Bab 21: Benda Ajaib

1185 Words
Dari balik kain hitam, Rana tidak dapat melihat apa-apa, bahkan juga berlaku untuk cahaya. Jadi, dia tidak bisa menimbang-nimbang ada di mana sekarang. Dia menundukkan kepala menatap lantai yang seolah sedang bergerak. Cahaya dari lantai tidak mengubah apa-apa tentang pertanyaan, sudah sampai mana perjalanannya? "Ini dia yang kita tunggu-tunggu, mahakarya Profesor River!" Suara yang terdengar tidak jauh dari telinga, membuat Rana bisa menyimpulkan kalau troli sedang digiring ke muka panggung. Entah mengapa hal ini membuat dia gugup, memikirkan akan bagaimana reaksi orang-orang nanti setelah tahu bahwa mahakarya yang diagungkan sudah berubah menjadi sebentuk manusia. Situasi tidak akan menjadi seperti sekarang kalau bukan karena River menjadikan Stardust sebagai bahan pelelangan. Pria itu akan menerima ganjarannya nanti setelah mereka kembali ke rumah dan jika saat itu benar-benar tiba, maka dia dan Aura harus pergi dari rumah pria seorang pengkhianat! Suara langkah yang semakin mendekat hingga berhenti di dekatnya membuat Rana berhenti mengutuk di dalam hati. Dia berusaha untuk menilai situasi terlebih dahulu dan mempersiapkan diri untuk kejutan besar. "Sebelum kita menarik kain ini, bisa ceritakan apa yang ada di baliknya, Profesor River?" "Oh, ya! Di balik kain ini ada sebuah kotak khusus, aku menyimpannya di sana. Saat kita membuka isi kotaknya, maka akan terlihat satu benda yang pastinya membuat semua orang berdecak kagum." River berucap bangga. "Cepat, tarik kainnya!" teriak seorang hadirin dan disetujui oleh hadirin lainnya. "Tampaknya semua orang tidak sabar menanti mahakarya Anda, Profesor River." River tertawa puas, keyakinan diri tidak pudar seiring waktu, justru meningkat. "Kalau begitu, tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Kita sambut mahakarya Profesor River!" Tanpa dikira kain hitam tidak ditarik keseluruhan, hanya sampai bagian atasnya terlihat saja sehingga kini hanya sisi kiri Rana saja terbuka. Meskipun begitu, kotak yang di maksud sudah terlihat dan menambah rasa penasaran semua orang. "Anda sepertinya senang membuat orang penasaran, Profesor River. Biasanya di balik kain hitam akan disuguhkan langsung sebuah karya, tapi Anda membuat kami harus menunggu sebanyak dua kali. Pertama membuka kain dan kedua membuka kotaknya." Sang pembicara menghela napas, bersikap seperti sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sangat besar. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita lihat isi dari kotak ajaib ini!" River menatap lurus ke depan, tersenyum lebar dan sangat menantikan reaksi orang-orang. Namun, yang terjadi setelah kotak dibuka adalah sebuah keheningan panjang. Alasan dari ekspresi yang tidak menyenangkan sudah pasti karena kotak kosong. Sang pembicara tertawa, berusaha menenangkan hadirin dalam keadaan diri sendiri kebingungan. "Oh, apa ini? Profesor River pasti ingin membuat kita penasaran lebih banyak." River yang keningnya mengerut pun perlahan menoleh pada troli. Jadi, alasan ekspresi kekaguman tidak dia dapatkan adalah karena isi kotanya kosong? Lantas, ada di mana benda yang seharusnya tampil di depan orang banyak itu? "Mari kita lihat, di mana Profesor River menyembunyikannya?" Sang pembicara melihat-lihat dengan saksama, curiga akan troli yang masih tertutup bagian bawahnya. Baru akan menarik kain, tiba-tiba seorang wanita muncul dari sisi yang tidak terpantau oleh mata. Rana mengembuskan napas lega setelah berhasil keluar dari tempat yang sempit. Ternyata duduk diam dalam waktu lama dengan menahan diri agar tidak ketahuan sangat melelahkan. "A—apa ini mahakarya Anda sesungguhnya, Profesor?" Perasaan River campur aduk, antara terkejut, gelisah, kebingungan, dia tidak tahu harus mengatakannya bagaimana kecuali acaranya menjadi rusak karena kemunculan Rana yang tiba-tiba. Apa dia harus mengatakan kalau sekarang sangat marah? "Oh, sepertinya benar kalau wanita ini adalah mahakarya yang sesungguhnya!" Rana tidak peduli dengan tatapan orang-orang atau anggapan orang-orang mengenai dirinya. Dia segera berdiri di dekat River bersama tatapan yang menunjukkan arti perlawanan. "Apa yang kau lakukan?" ucap River dengan nada rendah penuh penekanan. "Kau seharusnya tahu alasan keberadaanku, River. Aku harap ada penjelasan mengenai pengkhianatan yang telah kau lakukan." River menyipitkan mata. "Pengkhianatan?" Rana menarik sebelah bibirnya ke atas. "Jangan berpura-pura tidak tahu. Ekspresi polosmu saat ini sama sekali tidak menimbulkan rasa simpatik untukku. Padahal, kau tidak ada bedanya dengan mereka yang mengincar inovasi ketimbang memikirkan perasaan orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Aku salah, karena telah mempercayaimu." River tidak bisa berkata-kata dan di saat itu pula sang pembicara muncul di tengah perdebatan. "Aku rasa sekarang bukan saatnya—" suara mikrofon menghentikan sang pembicara, lantas mematikannya sebentar, "dengar, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di panggung ini, tapi aku mohon agar tidak mengacaukan acaranya. Pelelangan dihadiri oleh para kalangan atas, mereka menjadi sponsor dari acara ini hingga dapat berjalan sampai sekarang. Tentu saja, tentu saja Anda dan para kontributor acara lainnya termasuk. Jangan sampai karena satu kejadian memalukan membuat semua orang enggan untuk datang lagi ke mari." Mereka yang masih melemparkan tatapan tidak suka membuat sang pembicara kembali berkata, "Kalian bisa melanjutkannya nanti, setidaknya acara ini harus tetap berjalan sampai akhir. Bisakah kalian menahan pertengkaran sampai saat itu tiba? Aku mohon!" River memundurkan langkah, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas dan mengangkatnya lurus ke depan. Tindakan itu membuat semua orang keheranan, tidak terkecuali Rana. Benda itu serupa remote berukuran kecil, dibuat pas berada dalam genggaman. River menekan sebuah tombol, langsung menimbulkan reaksi tiba-tiba dari Rana yang tadinya berdiri menjadi duduk di lantai. Rana kebingungan, reaksi tubuhnya jauh berbeda dari keinginan. "Ke—kenapa ...." "Benda yang ada pada wanita itu dapat melakukan perintah pemegangnya." "Ja—jadi, Anda baru saja memerintahkannya untuk duduk?" "Benar sekali." Semua orang tercengang tidak percaya, kapan River memberikan perintah? Mereka tidak mendengar suara apa-apa sejak tadi. Pertanyaan itu langsung dijawab, River menunjukkan benda yang ada dalam genggaman. "Ini adalah penangkap sinyal yang akan tersambung pada benda ajaib." Rana tanpa sadar mengeluarkan sesuatu dari dalam saku, menampung bola yang dikatakannya sebagai Stardust dengan kedua tangan. "A—apa yang aku lakukan? Cepat, hentikan!" "Itu adalah benda ajaib yang dapat memerintahkan seseorang melakukan sesuatu. Kalian tidak perlu khawatir, karena benda ajaibku tidak akan melanggar aturan yang ditetapkan oleh hukum sehingga sesuatu seperti larangan, jangan harap bisa terpenuhi." Benda yang ada padanya sama sekali berbeda meski bentuknya serupa dengan apa yang dia tahu. Rana terkecoh, dia sudah salah paham. "Wah, itu sangat mengagumkan! Saya ingin sekali menundukkan robot yang saya beli dari pelelangan sebelumnya. Dia tidak ingin menurut pada perkataan saya." Seorang hadirin menaikkan papan nilainya, menunjukkan angka yang cukup tinggi, disusul oleh hadirin lain yang tidak ingin kalah. "Semua sudah bersemangat. Kalau begitu, mari kita mulai saja lelangnya!" seru sang pembicara. River sendiri menahan tombolnya, tidak membiarkan Rana bergerak dari lantai meski tatapan itu meminta untuk segera dilepaskan. Hingga pelelangan membuat dia perlahan melepaskan dan menatap lurus pada para hadirin. Tepat pada saat itu, River mendapatkan sinyal dari Potato. Sebuah berita langsung membuat dia tidak tenang, tanpa pikir panjang lagi pergi meninggalkan panggung. Sementara aktivitas terhenti menyisakan raut kebingungan di wajah banyak orang. Rana yang sadar terlambat pun ikut menyusul kepergian. Rana tidak lagi melihat pria yang mengenakan jas laboratorium ketika dirinya sudah berada di luar bar. Entah ke mana perginya River yang pergi begitu tiba-tiba, dia tidak menemukan jawaban. Sial! umpatnya di dalam hati. "Hei, Nona. Bukankah Anda seharusnya tidak bisa memasuki bar? Lalu, kenapa kami melihat Anda keluar dari pintu depan yang memiliki penjagaan?" Rana lupa, dia seharusnya tidak muncul di pintu depan, dia seharusnya keluar dari pintu belakang. Sekarang bagaimana dia harus menyelesaikan situasinya? "Sial!" umpatnya dengan keras, lalu berlari kabur. "Tangkap dia!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD