Bab 22: Orde Datang Kembali

1087 Words
Pushi yang terkenal sebagai makhluk paling pemarah di antara para penduduk lainnya langsung terkejut ketika salah seorang dari mereka yang dianggap musuh berteriak. Dia hampir saja melepaskan tangan dari mesin pengering yang diangkut, untung saja Potato cepat tanggap untuk membantunya agar tetap berdiri seimbang. "Kami, kami melakukan apa yang harus dilakukan." Tatapan mata Orde membuat keberanian semakin menciut, Pushi menatap ke arah lain dan berharap bahwa perkataannya tidak menciptakan masalah. "Lebih baik ... kalian meletakkan semua barang belanjaan ke dalam." Aura memberanikan diri untuk bicara. Potato berjalan lebih dulu, mengacuhkan orang-orang yang menatap mereka dalam artian lain. Dia tahu kalau semua penduduk tidak menyukai Orde, maka dari itu kedatangannya enggan disambut. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?" bisik Pushi, lalu meletakkan mesin pengering di samping meja makan. Potato juga telah selesai menyandarkan pintu pada dinding. "Untuk sekarang, jangan biarkan mereka curiga pada kita. Ingat, bahwa River berniat menutupi identitas Aura dengan mengatakan kalau mereka adalah pasangan suami istri, sedangkan Rana adalah robot yang diciptakannya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan selama bersikap normal." "Baiklah. Aku mengerti. Ngomong-ngomong, ada di mana profesor?" Pushi bertanya sambil memperhatikan sekeliling, tidak ditemukan orang yang membuat dia bertanya. "Profesor sedang berada di bar. Aku sudah mengirimkan sinyal padanya, seharusnya sebentar lagi dia kembali." "Kalau begitu, aku akan mengatakan situasinya pada para penduduk. Mereka sangat khawatir saat ini." "Tidak heran, karena Orde datang ke mari. Untuk sekarang, yang kita perlu hanya bekerja sama. Aku mengandalkanmu, Pushi." Pushi mengangguk yakin, kemudian pergi dari rumah itu. Sedangkan Potato berusaha melacak keberadaan River dengan mengirimkan lalat yang selama ini menjadi hewan peliharaannya. Dia tahu kalau Moko akan berguna suatu saat nanti. Moko terbang mengarungi udara, mencari-cari kian ke mari dengan hasil dapat menemukan River. Bisa dikatakan kalau ini adalah misi pertamanya dan begitu senang, karena akhirnya dia dapat berguna bagi Potato yang telah menyelamatkan nyawanya. Dulu sekali dia pernah mengalami cedera yang cukup parah, sistem di tubuhnya mati total, dan dia sudah pupus harapan, bahkan profesor River saja menyerah untuk memperbaiki. Namun, semangat Potato begitu besar dan berhasil mematahkan sikap pesimisnya. Sejak saat itu, dia bertekad untuk berhutang budi selamanya pada robot baik hati itu. Moko dalam pencariannya menemukan seseorang berlari cukup cepat. Dia terjun dengan kecepatan tinggi, berusaha mengikuti jarak langkah kaki River. Tidak disangka kalau dia akan menemukannya dalam sekejap mata. Moko berhasil menyeimbangi kecepatan berlari. Dia duduk di bahu River sambil berkata. "Ah, serangga sejenis kami sangat istimewa, tidak akan dibasahi oleh keringat ketika terbang dengan kecepatan penuh." "Bukankah kau ...." Moko mencoba untuk berdiri di bahu sembari menjadikan leher sebagai pegangan, niatnya ingin berbangga hati karena telah mematahkan anggapan River bahwa dia tidak terselamatkan, kenyataannya dia hidup sampai detik ini berkat keajaiban. Sayangnya Moko harus terbawa arus angin yang sangat kuat lantaran River berlari sangat cepat. Dia berpegang pada leher dan bersusah payah untuk berada di posisinya kembali. Di sisi lain, River yang merasakan sesuatu seperti mencubit lehernya pun ingin menyingkirkan dengan memukulnya. Moko berusaha menghindar kali ini, akan tetapi dia harus merelakan dirinya terbawa arus sehingga tertinggal di belakang. Dia tidak berputus asa begitu saja, lantas menggerakkan sayapnya kembali. Sekarang dia menggunakan roket kecil yang ditambahkan oleh Potato untuk meningkatkan kemampuan dirinya dari tahun ke tahun. Moko berhasil duduk di bahu lebar itu kembali. Dia bisa bernapas lega kini dan tidak ingin kehilangan pegangan lagi. Untuk menghindarinya, kalau bisa dia akan menancapkan kakinya di bahu. Sayang sekali hal itu tidak terjadi, karena jas laboratorium begitu tebal. "Sampai mana kita tadi? Oh, ya!" Moko mengingatnya dengan cepat. "Benar sekali. Aku adalah makhluk yang kau sebut sulit bertahan hidup, River. Perlu kau tahu bahwa aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan profesor karena bagiku kau sama sekali tidak pantas untuk itu. Seseorang yang luar biasa dan tidak kehilangan semangatnya adalah orang yang pantas mendapatkannya. Kalau bukan karena—" "Jadi, intinya Potato menyembunyikanmu selama bertahun-tahun?" Pada saat itu, River menuruni jembatan tanpa mengurangi kecepatan. "Tepat sekali! Kau begitu pintar ... tidak, tidak. Penjelasanku lah yang begitu mudah sampai kau bisa menyimpulkannya dengan benar." "Kalau begitu, untuk apa kau muncul sekarang? Di saat aku tidak punya waktu mengurus hal-hal kecil." Moko sangat marah ketika mendapatkan perlakuan buruk profesor untuk ke dua kalinya. Dia memukul leher River dengan sangat kuat, tidak hanya satu kali, sampai orang yang begitu sombong mengaduh kesakitan. "Hentikan itu!" Moko bersiap-siap dengan kedua kakinya sebelum pergi, enggan terus bersama River dalam waktu lama. "Aku tidak akan memberitahukan alasan kedatanganku. Sekarang nikmatilah rasa penasaranmu!" Kecepatan lari River melambar ketika lalat kecil itu tidak lagi ada bersamanya. Dia memang penasaran, akan tetapi tidak mengubah banyak hal. Baginya sekarang hal terpenting adalah sampai di rumah secepatnya. River sudah berlari sangat jauh, dia merasa dengan berlari tidak akan cukup. Jadi, dia mulai menggunakan betisnya yang dilengkapi dengan roket dan berharap bahwa dia akan tiba lebih cepat. *** Rana bukanlah robot, dia manusia yang dapat kelelahan, sedangkan para manusia yang dilengkapi dengan kemampuan canggih tidak kenal lelah mengejar. Dia harus mengambil kesempatan untuk beristirahat, akan tetapi jika dia berhenti sudah pasti ditangkap. "Hei, berhenti di sana, Nona!" "Tidak! Jika berhenti, kalian akan menangkapku, bukan?!" Rana berbicara dengan napas tidak stabil. "Tentu saja! Anda telah melanggar pasal tentang masuk tanpa izin." Tidak ada pertentangan, membuat Rana semakin mengetatkan gigi. Dia harus bertahan sampai akhir kalau begini. Pria yang menghilang entah ke mana itu meninggalkannya begitu saja. Apa kesalahan yang dia lakukan sebesar itu? Padahal, yang memicu semua masalah adalah River. Kalau bukan karena mahakarya yang mirip, dia tidak akan salah paham, bukan? "Anda harus berhenti sekarang juga!" Suara itu terdengar jauh, menarik diri Rana untuk menoleh ke belakang, larinya tanpa sadar melambat ketika mengetahui kalau dia tidak lagi dikejar. Namun, apa yang membuat dia kebingungan saat ini yaitu orang yang ada di belakangnya hanya satu saja. Otaknya berputar dengan cepat, Rana menoleh lurus ke depan dan menemukan seseorang tepat di depan mata, lantas membuat dia refleks menghindar sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan, terpental jauh dari tempat berdirinya tadi. Rana mengaduh kesakitan. Dia menemukan api di bagian kaki pengawal yang memaksanya menghindar dan hilang kendali. Dia tidak tahu kalau orang zaman canggih memiliki kemampuan di luar nalar. Apa itu sejenis roket seperti film-film kartun yang dilihatnya di televisi? "Anda harus ikut dengan kami, Nona." Rana berusaha bangkit dalam keadaan tubuh kesakitan. Tidak, dia tidak boleh tertangkap. Dia harus pergi dan bersembunyi dari mereka semua. Tepat pada saat Rana hendak pergi, seorang pengawal yang jaraknya dekat memegangi lengan. "Anda harus mengikuti kami." Ucapan itu diselingi dengan tatapan mengerikan seolah tidak bisa dibantah. Ternyata tatapan pengawal masa depan berkali lipat lebih menyeramkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD