan peringatan. "Lalu, apa alasanmu datang ke mari? Aku rasa bukan karena penasaran akan kehadiran pihak pemerintah di rumah putra kesayanganmu, mengingat tempat tinggalmu berjarak jauh dari sini."
"River meminta Tuan Luigi untuk memasangkan pintu," ucap Potato.
Pushi menengadahkan kepala, menemukan bagian dari logam berukuran besar di atas kepala, menutupi bayangannya. "Itu sangat bagus." Dia menatap pada Luigi kembali. "Sekarang beraktivitaslah seperti biasa agar tidak ada yang mencurigai kalian."
"Memang itu yang akan kami lakukan." Potato menggunakan tangan kuatnya untuk mengangkat pintu, berlalu pergi ke dalam rumah.
Sementara dua orang lagi yang berdiri di dekat mobil hanya mengangkat kedua bahu. Pushi sendiri membantu membawakan mesin pengering, sisanya dibawakan oleh Luigi yang sempat bertanya-tanya untuk apa River membeli pakaian wanita sebanyak itu?
Tidak heran, karena ada dua orang wanita yang tinggal bersama River, akan tetapi tadi dia mendengar kalau wanita-wanita tersebut berasal dari dunia lain. Apa yang itu mungkin? Dia harus menanyakan pada River nanti ketika mereka bertemu.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Suara itu berasal dari salah satu pihak pemerintah, kelihatannya sangat marah dan itu membuat Luigi yang tua bergidik serta ragu melangkahkan kaki.