Bab 23: Kecurigaan Orde

1040 Words
Moko terbang melewati dahan demi dahan untuk berada di puncak paling tinggi. Dia melihat sekitar dengan kekaguman, semakin hari semakin banyak saja yang berubah. Meskipun dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, sesekali dia juga memperhatikan dari atas bagaimana aktivitas makhluk hidup terjadi. Untung saja tubuh Moko tidak lagi seperti zaman dulu di mana bisa saja gumpalan lemak membuat terbangnya menjadi lambat, mengingat pekerjaan yang dilakukannya setiap hari hanyalah bermalas-malasan. Apa itu lemak yang membandel? Haha! Moko tidak mempan lagi dengan permasalahan yang dialami kaum lalat selama turun-temurun. Moko memperhatikan River yang baru saja terbang melewati pohon, lantas menarik dirinya untuk terjun bebas, masih dalam ketinggian yang lebih dari River. Pria itu menggunakan roket sehingga kecepatannya semakin bertambah. Dia harus tiba lebih dulu, memberikan informasi pada Potato bahwa pria yang digadang-gadangkan sebagai profesor itu akan segera sampai. Setibanya di dalam rumah, dia langsung melesat menuju tempat Potato berada. Tidak diduga pada saat ingin mengatakan informasi keberadaan River, orang yang dinantikan sudah sampai. River mengetatkan geraham, jelas tidak suka dengan kehadiran tamu yang tak diundang, tiba-tiba saja muncul di rumah yang sebelumnya aman terkendali. Padahal, biasanya Orde tidak tertarik dengan kehidupannya dan sekarang pria itu selalu terlihat. "River ...." Aura berucap lirih. "Potato, kenapa tidak menyuguhkan teh untuk tamu kita?" "Tidak usah repot-repot, River, karena kedatanganku ke mari adalah untuk melihatmu." River tertawa lebar. "Apa saya salah dengar? Anda jauh-jauh datang ke tempat kecil ini hanya untuk satu tujuan sepele." Dia memperhatikan luar rumah, di mana orang-orang tampak bertanya-tanya akan apa yang terjadi. "Jangan berlebihan. Anda membuat para penduduk takut, seorang pejabat yang diagung-agungkan oleh pemilihnya mendadak menjejaki tanah. Kehadiran Anda sangat mencolok di antara kami yang tidak memiliki aura yang sama seperti Anda." Orde memalingkan tatapannya ke arah wanita yang menjadi alasan akan kedatangan. Hal itu langsung membuat River dan lainnya gamang, dibalut kegelisahan serta ketakutan akan apa selanjutnya yang akan dilakukan Orde. "Wanita ini, aku yakin belum pernah melihatnya di kota." River mendekat pada wanita yang dibicarakan, lalu melingkarkan tangan di pinggang itu. "Memang benar, karena istri saya tidak berasal dari kota ini." "Istri?" Orde menyipitkan mata, ragu akan perkataan yang tidak menunjukkan bukti konkret. "Ya. Kami menikah tahun lalu dengan pesta kecil-kecilan di rumah ini. Hanya orang terdekat saja yang tahu, karena saya tidak suka dengan kemeriahan dan juga keramaian. Maaf, tidak mengundang Anda dalam acara membahagiakan kami. Saya rasa Anda juga sangat sibuk mengurusi banyak hal tentang kota." "Saya juga harus meminta maaf pada Anda," ucap Aura, berusaha meyakinkan. "Saya belum begitu kenal dengan kota ini dan masih membiasakan diri, tapi kabar baik datang tidak lama setelah kami menikah." Dia menyentuh perutnya dengan lembut dan tersenyum. "Untuk menghindari banyak hal, saya lebih banyak berada di rumah. Lagi pula, Anda pasti tahu bagaimana seorang ibu hamil, kebanyakan mereka memerlukan kamar kecil di waktu-waktu tertentu." Orde menilai setiap ucapan wanita asing itu sang berkata akhirnya, "Dari kota mana kau berasal?" Aura yang lancar berbicara tadinya sekejap mata kehilangan akal. Dia tidak berbohong kalau belum begitu mengenali tempat tinggalnya. Jadi, bagaimana mungkin dia tahu dengan kota-kota yang lain? Jika menyebutkan sembarang nama, pasti kemungkinan besar kota yang dia ucapkan tidak ada. "Istri saya berasal dari Centauri." Aura menaikkan pandangan, menoleh pada orang yang pura-pura menjadi suaminya tanpa keraguan. Sementara Orde sendiri hanya mengamati pasangan yang dikatakan sudah menikah itu. "Baiklah. Kalau begitu, aku ucapkan selamat untuk kalian. Semoga anak itu lahir dengan sempurna." Setelah berkata, Orde keluar dari rumah tersebut. River segera beranjak untuk mengantarkan tamunya. Dia hendak berbicara secara pribadi dengan Orde setelah tadi menyinggungnya soal keberadaan yang mencolok, berharap agar mereka ditinggalkan, akan tetapi sepertinya Orde tidak peka. Namun, sebuah percakapan antara Orde dan antek-anteknya membuat dia berhenti. "Tuan, telah terjadi keributan di bar." "Kalian bisa mengurusnya." "Tapi ...." "Apa ada hal lain yang harus aku tahu?" "Seorang wanita—" Tatapan pria yang berbicara dengan Orde teralih pada River, membuat dia tidak melanjutkan informasi yang dirasa penting. Sedangkan River segera mengambil sikap, menghampiri Orde yang sadar akan keberadaannya. "Sebenarnya, saya belum tahu betul maksud kedatangan Anda ke mari, Tuan Orde. Apa itu ingin menemui seorang wanita hamil yang berada sendirian di rumah? Jika tidak, kemungkinan besar pasti untuk menemui saya. Dan Anda belum mengutarakan maksud kedatangan, bukan? Saya yakin bahwa hal itu begitu penting sampai Anda akhirnya mau menginjakkan kaki di rumah saya." Orde menaikkan aslinya sebelah. "Kau sepertinya sangat penasaran mengenai alasan kedatanganku." "Tentu saja. Anda adalah orang yang memiliki semangat tinggi dalam hal teknologi, mungkin saja membutuhkan sesuatu dari saya yang tidak pernah dianggap sebagai makhluk modern ini." Orde tidak berbicara untuk beberapa saat, hanya mengingat bagaimana River dulunya. Tidak ingin membuang-buang waktu dengan hanya memperdebatkan hal tidak begitu penting yang mana pasti hanya akan disangkal, dia memutuskan untuk naik ke dalam mobil terbangnya. River tidak mencegah, hanya membiarkan pria itu melangkah pergi. Pada saat itu pula sayup-sayup dia mendengar percakapan antara Orde dan sang antek-antek kembali. Seketika dia teringat akan Rana, seorang wanita yang di maksud dan dia tinggalkan ketika cepat-cepat pulang ke rumah. Apa wanita itu yang membuat keributan di dalam bar? "Sial!" umpatnya. River segera melompat tinggi menggunakan pegas kakinya. Dia menyalakan roket ketika melambung di udara, lalu tidak menunggu lama untuk melesat cepat. Sebelum Orde datang, sebaiknya dia sudah membawa Rana pergi. *** Rana berteriak di tengah kerumunan, tidak mendengarkan sang pengawal yang memintanya untuk diam. Berkat keras kepalanya, dia mendapatkan lakban menutupi mulut sehingga tidak ada yang bisa dia katakan lagi. Tetapi dia tidak berputus asa, tetap mencari celah untuk dirinya bisa kabur. Hanya saja, entah dari apa tali yang mengikat tangannya ini, dia seperti terkena sentrum setiap kali menggerakkan tangan. Kaki saja satu-satunya yang bisa membantu saat ini, karena masih dibiarkan untuk berdiri. Rana berniat menendang s**********n pengawal-pengawal itu, akan tetapi tidak disangka kalau yang tersakiti justru adalah lututnya sendiri. Dia seperti menghantamkan diri ke berbatuan. Akibat dari tindakannya, dia mengaduh kesakitan, menemukan lutut yang membiru. "Oh, Nona, apa yang Anda lakukan? Kami tidak memiliki benda itu lagi." Seorang pengawal melepaskan lakban agar mereka dapat mendengar perkataan sang wanita. Rana bernapas susah payah dari mulutnya, kemudian segera berkata, "Kalian seharusnya memberitahukannya padaku agar rasanya tidak sesakit ini!" "Maafkan kami. Apa itu begitu sakit?" "Ya, sangat sakit sampai rasanya ingin mati!" "Kalau begitu, biarkan kami membawa Anda ke rumah sakit."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD